SAYANG

SAYANG
Episode 172


__ADS_3

“Sayang, kamu mau kasih nama ke anak kita siapa?” Tanya Erlan sambil membelai lembut kening putranya yang sedang menyusu pada Lena. Mereka sebenarnya sudah akan pulang dan sedang menunggu jemputan dari bodyguard yang juga akan mengawal mereka dalam perjalanan pulang. Keamanan dan kenyamanan istri dan anaknya memang hal yang paling utama bagi Erlan sekarang. Tidak heran jika Erlan menyuruh beberapa bodyguard nya untuk menjemput dan mengawal mobil yang akan membawa mereka pulang dalam perjalanan nanti.


Si mbok dan satu pelayan lain nya yang sedang membereskan barang barang Lena hanya tersenyum saja mendengar pertanyaan yang Erlan lontarkan pada Lena. Siapapun tau kebahagiaan bertubi tubi sedang di rasakan oleh Erlan dan Lena saat ini karena kelahiran putra pertama mereka.


“Aku mau kasih nama dia Rezvan. Gimana? Bagus nggak?” Senyum Lena yang kemudian meminta pendapat pada Erlan tentang nama yang ingin dia berikan pada putra pertama mereka.


“Rezvan? Bagus sayang, bagus banget. Nama panjangnya siapa?” Erlan mengeryit seperti sedang berpikir sebelum akhirnya tersenyum lebar dan mengangguk anggukan kepalanya lalu bertanya nama panjang yang akan di berikan Lena pada putra pertama mereka.


“Rezvan Syariq Harrison.” Jawab Lena menatap Erlan dengan senyuman yang sangat manis.


“Nama yang sangat bagus sayang. Jadi kita panggil dia siapa? Rezvan? Atau Syariq?” Tanya Erlan lagi.


“Rezvan saja.” Jawab Lena.


“Oke.. Rezvan anaknya Daddy Erlan yang paling ganteng.” Kata Erlan tersenyum lebar.


“Huuu.. Dasar kepedean kamu mah.” Sorak Lena yang sebenarnya juga mengakui bahwa suaminya memang sangat tampan.


“Hahaha..” Tawa Erlan merasa geli dengan apa yang Lena katakan.


Erlan kemudian menghela napas pelan. Pria itu mendekatkan wajahnya pada Lena dan memberikan ciuman nya di kening Lena lama dengan kedua mata terpejam merasapi besarnya rasa cinta kasihnya pada Lena.

__ADS_1


Sedangkan Lena, dia juga memejamkan kedua matanya merasakan tulus dan besarnya cinta yang Erlan punya untuknya. Lena telah berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan menjaga dengan baik apa yang sudah di anugerah kan oleh Tuhan padanya. Yaitu dengan menjaga keutuhan rumah tangga yang dia jalin dengan Erlan.


“I love you so much sayang..” Bisik Erlan.


-----------------


Dia apartemen nya Alex sedang menonton berita yang tayang di TV besar yang ada di ruang keluarga. Di pangkuan nya telah terlelap putranya yang memang lebih merasa nyaman tidur bersama Alex dari pada bersama bibi pengasuhnya sejak malam itu. Dan karena hal itulah setiap pulang dari aktivitas padatnya di luar Alex selalu menghandle sendiri kepengurusan Arkana. Adapun bibi dia hanya menyiapkan apa saja yang di butuhkan oleh Arkana selama bersama dengan Alex malam harinya.


Alex menghela napas. Sudah beberapa kali dia mengganti Chanel namun berita yang di tayangkan tetap saja sama, yaitu berita tentang Lena yang melahirkan putra pertamanya dengan Erlan. Alex merasa muak juga jenuh. Apa lagi melihat potret Lena dan Erlan yang berseliweran di berbagai media yang seolah sedang ingin pamer padanya bahwa hidupnya dan Erlan sangat bahagia. Dan itu jelas sangat berbanding terbalik dengan kehidupan nya sekarang. Alex bahkan sekarang berstatus sebagai duda beranak satu.


“Memangnya nggak ada yang lebih penting apa? Dasar stasiun televisi bodoh. Nggak bermutu. Memangnya apa hebatnya mereka berdua sampai harus selalu di sorot oleh awak media seperti itu.” Kesal Alex mendumal sendiri.


