SAYANG

SAYANG
Episode 7


__ADS_3

Qarima memasuki kamarku tanpa izin.


Dia berbaring di atas kasurku tanpa izin. Menggunakan bantalku tanpa izin.


 


“Hari ini aku akan menembak cowok!” Katanya pelan.


“Kau akan di penjara!”


“Bukan seperti itu, booo-doh!” Ejeknya, dengan nada yang tidak terlalu menyebalkan. Dia bangkit berdiri, Ngomong-ngomong dia anak tetangga. Tidak perlu dipikirkan, kau tidak mengenalnya! Hahahaha.” Dia keluar dari kamarku sambil tertawa.


 


Sekilas aku berpikir anak tetangga yang dia maksud adalah Tiwa, mungkinkah Tiwa sebenarnya adalah laki-laki?


 


“Levann!” Dia kembali lagi, “Jika tidak ingin sendiri di rumah, sebaiknya kau bersiap-siap. Ayah dan Lea akan pergi makan di luar. Begitu juga dengan Qhaza.”


“Pergi sana!” Usirku.


“AYAAAAAH! Leva sedang bermeditasi, dia tidak ingin ikut. Dia juga mengatakan untuk tidak membelikannya apa-apa, karena dia akan berpuasa selama beberapa tahun!” Teriaknya sambil berlari menuruni tangga dan, dari ruang tengah terdengar sahutan Ayah.


“BAIKLAAAAAH! Katakan pada Quin kalau aku senang, setidaknya biaya kehidupan di rumah ini berkurang!”


 


Sial! Mereka semua mengucilkanku. Semoga mobilnya menabrak polisi yang sedang berpatroli di jalan, kemudian ditahan dan masuk penjara. Dengan begitu biaya kehidupan di rumah ini akan berkurang. Maka aku akan menjadi pewaris terakhir. Hahahaha.


Tapi sebaiknya aku tidur sekarang, aku mengantuk.


                                                                                                *


Sunyi! Aku bangun sangat awal. Melangkah keluar dan meragangkan tubuhku di halaman rumah.


Aku bertanya-tanya, kemana perginya semua orang di pagi ini? Udara terasa sangat nyaman, segar. Langitnya terlihat lebih luas dari biasanya, awan membentuk garis-garis tipis yang menarik. Inilah hal-hal sederhana yang aku sukai.


Sekilas mataku teralih menatap rumah yang berdiri di depan rumahnya Tiwa. Aku bergidik. Aku merasa ada sosok yang berdiri di balik jendela kaca di lantai dua dan dia sedang menatap tajam ke arahku.


Qarima Yang datang secara tiba-tiba dari belakang mengagetkanku.


“Apa?” Tanyanya dengan tatapan yang aneh. Dia tampak kacau, pinggiran matanya hitam seperti panda.


Aku melihat kembali rumah itu, sosok itu sudah tidak ada di sana.


“Aku ditolak!” Kata Qarima dengan lesu. Aku masuk kembali ke dalam rumah, mengabaikannya, dari sudut


mataku bisa kulihat Qarima yang menatapku tajam. Aku tahu dia jengkel, dia marah atau ... dia membenciku? Kuhentikan langkahku dan berbalik menatapnya.


“Happy Valentine!” Ucapku pelan.


“Te-terima kasih!” Dia terlihat bingung. Aku meninggalkannya. Benar, ini adalah hari valentine. 14 februari,


hari kasih sayang─setidaknya itu yang orang-orang katakan.


                                                                                                *


Hari ini aku tiba di sekolah lebih awal. Kulihat Gin yang berdiri di depan pintu kelas dan melambaikan tangannya ke


arahku. Aku mengabaikannya dan melewatinya begitu saja. Dia mendesah panjang di belakangku.


“Pagi yang cerah, bukan?” Sapanya, sedetik kemudian suara guntur menggema di langit. “Sepertinya tidak benar-benar cerah.” Katanya lagi, “Padahal tadi pagi sangat cerah. Cuaca sangat cepat berubah, ya?”


Aku terus diam. Benar-benar malas untuk bicara.


“HEI!” Teriaknya kesal, “Jangan mengabaikanku.” Dia terdiam sejenak, “Ini!” Gin menyodorkan sebungkus coklat


berhias pita padaku. “Aku tahu kau suka coklat!”


“Tidak juga.” Jawabku acuh dan membanting diriku di atas kursi.


“Jangan salah paham!” Katanya lagi. Salah paham apanya? “Tadi malam, aku mendapat banyak coklat. Tidak ada salahnya memberimu satu!” Dia benar-benar spesies yang aneh. Merepotkannya berurusan dengan orang-orang seperti dia. Mengertilah kalau aku tidak ingin tahu!


