
“Oh iya yaa.. Saya akan mengantarkan kue Tante dalam waktu kurang dari satu jam..”
“Ya... Siap tante.” Senyum David menganggukkan kepalanya saat berbicara lewat sambungan telepon dengan tetangga yang masih berada di dekat rumah nya dan Melisa.
Melisa yang mendengar itu tersenyum tipis. Meski sebenarnya Melisa sedang merasakan sesuatu yang tidak mengenakkan di hatinya karena ucapan Alex tempo hari, namun Melisa tetap berusaha tersenyum dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Melisa memilih memendam sendiri apa yang di rasakan nya tanpa berniat sedikitpun untuk menceritakan kejadian itu pada David maupun Alvin kekasih nya.
“Kak seperti biasa yah.. Tante Mega. David ke kamar mandi dulu sebentar.” Ujar David setelah berbicara lewat sambungan telepon dengan pelanggan kue tetap kakaknya itu.
“Oke..” Angguk Melisa yang memang sudah hapal dan tau apa yang di inginkan oleh pelanggan dekat nya itu.
Melisa kemudian segera menyiapkan apa yang di inginkan oleh pelanggan tetap nya itu untuk kemudian di antar oleh David, adiknya.
Tidak lama kemudian David kembali mendekat pada Melisa. Remaja tampan itu sudah siap dengan mengenakan jaket hitamnya.
“Uangnya nanti katanya di transfer kak. Terus abis ini aku mau langsung ke toko buku yah. Ada yang aku mau beli soalnya.”
“Oke.. Uangnya ada?” Angguk Melisa yang kemudian bertanya.
“Ada kok.. Uang jajan aku bulan ini masih banyak kak. Aman..” Senyum David dengan penuh percaya diri.
Melisa tersenyum geli. Adiknya memang paling pintar mengatur tentang keuangan. Dia hanya membeli apa yang dia butuhkan dan tidak pernah menghambur hamburkan uang yang Melisa berikan setiap bulan nya. Bahkan David juga menabungkan sebagian uang yang setiap bulan Melisa berikan padanya sebagai jatah.
“Ya sudah kak, David jalan ya. Kakak mau nitip sesuatu nggak?” Tanya David sambil meraih satu kresek penuh kue pesanan pelanggan Melisa.
“Eumm.. Kayanya nggak ada deh. Ya udah kamu hati hati di jalan ya. Abis dari toko buku langsung pulang.”
“Beres kak. Ya sudah David jalan dulu.”
“Oke...” Angguk Melisa.
Wanita itu menghela napas dan tersenyum menatap adiknya yang berlalu dari hadapan nya. Melisa selalu berharap semoga kelak adiknya bisa menjadi orang yang sukses. Orang yang berguna dan bisa membantu sesama.
“Sa...”
__ADS_1
Baru saja Melisa hendak melangkah menuju dapur, namun tiba tiba suara Alvin mengalihkan perhatian nya. Melisa yang mendapati kekasih nya sudah berdiri tidak jauh dari tempat nya berdiri pun tersenyum. Dia mengurungkan niatnya ke dapur dan tetap berdiri di tempat nya karena Alvin yang sedang melangkah mendekat padanya.
“Alvin.. Kamu kok disini? Emangnya nggak kerja?” Tanya Melisa begitu Alvin sampai tepat di depan nya.
“Memangnya aku nggak boleh kesini? Aku nggak boleh gitu nemuin pacar aku? Kan aku kangen..”
“Apaan sih?” Senyum Melisa geli.
Alvin memang selalu berkata manis yang di sertai candaan. Pria itu juga selalu bersikap lembut padanya dan tidak pernah sekalipun memaksa kan kehendaknya pada Melisa.
“Oh ya, kamu udah makan?” Tanya Melisa kemudian.
“Belum, makannya aku kesini. Aku mau ajak kamu makan diluar. Kamu mau kan? Sekalian aku juga ada yang mau di bicarakan sama kamu.”
Melisa mengernyit. Wanita itu menatap Alvin penuh tanda tanya.
“Sesuatu yang mau di bicarakan sama aku? Tentang apa?” Tanya Melisa penasaran.
Alvin tersenyum.
Melisa terdiam sesaat. Wanita itu menelan ludah, sesuatu yang ingin Alvin bicarakan padanya pasti sangat serius. Apa lagi Alvin juga sampai mengajaknya keluar untuk makan siang bersama.
“Eum.. Aku nggak bisa ninggalin toko begitu saja. David lagi nganter pesanan. Dia juga katanya mau ada sedikit keperluan. Jadi aku rasa akan lebih baik kalau kita makan disini saja. Kebetulan aku juga sudah masak tadi. Nggak papa kan?”
“Oh tentu saja. Nggak papa. Malah aku seneng banget kalau harus makan masakan calon istri aku.” Senyum Alvin yang sedikitpun tidak merasa keberatan dengan usul Melisa untuk mereka makan bersama di rumah Melisa saja.
