SAYANG

SAYANG
Episode 5


__ADS_3

Kelas tambahan berakhir lebih cepat dari yang seharusnya. Segera kubereskan buku-bukuku, lalu tiba-tiba seseorang mendatangiku. “Leva?”


“Ya?” Jawabku.


“Nama yang bagus!” Orang aneh lainnya. Aku mengangguk. Untuk mengiyakan dan menyetujui perkataannya kalau namaku memang bagus. Kulirik Fairel yang tertawa. Apa itu ejekan? Aku melakukan kesalahan?


“Mau pulang?” Fairel bertanya.


“Ya!” Jawabku.


“Begitu. Lalu, yang di luar itu pacarmu?” Fairel menunjuk ke luar jendela.


“Tidak!”


“Benarkah? Padahal kupikir memang begitu. Dia sudah menunggu sejak dua jam yang lalu!”


“Dua jam?” Gumamku pelan. Meskipun bukan itu yang kuperhatikan.


“Kau tidak memperhatikan?” Tanyanya, aku mengangguk. “Begitu, dia sungguh kasihan.” Dia terdiam, memperhatikan Gin yang juga memperhatikan kami dari luar. “Aku Fairel. Salam kenal!” Setelah memperkenalkan dirinya dia segera meninggalkanku, “Kau bisa memanggilku dengan Fairel!” Dia berbalik. Kemudian pergi lagi. Aku pun keluar ruangan, Gin mengikutiku begitu saja tanpa repot-repot menyapa.


“Kau sangat lama. Aku menunggu selama dua jam. Yang di kelas tadi?” Pertanyaan yang tidak jelas, aku tidak akan menjawabnya. “Leva, bisakah kau tunggu sebentar? Aku akan ke tempat parkir.” Gin meninggalkanku di gerbang, aku menunggunya. Beberapa saat kemudian dia datang dengan mengendarai skateboard, skateboard yang dia simpan dia di area parkir! “Kurasa kita akan naik angkot, karena ini hanya muat untuk satu orang!” Katanya. Tentu saja, kan?


“Kita jalan kaki saja, karena rumahku di dekat sini!” Kataku lirih.


“Begitukah? Itu lebih bagus lagi!” Jawabnya, dan kami berjalan pulang ke rumahku. Dan dia sama saja seperti Tiwa, sepanjang jalan tidak berhenti mengoceh. Apa salahku Tuhan? Apa salahku?


“Ayah dan ibu, orangnya seperti apa?” Siapa yang dia maksud ayah dan ibu?


“Seperti orang!”


“Tentu saja mereka seperti orang. Tapi bukan itu maksudku.”


“Kita sudah sampai.” Kataku berhenti berjalan dan membuka gerbang.


“Rumahmu cukup besar.” Gumam Gin sambil melepaskan sepatunya.


“Masuklah dan anggap sepertimu rumah sendiri.” Gin masuk ke dalam dan langsung duduk di atas sofa di ruang tamu. Aku menyapa Lea yang terlihat sedang mencuci piring di dapur.


“Selamat datang!” Kata Lea tanpa meninggalkan pekerjaannya. “Ganti baju dan turun untuk makan, oke?” Lanjutnya.


“Hmm!” Jawabku sambil berjalan menaiki tangga menuju kamar. Sejenak reflex kutengok ke belakang,  kulihat Gin yang terpaku menatap setiap sudut ruangan yang serba pink.


“Leva, makanannya sudah siap!” Teriak Lea dari dapur. Aku beranjak ke ruang makan. Tanpa kuajak, Gin juga ikut denganku. Sekarang dia mulai menerapkan apa yang kukatakan tentang ‘anggap seperti rumahmu sendiri’. Begitu Lea melihat Gin, sejenak Lea terpaku. Beberapa detik dia terdiam tanpa berkedip.


“So-sore tante!” Sapa Gin, dia terlihat gugup.


“So-sore!” Lea juga sama gugupnya. Aku sering melihat adegan seperti ini. Adegan yang tidak normal ketika seorang perempuan dewasa gugup hanya karena bertemu dengan remaja laki-laki yang juga merasakan kegugupan yang sama, aku punya firasat yang tidak bagus mengenai ini. Mungkinkah?


“Kalian berdua …” Kataku pelan, mereka memperhatikanku. “Ke-kekasih gelap?”


Hening! Mereka melototiku. “APAAAA?” Ternyata benar. Mereka benar-benar menjalin hubungan terlarang, terbukti dengan mereka yang berteriak secara bersamaan. Mereka terlihat gugup ketika pertama bertemu, Gin mengikutiku ketika mendengar suaranya Lea, ketika mendengar nama Lea dia punya alasan yang kuat untuk datang kerumahku, ayah sungguh sangat kasihan. Dan aku … aku pun dimanfaatkan!


“Aku tidak menyangka Gin akan berbuat seperti itu dengan Lea ...”


