
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, nyonya besar Smith sama sekali tidak memperdulikan Sherin yang duduk di sampingnya. Wanita itu sibuk memainkan ponselnya dan tidak ingin sedikitpun tau tentang bagaimana keadaan Sherin sekarang. Yang nyonya Smith inginkan hanya calon cucunya yang berada di kandungan Sherin harus baik baik saja dan lahir tanpa kurang satu apapun.
Sekitar setengah jam perjalanan, mobil mewah milik nyonya Smith sampai tepat di depan rumah sakit. Wanita itu segera turun dari mobilnya tanpa perduli sedikitpun pada Sherin.
Sementara Sherin, dia merasa tidak berdaya sekarang. Berada di bawah tekanan keluarga Smith, membuatnya dilema. Sherin ingin sekali terbebas, pergi sejauh mungkin dari lingkaran kejam keluarga kaya raya itu. Tapi itu tidak mungkin. Selain karena demi janin yang berada di kandungannya sekarang, Sherin juga tidak bisa memungkiri bahwa dirinya sangat mencintai Alex terlepas dari apapun yang Alex lakukan padanya. Mungkin itulah yang dinamakan bahwa cinta itu buta. Sherin berkali kali terluka bahkan nyaris putus asa, tapi Sherin masih menunggu dan berharap suatu saat Alex akan menatapnya, berhenti menyakitinya dan mencintainya sebagaimana Alex mencintai Lena.
Tok tok tok
Suara ketukan di kaca mobil membuat lamunan Sherin buyar. Tidak mau membuat nyonya besar Smith semakin marah, Sherin pun bergegas keluar. Meski sebenarnya kepalanya sedang berdenyut ngilu sekarang.
“Saya paling tidak suka menunggu.” Ketus nyonya besar Smith.
“Maaf mah..” Lirih Sherin.
Nyonya besar Smith berdecak kesal. Wanita itu kemudian melangkah lebih dulu dari Sherin masuk ke dalam gedung rumah sakit elit yang memang sengaja dia pilih sendiri sebagai tempat yang tepat untuk Sherin mengecek kandungannya setiap bulan.
“Dasar perempuan tidak tau di untung. Bisanya hanya menyusahkan orang.” Gumamnya sembari melangkah mendahului Sherin.
Sherin hanya bisa menghela napas kemudian mulai melangkah mengikuti mamah mertuanya dari belakang. Sherin berpikir mungkin untuk sekarang dirinya memang sedang di suruh untuk lebih bersabar oleh Tuhan. Ibarat seseorang yang sedang terjebak di gubug tua di tengah hutan dan sedang menunggu hujan badai berhenti. Sherin yakin setelah hujan badai itu reda, akan ada pelangi yang mengiringi cerahnya sinar matahari untuk kemudian dirinya keluar dari gubug tua di dalam hutan tersebut.
__ADS_1
Nyonya besar Smith dan Sherin masuk ke dalam ruangan dokter yang menangani Sherin. Disana Sherin langsung di periksa mulai dari di timbang lebih dulu berat badannya kemudian berlanjut dengan mengecek tensi darah. Setelah itu nyonya besar Smith juga meminta agar dokter melakukan USG yang tentu di turuti saja oleh dokter tersebut.
“Janin nya sangat sehat nyonya. Semuanya normal. Detak jantungnya juga bagus. Hanya saja mungkin nyonya Sherin harus menambah lagi waktu istirahatnya. Karena jika terus mengabaikan waktu istirahat, tentu akibatnya akan sangat fatal.”
Sherin tidak mendengarkan apa yang dokter itu sampaikan. Dia lebih fokus pada layar monitor USG yang sedang menampilkan buah hatinya. Tanpa sadar Sherin bahkan meneteskan air mata harunya. Janin dalam kandungannya begitu sangat kuat. Bahkan meski Alex sering kasar saat menyentuhnya namun setiap di cek dokter selalu mengatakan bahwa janin nya sehat.
“Belum lama ini anda kesini kan nyonya? Apa vitamin yang anda tebus di apotek anda minum dengan teratur?” Senyum dokter itu beralih menatap pada Sherin yang langsung tersadar dari kekagumannya terhadap calon buah hati yang sedang di kandungnya.