“Dasar tukang gombal. Ya sudah sebentar. Aku akan siapin makanan nya.”
“Aku bantuin sayang.”
Melisa tidak bisa menolak karena menolak pun akan percuma. Alvin pasti akan tetap bersikeras untuk membantunya. Mereka berdua kemudian melangkah beriringan menuju dapur untuk mengambil makanan yang di maksud oleh Melisa dan menyiapkan nya di meja makan.
Siang menjelang sore itu mereka berdua makan siang bersama di rumah Melisa. Kebetulan Melisa juga belum sempat makan siang dan hanya menyiapkan makan siang untuk David dan Farid tadi. Semua itu tentu saja karena Melisa yang begitu sibuk membuat kue dan menyiapkan pesanan para pelanggan nya.
__ADS_1
“Eum.. Jadi apa yang mau kamu bicarakan sama aku Vin?” Tanya Melisa di tengah mereka menyantap makan siangnya.
Alvin menelan makanan dalam mulutnya kemudian meraih segelas air putih yang ada di samping piringnya. Pria itu menenggaknya hingga menyisakan setengah saja dari segelas air putih tersebut. Alvin juga melepas sendok yang di pegang nya dan tangan nya perlahan mendekat pada tangan Melisa kemudian meraih dan menggenggamnya dengan sangat lembut.
“Sa.. Aku yakin kamu percaya dengan cinta aku sama kamu. Aku juga yakin kamu percaya dengan keseriusan aku sama kamu.”
Jeda sejenak. Alvin menghela napas pelan sebelum melanjutkan ucapannya. Pria itu menatap dengan penuh perhatian wajah cantik Melisa yang tampak kebingungan itu.
“Jadi aku pikir kamu juga pasti sudah nggak ada lagi alasan untuk menunda niat baik kita.” Lanjut Alvin.
Melisa mengernyit. Entah niat baik apa yang Alvin maksud.
“Vin, maksudnya gimana sih? Aku ya percaya sama keseriusan hubungan kita.” Kata Melisa tenang.
Alvin tersenyum. Pria itu menghela napas sekali lagi.
“Aku mau kita secepatnya menikah Sa.. Kita resmikan hubungan kita ke jenjang yang lebih serius.” Ujar Alvin kemudian.
Melisa terkejut bahkan sangat. Mereka berdua memang serius menjalin hubungan. Tapi Melisa tidak pernah berpikir Alvin akan mengajak nya untuk menikah sekarang. Melisa akui dirinya memang tidak punya alasan untuk menunda lagi. Melisa sudah mempunyai usaha yang meskipun tidak besar tapi mampu mencukupi kebutuhan nya juga kedua adiknya setiap hari. Toko kuenya meski berada di pelosok namun cukup ramai orang datang serta banyak pelanggan yang setia memesan kue padanya saat mengadakan acara ataupun sekedar untuk camilan setiap harinya. Dan Melisa merasa sangat bersyukur atas apa yang sudah dia capai sekarang. Tentunya itu juga karena David yang selalu sigap membantunya.
“Vin tapi...”
“David dan Farid? Mereka juga tanggung jawab aku sebagai kakaknya Sa.. Kamu nggak perlu khawatir. Mamah sama papah aku juga setuju dan mendukung aku untuk menjaga kalian bertiga.” Sela Alvin yang sudah bisa menebak dengan apa yang ingin di katakan oleh Melisa.
Melisa tersenyum mendengarnya. Entah kebaikan apa yang pernah Melisa lakukan sehingga Tuhan begitu baik mempertemukan nya dengan keluarga Alvin. Keluarga yang tidak pernah mempermasalahkan apapun dan bagaimanapun masa lalu Melisa.
“Jadi gimana Sa? Kamu mau kan kita menikah secepatnya?” Alvin kembali bertanya untuk memastikan apakah Melisa setuju atau tidak menikah dengannya.
Melisa menghela napas pelan. Dirinya akan sangat bodoh jika menolak ajakan Alvin untuk menikah. Apa lagi Melisa tau bagaimana Alvin yang begitu baik padanya.
“Kalau memang itu yang terbaik. Kenapa tidak?” Senyum Melisa berkata dengan sangat yakin.
Alvin yang mendengar itu tersenyum lebar merasa sangat senang dengan apa yang Melisa katakan. Pria itu merasa sangat bahagia karena sebentar lagi dirinya akan sah menjadi suami Melisa.
__ADS_1
“Aku seneng banget Sa.. Aku janji aku akan menjadi suami untuk kamu sekaligus kakak yang baik untuk David dan Farid. Aku akan berusaha sebisa aku menjaga kalian bertiga. Kamu pegang kata kata aku Sa..”
Melisa menganggukkan kepalanya percaya dengan apa yang Alvin katakan. Melisa yakin keputusan nya menikah dengan Alvin adalah keputusan yang tepat.