
Siang itu Melisa pergi dengan Alvin menuju butik untuk mencari baju pengantin. Ya, mereka berdua tidak ingin lagi menunda nunda waktu. Selain karena mereka berdua sudah mengantongi restu dari kedua orang tua Alvin, mereka juga merasa tidak punya lagi alasan menunda niat baiknya itu untuk hidup bersama.
Sedang Alex, dia sudah mendengar secara langsung bahwa Alvin dan Melisa akan segera menikah. Alex sangat marah dan kesal. Karena tidak bisa menahan emosinya itu, Alex pun meluapkan nya dengan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Alex bahkan beberapa kali hampir menabrak kendaraan lain serta menyerempet beberapa pejalan kaki. Namun sedikitpun Alex tidak perduli. Dia benar benar sedang dikuasai oleh amarahnya.
“Brengsek !!” Umpat Alex sembari terus menambah kecepatan laju mobil yang sedang di kendarainya.
Padahal Alex pikir Alvin tidak benar benar serius ingin memiliki Melisa. Hal itu yang membuat Alex yakin bahwa dirinya masih punya harapan untuk bisa memiliki Melisa. Tapi hari ini Alex mendengar sendiri dari mulut Melisa dan Alvin bahwa keduanya sudah berencana mencari baju pengantin.
Alex merasa marah juga hancur. Harapan nya pupus begitu saja karena apa yang di dengarnya tadi dari obrolan mesra Alvin dan Melisa. Di tambah lagi hinaan Melisa dan Alvin yang langsung masuk ke relung hatinya.
Merasa tidak punya tujuan, Alex pun menghentikan mobilnya di tempat sepi. Pria itu mengusap kasar wajah tampan nya. Menerima kenyataan yang tidak pernah dia duga benar benar membuat Alex merasa kehilangan arah dan tujuan hidup sekarang.
“Kenapa Melisa? Kenapa kamu lebih memilih dia dari pada aku? Jelas jelas aku lebih baik dari dia. Aku lebih segalanya dari laki laki itu.” Lirih Alex merasa sangat hancur.
Alex tidak pernah menduga hatinya akan sesakit sekarang. Alex pikir dirinya adalah pria kuat dan tangguh yang tidak akan merasakan sakit apapun permasalahan dalam hidupnya. Seperti saat melihat Lena bahagia dengan Erlan, Alex hanya merasa marah. Adapun sakit itu hanya sesaat saja karena Alex masih memiliki Melisa sebagai pelampiasan nya. Dan sakit itu tidak sesakit seperti sekarang.
Bayangan saat dirinya berbuat seenaknya pada Melisa kembali hadir. Bayangan itu begitu jelas. Seperti bayangan saat Melisa yang menangis mengiba saat dia lecehkan, bahkan saat Melisa berusaha sekuat tenaga lepas dari cengkraman nya yang selalu memaksa Melisa melayaninya dimanapun dan kapanpun Alex mau.
Alex menggelengkan kepalanya. Alex akui dirinya memang sudah sangat keterlaluan. Tapi sekarang Alex benar benar serius ingin memperbaiki serta mempertanggung jawabkan perbuatannya pada Melisa. Alex ingin menjadikan Melisa sebagai pendampingnya. Alex bahkan sudah berniat akan menjaga Melisa dengan sebaik baiknya. Alex akan berubah dan menjadi suami yang baik untuk Melisa. Namun sayangnya semua itu terlambat karena Melisa sudah terlanjur membencinya dan sekarang memilih untuk menikah dengan pria lain yaitu Alvin.
__ADS_1
Di tengah kegalauan dan ke frustasian nya, tiba tiba bayangan Sherin yang tersenyum padanya menghampiri. Bayangan wajah cantik Sherin menggantikan bayangan Melisa yang sedang menangis mengiba di bawah kuasa Alex secara tiba tiba.
Alex tertegun karena hal itu. Wajah Sherin yang begitu jelas membayanginya membuat perasaan Alex semakin kacau. Rasa bersalah itu muncul kembali di hatinya. Rasa bersalah akan perlakuan tidak baiknya pada Sherin yang jelas rela melakukan apa saja untuknya.
