
Melisa dan David duduk menemani Alex yang masih saja diam dengan tatapan lurus ke depan. Baik Melisa maupun David, keduanya juga tidak tau harus mengatakan apa pada Alex karena sejak datang Alex memang hanya duduk terdiam bahkan sama sekali tidak bergerak seperti patung.
“Kak, David ngantuk banget. David masuk yah..” Bisik David yang memang sudah tidak lagi menahan rasa kantuknya.
“Enggak.. Jangan. Kamu disini aja temenin kakak.. Soalnya kalau sampe tetangga liat kakak cuma berdua sama pak Alex pasti bakal jadi omongan.” Melisa balas berbisik tidak mengizinkan adiknya masuk. Melisa enggan di tinggal berdua hanya dengan Alex.
David berdecak. Besok dirinya harus sekolah. Dan sekarang malam sudah hampir pagi tapi semenit pun David belum memejamkan kedua matanya. David takut besok di sekolah dirinya tidak bisa konsen belajar yang pasti akan berakhir dirinya terkena hukuman.
“Ayolah kak.. Besok aku harus sekolah. Nanti kalau aku nggak bisa konsentrasi belajar apa lagi kalau sampai ketiduran di kelas dan kakak di panggil lagi memangnya kakak mau?”
Kali ini suara David jelas terdengar oleh Alex. Dan itu sukses membuat Alex melirik pada Melisa dan David.
Melisa dan David yang menyadari lirikan tajam Alex langsung menundukan kepalanya.
“Saya disini hanya numpang duduk dan menenangkan diri. Saya tidak meminta kalian untuk disini menemani saya. Saya juga tidak meminta minuman pada kalian.” Ujar Alex dengan ekspresi datar.
Melisa dan David hanya diam saja. Mereka berdua tidak tau harus mengatakan apa karena memang apa yang Alex katakan benar. Alex tidak meminta minum apa lagi meminta di temani duduk di luar.
“Eum.. Kami berdua hanya bermaksud...”
Belum selesai Melisa mengatakannya, Alex bangkit dari duduknya kemudian melangkah lebar menuju mobilnya menjauh dari David dan Melisa tanpa lagi menoleh. Pria itu masuk ke dalam mobilnya dan melesat dengan kecepatan diatas rata rata meninggalkan kediaman sederhana Melisa.
“Lah lah.. Dia malah pergi. Sombong juga ternyata dia.” Geleng David tidak menyangka dengan sikap arogan Alex.
Melisa hanya menghela napas. Alex tidak biasanya terdiam merenung seperti itu. Kalaupun ada masalah Alex pasti akan meluapkan emosinya, bukan diam termenung seperti orang yang sedang kebingungan mencari jalan keluar.
“Udah yuk kak masuk aja. Udah mau pagi loh ini.. Besok kan kakak juga harus bekerja. Nanti telat kena marah lagi sama bos kakak yang arogan itu.”
David menepuk pelan bahu kakaknya yang masih duduk di kursinya sebelum akhirnya masuk ke dalam rumah sambil menguap.
__ADS_1
Sekali lagi Melisa menghela napas. Melisa yakin Alex pasti sedang tertimpa masalah sekarang.
“Meskipun pak Alex kejam.. Tapi dia juga pernah menolong aku dan David. Kami juga berhutang sama dia.. Semoga saja apapun masalah yang sedang di hadapi pak Alex sekarang segera selesai.” Gumam Melisa mendo'akan yang baik untuk atasan maniaknya itu.
-----------
Menjelang pagi suara deringan ponsel milik Erlan yang berada diatas nakas membuat Lena yang masih terlelap dalam kehangatan pelukan Erlan terbangun. Lena melenguh merasa terganggu dengan suara nyaring ponsel suaminya itu. Merasa malas karena kelelahan setelah aktivitasnya dengan sang suami, Lena pun semakin masuk ke cekuk leher Erlan mencari kenyamanan disana.
Dan ternyata bukan hanya Lena saja yang merasa terganggu. Tapi juga Erlan. Pria itu berdecak dengan kedua mata yang masih tertutup rapat. Dia merasa baru terlelap beberapa menit tapi sudah terganggu dengan deringan nyaring ponselnya.
Erlan meraih ponselnya dengan satu tangannya yang bebas. Pria kemudian menonaktifkan ponselnya enggan mengangkat telepon dari siapapun. Erlan masih ingin menikmati kehangatan menjelang pagi ini sampai matahari terbit nanti bersama istri tercintanya.
Erlan juga bersumpah akan menghukum siapa saja nanti jika ada yang menanyakan kenapa tidak mengangkat telepon. Karena telepon tersebut sudah membuatnya juga merasa sangat terganggu.
