SAYANG

SAYANG
Bertemu Mereka


__ADS_3

Setelah sarapan kami segera melakukan perjalanan ke pulau Rinja‒yang membuatku berharap untuk segera bertemu dengan para Komodo, bukan karena aku sangat menantikannya, tapi aku hanya tidak sabar.


Pulau Rinja letaknya tidak begitu jauh dari hotel tempat kami menginap. Kami menggunakan perahu  untuk sampai ke sana. Kami berlayar sekitar satu jam, perjalanan ke pulau Rinja melewati pulau-pulau kecil, dari jauh semuanya tampak indah. Tiwa dan Vicky tidak melewatkan setiap menit pun untuk mengabadikan moment, mulai dari pemandangannya dan objek pemandangannya, yaitu kami.  Selama perjalanan semuanya tenang, Ramona dan Marlyn tampak akur, mereka menikmati pemandangan yang disuguhkan pulau Komodo, hamparan laut yang indah.


Jason ... apa lagi ya lanjutan namanya?-duduk di dekat pengemudi perahu, dia tidak banyak bicara. Dia selalu terlihat menikmati pemandangan di depannya, meskipun dia setiap hari melihatnya. Menurutku.


Kami tiba di pulau Rinja satu jam kemudian. Tujuan kami adalah pulau Komodo. Sebenarnya kami bisa langsung ke pulau Komodo tanpa harus singgah di pulau Rinja terlebih dahulu, tapi Jason menyarankan demikian karena menurutnya ada pemandangan yang tidak boleh kami lewatkan.


Seperti yang dikatakan oleh Jason, perjalanan ke pulau Komodo memang melewati pemandangan yang langka, pohon-pohon tak berdaun dengan batang berwarna berwarna putih‒terhampar di sepanjang pulau kecil yang kami singgahi, pasir coklat muda dan bukit-bukit hijau. Sangat menakjubkan. Kami singgah sejenak.


“Putri! Di sini sangat cocok untuk berfoto!” Teriak Ramona. Dia berlari mendekati pepohonan, kemudian memeluknya, dia tersenyum ke arahku. “Putri, ke sinilah! Berfoto denganku!” Teriaknya.


“Putri! Ayo berfoto denganku juga!” Kata Marlyn tidak kalah cerianya dengan Ramona. Dia menarik tanganku, aku mengikutinya. Kami bertiga berfoto bersama di bawah pohon kering. Fajar mengambil gambar kami sebanyak-banyaknya. Pemandangan yang langka dan unik.


“Denganku lagi!” Teriak Vicky dari jauh. Dia berlari mendekati kami. Tiwa juga ikutan. Pada akhirnya, kami semua mengambil satu foto bersama‒menjadikan Jason sebagai phootografinya.


“Hmmm. Pohon Huelwa!” Kata Ramona sambil memeluk pohon kering dengan lembut, dia menempelkan wajahnya.


“Pohon Huelwa?” Tanyaku dan Marlyn secara bersamaan.


“Pohon kuno yang dijaga oleh para Peri!” Jawabnya. Dia sedang berkhayal. “Jika Putri memeluk pohon ini, Putri akan mendapat berkah tak terhingga.” Katanya.


Sebenarnya seberapa besar kecanduannya? Jelasnya, aku tidak akan pernah melakukannya.


“Jadi begitu.” Kata Marlyn. Dia juga memeluk pohonnya.


“Leva! Kau jangan sampai mengikuti mereka berdua, tubuhmu akan gatal-gatal!” Kata Vicky padaku. Tanpa diperingatkan pun aku pasti tidak akan melakukannya.


“Kita berangkat sekarang?” Tanya Jason.


Pak Abdul menjawab, “Ya!”


Ramona dan Marlyn masih dimabukan oleh dunianya. “Ramona, Marlyn! Ayo pergi!” Ajakku karena mereka berdua hampir ditinggalkan.


“Baik, Putri!”