Sherin menelan ludah. Saat itu Sherin membohongi mamah mertuanya dan mengatakan akan bertemu dengan Lena, bukan untuk mengecek kandungan ke dokter.
“Apa?” Sebelah alis nyonya besar Smith terangkat mendengar apa yang dokter katakan. Wanita itu kemudian beralih menatap pada Sherin yang langsung menundukan kepala tidak berani menatapnya.
Nyonya besar Smith menyipitkan kedua matanya menatap kesal pada Sherin yang sudah berani berbohong padanya. Wanita itu sangat tidak suka di bohongi. Dan Sherin dengan sangat berani membohonginya.
“Tidak heran Alex tidak perduli sama kamu Sherin. Ternyata kamu memang bukan perempuan yang jujur. Saya mulai curiga, jangan jangan apa yang putra saya katakan memang benar. Janin yang kamu kandung belum tentu darah daging Alex.” Sindir nyonya besar Smith pedas saat mereka sudah dalam perjalanan pulang menuju apartemen Alex.
Sherin tidak bisa menjawab. Dia hanya diam. Sherin tau apapun alasannya kebohongannya tetaplah suatu kesalahan yang tentu tidak bisa di terima oleh lain pihak.
-----------------
__ADS_1
Seminggu berlalu.
Natasha terus bersikap tidak baik pada Lena. Wanita selalu merendahkan bahkan menghina Lena secara terang terangan saat tidak ada Erlan. Namun Lena tidak sekalipun menunjukkan sisi lemah yang ada pada dirinya. Lena tetap santai menerima apapun yang Natasha katakan. Lena juga bisa dengan mudah membalikan apa yang Natasha hinakan padanya.
Lena menghela napas kasar begitu memasuki kamarnya. Dia menutup kembali pintu kamarnya kemudian menguncinya dari dalam.
“Ya Tuhan... Maafkan hamba yang sudah begitu sangat berani pada mommy.. Hamba hanya ingin menjaga apa yang memang sudah seharusnya hamba jaga.” Batin Lena memejamkan kedua matanya.
Lena tidak ingin bersikap seperti itu sebenarnya. Tapi keadaan memaksanya harus melakukan itu. Apa lagi taruhannya adalah hubungannya dengan Erlan.
Sesaat Lena terdiam sebelum akhirnya dia melangkah menuju ranjang dan membaringkan tubuh rampingnya disana. Mendadak Lena terpikirkan dengan usahanya untuk mempertahankan hubungannya dengan Erlan. Lena merasa dirinya harus benar benar melakukan dengan baik apa yang Erlan katakan. Yaitu bersikap tegas pada Natasha juga tuan besar Harrison, daddy Erlan.
“Kenapa membayangkan hubunganku dengan Erlan terpisah rasanya aku sangat tidak rela. Aku bahkan selalu merasa gelisah jika Erlan pulang sedikit terlambat. Aku ingin dia tetap berada disini, di sampingku, merasakan sentuhan hangat dan pelukannya yang membuatku selalu merasa nyaman dan terlindungi.” Lena kembali membatin sembari memejamkan kedua matanya membayangkan wajah tampan suaminya.
Lena terkadang merasa sangat bodoh sendiri. Tapi Lena juga merasa apa yang dilakukannya bukanlah sebuah tuntutan, tapi sebuah kewajiban. Yang artinya Lena harus melakukan itu karena memang itu adalah sebuah keharusan. Keharusan yang dengan suka rela Lena lakukan, bukan karena keterpaksaan.
“Apa itu artinya aku mulai tergantung pada Erlan? Aku mulai mencintainya tanpa aku sadari?” Lena membuka kedua matanya hingga terbuka dengan sempurna. Rasa bingung mulai dia rasakan. Lena tidak tau apa yang dia rasakan terhadap Erlan. Yang Lena rasakan hanya dirinya ingin selalu berada dekat dengan suami tampannya itu.
Memikirkan tentang cinta, tiba tiba Lena merasa takut sendiri. Lena takut kejadian itu kembali terulang. Yaitu dirinya yang di khianati oleh pria yang sangat dia cintai. Alexander, dia lah pria yang berhasil menghancurkan hati dan perasaan Lena dalam sekejap.
__ADS_1