Beberapa jam kemudian keduanya sama sama terbangun dengan senyuman yang menghiasi bibirnya. Mereka tidak langsung bangkit dan turun dari ranjang untuk membersihkan dirinya. Masih merasa ingin menikmati waktu bersamanya sebelum nanti di pisahkan oleh rutinitas sehari hari Erlan di kantor, mereka pun kembali memadu cinta di pagi hari yang cerah itu hingga akhirnya suara ketukan pintu membuat mereka berdua terpaksa harus menghentikan apa yang sedang mereka lakukan.
“Aku akan buka pintu. Kamu mandilah dulu. Aku akan buatkan kopi nanti.” Senyum Lena sebelum bangkit dari atas Erlan.
“Huft.. Oke Erlan. Tidak apa apa. Kamu bisa melakukannya nanti malam lagi. Atau mungkin nanti siang.” Batin Erlan menghibur dirinya sendiri.
Sementara Lena mengenakan bajunya, Erlan pun turun dari ranjang dan melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Setelah Lena selesai mengenakan kembali baju piyamanya, Lena pun melangkah menuju pintu sambil mengikat rambut panjangnya. Dia membuka pintu dan tersenyum pada si mbok yang berdiri di depan pintu kamarnya dan Erlan.
“Eh mbok...” Senyum Lena ramah.
“Selamat pagi nyonya. Maaf kalau saya mengganggu nyonya dan tuan. Tapi sejak subuh tadi nyonya besar beberapa kali menelepon saya dan marah marah karena katanya handphone tuan tidak aktif.”
Kedua mata Lena melebar sesaat. Dia ingat sekarang. Semalam ponsel suaminya memang berbunyi nyaring namun Lena mengabaikannya karena mengantuk.
__ADS_1
“Ya ampun.. Ya sudah nanti saya akan telepon balik ke mommy.. Maaf ya mbok kalau mbok kena marah sama mommy..” Lena merasa sangat tidak enak hati pada si mbok. Kalau saja Lena semalam mengangkat telepon mungkin si mbok tidak akan terkena amarah mommy mertuanya.
“Tidak apa apa nyonya. Kalau begitu saya permisi.” Senyum si mbok sedikit menganggukkan kepalanya.
“Ya mbok..”
Setelah mendapat anggukan kepala dari Lena, si mbok pun berlalu untuk kembali dengan pekerjaannya.
Sedang Lena, dia tidak kembali masuk ke dalam kamarnya dan Erlan. Lena justru keluar untuk membuatkan kopi seperti apa yang di katakan nya pada Erlan tadi.
“Apa apaan kamu Erlan?!! Memangnya seberat apa handphone kamu sampai kamu tidak mengangkat telepon dari mommy hah?!”
Erlan menjauhkan ponselnya dari telinga saat Natasha mengamuk begitu Erlan balik menghubunginya.
Lena yang melihat itu ikut meringis. Lena bisa menebak pasti mommy mertuanya itu berteriak di seberang telepon sehingga Erlan sampai menjauhkan benda pipih itu dari indra pendengarannya.
“Kamu aja lah sayang yang ngomong sama mommy.” Pasrah Erlan memberikan ponselnya pada Lena. Pria itu tidak mau telinganya pengang karena amukan mommy nya itu.
Lena menelan ludah merasa was was kalau kalau Natasha juga marah padanya. Dengan perasaan ragu Lena pun mencoba berbicara pada mommy sambung dari suaminya itu.
“Halo...”
“Ya sayang.. Ya Tuhan Lena.. Mommy kangen banget sama kamu sayang.. Mommy telepon Erlan berkali kali tapi nomornya tidak aktif..” Nada bicara Natasha langsung berubah begitu mendengar suara pelan Lena.
Itu membuat Lena tersenyum. Lena melirik Erlan yang terlihat penasaran dengan apa yang sedang di bicarakan Natasha sehingga Lena sampai tersenyum.
“Ya mom.. Lena juga kangen banget kok sama mommy. Untuk itu semalam Lena sama Erlan masih ngantuk banget makannya nggak bisa angkat telepon dari mommy.” Ujar Lena tenang.
Erlan mengangkat sebelah alisnya. Ucapan Lena seperti tidak terjadi apa apa di seberang telepon. Karena penasaran Erlan pun ikut mendengarkan dengan mendekatkan telinganya di ponsel yang sedang menempel di telinga Lena.
__ADS_1
“Dasar anak itu memang kurang ajar.” Umpat Natasha yang membuat Erlan mendelik sebal. Sedang Lena, dia hanya bisa tertawa geli karena Natasha mengumpat yang menurutnya sangat lucu.