
Setelah menunggu dengan hati dan jantung berdebar, akhirnya acara yang di tunggu tunggu kini tiba. Melisa beberapa kali menghela napas sembari menatap pantulan wajahnya di cermin yang ada di depannya.
Ya, Melisa sudah selesai di rias dengan kebaya putih yang begitu pas melekat di tubuh rampingnya. Setelah Alvin mengucap ijab kabul nanti status Melisa akan berubah. Dia bukan lagi menjadi wanita lajang, tetapi menjadi istri dari seorang Alvin putra.
Semuanya benar benar seperti mimpi bagi Melisa. Alvin yang tidak pernah dia duga duga akan menjadi jodohnya ternyata adalah pria yang selama ini Melisa dambakan. Pria yang mau menerima dan mencintai nya dengan tulus.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuat Melisa tersentak kaget. Wanita itu menghela napas kemudian segera melangkah untuk membuka pintu kamarnya.
“Dek, ada apa?” Tanya Melisa begitu mendapati David yang berdiri di depan pintu kamarnya.
“Itu kak di depan ada para bodyguard yang katanya suruhan untuk mengawal mobil yang akan membawa kakak ke tempat kak Alvin.”
Melisa mengernyit. Alvin tidak mengatakan apapun padanya. Dia hanya bilang akan menyuruh supir pribadinya untuk menjemput Melisa. Itu pun supir yang sudah Melisa kenal. Namun tiba tiba David mengatakan ada bodyguard yang datang dan bermaksud mengawal mobil yang akan membawa Melisa.
Melisa terdiam sesaat. Pikiran pikiran buruk mulai menguasainya. Melisa khawatir jika ternyata itu adalah orang orang suruhan dari Alex yang di tugaskan untuk mengacaukan acara pernikahan nya dengan Alvin.
“Ayo kita ke depan.” Ajak Melisa pada David.
David mengangguk saja. Mereka berdua kemudian melangkah bersama menuju ruang tamu untuk melihat beberapa orang yang baik Melisa maupun David tidak mengenalnya dari kaca.
Mereka berdua tentu saja tidak berani keluar untuk menemui mereka secara langsung. Mereka sama sama takut jika ternyata beberapa orang berbadan kekar dan berbaju serba hitam itu adalah orang yang berniat jahat.
“Kakak kenal sama Mereka?” Tanya David sambil menatap satu persatu para bodyguard itu.
Melisa menggelengkan kepalanya. Wanita yang sudah rapi dengan setelah kebaya putih mewah itu satupun tidak mengenal mereka.
__ADS_1
“Kak Alvin nggak ngomong apa apa sama kakak tentang mereka semua?” Tanya David lagi. Sekarang David menjadi tidak tega jika harus membiarkan kakaknya datang ke kediaman Alvin yang memang menjadi tempat acara pernikahan dan resepsi itu akan berlangsung sore ini.
“Enggak. Alvin hanya bilang dia akan menyuruh supir pribadinya datang menjemput kita. Itu saja.” Jawab Melisa yang sudah di kuasai oleh rasa takut dan khawatir. Apa lagi beberapa hari yang lalu Alex sempat menghubungi nya dan menghinanya. Tentu saja pikiran Melisa sekarang adalah orang orang tersebut adalah suruhan dari Alex yang bermaksud tidak baik padanya.
“Mending sekarang kakak coba telepon kak Alvin deh. Kakak tanya siapa mereka.” Saran David yang tentu langsung mendapat anggukan setuju dari Melisa.
Namun saat Melisa hendak berlalu dari depan kaca untuk mengambil ponselnya, tiba tiba terdengar suara klakson mobil. Itu adalah mobil yang biasa Alvin bawa yang sudah di hias sedemikian cantiknya. Yang artinya mobil tersebut berisi supir pribadi yang di maksud Alvin untuk menjemput Melisa dan kedua adiknya.
“Itu kan mobil kak Alvin..” Gumam David.
Melisa menelan ludah. Dugaan nya dan David benar, para pria berbadan kekar itu bukan suruhan Alvin.
Setelah mobil Alvin berhenti tepat di halaman rumah Melisa, supir yang di maksud Alvin keluar. Pria berkulit coklat dan sudah tidak lagi muda. Namun pria itu juga bukan pria sembarangan. Meski tubuh nya kecil dan sedikit pendek, namun dia mempunyai ilmu bela diri yang luar biasa sehingga Alvin mempercayakan keselamatan Melisa dan kedua adiknya pada supir pribadinya tersebut.
