
“Hati Hati...” Melisa melambaikan tangan nya pada Farid yang mulai melangkah menjauh darinya dan masuk ke dalam lingkungan sekolah nya.
Melisa merasa sangat lega sekarang karena adik bungsunya sudah sembuh dan bisa beraktivitas seperti biasanya lagi. Dan hari ini adalah hari pertama Farid kembali masuk ke sekolah setelah beberapa hari tidak masuk.
“Sudah?” Tanya Alvin yang berdiri di samping Melisa. Ya, pagi ini pria itu sengaja menyempatkan waktunya untuk mengantarkan Farid ke sekolah.
Melisa menoleh dan tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya.
“Makasih banget yah kamu sudah mau menyempatkan waktu buat anterin Farid ke sekolah pagi ini. Maaf kalau aku terlalu banyak merepotkan kamu akhir akhir ini.”
Alvin tertawa mendengar apa yang Melisa katakan. Alvin merasa senang bisa membantu Melisa dan kedua adiknya. Apa lagi Alvin juga sangat mencintai Melisa sehingga dirinya rela melakukan apa saja demi bisa menyenangkan hati wanita yang sangat di cintai nya itu.
“Apaan sih kamu Sa.. Ini itu belum seberapa. Aku bahkan akan melakukan apa saja untuk kalian. Aku siap untuk bertanggung jawab segalanya atas kamu juga kedua adik kamu Melisa, Farid dan David.”
Melisa tersenyum lagi. Ucapan Alvin membuat Melisa merasa sangat tersanjung. Melisa tidak menyangka akan bertemu dengan pria sebaik dan setulus Alvin. Pria yang dengan suka rela melakukan apa saja untuk membantunya juga keluarganya.
“Makasih yah.. Aku nggak tau apa yang harus aku katakan sama kamu Vin. Apa yang kamu lakukan buat aku dan adik adik aku sudah sangat banyak. Dan aku nggak tau harus bagaimana cara membalas semua yang sudah kamu lakukan untuk kami.”
Alvin menghela napas kemudian berdecak pelan. Dengan gemas dia mencubit pelan pipi Melisa.
“Udah nggak usah bawel. Nggak usah lebay dan nggak usah mikirin apapun. Yang penting kita semua bahagia dengan saling menyayangi dan saling menjaga.”
Melisa tertawa pelan. Alvin seperti nya memang tidak mau jika jasanya selalu di bahas.
“Ya udah yuk aku anterin pulang. Pesenan kue kamu sudah banyak loh. Aku juga harus ke kantor.” Kata Alvin mengajak Melisa pulang.
__ADS_1
“Eum.. Udah nggak usah Vin, nanti kamu telat lagi kalau harus nganterin aku pulang juga. Kamu langsung jalan aja. Aku biar naik taksi.” Ujar Melisa yang tidak ingin terus terusan membebani Alvin.
Alvin menyipitkan kedua matanya mendengar apa yang Melisa katakan. Pria itu merasa sangat tidak suka karena Melisa merasa tidak enak hati padanya.
“Sa, jangan sampe deh aku cium kamu disini sekarang.”
Kedua mata Melisa membulat mendengarnya. Bagaimana mungkin seorang Alvin berkata seperti itu padanya.
“Kok kamu...”
“Mending sekarang kamu masuk mobil, aku anterin kamu pulang dulu baru setelah itu aku berangkat ke kantor. Atau kamu mau aku cium beneran di depan anak anak kecil disini hem?”
Melisa tidak bisa berkata apa apa. Ancaman manis Alvin membuat nya terkejut sekaligus salah tingkah. Karena khawatir Alvin benar benar akan melakukan apa yang Alvin katakan, Melisa pun merasa tidak punya pilihan selain menuruti ucapan Alvin dengan masuk ke dalam mobil milik pria itu.
Setelah Melisa masuk dan duduk dengan tenang di kursi samping kemudi, Alvin pun menyusul masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi. Alvin melirik Melisa yang hanya diam saja, pria itu menebak Melisa pasti menganggap serius ancaman nya tadi.
“Kita jalan sekarang.” Kata Alvin yang sama sekali tidak mendapat sahutan apapun dari Melisa.