Setelah itu kami berangkat ke pulau Komodo. Hari mulai siang ketika kami sampai di sana.


“Hore ...” Teriak Tiwa semangat. “Kita akan segera bertemu dengan para Komodo!” Lanjutnya. Apa yang membuatnya begitu tertarik dengan Komodo, ya?


“Ayo!” Kata Fairel padaku. Kami turun dari perahu.


“Tolong lepaskan pandanganmu dari Putri!” Kata Marlyn pada Fairel.


“Aku hanya menatapnya, apa itu juga dianggap kejahatan?” Tanya Fairel tidak serius.


“Tatapan laki-laki busuk adalah kejahatan!” Lanjut Ramona. Busuk?


Kami sudah berada di pulau Komodo. Pulau yang penuh legenda. Kata siapa? Kata Ramona. “Pulau yang dihuni oleh para pengendali siluman. Penjaga pulau mengasah pedang gaib untuk membunuh siluman, pedang sakti yang sangat sakti itu terbuat dari ratusan tulang punggung Komodo.”


Pedang yang terbuat dari tulang?


“Direndam dengan darah Komodo selama tujuh purnama, sarung pedang terbuat dari kulit Komodo dan ganggang pedang terbuat dari tanduk Komodo.”


Ngomong-ngomong, Komodo tidak punya tanduk, Ramona.


“Kenapa belum ada satu pun Komodo yang datang menyambut kami?” Tanya Vicky sambil menertawakan dirinya sendiri.


“Mereka tidak sopan!” Kataku pelan. Mereka semua serentak menatapku.


“Apa dia serius mengatakannya?” Tanya Adit memastikan.

__ADS_1


“Dia selalu serius!” Kata Ono.


Kami melanjutkan perjalan untuk melihat Komodo ke Loh Liang. Sesampai di Loh Liang, Vicky mengajakku pergi berdua, tanpa Ramona dan Marlyn, juga tanpa Tiwa. Aku mengikutinya.


Sampai saat ini kami berdua belum melihat satu Komodo pun.


“Ini sangat menyenangkan, Leva! Pergi berjalan berdua bersama teman perempuan, kemudian belanja bersama. Saling menukar pendapat, ah sudah sangat lama aku memimpikan ini.” Kata Vicky bahagia.


Komodonya kenapa belum ketemu juga? Ah! Ketemu.


“Leva! Ayo foto aku di sini!” Kata Vicky padaku. Dia memberikan kameranya. Dia belum melihat Komodonya, yang merayap setengah meter di sampingnya.


“Dengan Komodo?” Tanyaku.


“Ah, jangan bercanda. Aku takut Komodo!” Kata Vicky sambil tersenyum.


Dia kemudian berpose. Meskipun dia mengatakan untuk tidak mengambil gambarnya dengan Komodo, tapi Komodonya tetap masuk. Vicky masih belum menyadarinya.


“Vicky! Geser sedikit, karena Komodonya juga ikut masuk!” Kataku.


“Ha?” Vicky kaget. Perlahan dia memutar lehernya ke samping, “AAAAA!” Vicky berteriak. Dengan reflex dia berlari menjauh. Dia menabrak seseorang yang sedang memotret temannya di dekat pohon. Karena kaget, laki-laki itu berbalik.


“GIN!!!” Kata Vicky kaget. Gin juga kaget melihat Vicky.


“Vicky? Kau … yang di kelas tambahan?” Tanya Gin dengan mata melotot.


“Kau Gin, satu kelas dengan Leva. Benar, kan?” Tanya Vicky seakan tidak percaya.


“Kalau kau ada di sini, berarti Leva juga …” Gumam Gin pelan.


“Dia di sana!” Tunjuk Vicky.


“LEVA …” Panggil Gin dengan suara nyaring. “LEVAAA!” Teriaknya lagi, padahal dia sangat dekat dengan kami, masih saja berteriak.


“Kau yang waktu itu―” Kata Ono yang muncul tiba-tiba, bersama Fairel.