Sebut saja namanya pak Amin. Pak Amin menatap satu persatu pria berbadan kekar yang berdiri di teras depan rumah Melisa. Dengan tenang kemudian dia mendekat.
“Mereka ngomongin apa kak?” Tanya David yang tidak bisa mendengar apa yang di bicarakan oleh pak Amin dan para pria berbadan kekar tersebut.
“Kakak juga nggak tau dek. Tapi itu pak Amin. Dia supir pribadi keluarganya Alvin.”
David menghela napas. Perasaan nya menjadi campur aduk sekarang. Supir pribadi keluarga Alvin tampak santai-santai saja mengobrol dengan para pria menyeramkan itu. Hal itu membuat David khawatir akan keselamatan kakaknya.
“Sebentar, kakak telepon Alvin dulu.” Ujar Melisa yang kemudian berlalu.
David hanya mengangguk saja. Dia kembali memperhatikan dari dalam rumah para pria berbadan kekar itu juga pak Amin yang tampak tenang berada di tengah-tengah mereka semua.
David takut jika ternyata pak Amin juga mempunyai niat tidak baik pada kakaknya. Apa lagi David juga sana sekali tidak mengenal siapa pak Amin. Rasa cinta dan sayang nya pada sang kakak membuat David merasa takut jika ternyata semua orang yang berada di teras depan rumahnya mempunyai niat yang bahkan Alvin saja tidak tau.
__ADS_1
Sementara itu di dalam kamar, Melisa bergegas meraih ponselnya yang ada di atas nakas. Dia segera menghubungi Alvin untuk menanyakan siapa pria pria berbadan kekar di depan rumahnya sekarang.
Sekali, dua kali Melisa menghubungi Alvin namun tidak kunjung mendapat jawaban. Namun Melisa tidak menyerah, dia terus berusaha menghubungi calon suaminya itu sehingga di panggilan yang ketiga Alvin baru mengangkat telepon darinya.
“Halo sayang...” Sapa Alvin dari seberang telepon.
“Pak Amin sudah sampai situ belum sayang?” Tanya Alvin kemudian.
“Sudah. Pak Amin sudah ada di depan Vin. Tapi di depan bukan hanya ada pak Amin. Tapi juga laki laki berbadan kekar dengan jumlah lebih dari satu. Mereka bahkan sampai lebih dulu dari pak Amin disini.” Kata Melisa dengan rasa takut yang sudah menguasainya.
“Apa?” Alvin terkejut di seberang telepon mendengarnya. Pasalnya Alvin hanya menyuruh pak Amin saja yang menjemput Melisa dan kedua adiknya.
“Aku nggak nyuruh siapa siapa selain pak Amin sayang. Sekarang pak Amin dimana? Apa dia sudah menemui kamu dan David?” Tanya Alvin dengan nada ke khawatiran yang begitu kentara dengan jelas.
“Enggak Vin, aku sama David nggak berani keluar. Mereka terlalu menyeramkan. Aku takut mereka punya niat tidak baik sama aku, David, juga Farid.” Jawab Melisa yang kedua matanya sudah berkaca kaca. Melisa merasa keselamatan nya juga kedua adiknya mulai terancam sekarang.
“Oke kamu tenang ya Sa.. Kamu dan David jangan keluar dulu. Aku akan hubungi pak Amin. Tetap di dalam dan kunci pintunya.”
“Iya..” Angguk Melisa.
Alvin memutuskan sambungan telepon nya setelah itu. Sedang Melisa, rasa khawatir dan takut itu semakin besar setelah tau Alvin tidak menyuruh siapapun selain pak Amin untuk menjemput nya.
“Gimana kak?” Tanya David yang entah sejak kapan sudah berdiri di ambang pintu kamar Melisa.
Melisa menggelengkan kepalanya.
“Alvin juga nggak tau tentang orang orang itu dek.” Lirih Melisa.
__ADS_1
David berdecak kesal. Andai ilmu bela dirinya tinggi mungkin dia sudah keluar sejak tadi. Mungkin juga dirinya bisa menjamin keselamatan kakaknya sekarang. Tapi sayangnya ilmu bela diri David hanya pas Pasan bahkan masih sangat kurang sehingga David harus berpikir dua kali untuk menghadapi pria pria berbadan kekar yang sedang berada di teras depan rumahnya.