
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Erlan tidak henti hentinya membisikkan kalimat penyemangat serta penuh cinta pada Lena yang sedang merasakan sakit. Tapi Erlan tidak sekuat dan setangguh biasanya. Kali ini pria itu tidak bisa menahan air matanya. Ya, Erlan menangis dalam diam mendengar rintihan penuh kesakitan Lena.
Erlan takut, tapi juga senang secara bersamaan. Erlan takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada istrinya. Tapi Erlan juga bahagia karena sebentar lagi akan bertemu dengan putra pertama mereka. Putra yang selama sembilan bulan ini sangat di tunggu tunggu kehadiran nya. Putranya yang juga menyiksa Erlan dengan berbagai kemauan ajaib Lena yang mau tidak mau harus Erlan turuti dan hadapi dengan penuh kesabaran.
Sekitar setengah jam perjalanan, Mobil yang di kemudikan oleh bodyguard Erlan pun sampai tepat di depan rumah sakit. Erlan bergegas membawa Lena turun dari mobil saat bodyguard tersebut membukakan pintu mobil untuk nya. Sebelumnya Erlan juga sudah meminta bodyguard nya untuk memberitahukan pada dokter Susan yang selama ini menangani Lena bahwa Lena sudah mengalami kontraksi. Beruntung kediaman dokter Susan tidak jauh dari rumah sakit sehingga begitu Erlan sampai dokter Susan sudah siap di tempat.
Erlan tidak memperdulikan penampilan nya yang hanya mengenakan kaos putih polos dengan boxer diatas lutut. Bahkan untuk alas kakinya Erlan hanya mengenakan sandal rumahan. Dan sekali Erlan beruntung karena di malam yang sudah larut itu suasana rumah sakit elit tersebut lumayan sepi. Sehingga disana hanya ada pegawai rumah sakit yang berlalu lalang. Meski mereka juga sempat mencuri pandang pada Erlan yang terlihat sangat tidak biasa dengan penampilan nya.
Yang ada di pikiran Erlan saat itu hanya keadaan istrinya yang harus baik baik saja.
“Boleh saya menemani istri saya selama proses persalinan dokter?” Tanya Erlan menatap dokter Susan penuh harap.
Dokter paruh baya itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dia tau bagaimana Erlan sangat menyayangi dan mencintai Lena, istrinya.
“Tentu saja boleh tuan. Tapi sebelumnya anda harus memakai baju khusus rumah sakit dulu. Nanti perawat akan membawakan nya untuk anda.” Kata dokter Susan dengan sangat bijak.
“Baik, terimakasih dokter.”
“Sama sama tuan. Kalau begitu saya permisi.”
Erlan hanya mengangguk saja. Tidak lama kemudian datang seorang perawat yang membawa baju khusus rumah sakit yang kemudian langsung Erlan kenakan. Erlan pun lalu masuk ke dalam ruangan tempat Lena berada.
Erlan menghela napas melihat Lena yang sesekali meringis diatas brankar. Lena juga terlihat menarik napas dalam dalam kemudian menghela nya perlahan lewat mulut. Melihat itu Erlan benar benar merasa sangat tidak tega. Pria itu bahkan sampai berpikir jika saja rasa sakit itu bisa berpindah pada dirinya, Erlan rela merasakan nya.
“Sayang...” Panggil Erlan mendekat dan langsung meraih tangan Lena. Erlan juga memberikan ciuman lembut nya di kening Lena.
__ADS_1
Lena mengukir senyuman manis di tengah rasa sakit yang sedang menderanya.
“Aku baik baik saja Erlan. Aku baik baik saja.” Ujar Lena lirih.
Erlan tertawa mendengar itu. Tawa yang juga berhasil meloloskan air mata yang begitu cepat menyebrangi kedua pipinya. Lena meskipun sedang di terpa rasa sakit hebat tapi masih bisa begitu sangat semangat. Lena bahkan mengatakan bahwa dirinya baik baik saja pada Erlan seolah sedang menenangkan Erlan agar tidak panik. Padahal jelas jelas Erlan sendiri melihat bagaimana Lena yang sedang berjuang menahan rasa sakit akibat kontraksi di perut nya.
“Kita akan menjadi orang tua Erlan. Sebentar lagi kita akan bertemu dengan anak kita. Kita akan di panggil mommy dan daddy. Aku benar benar sangat tidak sabar.” Tambah Lena dengan suaranya yang begitu lirih bahkan sempat tertelan saat kontraksi itu kembali dia rasakan.
“Ya.. Iya sayang. Kamu akan menjadi mommy dan aku Daddy nya. Kamu semangat ya sayang.. Aku percaya sama kamu. Kamu hebat, kamu pasti bisa.” Angguk Erlan menyemangati.