“Kalian semua ada di sini?” Tanya Gin terkejut. “Dan kenapa dua gadis menakutkan ini ada di sini pula?” Katanya pada Ramona dan Marlyn.


“Entahlah.” Gumam Fairel tidak bergairah.


Hari semakin siang, perjalanan masih terus dilanjutkan. Kami melakukan pendakian di gunung Ara. Gin mengikuti kami, mereka tidak memiliki guide seperti kami. Mereka maksudku adalah teman-teman sekelasku, ada enam yang ikut dengan Gin. Benar yang dikatakan oleh Ono, tiketnya hanya untuk enam orang. Lalu yang lainnya bagaimana?


Kami sampai di bukit Ara. Pendakian bukit Ara adalah perjalanan yang sungguh sangat melelahkan, aku belum pernah mendaki bukit sebelumnya. Saat mendaki, aku berharap Ramona dan Marlyn menawarkan dirinya untuk menggendongku, tapi mereka berdua terlihat lebih lelah dari pada aku, kuurungkan niatku untuk memberi perintah.


Begitu sampai di atas bukit, kami disuguhi pemandangan yang menakjubkan, yaitu pemandangan Loh Sabita, pantai merah menakjubkan yang dikelilingi oleh pulau-pulau kecil lainnya. Pemandangan di atas bukit memang yang paling luar bisa. Begitu menyaksikannya, lelah yang kurasakan sirna begitu saja.


“Indah!” Gumamku.


“Ya! Ini sangat indah.” Tanggap  Fairel yang ada di sampingku. Dia tersenyum padaku, dalam benakku, aku berkata, bahwa dia jauh lebih indah dari Loh Sabita.


Semua orang yang ada bersamaku saat ini, tersenyum. Aku melihat kepuasan dan kebahagiaan di mata mereka. Hari ini cukup baik. Aku tidak menyesali keputusanku, karena mau berbagi waktu dengan orang-orang yang masih dalam kategori asing bagiku.


                            *


Setelah sekitar satu jam kami beristirahat di bukit Ara, kami memutuskan untuk kembali menuruni bukit.


Kami kembali bersama dengan rombongannya Gin. Mereka juga menginap di hotel yang sama dengan kami, mereka berada di kamar lantai tiga, sedangkan kami berada di kamar lantai pertama. Kami sampai di hotel jam lima sore, lalu memutuskan untuk singgah di restoran yang ada di lantai satu hotel. Begitu sampai di restoran, ada sesuatu yang tak terduga yang menunggu kami. Kami bertemu dengan mereka.


“Yo! Kalian sangat lama. Kami sudah menunggu sejak tadi pagi.” Sapanya akrab sambil tersenyum. Qhaza?


“Kami bosan menunggu, jadi kami pergi melihat kalian di pantai!” Kata Qarima.

__ADS_1


“Sebenarnya kami bermain-main di pantai sejak pagi. Makanya kulit kami menjadi coklat seperti ini.” Tambah gadis hantu, dia juga ada di sini.


Serta, kulit mereka bertiga benar-benar berubah menjadi coklat.


“Jangan berkata seperti itu, El! Kita benar-benar mencari mereka.” Kata Qarima pada gadis hantu.


“Tapi, kita benar-benar hanya bermain-main!” Kata gadis hantu pada Qarima. Mereka bertiga sibuk berdebat, kami semua melototi mereka dengan ketidakpercayaan. Aku ingin menebak, kira-kira, siapa lagi yang akan kami temui setelah ini? Ayah dan Lea? Atau kepala sekolah?


“El! Kau juga ada di sini?” Tanya Fairel, agak sedikit terlambat‒reaksinya.


“Apa kakak marah? Jangan begitu, aku juga ingin bersenang-senang.” Kata gadis hantu pada Fairel.


“Kau memaksa untuk ikut.” Kata Qhaza sinis, pada gadis hantu.


“Bisakah kau lebih baik lagi padaku? Kita berada di tempat yang asing.” Kata gadis hantu.


