
Sampai semalaman bahkan sampai pagi datang Alvin tidak kunjung bisa memejamkan kedua matanya. Pria itu takut Melisa akan kembali histeris jika bangun dan melihat dirinya ada di sampingnya. Karena bagaimanapun mereka berdua tidak pernah bersama sampai se intim itu. Alvin khawatir jika Melisa bangun dan melihat nya berada di sampingnya dan di tempat tidur yang sama, Melisa akan kembali di bayangi oleh masa lalunya kemudian histeris dan ketakutan lagi.
Alvin juga sesekali menatap Melisa yang tertidur dengan lelap di pelukan nya. Pria itu merasa sangat was was akan keadaan istri tercintanya.
Tidak heran rasa pusing Alvin alami sekarang. Bahkan Alvin merasa semua yang di lihatnya seperti berjalan.
“Ssshhh.. Ya Tuhan...” Batin Alvin memejamkan kedua matanya yang terasa pegal juga panas. Sebenarnya Alvin merasakan kantuk, hanya saja Alvin terus berusaha agar kedua matanya terbuka untuk memastikan bahwa Melisa baik baik saja dan tidak akan lagi menangis histeris seperti semalam.
Karena pergerakan Alvin, Melisa pun terbangun dari tidur lelap nya. Wanita melenguh kemudian membuka kedua matanya. Senyuman di bibirnya langsung mengembang begitu tatapan nya bertemu dengan tatapan Alvin.
“Selamat pagi sayang...” Sapa Alvin pada Melisa.
“Eum.. Pagi..” Balas Melisa tersenyum manis. Wanita itu kemudian perlahan bangkit dari berbaring nya yang di ikuti oleh Alvin.
“Eum.. Alvin, aku mandi dulu ya..” Ujar Melisa tampak salah tingkah.
Alvin tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Pria itu berharap Melisa sama sekali tidak mengingat apapun yang terjadi semalam karena Alvin tidak ingin jika Melisa merasa malu apa lagi merasa bersalah padanya.
Pelan pelan Melisa turun dari ranjang. Wanita itu melangkah menuju kamar mandi berniat untuk membersihkan dirinya.
Sedangkan Alvin, wanita itu memilih kembali membaringkan tubuhnya kemudian memejamkan kedua matanya berharap denyutan ngilu serta rasa pusing yang dia rasakan bisa sedikit berkurang.
Alvin juga berharap semoga Melisa tidak kembali mengingat masa lalunya. Alvin ingin Melisa bahagia bersamanya tanpa harus kembali mengingat masa masa kelamnya dulu.
--------
Di sisi lain Kenzie sedang sangat gusar karena sejak semalam Sasha sama sekali tidak merespon pesan ataupun telepon darinya. Padahal saat Kenzie menghubungi pun Sasha sedang online namun wanita itu tidak membuka pesan darinya apa lagi mengangkat telepon darinya.
Itu membuat Kenzie tidak bisa berkonsentrasi dalam bekerja. Kenzie bahkan sampai lalai tidak memberikan laporan yang seharusnya dia berikan pada Erlan pagi ini.
“Kenzie...”
Kenzie tersentak saat mendengar suara Erlan. Pria itu langsung bangkit dari duduknya karena Erlan yang sudah berdiri di depan meja kerjanya.
“Saya tuan..” Angguk Kenzie pelan. Kenzie menghela napas pelan sebelum akhirnya menundukkan kepala menghindari tatapan Erlan.
__ADS_1
Erlan yang merasa heran dengan sikap Kenzie mengernyit penasaran. Tidak biasanya Kenzie bersikap demikian.
“Apa kamu ada masalah Kenzie?” Tanya Erlan tepat sasaran.
Kenzie menelan ludah. Kenzie sedikitpun tidak ingin mencampurkan urusan pribadi dengan pekerjaan, namun Kenzie juga tidak bisa bohong pada dirinya sendiri dengan pikiran nya yang terus tertuju pada Sasha yang sejak semalam tidak merespon telepon ataupun pesan singkat yang Kenzie kirim.