                                                                                            *


Kali ini aku tidak seperti biasanya.


Aku bersemangat menuju kelas tambahan. Kau tahukan kalau aku orang yang jarang bersemangat. Aku hanya bersemangat untuk beberapa hal saja, seperti adegan pembunuhan sadis di dalam film atau berita kriminal, kemudian melihat darah berceceran─aku berharap bisa melihatnya langsung dan korbannya adalah Qarima


atau Gin.


Di kelas tambahan saat ini hanya ada Fairel. Fairel duduk dengan tenang di kursinya sambil membaca buku, angin yang masuk lewat jendela mengibarkan rambut tipis di wajahnya─ini sungguhan (hanya karena ini novel bukan berarti aku mengada-ada). Dia menghiraukanku. Aku melangkah tenang sambil memperhatikannya, kemudian menambrak meja yang ada di depanku.


Sakiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit! “Astaga!” Kakiku sakit, aku serius ini benar-benar sakit.


“Leva!” Sapa Fairel kemudian, sepertinya dia kaget.


“Ya!” Jawabku spontan.


“Kau baik-baik saja?” Apa aku terlihat baik-baik saja? Dia tertawa. Ini tidak lucu sama sekali. “Lain kali berhati-hatilah!” Aku mengangguk pelan.


Sial! Aku tidak pernah seperti ini sebelumnya, aku bukan orang yang ceroboh, aku orang yang efisien dan teratur. Karena duniaku begitu kecil, aku bisa mengendalikannya. Tapi apa yang baru saja terjadi?


“Aku punya dua potong coklat. Kau mau?” Tawarnya. Aku mengangguk. Sepertinya aku dapat banyak coklat hari ini. Dua berarti banyak, kan?


“Enak!” Ucapku lirih setelah mengunyahnya.


“Benarkah? Syukurlah!” Katanya sambil tersenyum. Tuhan, sampai kapan pun aku tidak akan bosan mengatakan ‘dia manis!’


“Kalau begitu ...” Dia mengambil tasnya, Fairel mengeluarkan sebuah kotak kecil yang dibungkusi kertas kado. Dia menyimpannya di atas meja. Aku memandangi bungkusan itu. “Itu untukmu!” Katanya kemudian setelah beberapa saat terdiam.

__ADS_1


“Untukku?”


“Hu-um! Bukalah!” Perintahnya.


Aku mengambil kotak kecil itu kemudian membukanya. Isinya sebuah gelang yang terangkai dari beberapa kerang laut, indah. “Biar kupakaikan!” Lanjutnya, aku mengulurkan tanganku begitu saja. Kami begitu dekat, ya sangat dekat sehingga bisa mendengar suara nafas masing-masing. “Selesai!” Katanya sambil tersenyum menatapku.


“Indah!” Kataku.


“Mmm. Sangat indah, sepertimu!” Dia memujiku. Ahhh aku sangat sena─maksudku, dia aneh.


“Bukankah kau juga punya sesuatu untuk diberikan padaku?” Tanya Fairel lagi.


“Oh!” Kataku sambil mengeluarkan semua pulpen yang ada di dalam tas.


“Wahh, sangat banyak dan … seragam.” Komentarnya bingung.


Aku memberinya satu. Dia lebih bingung lagi, mungkin dia mengira aku akan memberikan semua untuknya. Fairel memperhatikan pulpen yang aku berikan.


“Aku menyukainya, kau punya selera yang bagus Leva!” Dia memuji, tapi ekspresi wajahnya seperti sedang menghina.


Di tengah obrolan kami, Vicky datang. Anehnya, aku masih mengingat namanya.


“Hei hei!” Teriaknya sambil mempercepat langkahnya. “Kalian berdua, apa yang kalian lakukan?”


“Duduk.” Jawabku cepat.


“Duduk? Maksudmu duduk sambil bermesraan?” Aku berharap dia menjadi karung beras saja, ucapannya sangat


menyebalkan.


Aku dan Fairel diam saja. Vicky tersenyum kemudian duduk di depanku ketika Fairel kembali ke tempatnya. “Apa kau punya hadiah valentine untukku?” Tanya Vicky kemudian. Aku mengangguk sambil memberikannya pulpen yang ada di tanganku.


“Pulpen? Ini tidak keren!” Keluhnya. “Tapi aku senang!” Katanya lagi sambil tersenyum. “Dan ini untukmu!” Vicky memberikanku sebuah ikat rambut berwarna ungu dengan buah ceri yang menghiasinya.


“Jelek!” Ucapku jujur.