“Aku akan selalu disini, disamping kamu.” Lanjut Erlan.
Lena tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Posisi wajah mereka begitu dekat sehingga Lena bisa melihat dengan jelas raut ke khawatiran di wajah suaminya. Lena juga bisa merasakan hembusan napas hangat suaminya di wajahnya yang basah oleh keringat.
Selama proses luar biasa menyakitkan itu Lena terus berusaha menghadapinya dengan tenang. Apa lagi Erlan juga selalu ada di sampingnya, menggenggam tangan Lena, mengusap lembut keringat di kening Lena, membelai lembut pipi Lena juga memberikan kecupan kecupan lembut di kening Lena.
Dokter Susan dan perawat yang malam itu bertugas segera menyiapkan semua yang di perlukan. Mereka dengan sigap menangani Lena yang memang sudah waktunya melahirkan. Prosesnya memang tidak sebentar karena bahkan Erlan dan Lena harus menunggu sampai pagi untuk anak mereka di lahirkan.
Saat sedang dalam proses melahirkan, Erlan terus menemani istrinya. Dia terus menggenggam tangan Lena sembari membelai kening Lena. Tidak lupa kata kata semangat dan romantis juga Erlan ucapkan untuk menyemangati istrinya yang sedang berjuang dengan bertaruh nyawa demi melahirkan anak mereka.
Hingga akhirnya terdengarlah suara tangisan bayi yang menggema di seluruh sudut ruangan bersalin itu. Dan terdengarnya suara tangisan itu bersamaan dengan hilangnya rasa sakit yang Lena rasakan. Namun kini rasa lemaslah yang mendera tubuh Lena. Rasanya seperti tulang belulang dalam tubuhnya lolos begitu saja.
Erlan yang melihat itu tersenyum dengan air mata yang membasahi kedua pipinya. Pria itu langsung mengucap syukur sembari menciumi seluruh wajah cantik istrinya.
“Kamu hebat sayang.. Kamu hebat.” Lirih Erlan membuat Lena tertawa geli.
__ADS_1
Dokter dan perawat segera membersihkan bayi tampan Lena dan Erlan. Mereka juga membantu Lena membersihkan diri. Setelah itu Lena pun di pindahkan ke ruang rawat beserta bayinya karena memang keadaan Lena dan bayinya sehat.
“Sayang...” Panggil Lena pada Erlan yang selalu berada disampingnya.
“Ya cintaku...” Sahut Erlan dengan mesra. Pria itu meraih tangan Lena dan mencium punggung tangan wanitanya penuh cinta.
“Kenapa Hem?” Tanya Erlan kemudian.
Lena terdiam sesaat. Wanita itu menatap Erlan yang terlihat berantakan layaknya orang yang baru bangun tidur. Kaos putih polos juga boxer diatas lutut juga masih melekat di tubuhnya membuat Lena merasa tidak biasa dengan penampilan suaminya. Jika sedang di rumah mungkin Lena maklum. Tapi sekarang mereka berada di rumah sakit dan Erlan pun bertemu dengan dokter dan perawat yang pasti juga merasa aneh dengan penampilan Erlan.
“Kamu nggak pengin ganti baju?” Tanya Lena yang berhasil membuat Erlan mengernyit.
“Hah? Ganti baju?” Tanya Erlan balik dengan wajah bingung. Saat itulah Erlan baru menyadari penampilan nya yang sangat tidak pantas itu.
Detik berikutnya Erlan tertawa sendiri. Kondisi Lena membuat Erlan tidak perduli dengan apapun. Karena yang ada di pikiran Erlan hanya Lena dan Lena.
“Ya Tuhan... Ya sudah sayang sebentar, aku ganti baju dulu ya.. Mbok, saya titip istri dan anak saya yah..”
“Baik tuan.”
Erlan kemudian menjauh dari brankar Lena dan meraih tas berisi baju ganti untuk nya yang di bawakan oleh si mbok. Dia kemudian melangkah menuju kamar mandi yang ada di ruang rawat Lena.
Sementara Lena, dia menghela napas. Rasanya seperti mimpi setelah dirinya mengalami sendiri proses luar biasa itu. Rasa sakit yang tidak bisa Lena ungkap dengan kata kata. Rasa sakit yang juga hilang seketika begitu terdengar suara tangisan putra pertamanya.
Lena kemudian menoleh menatap putranya yang sedang terlelap di box bayinya setelah menyusu untuk pertama kalinya pada Lena.
__ADS_1
“Terimakasih sudah hadir dalam kehidupan mommy sayang..” Batin Lena penuh rasa syukur.