SAYANG

SAYANG
Festival Sekolah Dimulai


__ADS_3

Kami mulai menyebar pamflet di seluruh area sekolah setelah kegiatan kelas regular selesai. Kami membagi tugas. Aku memilih untuk mengikuti Fajar. Kami munuju ruang osis.


Di dalam ruang osis, ada Fairel dan Qarima serta beberapa anggota lainnya. Fajar menempel pamflet di luar ruangan, begitu melihatku, Qarima keluar ruangan.


“Leva-han! Kau menyebar  pamflet?” Tanya Qarima.


“Iya!” Jawabku.


“Berikan padaku satu.” Dia mengulurkan tangannya.


Aku menatapnya sinis. Kenapa harus?


“Berikan saja. Tidak apa-apa!” Kata Fajar padaku sambil tersenyum. Aku memberikannya pada Qarima-dengan berat hati.


“Film? Sepertinya menarik.” Kata Qarima membolak balik pamfletnya. “Wajahmu tidak di sini, kau tidak ikut bermain?”


“Dia kameramennya.” Komentar Fajar.


“Kameramen? Keren! Kau sudah bisa memegang kamera sekarang, kau banyak kemajuan Leva-kun!”


“Siapa, Qarima?” Salah satu temannya keluar ruangan, “Oh itu kau!” Katanya begitu melihatku.


“Itu kau? Kau mengenalnya?” Tanya Qarima heran.


“Ya. Tentu saja! Aku pernah menyiramnya dengan air kotor saat dia lewat di ujung koridor sepulang sekolah waktu kelas satu, saat itu kami kebosanan! Hahaha.”


“Kami?”


“Dengan teman-teman sekelasku yang lain.”


“Kau menyiramnya dengan air kotor?” Tanya Qarima, raut wajahnya mulai berubah serius.


“Ya. Dia mengatakan ‘airnya jatuh dari langit, hujan yang sangat kecil!’ hahaha.” Dia tertawa, caranya meniru gaya bicaraku benar-benar sama.


“Kenapa kau tertawa?” Qarima mulai marah sekarang.


“Ka-karena ini lucu. Kenapa kau marah?”


“Apa kau tidak waras? Kau menyiramnya dengan air kotor kemudian kau menertawakannya tanpa memikirkan perasaanya.Ternyata kau orang yang seperti itu!” Kata Qarima.


Dia masuk kembali ke dalam ruangan dan membanting dirinya di kursi. Gadis yang membuatnya marah hanya berdiri di depan pintu tanpa berkata apa-apa. Aku berpikir, Qarima mungkin baru saja membelaku? Serius, aku terharu. Detik berikutnya Fairel keluar menyapa kami berdua.


“Hei, kalian di sini?”


“Ya!”


“Qarima dan Alya, apa yang terjadi di antara mereka?”


“Tidak ada apa-apa.” Kata Fajar cepat. “Leva,” dia melihatku, “Kau mengerti apa yang mereka bicarakan?”


“Tidak!” Jawabku. Tentu saja mengerti, kan? Tapi … membahasnya sekarang hanya akan membuatku kerepotan.


“Itu bagus. Ayo kita pergi.”


Kami telah menempel pamflet hampir di semua tempat, sekarang kami berada di kelas regulerku. Aku bertemu dengan Gin yang sedang sibuk mengomando teman-teman yang lain. Kelas kami tampak luar biasa, mereka menghiasi ruangan menjadi café bergaya Paris, tempak berkelas.


“Berhentiii.” Teriak Gin dari dalam kelas begitu melihatku yang sedang menempel pamflet di pintu. “Apa yang ingin kau lakukan dengan pintunya?” Tanya Gin setelah menghampiriku.

__ADS_1


“Dengan pintunya? Tidak ada.” Jawabku


“Ma-maksudku, apa yang ingin kau lakukan?”


“Menempel pamflet.”


“Di pintu? Apa kau bercanda denganku?”


“Iya! Tidak.”


“Kau tidak boleh menempel pamflet di pintu. Kau tidak lihat, kami baru saja membersihkannya.”


“Lalu aku harus menempel di mana?”


“Di mana saja asal bukan di kelas ini.” Kata Gin, dia agak kesal. Fajar hanya memperhatikan.


“Baik.” Kataku hendak pergi. Gin menahanku.


“Maksudku …” Kata Gin, dia seperti merasa bersalah. “Berikan padaku sebagian.” Gin mengambil pamflet di tanganku. Kemudian dia masuk ke dalam kelas, aku dan Fajar mengikutinya. Dia meletakkan pamfletnya di samping menu di atas meja, tidak ada yang keberatan saat Gin melakukannya.


“Kau cukup bisa diandalkan.” Kata Fajar yang sejak tadi diam saja.


“Aku melakukannya karena Leva.”


“Ho-ho!” Fajar tersenyum menggoda, Gin menatapnya serius. Setelah itu kami meninggalkannya.


Pamflet telah tersebar di seluruh sekolah. Sementara itu Ono, Vicky, Abi dan Adit belum kembali dari menyebar pamflet di luar sekolah. Di koridor dekat perpustakaan aku bertemu dengan Qhaza dan gadis hantu ketika hendak ke kelas tambahan. Aku baru mengetahuinya, gadis hantu juga siswi di sekolahku, aku berpapasan beberapa kali hari ini dengannya.


“Aku pasti akan datang ke kelas kalian berdua besok!” Kata Qhaza padaku.


“Aku juga!” Kata gadis hantu semangat.


“Pastikan kau juga membawa teman-temanmu.” Tambah Fajar.


“Aku akan melakukannya untuk kakakku!”


“Ho-ho!”


Apa ‘ho-ho’ sekarang ini sedang populer?


