
Melisa menatap pantulan wajahnya di cermin yang ada di depan nya. Saat ini Melisa sedang berada di dalam kamar mandi yang ada di kamar pengantin nya dan Alvin. Melisa juga sudah mengganti gaun pengantin nya dengan dress pendek diatas lutut berbahan satin yang memang sudah di siapkan untuk nya. Melisa benar benar bingung harus bagaimana sekarang. Sekarang status nya sudah menjadi istri seorang Alvin putra, pengusaha muda yang juga cukup terkenal namanya.
“Aku harus bagaimana sekarang?” Gumam Melisa pelan. Melisa tidak menyangka jika dirinya akan merasakan kebingungan dan keraguan setelah menjadi istri sah Alvin. Padahal sebelumnya Melisa berpikir dirinya akan sangat bahagia dan bersikap lebih terbuka pada Alvin.
Melisa menarik napasnya dalam dalam. Wanita itu memang sudah terbiasa bersama dengan Alvin. Bahkan hampir setiap hari mereka selalu bersama. Namun bagi Melisa keadaan nya sekarang berbeda. Jika kemarin kemarin mereka hanya sepasang kekasih, kini mereka berdua adalah sepasang suami istri. Yang artinya mereka akan setiap hari bersama. Mereka juga akan melakukan segala hal bersama.
Tiba tiba pikiran Melisa tertuju pada sesuatu yang biasa di lakukan oleh sepasang suami istri di malam pertama. Melisa menelan ludah. Melakukan hal itu sudah bukan lagi hal asing bagi Melisa. Dan lagi, Alvin bukanlah orang pertama yang akan menyentuhnya karena memang yang menyentuhnya pertama kali adalah Alex, dan Alex merenggut kesuciannya dengan sangat kejam. Pria itu memaksanya, bahkan menjadikan nya sebagai budak nafsu yang bisa Alex sentuh kapanpun Alex mau.
Melisa memejamkan kedua matanya, mengingat masa lalunya yang begitu kelam, Melisa mendadak tidak percaya diri. Melisa bahkan merasa takut jika harus keluar dari kamar mandi dan menemui Alvin sekarang. Parahnya lagi ada perasaan yang membuat Melisa merasa tidak pantas menjadi istri Alvin.
Tanpa sadar Melisa meneteskan air matanya. Wanita itu merasa kotor dan tidak pantas untuk Alvin sekarang. Sekarang bahkan rasanya Melisa ingin pergi sejauh jauhnya dari Alvin.
Alvin yang sejak tadi duduk di tepi ranjang menunggu Melisa yang sedang berada di dalam kamar mandi mulai merasa khawatir. Pria itu kemudian bangkit dari duduknya dan melangkah menuju pintu kamar mandi yang tertutup rapat.
Alvin menghela napas pelan sebelum akhirnya mengangkat tangan nya mengetuk pintu kamar mandi.
“Sa....” Panggil Alvin mendekatkan wajahnya ke pintu agar Melisa dapat mendengar suaranya.
Alvin tidak tau apa yang sedang di lakukan Melisa di dalam kamar mandi sehingga hampir satu jam tidak keluar keluar. Padahal Melisa hanya mengatakan akan mengganti gaun pengantin nya dengan dress tidur yang secara logika tidak akan memerlukan waktu begitu lama.
Beberapa kali mengetuk pintu dan memanggil nama Melisa namun Melisa tidak juga menyahut. Hal itu membuat perasaan Alvin semakin khawatir dan tidak tenang. Merasa tidak punya lagi pilihan, Alvin pun memilih untuk mendobrak pintu kamar mandi untuk memastikan bahwa istrinya baik baik saja.
Begitu Alvin berhasil mendobrak pintu kamar mandi, Alvin terkejut mendapati Melisa yang terduduk di lantai dengan kedua tangan yang menutupi kedua telinganya. Wanita itu menangis di pojok ruangan dan terus menggelengkan kepalanya seolah menolak panggilan dari Alvin.
“Melisa.. Ya Tuhan...” Alvin menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Entah apa yang terjadi sehingga istrinya tampak seperti orang yang sedang ketakutan.
“Tidak, jangan mendekat. Jangan sentuh aku.” Tangis Melisa terus berusaha menjauh dari Alvin padahal Melisa sudah berada di pojok ruangan. Mungkin jika mampu Melisa akan mengeruk tembok kamar mandi agar bisa semakin menjauh dari Alvin.
Melihat kondisi istrinya yang begitu tiba tiba Alvin merasakan denyutan ngilu di hatinya. Alvin benar benar tidak tau ada apa sehingga tiba tiba istrinya bertingkah laku seperti orang yang sedang mengalami ketakutan yang sangat hebat.