Tidak mau lagi mendengar berita bahagia tentang Erlan dan Lena, Alex pun memilih mematikan televisinya kemudian bangkit dari duduknya dengan membopong tubuh gembul Arkana membawanya menuju kamar.


Sekali lagi Alex menghela napas. Setiap hari perkembangan Arkana sangatlah pesat. Bahkan di usianya yang baru menginjak 10 bulan Arkana sudah bisa berjalan. Hal itu juga membuat Alex kadang berpikir dengan keras tentang apa yang harus dia lakukan ke depan nya. Arkana tumbuh begitu cepat yang artinya cepat atau lambat dan seiring dengan berjalannya waktu Arkana pasti akan menanyakan tentang Sherin mamahnya. Dan saat itu tiba Alex tidak tahu harus berkata apa. Tidak mungkin jika Alex mengatakan dengan jujur bahwa dirinya tidak sedikitpun mempunyai perasaan pada Sherin.


Alex berdecak. Pria itu mengusap kasar wajah tampan nya. Hidupnya semakin tidak tenang karena hampir setiap hari Alex memikirkan tentang hari itu. Hari dimana Arkana akan tumbuh menjadi anak yang selalu ingin tau segala hal termasuk tentang mendiang mamahnya.


Memikirkan semua itu kadang membuat Alex ingin sekali berteriak. Alex ingin marah tapi tidak tahu harus marah pada siapa. Karena Arkana meskipun lahir dari rahim wanita yang tidak Alex cintai, namun Arkana tetap darah daging nya. Arkana tetap anaknya, cucu pertama dari keluarga besar Smith yang tentu harus Alex rawat dengan sebaik baik nya.


“Sherin.. Bahkan setelah kamu tidak ada kamu masih saja membuat hidupku tidak tenang. Kamu membuat aku susah sampai sekarang.” Gumam Alex dengan rahang mengeras marah.

__ADS_1


Alex memang sedikitpun tidak pernah menyadari kesalahannya sendiri. Dia selalu menyalahkan orang lain atas apa yang dia perbuat sendiri. Alex bahkan juga masih menyalahkan orang yang sudah tidak ada lagi di dunia.


Deringan ponsel yang berada diatas nakas samping tempat tidurnya membuat perhatian Alex teralihkan. Tidak ingin jika sampai deringan ponsel miliknya mengusik tidur lelap putranya, Alex pun segera meraih ponsel itu dan membawanya sedikit menjauh dari tempat tidur.


“Mamah..” Gumam Alex pelan. Ya, yang meneleponnya adalah nyonya besar Smith.


Alex segera mengangkat telepon tersebut. Meski Alex sendiri sudah bisa menebak apa yang akan di tanyakan oleh mamahnya. Siapa lagi kalau bukan Arkana, cucu kesayangan nya juga satu satunya.


“Halo mah...”


“Ya Alex.. Dimana cucu mamah? Apa dia sudah tidur? Tadi saat mamah menelepon bibi Arka sedang menangis.”


Alex tersenyum simpul. Arkana memang sangat lengket padanya sehingga jika dirinya pulang terlambat Arkana pasti akan mengamuk. Dan tanpa sadar pemikiran Alex tiba tiba tertuju pada Sherin yang pernah marah karena dirinya yang pulang terlambat.


“Ya mah.. Arkana memang selalu rewel jika sudah mengantuk di malam hari. Dan dia hanya ingin tidur dengan Alex.” Ujar Alex sambil melirik Arka yang terlelap di atas tempat tidur mengawasi balita itu kalau kalau tiba tiba dia bangun dan menangis.


“Cucu mamah memang sangat pintar. Kamu juga sebaiknya segeralah istirahat. Jaga kesehatan kamu nak.”


“Ya mah.. Ya sudah kalau begitu Alex tutup ya teleponnya.”


“Oke...”

__ADS_1


Setelah mendapatkan persetujuan dari sang mamah untuk mengakhiri sambungan telepon itu, Alex pun segera mengakhirinya. Pria itu kembali menghela napas namun kali ini dengan sangat kasar. Dia baru menyadari bahwa tadi dirinya sempat memikirkan tentang Sherin.


“Dasar perempuan pembawa sial.” Gumamnya kesal.


__ADS_2