“Haruskah kita memesan makanan sekarang?” Qarima mengalihkan pembicaraan. “Aku sangat lapar!” Katanya sambil meraih buku menu yang tersedia di atas meja.


Kami menempati meja terbesar yang ada di restoran dan menghabiskan makan malam dengan lahap, kemudian kembali ke kamar.


Qarima, Qhaza dan gadis hantu mengikuti kami.


“Maaf ya Leva. Kurasa, aku harus tidur di kamarmu.” Kata Qarima cengengesan.


“Kami tidak punya uang, jadi kami tidak memesan kamar.” Kata gadis hantu melanjutkan.


Fairel menghembuskan nafasnya.


“Kakak. Kenapa kau menatapku seperti itu?”


Dia memanggilnya kakak, lagi? Siapa sebenarnya dia?


“Kakak?” Tanyaku bingung.


“Ya! Dia adalah kakakku!” Kata gadis hantu dengan senyum jahil yang diarahkan kepadaku. Dia menggandeng tangannya Fairel. Fairel terlihat lelah dengan tingkahnya.


“Kak Leva, Elma adalah adiknya kak Fairel.” Jelas Qhaza segera.


Aku sedikit ... terkejut dengan itu. Yang lainnya bereaksi biasa saja, karena sepertinya mereka sudah mengetahuinya. Hanya aku saja di sini yang tidak tahu apa-apa. Juga tidak masalah jika memang seperti itu, ini bukan sesuatu yang akan mempengaruhi hidupku.


“Aku sudah ngantuk!” Kata Vicky.


“Baiklah. Ayo ke kamar.” Kataku dengan wajah super datar, untuk memperlihatkan kepada semua orang, bahwa aku, tidak peduli dengan apa yang baru saja kuketahui.


Qarima ikut denganku dan Vicky, sementara Elma atau El ikut ke kamarnya Tiwa. Elma yang kumaksud adalah gadis hantu, karena dia adiknya Fairel jadi aku memutuskan untuk mulai menyebutnya El.


“Yahhh. Kamar kalian berdua sangat bagus!” Kata Qarima, dia membanting tubuhnya di atas kasur. “Kasur ini benar-benar nyaman.” Katanya, dia berguling ke kiri dan ke kanan. Dia menggerak-gerakkan kakinya, menutupi wajahnya dengan selimut tanpa berhenti berguling-guling. Vicky yang masih berdiri menatapnya dengan bingung.


“Leva!” Vicky mendekatiku, dia berbisik, “Apa saudaramu memang selalu seperti itu?”


“Kadang-kadang.” Jawabku pelan.


“Serius?” Vicky sedikit kaget. “Dia sangat berbeda dengan Qarima yang aku tahu!” Gumam Vicky pada dirinya sendiri.


“Di sini juga kita bisa melihat pantai.” Kata Qarima, dia berlari ke arah jendela. Membuka gorden lebar-lebar. “Waaaaah!” Matanya berbinar-binar menyaksikan pemandangan yang ada di luar kamar.


Itu memang indah. Aku dan Vicky juga takjub, pemandangan pantai pada malam hari memang punya pesonanya sendiri. Kami tidak sempat menyaksikannya tadi malam.


Aku dan Vicky berjalan ke arah jendela, ingin melihat lebih dekat lagi. Binar cahaya lampu menghiasi pantai. Di depan kamarku, ada kolam renang yang memanjang disepanjang hotel, di pinggirannya tumbuh pohon palam. Setelah itu, pasir putih menghampar sampai ke pantai. Di pinggir pantai, kami bisa menyaksikan bukit-bukit indah taman nasional Komodo yang mengelilingi pantai. Di sana, masih sangat banyak orang yang berkeliaran. Ini benar-benar menakjubkan.


“Aku mandi dulu, ya.” Kata Qarima. Dia meninggalkan kami berdua yang masih takjub memandangi pemandangan lewat jendela.

__ADS_1


__ADS_2