“Melisa, sayang ini aku... Alvin, suami kamu.” Alvin berusaha untuk mendekat pada Melisa, namun tangisan Melisa malah semakin hebat. Wanita itu bahkan berteriak dan meraih apa saja yang bisa di jangkaunya kemudian melemparkannya pada Alvin.
__ADS_1
“Pergi !! Aku mohon jangan.. Huhuhu..” Tangis Melisa.
“Pergi !! Jangan sentuh aku.. Aku mohon pergi...”
Alvin menelan ludah dan menggelengkan kepalanya tidak percaya mendengar istrinya yang begitu sangat histeris dan ketakutan. Saat itu lah Alvin sadar bahwa mungkin Melisa larut sendiri ke dalam masa lalu kelamnya dulu. Apa lagi tangisan dan histeris nya Melisa seolah sedang sangat ketakutan akan ada orang yang berbuat kasar padanya. Alvin tau itu semua pasti karena perbuatan Alex di masa lalu pada Melisa.
“Melisa, ini aku Alvin. Nggak papa sayang, kamu akan aman sama aku. Aku nggak akan kasar kasar sama kamu.” Dengan suara bergetar Alvin berusaha mendekati Melisa. Pria itu benar benar tidak mau jika sampai Melisa takut padanya. Alvin sangat mencintai Melisa, dan dia tidak mau jika sampai Melisa merasa tidak aman saat sedang bersama nya.
“Nggak !! Kamu jahat !! Kamu kejam !! pergi brengsek !! Pergi !!” Melisa bangkit dari duduknya. Tangannya meraih apa saja yang bisa dia gapai kemudian melemparkannya lagi pada Alvin. Wanita itu terus saja menangis histeris penuh dengan ketakutan. Wajah cantiknya memerah dan basah oleh air mata dengan kedua mata yang menyiratkan tatapan penuh ketakutan dan kewaspadaan.
Melihat itu Alvin pun ikut menangis. Alvin tidak menyangka hal itu akan terjadi. Padahal Alvin pikir Melisa sudah tidak lagi mengingat apapun tentang masa lalunya. Tapi nyatanya bahkan masa lalu itu berimbas pada kejiwaan Melisa sekarang.
Mulai merasa kehilangan kesabaran, Alvin pun nekat mendekat saja pada Melisa. Pria itu meraih kedua tangan Melisa yang terus berusaha meraih apa saja untuk di lemparkan padanya.
“Cukup Melisa, cukup !!” Bentak Alvin ikut menangis.
Melisa menggelengkan kepalanya keras. Dia terus berusaha memberontak mencoba melepaskan kedua tangan nya dari Alvin. Namun sekuat apapun dia berusaha, tenaga Alvin tetaplah sangat kuat dan Melisa tidak bisa menandinginya.
Melisa terus saja menolak apapun yang Alvin katakan. Melisa bahkan juga tidak menghiraukan Alvin yang ikut menangisi kondisinya sekarang.
“Enggak !! Pergi !! Lepasin aku !!”
Karena teriakan histeris penuh ketakutan Melisa, air mata Alvin pun semakin deras menetes membasahi kedua pipinya. Pria itu benar benar tidak tahan melihat Melisa yang begitu ketakutan hanya karena melihatnya. Melisa seolah menganggap Alvin adalah Alex yang berusaha untuk memaksanya.
Alex menarik napas dalam dalam kemudian menghembuskan nya perlahan. Pria itu melepaskan tangan Melisa namun dengan sigap langsung membopong tubuh Melisa yang lagi lagi memberontak meminta untuk di lepaskan sambil menangis histeris. Namun Alvin tidak menyerah, meski dirinya harus menahan rasa sakit akibat dari pukulan bahkan cakaran kuku tajam Melisa.
Alvin membawa Melisa keluar dari kamar mandi dan membawanya melangkah menuju ranjang pengantin mereka. Disana Alvin membaringkan Melisa yang kemudian dengan sigap turun dari ranjang berukuran besar itu dan berniat menjauh dari Alvin.
Kali ini Alvin hanya diam saja dalam tangisnya menatap Melisa yang berusaha membuka pintu kamar mereka yang di kunci. Bahkan Melisa seperti orang bodoh yang terus berusaha memutar handle pintu berharap pintu tersebut bisa dia buka sementara kuncinya saja tergelantung disana. Sepertinya pikiran Melisa tidak sampai untuk membuka kunci tersebut karena terlalu larut dalam ketakutan nya.