“Tidak tuan..” Jawab Kenzie yang merasa tidak mungkin mengatakan apa yang sedang dia rasakan pada Erlan. Erlan bukan teman nya yang bisa dia jadikan sebagai tempat curhat meski Kenzie sangat dekat dengan nya. Erlan adalah atasan nya, Erlan bosnya yang harus dia hormati dan dia kunjung tinggi.
Erlan mengangkat sebelah alisnya menatap Kenzie tidak percaya. Erlan yakin Kenzie sedang menutupi sesuatu darinya.
“Kalau begitu kamu ikut ke ruangan saya sekarang. Bawa juga laporan yang belum kamu berikan pada saya hari ini.” Kata Erlan dengan tegas.
Erlan kemudian berlalu begitu saja dari depan meja kerja Kenzie. Dia melangkah cepat menuju ruangan nya mendahului Kenzie yang meski menghela napas namun tetap melangkah mengikuti Erlan menuju ruangan nya.
Kenzie melangkah dengan tidak semangat mengikuti Erlan dari belakang. Tangan nya membawa map biru berisi berkas yang seharusnya memang sudah dari tadi dia berikan pada Erlan. Namun karena terlalu larut memikirkan Sasha, Kenzie pun sampai tidak ingat tentang berkas berisi laporan tersebut.
“Duduk.” Ujar Erlan begitu mereka sampai di dalam ruangan nya. Erlan mempersilahkan Kenzie untuk duduk di kursi yang ada di depan meja kerjanya. Sedang dirinya duduk di kursi kebesaran nya.
“Ini tuan berkas laporan nya. Saya minta maaf karena lalai memberikan berkas ini pagi ini.”
“Oke. Kenzie saya tau dan hapal siapa kamu. Kamu tidak bisa membohongi saya. Saya tau kamu sedang dalam masalah. Saya juga tidak mau kalau sampai kamu mencampurkan urusan pribadi kamu dengan urusan pekerjaan. Itu akan sangat fatal akibatnya Kenzie. Kamu mengerti kan maksud saya?”
Kenzie menghela napas pelan kemudian menganggukkan kepalanya. Kenzie akui dirinya sudah melakukan kesalahan karena lalai memberikan berkas yang seharusnya sudah Erlan baca sejak tadi dan sudah di beri tanda tangan oleh bos besarnya itu.
“Saya minta maaf tuan.” Kata Kenzie pelan.
“Saya mengerti Kenzie. Karena saya juga terkadang mempunyai masalah yang yah.. Tidak mudah untuk saya selesaikan dalam waktu singkat. Maka dari itu saya berikan kamu kesempatan untuk menyelesaikan urusan kamu hari ini. Tapi ingat setelah jam istirahat makan siang nanti kamu harus sudah kembali. Kita ada pertemuan penting dengan tuan Santos siang ini.”
Kenzie tersenyum mendengarnya. Erlan memang selalu baik dan pengertian padanya.
“Terimakasih pak, saya akan segera kembali setelah urusan saya selesai. Kalau begitu saya permisi.”
“Oke, silahkan.” Angguk Erlan mengerti. Erlan sebenarnya sudah bisa menebak masalah apa yang sedang di tanggung oleh Kenzie. Apa lagi jika bukan masalah tentang Sasha. Karena memang hanya wanita itu yang bisa membuat Kenzie tersenyum kemudian murung dalam waktu bersamaan. Erlan juga mengakui Sasha hebat karena bisa menarik perhatian seorang Kenzie yang notabenenya tidak pernah dekat dengan wanita manapun sebelumnya.
Kenzie yang tidak mau menyia nyiakan kesempatan yang di berikan oleh Erlan pun segera bangkit dari duduknya kemudian berlalu keluar dari ruangan Erlan dengan penuh semangat. Kenzie tidak mau kalau sampai Sasha benar benar menjauh darinya. Kenzie sadar dirinya salah karena tidak mengatakan apapun pada Sasha semalam. Padahal sebelumnya Kenzie sudah mengatakan ingin membicarakan sesuatu pada Sasha. Tapi pada akhirnya Kenzie malah sibuk memikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi. Dan itu tentu saja sudah membuat Sasha merasa tersinggung dan di permainkan.