“Tidak sopan!”


“Tapi aku menyukainya. Aku suka segala hal yang ... jelek!” Kataku dengan tampang menghina.


“Masih tidak sopan! Aku harap rambutmu rontok dan botak!”


“Aku harap rambutmu lebat seperti kereta api.” Balasku. Kenapa dia begitu mudah menghina orang?


“Aku ha─woe, kereta api tidak punya rambut, lho.” Katanya sambil menahan tawa dan beranjak ketempat duduknya.


Menit berikutnya yang lainnya pun berdatangan. Anak-anak di kelas tambahan telah lengkap. Kami bertukar hadiah valentine, aku mendapat sebuah pisau buah dari Ono. Dia mengatakan itu hadiah paling cocok untuk seorang gadis. Aku bisa menggunakannya untuk melindungi diriku ketika aku dalam keadaan bahaya. Mungkin aku bisa


mencobanya pada Gin siang nanti, hahahaha─dengan alasan aku dalam bahaya.


Sementara Fajar memberiku keranjang buah. Orang aneh lainnya. Dia telah beberapa kali membayangkanku memakai kebaya sambil menenteng buah ketika pergi kesekolah. Lalu Abi memberiku gambar buah. Katanya;


“Dan wajahmu panjang seperti terong!” Balasku. Kali ini seisi kelas tertawa. Dia murung dan duduk depresi


menghadap tembok. Apa aku salah? Dia benar-benar berwajah seperti terong, lho.


Terakhir adalah Adit. Dia memberiku sekantong plastik buah. Buah pisang.


“Pisang itu banyak manfaatnya, lho! Termasuk untuk membesarka─AAAHHH! Aku tidak akan


mengatakannya lagi, maaf!”


Hmm. Pisau buah ini berguna juga. Tapi─KENAPA SEMUANYA HARUS BUAH?


“Selamat pagi, anak-anak.” Tiwa dan pak Abdul datang dari balik pintu, hari ini kelas Matematika.


“Selamat siang.” Jawab kami semua serentak. Pak Abdul tersenyum jahil.


“Aku punya pengumuman yang bagus untuk kalian semua,” Kata pak Abdul semangat. “Kita semua akan ikut berpartisipasi dalam festival sekolah.” Lanjut pak Abdul, kelas tambahan riuh dengan tepuk tangan. Meskipun hanya Vicky dan Ono yang bertepuk tangan.


Ngomong-ngomong, Ono adalah singkatan dari Sutarsono si anak kepala sekolah.


mengenai festival sekolah, adalah festival yang diadakan oleh sekolah dalam rangka merayakan hari berdirinya sekolah. Semua murid punya hak untuk berpartisipasi. Setiap kelas memiliki idenya masing-masing dalam merayakannya, tapi tetap dalam hari yang sama dan tempat yang sama. Karena ini festival, banyak hal yang terjadi di hari itu dan banyak kegiatan yang dilakukan di sekolah. Ada yang mengadakan bazar, rumah hantu, cafe, konser musik, berbagai macam perlombaan dan banyak hal lainnya. Bukan hanya murid yang berdatangan, tapi juga masyarakat umum diundang untuk ikut memeriahkannya.


“Guru.” Vicky mengangkat tangannya.


“Ya, Victoria. Kenapa?” Tanya pak Abdul.


“Meskipun ini kedengarannya menyenangkan, tapi kenapa kami dipisahkan dari kelas reguler?”


“Entahlah. Ini keinginan kepala sekolah dan guru-guru lain menyetujuinya.” Jawab pak Abdul santai. Aku memandangi Ono.


“Kenapa kau melihatku? Ini sama sekali tidak ada hubungannya denganku.” Kata Ono kepadaku.


“Baiklah. Hari ini kita tidak belajar. Guru yang akan mengajar kalian hari ini sakit─”


“Alhamdulillah!”


“Kalian semua akan masuk neraka─Uhm! Maksudku ... Jadi, kita akan memanfaatkan waktunya untuk mendiskusikan rencana kegiatan.”


“BAIKLAH!” Teriak Vicky dan Ono serentak, mereka penuh semangat dan sepertinya hanya mereka berdua yang


benar-benar bersemangat di kelas ini.


“Bersemangatlah sedikit. Oke!?” Pak Abdul mengulangi kata-katanya.


“Oke ...” Teriak kami serentak, tapi tidak ada semangat di dalamnya. Pak Abdul tersenyum.


“Kalau begitu, kita bentuk ruang kelas ini menjadi ruang rapat. Setuju?” Kali ini Tiwa yang mengarahkan kami.


“SETUJU!” Teriak Vicky dan Ono, lagi-lagi.