Tidak tau harus bagaimana, Alvin pun memilih pasrah saja melihat Melisa seperti itu. Alvin duduk di tepi ranjang sembari terus menatap Melisa yang berusaha kabur darinya. Bukan karena tidak perduli, namun karena Alvin sedang menunggu Melisa tenang lebih dulu. Karena hanya dengan begitu Melisa pasti akan mau mendengarkan nya. Melisa akan sadar jika sudah tenang nanti bahwa yang ada di sekitarnya sekarang bukanlah Alex, melainkan Alvin, suaminya sendiri.
__ADS_1
“Siapapun diluar tolong aku !! Tolong !!”
Alvin mencoba untuk menahan diri agar tidak lebih dulu mendekat pada Melisa. Pria itu tau jika dirinya menenangkan pun akan percuma karena sekarang Melisa sedang di kuasai oleh bayang bayang masa lalu kelamnya.
Beruntung nya kamar Alvin kedap suara sehingga tidak akan ada orang yang mendengar teriakan Melisa sekarang. Hal itu bisa mencegah penilaian buruk para pekerja juga kedua orang tuanya yang tentu tidak akan mendengar Melisa yang histeris meminta tolong tanpa sebab.
“Ya Tuhan...” Gumam Alvin berusaha untuk sabar. Alvin tau, apa yang Melisa alami dulu memang tidak mudah. Dan Melisa berada di bawah tekanan seorang Alex tidak sebentar. Tidak heran jika Melisa sampai mengalami trauma berat seperti sekarang. Karena memang apa yang Melisa alami bukan suatu hal yang bisa di anggap remeh ataupun di sepelekan.
“Alexander, jika sampai sesuatu terjadi pada istriku, aku bersumpah akan mengejar kemanapun kamu pergi. Aku akan membalaskan rasa sakit istriku. Tunggu saja kehancuranmu Alex. Aku akan membuat kamu di hukum seberat beratnya oleh apa yang pernah kamu perbuat pada Melisa dulu.” Gumam Alvin penuh amarah. Pria itu mengepalkan kedua tangannya karena emosinya yang sedang memuncak bahkan sampai ubun ubun nya terasa mendidih membayangkan wajah memuakkan Alexander.
Setelah menunggu hampir 20 menit, akhirnya Melisa pun diam. Tubuhnya terlihat melemas hingga akhirnya meluruh ke lantai. Penampilan nya yang sudah sangat berantakan menunjukan bahwa wanita itu memang sedang dalam keadaan hati dan mental yang tidak baik baik saja.
Alvin kemudian bangkit dari duduknya. Pria itu pelan pelan melangkah mendekat pada Melisa yang meski sudah tidak lagi histeris namun masih tetap menangis. Isak tangisnya bahkan terdengar sangat memilukan.
Alvin berjongkok di depan Melisa. Pria itu menatap lekat lekat pada Melisa yang detik itu baru menyadari bahwa yang ada di depan nya bukan lah Alex, melainkan suaminya sendiri Alvin.
“Alvin..” Lirih Melisa dengan suara serak juga bergetar.
Alvin merasa lega mendengarnya.
“Ya sayang.. Ini aku..” Senyum Alvin dengan air mata yang kembali menetes membasahi pipinya untuk yang kesekian kalinya.
Melisa langsung berhambur memeluk Alvin erat. Wanita itu menangis meraung di pelukan Alvin. Melisa benar benar tidak ingin lagi mengingat apapun tentang masa lalunya, namun bayangan Alex yang begitu jahat menjamah tubuhnya dengan sangat kejam seolah tiba tiba datang menghantuinya membuat rasa takut itu muncul dan menguasai pikiran nya.
“Tenang ya sayang.. Kamu akan aman sama aku. Aku nggak akan biarin siapapun menyakiti kamu.” Lirih Alvin menenangkan Melisa.
Alvin pelan pelan membopong tubuh bergetar Melisa lalu bangkit dari berjongkok nya dan melangkah menuju ranjang yang sudah di hias sedemikian indahnya dengan kelopak bunga mawar merah yang bertaburan diatasnya.
Alvin membaringkan tubuh Melisa disana kemudian segera memeluknya untuk menenangkan nya dan memberitahu bahwa apapun yang terjadi Alvin akan terus berada di samping Melisa untuk melindungi istri tercintanya dengan segenap jiwa dan raganya.
Sambil terus memeluk Melisa yang menangis, Alvin juga berpikir untuk memeriksakan keadaan mental istrinya. Alvin tidak mau jika apa yang baru saja terjadi akan kembali terulang di kemudian hari. Alvin tidak mau istrinya merasa terancam karena bayang bayang masa lalu akibat tindakan bejat Alex dulu.
__ADS_1
“Tidurlah.. Aku akan selalu disini sayang..” Bisik Alvin.