                                *


Aku dan Tiwa berangkat sangat pagi, dari jauh aku bisa melihat ratusan manusia yang melewati gerbang sekolah. Perasaan was-was mengiringi setiap langkahku, bisakah aku melewati hari ini dengan begitu banyak orang di sekitarku? Selain itu, hari festival juga adalah hari untuk bercosplay. Orang-orang jadi susah dikenali.


Di kelas tambahan aku melihat Vicky dan Adit, mereka berdua menghampiriku.


“Wow! Leva, kau tampak berbeda.” Puji Vicky, matanya berbinar-binar.


“Jadi, kau memakai kostumnya siapa?” Tanya Adit.


“Tsukuyo!” Jawabku.


“Aku belum pernah mendengarnya.” Kata mereka berdua secara bersamaan.


“Tokoh kartun di Jepang. Di dalam anime Gintama.” Kataku.


“Aku tidak tahu.” Kata mereka berdua hampir bersamaan.

__ADS_1


“Vicky juga terlihat cantik.” Pujiku sedikit tulus.


“Benarkah?” Teriaknya. “Aku memang berpikir begitu saat aku berangkat dari rumah tadi. Tapi begitu melihatmu … ooo!” Dia membuang nafasnya. “Tidak perlu menghiburku!”


“Tapi, Vicky memang cantik. Vicky memakai kostumnya siapa?” Tanyaku.


“Aku tidak memakai kostum siapapun. Aku menamakannya ‘jeans’ karena aku memakai jeans. Hehe. Jeans adalah tokoh yang aku ciptakan sendiri, sebentar lagi jeans akan menyelamatkan bumi dari kehancuran!” Kata Vicky sambil mengangkat tangan kanannya. Aku diam saja, entah kehancuran bumi seperti apa yang dia maksud.


Menit berikutnya yang lainnya berdatangan.


“Karena semuanya sudah di sini, kecuali Fairel yang sibuk di osis, kita akan segera membagi job!” Kata pak Abdul.


“Fajar!” Panggil Tiwa. “Kamu di bagian pemutaran film, pantau berjalannya film dari awal hingga akhir.”


“Oke. Serahkan padaku.” Kata Fajar.


“Ono!”


“Siap, Bu!”


“Jaga keamanan!”


“Apa?”


“Kau baru saja mengatakan siap!” Kata pak Abdul, kami semua tertawa.


“Adit, Abi, Vicky dan Quinzha leva.”


“Ya!” Jawab kami berempat serentak.


“Kalian berempat …” kata pak Abdul, dia diam sejenak. “BERSENANG-SENANGLAH KEMUDIAN MENAAAANG!” Teriak pak Abdul kencang. Semangatnya sungguh tak biasa, terlalu lama bergaul dengan Tiwa, dia pun ikut terpengaruh.


“Baik!” Jawab kami serentak.


“BERSEMANGATLAH ANAK MUDAAA!”


“SIAP PAK!”


“Baiklah semuanya.” Kata pak Abdul lagi, “Sekarang aku menyatakan … MULAI!”


Kami pun bubar, mengambil posisi masing-masing. Fajar duduk di depan laptopnya, Ono berdiri di samping pintu, sementara Tiwa duduk di meja penjualan tiket. Pak abdul mengawasi dari dalam ruangan, mengambil kursi paling belakang. Abi dan Adit keluar ruangan. Aku mengikuti Vicky, dia memegang tanganku, kami melewati koridor.


Jika pagi tadi ketika aku tiba di sekolah, aku hanya melihat siswa dan siswi yang meramaikan sekolah dengan berbagai kostum terbaik yang mereka miliki, saat ini sekolah mulai diramaikan dengan hampir dari semua penduduk di kota yang berdatang satu persatu. Karena sekolahku adalah satu-satunya yang mengadakan festival semacam ini di kota. Festival sekolah menjadi festival yang selalu dinanti-nantikan oleh banyak orang.


Begitu aku meninggalkan kelas tambahan, untuk beberapa saat kulihat ke belakang, ada beberapa pengunjung yang mulai berdatangan. Vicky tidak pernah melepaskan tanganku, raut wajahnya terlihat sangat bahagia. Sementara raut wajahku mengekspresikan kekhawatiranku. Soalnya, pak Abdul mengatakan padaku untuk bersenang-senang kemudian menang, semantara untuk menang aku tidak mungkin bersenang-senang, kan. Aku harus mengikuti beberapa lomba, entah apa itu. Melakukan sesuatu itu adalah hal yang merepotkan, hal yang paling aku hindari.


“Aku bahkan tidak tidur semalaman karena memikirkan hari ini. Bahkan tadi aku datang terlalu pagi, sebelum satu orang pun ada di sekolah.” Kata Vicky dengan wajah berbunga-bunga.


“Memangnya kau ini anak SD yang mau piknik?”


“Aku berharap bisa memakan kue apel.” Katanya semangat. Dia mendengarkku tidak sih? “Aku juga ingin makan Jagung.”


Yang benar saja. Aku tidak pernah berpikir bahwa dia benar-benar menantikan festival ini, tentu saja karena aku memang belum pernah memikirkan orang lain sebelumnya.


Selama ini, dia memang yang paling bersemangat ketika kami membicarakan tentang festival.


“Ini festival pertamaku.” Kata Vicky pelan seakan untuk dirinya sendiri. “Jadi aku tidak akan mengacaukannya.” Lanjutnya, masih dengan suara pelan. “Tidak, tidak apa-apa!” Katanya lagi, dia ini gila ya? “Pokoknya, ayo kita buat festival ini menjadi menyenangkan!”

__ADS_1


“Um!” Aku mengangguk.


__ADS_2