Lagi dan lagi, tanpa Melisa dan Alvin sadari ada sosok yang memperhatikan mereka berdua dari kejauhan. Sosok yang juga sejak tadi mengikuti mobil Alvin dari rumah Melisa sampai ke sekolah Farid. Sosok yang tidak lain dan tidak bukan adalah Alexander Smith, mantan bos Melisa yang sampai saat ini masih berharap bisa berhubungan baik dengan Melisa.
Alex berdecak kesal. Melihat Melisa yang hampir setiap hari selalu bersama dengan Alvin membuatnya merasa gerah. Alex juga merasa kesal dan marah karena keduanya yang sepertinya tidak terpisahkan. Padahal pagi ini Alex sengaja menyempatkan waktunya untuk melihat keadaan Melisa, namun lagi lagi yang dia lihat adalah Melisa sedang bersama dengan Alvin. Bahkan kali ini Alvin juga sampai ikut mengantar adik bungsu Melisa ke sekolah.
“Sial !!” Umpat Alex kesal.
Alex kemudian kembali melajukan mobilnya setelah mobil Alvin berlalu. Dia kembali mengikuti mobil Alvin. Kali ini Alex sudah tidak bisa menahan diri lagi. Tidak perduli apapun yang akan terjadi nanti, Alex akan menemui Melisa.
__ADS_1
Alex terus mengikuti mobil Alvin sampai akhirnya mobil Alvin berhenti di depan rumah Melisa. Alex kembali mengawasi mereka dari kejauhan hingga akhirnya Melisa turun dari mobil Alvin. Alex melihat mereka sempat berbincang sebentar dengan Alvin yang tetap berada di dalam mobilnya hingga akhirnya Alvin pun berlalu.
Alex tersenyum karena merasa mempunyai kesempatan. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan tersebut, Alex pun segera melajukan mobilnya memasuki pekarang rumah sederhana Melisa.
Dan hal itu berhasil membuat perhatian Melisa teralihkan. Melisa yang saat itu sudah sampai di depan pintu rumahnya menelan ludah. Melisa terkejut juga merasa takut karena kedatangan Alex yang begitu sangat tiba-tiba. Apa lagi sekarang tidak ada siapa siapa yang bisa melindungi nya. Alvin sudah pergi dan David sedang sekolah. Melisa khawatir Alex akan berbuat macam macam padanya mengingat bagaimana kejam dan buasnya pria itu dulu.
“Aku harus masuk sekarang.” Gumam Melisa lirih.
Melisa buru buru merogoh tas selempang yang dia kenakan mencari kunci rumahnya. Namun kunci tersebut tidak juga dia raih. Itu membuat Melisa semakin takut, terlebih Alex yang sudah turun dari mobilnya dan mulai melangkah mendekatinya.
Alex yang melihat Melisa tampak ketakutan pun tersenyum. Pria itu merasa Melisa sangat berlebihan.
“Long time no see Melisa.” Ujar Alex dengan santai sambil terus melangkah mendekat pada Melisa yang berdiri di depan pintu utama rumahnya.
Melisa semakin merasa khawatir. Suara bariton Alex terdengar sangat mengancam sekarang.
“Ya Tuhan.. Tolong hamba..” Jerit Melisa dalam hati. Dia terus berusaha mencari kunci di dalam tasnya. Entah kemana hilangnya kunci rumahnya itu. Padahal tidak ada apa apa di dalam tasnya selain ponsel dan dompetnya.
“Kenapa Melisa? Kamu takut padaku hem?” Tanya Alex berdiri menjulang di depan Melisa.
Napas Melisa mulai memburu. Rasa takut benar benar mendominasi hati dan pikirannya sekarang. Alex adalah pria paling kejam yang pernah dia kenal. Alex begitu arogan dan egois dengan tidak memikirkan perasaan orang lain bahkan perasaan istrinya sendiri pun Alex tidak perduli.
Karena tidak kunjung menemukan kunci yang dia cari, Melisa pun berusaha menegakkan kepalanya dengan sisa keberanian nya yang hanya tinggal secuil itu.
“Mau apa lagi bapak kesini?”
__ADS_1