__ADS_1


Yang lainnya berdiri, aku mengikut saja. Vicky mendekatiku, dia berbisik, “Biar mereka saja yang melakukannya.”


Teman-teman kelasku mulai memindahkan kursi dan meja-meja menjadi posisi melingkar. Kami duduk dan memulai diskusi.


“Fairel, sebagai ketua kelas apa kau punya ide?” Tanya pak Abdul. Fairel diam saja.


“Bagaimana dengan yang lainnya?” Tanya pak Abdul lagi.


“Aku!” Kata Fajar pelan.


“Ya, Fajar?”


“Rumah hantu,” usul Fajar.


“Itu sudah ada.” Bantah Vicky, Ono, Abi dan Adit bersamaan.


“Rumah hantu yang lebih berhantu lagi!” Dia ngotot! Serentak mereka semua tertawa.


“Selain rumah hantu. Ada ide lain?” Tanya pak Abdul lagi.


“Bagaimana dengan cafe?” Usul Fajar.


“Itu terlalu biasa.” Komentar Fairel.


“Lagi pula, kurasa kelas tiga yang melakukannya.” Tambah Vicky.


“Cafe Pricess!” Teriak Fajar. Lagi-lagi mereka tertawa.


“Ini bukan film Korea!” Kataku tiba-tiba. Kenapa aku mengatakannya ya?


“Itu kan, Leva saja mengatakan kalau kau terlalu banyak menonton film.” Komentar Fairel. Dan aku tidak


pernah mengatakan itu.


“Bagaimana dengan salon?” Usul Vicky. Teman-teman dan pak Abdul tertawa mendengar usulan Vicky.


“Ayolah, yang benar saja.” Komentar Abi.


 “Kita bisa meminta bayaran.”


“Kalau begitu lakukan sendiri!” Kata Abi dan Adit secara bersamaan. Vicky cemberut.


“Dojo!” Kata Ono tiba-tiba.


“Dojo?” Tanya teman-teman secara serentak.


“Iya dojo. Dojo itu adalah lomba renang gaya Jepang!” Katanya penuh percaya diri. Orang ini sangat bodoh.


“Dojo itu sekolah bela diri!” Kataku kesal. Kenapa aku kesal?


“Benarkah?” Mereka secara serentak menanyakannya. Aku mengangguk.


“Hehehe. Mungkin aku salah ingat.” Kata Ono tersipu. “Tapi lomba renang boleh juga.”


“Berhenti main-main. Di sekolah kita tidak ada kolam renang!”


“Kita bisa lomba renang di sungai.” Ono ngotot.


“Maksudmu kita mengadakan festiva sendirian di sungai? Bersama ikan-ikan?” Tanya Fairel, kedengarannya seperti


mengejek.


“Ikan? Wah, kita bisa sekalian memancing ikan.”


“WAAH LUAR BIASA YA!” Komentar Fairel, lagi.


“Kenapa kau marah?”


“Lomba memasak?” Usul Tiwa tiba-tiba.


“Itu memalukan!” Bantah pak Abdul.


Tiwa terdiam. “Hanya bercanda!” Kata pak Abdul lagi. Tiwa tersenyum. Aku pernah melihat adegan seperti ini di film, mencurigakan! Mereka berdua pasti telah merencanakan sesuatu.


“Bagaimana kalau lomba melukis?” Usul Adit.


“Aku tidak suka bau cat.” Kata Fajar. “Cari yang lain!”


“Oh. Ada satu!” Fairel mendapat ide. Kami semua mendengarkan. “Film!”


“Film?” Serentak kami semua menanyakannya.


“Hmm. Film. Kita membuat film!”


“Membuat film?” Tanya pak Abdul, sepertinya tertarik.


“Kita membuat sebuah film di mana kita semua menjadi pemainnya.” Jelas Fairel.


“Ide yang bagus.” Teriak Ono kegirangan.


“Lagi pula, selama ini belum ada yang pernah membuat film.” Komentar pak Abdul.


“Kita bisa menontonnya bersama di ruang olah raga.” Tambah Tiwa.


“Benar! Kita tinggal membuat ruang olah raga menjadi ruang bioskop.”


“Lalu kita menghadirkan banyak orang di sana!” Kata Vicky semangat.


Setelah itu untuk beberapa saat kami terdiam. Sebelum semuanya serentak berkata―“Film tentang apa?”


“Kurasa kita tidak bisa memikirkannya seraca mendadak. Ayo kita pulang, lalu masing-masing di rumah memikirkannya!” Kata pak Abdul lagi. Kami semua mengangguk setuju.

__ADS_1


__ADS_2