
Setelah selesai mengganti ****** ***** sekaligus mengenakan pembalut, Erlan pun segera mengajak Lena untuk berbaring di tempat tidur. Erlan juga memeluk lembut tubuh Lena dan sesekali mencium puncak kepala istri tercintanya itu.
Sedang Lena, dia hanya bisa diam dengan rasa bersalah yang menyelimuti hatinya. Lena sendiri tidak sedikitpun menduga tamu bulanan nya akan datang malam ini dan tepat di saat Erlan sedang menginginkan nya.
“Maaf....” Lirih Lena.
Mendengar kata maaf yang keluar dari mulut istri nya dengan begitu lirih, Erlan pun segera melepaskan pelukannya. Pria itu menyentuh lembut dagu istrinya menuntun wajah Lena agar menghadap padanya.
Begitu tatapan keduanya bertemu Erlan langsung bisa membaca ekspresi sendu istrinya.
“Maaf untuk apa sayangku?” Tanya Erlan dengan senyuman manis yang menghiasi bibirnya.
Lena menghela napas pelan. Sebenarnya Lena juga sangat ingin bisa melayani suaminya dengan baik. Lena sendiri tau selama hampir dua bulan ini Erlan selalu menahan dirinya. Itu lah yang membuat Lena merasa bersalah dengan datangnya tamu bulanan nya itu.
“Gara gara aku Mens, aku jadi..”
“Sssttt... Aku nggak harus kecewa hanya karena malam ini gagal melakukannya sayang. Justru aku seneng karena akhirnya kamu kembali mendapatkan tamu bulanan kamu. Itu artinya kamu sudah pulih sepenuhnya setelah melahirkan. Jadi kamu nggak perlu merasa bersalah. Oke? Aku akan dengan sabar menunggu sampai masa mens kamu selesai. Tidak perlu di pikirkan. Karena dengan memeluk kamu seperti ini saja aku sudah sangat senang sayang...” Sela Erlan. Pria itu berkata dengan sangat lembut karena tidak mau jika sampai istrinya merasa bersalah untuk sesuatu yang memang tidak seharusnya di salahkan.
Perlahan Lena mulai tersenyum. Erlan benar benar pria yang penuh pengertian. Pria itu selalu bisa mengerti dirinya dalam keadaan apapun. Itulah yang membuat Lena ingin selalu memberikan yang terbaik untuk suaminya.
__ADS_1
“Terimakasih karena kamu selalu mengerti aku..” Kata Lena pelan.
“Hem... Terimakasih juga karena kamu sudah mau memilih aku menjadi suami kamu. Terimakasih sudah hadir dan menyempurnakan kehidupan aku sayang..” Balas Erlan.
Keduanya kemudian sama sama tersenyum. Sedetik berikutnya keduanya sudah berciuman dengan sangat lembut dan penuh cinta.
Erlan sedikitpun tidak merasa kecewa meski harus menunggu sampai Lena selesai dengan tamu bulanan nya.
-------------
Berbanding terbalik dengan apa yang Lena dan Melisa rasakan, Alex justru sedang merasakan sesuatu yang tentu sangat mengganggu pikiran dan hatinya. Pria itu terus terusan merasa tidak tenang karena bayangan Sherin yang kembali menghantui nya. Tidak tanggung tanggung Sherin bahkan sampai masuk ke dalam mimpinya. Di dalam mimpi Alex, Sherin membawa pergi Arkana darinya dan Alex tidak berdaya untuk mencegahnya.
“Sial !!” Umpatnya marah.
Alex menoleh pada Arkana yang terlelap dengan tenang di samping nya. Bermimpi Sherin membawa pergi Arkana darinya membuat Alex merasa takut akan kehilangan sosok tampan nan menggemaskan itu.
Alex menelan ludah. Pria itu tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya jika sampai Arkana benar benar di bawa pergi dari sampingnya. Alex pasti akan benar-benar gila.
“Enggak, enggak.. Papah nggak akan biarin siapapun membawa kamu pergi nak.. Bahkan meskipun memang benar mamah kamu menjadi hantu, papah tidak akan membiarkan nya membawa kamu. Kamu harus selalu sama papah. Cuma kamu kebanggaan papah..” Lirih Alex.