“Apa yang kau katakaaan?? Kami tidak mungkin seperti itu!!” Katanya, secara bersamaan lagi, padahal aku tidak ingin dugaanku menjadi kenyataan. Tapi ini benar-benar terjadi, sudah pasti mereka seperti itu. Aku belum siap memanggil Gin dengan ayah, dia masih terlalu muda untuk itu. Dia juga tidak akan bisa memberiku uang jajan karena dia tidak terlihat seperti laki-laki yang sudah bekerja. Tapi jika hal itu terjadi, bagaimana aku harus memanggilnya? Apa aku harus memanggilnya ayah Gin? Atau papa Gin? Bagaimana juga ayah harus memanggilnya, Gin suami kedua Lea? Ayah kedua? TIDAAAAAK!! Bukan saatnya memikirkan hal itu. Tapi bagaimana jika itu sungguh terjadi, apa mereka bertiga akan tidur satu kamar? Ini kacau.


“HAAAAAAAAA!” Aku berteriak. Kemudian menangis sekencang-kencangnya membayangkan banyak hal, membayangkan betapa sakitnya perasaan ayah jika tahu tentang Lea yang menghianatinya, membayangkan aku yang akan kesulitan menyesuaikan diri dengan keluarga baru, bagaimana jika dia ayah tiri yang jahat? 


Dan kemudian kami mulai melakukan perdebatan dengan nada cepat.


“Kenapa kau menangis?” Kata Gin.


“Aku sungguh kecewa padamu Lea!”


“Apa yang kau bicarakan?” Kata Lea, bingung?


“Bahkan Gin memanfaatkanku seperti ini!”


“Aku tidak pernah memanfaatkanmu.” Bantah Gin.

__ADS_1


“Kau bahkan lebih manis pada Gin dari pada ke aku dan ayah!”


“Makanya aku bertanya, apa yang kau bicarakan?” Lea, pura-pura tidak paham.


“Apa kau sangat sangat mencintai Gin?” 


“Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan.”


“Bahkan Gin mengikutiku begitu saja ketika mendengar suaramu, Lea.”


“Kurasa kau benar-benar salah paham pada sesuatu!”


“Kalian bahkan berteriak secara bersamaan!”


“TIDAK ADA HUBUNGANNYA DENGAN BERTERIAK SECARA BERSAMAAN!!”


“KALIAN MELAKUKANNYA LAGIII!!!”


“BUKAN SEPERTI ITU MAKSUD KAMIIII!!”


“LAGI DAN LAGIII …. AAAAAAA! Kalian berdua sama-sama membentakku.”


“Kami tidak membentakmu, sayang!” Kata Lea sambil mengusap kepalaku.


“Aku tidak mengerti, apa yang kau bicarakan?” Tanya Gin.


“Aku tidak akan pernah merestui kalian berdua!” Kataku tegas.


“Makanya, APA YANG KAU BICARAKAAAAN?”


“Bagaimana cara aku memanggilmu, ayah Gin? Papa Gin? Om Gin?” Tanyaku kesal.


 “Apa aku terlihat seperti orang tua?”


“Jadi aku harus memanggilmu, dady?”


“HENTIKAAAAN!!!” Gin berteriak sambil memegangi kepalanya. “Itu sunguh menggelikan, Quinzha leva!”


“Makanya kalian berdua, akan melaksanakan pernikahan di mana?”


“Pernikahan?” Mereka saling memandangi.


“A-aku bisa menyiapkan tempat yang bagus. Kurasa kita juga harus memesan kue coklat untuk hidangan pembuka … meskipun aku tidak merestui kalian, tapi kalian akan tetap―”


“Tunggu dulu, Quinzha Leva!” Lea dan Gin mengucapkannya secara bersamaan.


“Kalian sangat kompak!” Kataku dengan nada iri.


“BUKAN ITU MASALAHNYAAAA!” Lagi dan lagi mengatakannya secara bersamaan.


“Kalian─”


“Sepertinya kau benar-benar salah paham!” Kata Lea lembut. “Kami tidak seperti itu!”


“Maksudmu, tidak ada pernikahan?” Mereka menggelengkan kepala. “Jadi kalian akan tetap berhubungan secara sembunyi. Cinta rahasia?”


“Kau masih salah paham!”


“Benar. Ini pertama kalinya kami bertemu, tidak ada hubungan secara sembunyi atau cinta rahasia!” Tambah Gin.


“Jadi, cinta pada pandangan pertama?”


AAAAAAAAAAAA!!!! Aku masih menangis tersedu-sedu  ketika ayah, Qarima dan Qhaza dan juga Tiwa (aku tidak tahu kenapa dia ada di sini) berkumpul di dapur. Setelah itu kami pun duduk tenang sambil menghirup teh di ruang makan. Masalah sudah clear. Mereka tertawa terbahak-bahak ketika Lea dan Gin bercerita secara bergantian. Aku masih tersedu sambil melahap makan siangku. “Aku sungguh tidak percaya kalau dia menangis!” Gin berkata untuk mengakhir ceritanya. Semuanya tertawa. “Aku tidak begitu tahu Leva orang yang seperti apa.” Lanjutnya. Dan sekarang kau sudah tahu.