__ADS_1
Erlan menggelengkan kepalanya. Pria itu berpikir tidak ada salahnya jika kali ini membiarkan Kenzie bebas dari pekerjaan dan fokus menyelesaikan masalahnya. Karena jika sampai Kenzie terus terusan merasa galau imbasnya juga pasti pada pekerjaan Kenzie. Erlan akan merasa keteteran jika sampai Kenzie tidak bisa membantunya.
-----------
Kenzie melangkah lebar juga cepat keluar dari gedung perusahaan Erlan. Pria tampan itu begitu sangat yakin kali ini untuk mengungkapkan perasaan nya pada Sasha. Tidak perduli akan seperti apa jawaban Sasha nantinya.
Kenzie memasuki mobilnya kemudian berlalu dari parkiran depan perusahaan dengan kecepatan diatas rata rata. Kenzie tidak akan menyia nyiakan kesempatan yang di berikan oleh Erlan kali ini. Kenzie akan menggunakan waktu itu sebaik baiknya.
Tidak sampai setengah jam mobil Kenzie sudah berhenti di depan gedung perusahaan Alex. Pria itu segera turun dari mobilnya kemudian melangkah masuk ke dalam gedung tersebut. Kenzie menemui petugas resepsionis dan secara khusus meminta pada petugas tersebut untuk memanggilkan Sasha. Petugas itu yang tau siapa Kenzie segera melakukan nya. Dia menghubungi Sasha dan mengatakan ada orang yang menunggu Sasha di parkiran depan gedung perusahaan saat itu juga.
Sasha yang penasaran pun bergegas keluar bahkan sampai mengabaikan sementara pekerjaan nya.
Saat di parkiran Sasha menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri mencari sosok yang kata petugas resepsionis menunggu nya disana.
“Mana? Orang disini nggak ada siapa siapa.” Gumam Sasha pelan.
Sasha tidak menyadari kehadiran Kenzie yang berada di belakangnya. Pria itu tersenyum dengan setangkai bunga mawar yang ada di tangan nya. Ya, dalam perjalanan tadi Kenzie memang menyempatkan diri membeli bunga mawar merah yang memang secara khusus dan sepecial dia tujukan untuk Sasha.
“Huh, buang buang waktu aja.” Kesal Sasha yang kemudian memutar tubuhnya berniat untuk kembali masuk ke dalam gedung perusahaan Alex. Sasha ingin melanjutkan pekerjaan nya yang terpaksa dia tinggalkan hanya untuk menemui seorang yang belum tau siapa.
Sasha terkejut bahkan sangat kaget ketika tubuhnya tidak sengaja menabrak Kenzie yang entah sejak kapan sudah berdiri disana.
“Kamu...” Gumam Sasha. Sasha tidak menyangka Kenzie akan berada di depan nya sekarang. Padahal Sasha sudah berniat untuk menjauh dari pria itu.
“Hay..” Senyum Kenzie menatap Sasha.
Sasha menghela napas kemudian melengos. Wanita itu tidak ingin kembali mengharapkan sesuatu yang tidak pasti.
“Aku minta maaf soal semalam yah.. Aku nggak bermaksud mempermainkan kamu Sha..” Kenzie mencoba memulai dengan permintaan maaf pada Sasha yang menolak untuk menatap nya.
Kenzie menarik napas dalam dalam kemudian menghembuskan nya perlahan. Apapun yang terjadi nanti Kenzie tidak perduli. Yang terpenting adalah Kenzie harus mengungkapkan perasaannya pada Sasha hari ini juga.
“Aku cinta sama kamu Sha.” Ungkap Kenzie begitu langsung dan terang terangan.
“Apa?”
__ADS_1