__ADS_1
Karena tidak juga kunjung bisa memejamkan kedua matanya dengan tenang, Alex pun memutuskan untuk bangkit dari berbaring nya. Pria itu turun dari ranjang lalu melangkah menuju pintu. Alex berniat mengambil minum untuk membasahi tenggorokan nya yang terasa kering.
Alex melangkah menuju dapur, mengambil gelas kemudian mengambil air dingin dan menenggaknya sampai habis tidak tersisa. Rasa dingin air yang mengalir di tenggorokan nya membuat Alex merasa sedikit rileks. Tidak tau harus melakukan apa, Alex pun memilih untuk menonton tv. Dia melangkah menuju ruang keluarga dan mendudukan dirinya di sofa panjang kemudian meraih remote dan menyalakan tv.
Beberapa kali Alex mengganti siaran televisi yang dia anggap tidak terlalu menarik. Hingga akhirnya Alex terdiam melihat apa yang terpampang di layar tv ukuran besarnya. Di Chanel tersebut sedang menayangkan berita tentang Alvin dan Melisa yang akan segera menikah. Bahkan dalam berita itu terekam dengan jelas kebersamaan Melisa dan Alvin. Do berita itu juga namanya di kait kaitkan bersamaan dengan di ungkitnya berita saat Alex membawa Melisa sebagai pasangan nya dalam sebuah acara resmi dulu.
“Enggak.. Saya tidak pernah ada hubungan apa apa dengan pak Alex. Adapun saya menemaninya di pesta saat itu, itu karena memang nyonya Sherin yang sedang tidak sempat hadir sehingga pak Alex mengajak saya sebagai rekan nya. Hubungan saya dan pak Alex murni hanya sebagai bos dan karyawan saja. Itupun dulu karena sekarang saya juga sudah tidak lagi bekerja di perusahaan beliau.”
Alex mengepal kan tangan nya mendengar apa yang Melisa katakan di depan awak media. Alex tidak menyangka Melisa sama sekali tidak merasa memiliki hubungan apapun dengan nya. Padahal segala sesuatunya sudah sering mereka lewati. Alex sudah mengenal luar dan dalam seorang Melisa begitu juga sebaliknya. Dan juga mereka sering berhubungan badan yang menurut Alex sendiri bisa menjadi alasan bahwa hubungan nya dengan Melisa bukan hanya sekedar antara atasan dan bawahan biasa.
“Jadi kamu benar benar tidak menganggap hubungan kita penting Melisa? Sombong sekali kamu. Dasar perempuan tidak tau diri. Perempuan rendahan.” Gumam Alex merasa sangat tidak terima dengan apa yang Melisa sampai kan di depan para awak media.
Merasa muak dengan berita yang sedang di tayangkan, Alex pun memutuskan untuk mematikan tv. Dia mengusap kasar wajahnya. Akhir akhir ini Alex merasa hidupnya sangat kacau. Semua yang Alex ingin kan tidak ada satupun yang terwujud. Bayang bayang masa lalu juga selalu menghampiri nya sampai terbawa ke alam mimpi.
Alex benar benar tidak menyangka hidupnya akan sekacau sekarang. Padahal Alex pikir setelah Sherin pergi, dirinya bisa melakukan apa saja tanpa harus di ganggu lagi. Tapi nyatanya semuanya justru berbanding terbalik dengan apa yang Alex pikirkan. Hidupnya kacau karena terus terusan di terpa masalah yang tidak berkesudahan. Bahkan akhir akhir ini Alex tidak pernah bisa tersenyum. Hanya ada rasa resah, gelisah yang membuatnya tidak tenang. Rasa marah juga frustasi yang membuatnya merasa hampir kehilangan kewarasan nya.
“Ya Tuhan... Kenapa hidupku menjadi tidak tentu arah seperti ini..” Batin Alex memejamkan kedua matanya.
Pria itu sedikitpun tidak menoleh kebelakang untuk menyadari apa kesalahan nya di masa lalu. Alex justru merasa teraniaya tanpa sedikitpun mau mengintrospeksi dirinya sendiri.
__ADS_1