“Aku hanya sedikit tidak percaya kalau Leva punya teman yang dia ajak datang ke rumah. Itulah kenapa aku kaget, karena kamu yang pertama.” Kata Lea lagi.


“Benarkah? Di usianya yang sekarang?” Gin melirikku sejenak.


“Dia ingin melihat Qarima.” Kataku memberi penjelasan bahwa aku tidak pernah mengajaknya. Mereka semua tertawa kecil.

__ADS_1


“Ngomong-ngomong, begitu melihat Qarima dan Qhaza aku sulit percaya jika kalian bertiga adalah saudara. Terlebih lagi ibu Tiwa juga ada di sini. Cukup banyak hal yang mengejutkan hari ini. Tapi yang yang paling mengejutkan adalah mengenai reaksinya─”


HA HA HA.


Mereka semua tertawa terbahak-bahak.


“Oh, ini sudah jam empat sore. Aku harus pulang.” Kata Gin lagi.


“Tinggallah untuk makan malam!” Cegah ayah.


“Benar! Banyak hal yang harus kita perbincangkan, salah satunya ...” Qarima pun ikut bicara.


“Kita juga bisa bermain games … atau kartu, bagaimana?” Qhaza ikut-ikutan juga.


“Sepertinya menyenangkan!” Jawab Gin. Dia duduk kembali di kursinya setelah berdiri beberapa detik. Dia tipe yang gampang dirayu. Atau memang keinginannya untuk dirayu? Pada akhirnya Gin tetap di sini. Sekitar lima belas menit berlalu sejak dari ruang makan, Qarima, Qhaza dan Gin, sekarang bermain kartu di depan televise. Tiwa juga ada di sini, bermain kartu. Aku duduk di atas sofa di belakang mereka sambil menikmati ice cream rasa standar dan beberapa potong puding coklat yang disediakan oleh Lea sambil menyaksikan serial anime yang ku putar lewat DVD. Mulutku tidak berhenti mengunyah, aku menyukai segala hal yang terasa manis.


“Ruangannya sangat indah, kupikir seseorang sedang merayakan ulang tahunnya.” Pujian terlontar dari mulut Gin.


“Kami mendekorasinya pada malam hari,” jelas Qarima dengan bangga.


“Katika kak Leva tertidur,” tambah Qhaza.


“Kenapa begitu?” Tanya Tiwa dan Gin secara bersamaan. “Bukankah seharusnya Leva juga diajak?” Tambah Gin.


“Ya, tapi kami khawatir dia akan memotong pitanya menjadi seperti taburan salju!”


“Karena pada saat dia melihat rumahnya menjadi seperti ini dia tidak berhenti mengatakan ‘menyebalkan, menyebalkan!’ dan kami pura-pura tidak mendengarnya.”


“Akhirnya dia berhenti sendiri karena kelelahan, dia pergi di kamarnya dan tidak protes lagi.”


“Meskipun sebenarnya, aku sangat yakin kalau dia tidak tahu kenapa dia merasa marah!”


“Aku juga sangat terkejut ketika dia mengatakan tidak tahu namaku setelah selama satu tahun lebih kami ada di kelas yang sama!”


“Itu bukan apa-apa,” kata Tiwa bersemangat. “Kemarin setelah kak Lea menceritakan padaku, ternyata dia sama sekali tidak tahu kalau aku adalah tetangganya!”


“Tidak bisa dipercaya!”


“Benar! Aku tinggal di sini sejak dua puluh tahun yang lalu.”


“Kalian berdua tidak kaget?” Tanya Gin dan Tiwa secara bersamaan kepada Qarima dan Qhaza melihat reaksi mereka berdua yang hanya tertawa dengan santai. Qarima dan Qhaza serentak menggelengkan kepalanya.


“Waktu Levann berusia tujuh tahun, dia tidak mengenali nenek dan kakek yang datang berkunjung!”


“Serius?”


“Dia mengatakan ‘siapa? Apa kalian pengantar makanan?’”


“Hah?”


“Nenek langsung mencubit pipinya dengan keras sampai dia menangis!” Kata Qhaza bersemangat.


“Kau berlebihan Qhaza, dia tidak menangis,” bantah Qarima.


“Dia cukup tangguh untuk seorang anak kecil!” Kata Gin. Tangguh?


“Dan lebih tangguhnya lagi, begitu lepas dari cubitannya nenek, dia berlari mengambil selang air yang ada di taman dan menyirami nenek dan kakek sampai mereka basah kuyup.”


“Wow!” Tiwa dan Gin mengatakannya secara bersamaan. Sejenak mereka melirikku.


“Dia bukan tipe orang yang terima untuk ditindas!”


“Itu manusiawi!”


“Sangat lugu, tapi cukup licik jika sudah menyangkut kepentingannya sendiri!” Lanjut Qarima.


“Seperti?”


“Seperti … sulit dijelaskan!”

__ADS_1


“Oooo.” Gin dan Tiwa mengangguk. Tidak semua yang mereka ceritakan benar, seperti kata ‘licik’ itu bukanlah aku. Makanya Qarima tidak punya penjelasan untuk itu. Aku ingin mereka segera enyah dari sini.


__ADS_2