“Apa apaan ini?” Gumam Alex marah. Saat ini takdir seperti sedang mempermainkan nya. Dua sosok wanita yang pernah dia sakiti dengan kompak membayanginya. Bahkan sampai pada Sherin yang sudah tidak ada lagi di dunia ini.
Selama ini Alex tidak pernah sedikitpun merasa dirinya salah. Alex selalu menganggap apa yang dia lakukan adalah cara untuk dia memuaskan dan menyenangkan dirinya sendiri. Tidak perduli apakah kesenangan nya itu merugikan orang lain atau tidak. Yang Alex tau hanya dirinya senang dengan apa yang bisa dia lakukan.
Alex berdecak. Perasaan nya mulai campur aduk sekarang. Dari rasa kesal, marah, menyesal juga rasa bersalah yang menjadi satu. Dan semua perasaan itu membuat Alex merasa tidak jelas sekarang.
Alex menarik napas dalam dalam kemudian menghembuskan nya perlahan. Alex tidak ingin terbawa emosi kali ini. Pria itu berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.
Tidak mau larut dengan perasaan nya sendiri, Alex pun memutuskan untuk pulang. Alex yakin bermain bersama Arkana bisa membuatnya lupa dengan apa yang dia rasakan tadi.
Alex kembali menghidupkan mesin mobilnya lalu melaju dengan kecepatan sedang dari jalanan sepi tersebut.
Dan begitu sampai di apartemen nya, ternyata nyonya besar Smith sedang berada di sana. Dia sedang bermain dengan Arkana yang memang selalu mau photo Sherin berada di dekatnya saat sedang beraktivitas apapun.
“Kamu sudah pulang.. Tumben sekali sudah pulang jam segini?” Tanya nyonya besar Smith begitu Alex mendekat padanya dan Arka.
__ADS_1
“Ya mah.. Aku merasa sedikit lelah hari ini.” Jawab Alex sekenanya.
Alex menaruh kresek berisi satu dus kue lapis legit dan satu dus bolu pisang yang di belinya dari toko Melisa di atas meja di depan sofa yang di duduki oleh mamahnya. Bukan di beli sebenarnya karena Melisa memberikan kue itu secara cuma cuma meski lebih dulu menghina Alex secara tidak langsung.
Nyonya besar Smith yang melihat kresek bergambar tidak asing di depan nya itu mengernyit. Nyonya besar Smith meraih kresek tersebut dan menilik apa yang ada di dalamnya.
“Alex ini kan kuenya mbak Mel. Kamu dapat darimana?” Tanya nyonya besar Smith yang membuat Alex mengangkat sebelah alisnya tidak mengerti.
“Mbak Mel siapa? Alex beli kue ini di toko kue mantan sekretaris Alex dulu mah.. Namanya Melisa.” Jawab Alex bingung.
“Mantan sekretaris kamu? Jadi mbak Mel itu pernah menjadi sekretaris kamu?” Tanya nyonya besar Smith terkejut.
“Mbak Mel siapa sih mah? Mantan sekretaris aku itu Melisa, bukan mbak Mel mah..”
“Iya mbak Mel itu ya Melisa. Dia penjual kue yang dulu juga pernah menjadi toko kue langganan mamah. Sherin juga minta mamah buat beliin kue lapis legitnya dulu saat masih hamil Arkana. Tapi saat itu kata Sherin ada kecoa mati di dalam box kuenya. Sejak saat itu mamah nggak beli lagi kue sama mbak Mel.” Jelas nyonya besar Smith.
“Kuenya mbak Mel nggak higenis. Jadi lebih baik kue ini di buang saja dari pada bikin penyakit.” Kata nyonya besar Smith lagi.
Alex menyipitkan kedua matanya. Pria itu tidak percaya dengan apa yang di katakan mamahnya bahwa kue kue Melisa tidak higenis. Alex yakin Melisa tidak mungkin sembarangan melayani pelanggannya. Apa lagi pelanggan nya juga sudah banyak.
__ADS_1
“Sherin...” Batin Alex geram.