
Acara pernikahan Alvin dan Melisa berlangsung hikmat dan sakral. David, Farid, bahkan sampai Lena ikut meneteskan air matanya begitu para saksi yang hadir melontarkan kata sah dengan sangat tegas. Apa lagi begitu Melisa menyalimi Alvin dan Alvin mencium kening Melisa, hal itu membuat David dan Farid merasa sangat bahagia dan terharu. Kakaknya sudah menemukan kebahagiaan nya sekarang. Kakaknya mendapatkan pria yang benar benar tulus mencintai dan menerimanya apa adanya.
Malam hari nya pesta resepsi pernikahan pun mulai di adakan. Melisa yang sebelumnya mengenakan kebaya putih sekarang sudah berganti mengenakan gaun putih tulang yang panjangnya menjuntai sampai menutupi kaki nya yang mengenakan sepatu. Sementara Alvin, pria itu juga begitu gagah mengenakan tuxido dengan warna senada dengan gaun pengantin yang di gunakan oleh Melisa.
Ucapan selamat bertubi tubi Melisa dan Alvin dapatkan dari seluruh tamu undangan yang hadir di pesta resepsi pernikahan nya malam ini.
“Kak, selamat ya.. Semoga kakak selalu bahagia dan cepat di beri mong mongan. Aku ikut bahagia atas pernikahan kakak dan tuan Alvin.” Ujar Lena saat menghampiri Melisa.
Mendengar ucapan selamat dari Lena, hati Melisa terasa terenyuh. Kedua matanya berkaca kaca namun Melisa tidak ingin air matanya menetes yang pasti akan membuat riasan cantik di wajahnya berantakan. Itu tentu akan merepotkan banyak orang nantinya termasuk kedua mertuanya yang begitu sangat antusias dengan acara resepsi tersebut.
“Terimakasih Lena.. Terimakasih untuk semuanya. Acara ini berjalan dengan lancar juga berkat kamu. Aku nggak tau harus bagaimana mengucapkan kata terimakasih sama kamu. Karena aku rasa kata terimakasih saja tidak cukup dengan segala sesuatu yang sudah kamu lakukan buat aku.”
Lena terkekeh geli mendengarnya. Melisa terlalu berlebihan menurut nya.
“Kak, aku hanya melakukan apa yang menurut aku baik. Jadi kak Melisa nggak perlu merasa berhutang sama aku. Kita kan teman sekarang. Dan teman yang baik itu adalah teman yang bisa membantu apapun yang temannya butuhkan. Bukan begitu?”
Melisa menganggukkan kepalanya setuju dengan apa yang Lena katakan. Meski Melisa yakin dirinya tidak mungkin bisa melakukan apa yang Lena lakukan. Karena memang Melisa sendiri merasa dirinya tidak sebaik Lena.
“Sudah, kak Melisa harus terus tersenyum di depan semua orang. Karena malam ini kak Melisa sangat cantik, dan yah.. Kakak adalah ratu untuk semua orang sekarang.” Tambah Lena yang membuat Melisa terkekeh.
Erlan juga Alvin yang mendengar perbincangan istrinya hanya bisa tersenyum. Keduanya juga setuju dengan apa yang Lena katakan. Dan hal itu membuat Erlan merasa semakin jatuh lagi ke dalam cintanya yang begitu dalam pada Lena. Kebaikan Lena membuat Erlan selalu merasa takjub dan kagum pada sosok cantik yang berhasil dia miliki.
__ADS_1
“Tuan, anda benar benar beruntung karena memiliki istri sebaik nyonya Lena.” Kata Alvin pelan.
Erlan tersenyum dan menganggukkan kepalanya setuju dengan apa yang Alvin katakan. Bahkan orang lain saja tau betapa beruntung dirinya karena bisa memiliki istri sebaik dan sesempurna Lena.
“Ya, saya memang sangat beruntung.” Balas Erlan dengan bangga.
Alvin tersenyum. Pria manapun pasti memang akan sangat bangga memamerkan Lena sebagai istrinya. Apa lagi Lena juga terkenal akan kebaikan dan kelembutan nya dalam bersikap pada siapapun. Baik itu pada orang lain ataupun para pekerjanya.
Setelah memberi selamat pada Alvin dan Melisa, Erlan dan Lena pun kembali bergabung dengan tamu undangan lainnya. Erlan yang begitu banyak di sapa oleh rekan rekan bisnisnya yang tentu saja kemudian Erlan mengenalkan Lena pada mereka. Pujian pujian selalu terlontar dari mulut rekan bisnis Erlan yang membuat Lena hanya bisa tersenyum saja.
Erlan dan Lena juga di sapa dengan sangat ramah oleh kedua orang tua Alvin. Bahkan mereka berdua secara khusus menjamu Erlan dan Lena.
Sementara itu masih di satu ruangan yang sangat ramai dan luas di kediaman keluarga Alvin, Sasha terlihat kebingungan karena tidak merasa mengenal satupun orang orang disana. Sementara Kenzie, lagi lagi dia di sapa oleh beberapa tamu undangan yang Sasha yakini bukan orang sembarangan.
“Oh nggak papa kok.” Jawab Sasha tersenyum tipis.
Sasha tidak menyangka menghadiri pesta resepsi pernikahan Melisa dan Alvin akan terasa sangat membosankan seperti sekarang. Di tambah Sasha sama sekali tidak mengenal satupun tamu undangan yang hadir. Adapun Lena, dia sedang mengobrol dengan nyonya Genie yang notabenenya adalah tuan rumah disana. Sasha merasa tidak enak jika harus menghampiri Lena karena hal itu pasti akan sangat mengganggu.
Kenzie yang tau Sasha sedang merasa bosan pun meraih tangan Sasha membuat Sasha terkejut dengan genggaman tangan besar pria itu.
“Eh !” Kejut Sasha.
__ADS_1
“Kita sudah mengucapkan selamat pada tuan dan nyonya Alvin. Dari pada kamu bingung tidak tau harus bagaimana disini mending kita ke tempat lain aja ya.. Aku juga ada yang mau di omongin sama kamu.” Ujar Kenzie menatap Sasha dengan senyuman yang menghiasi bibir tipisnya.
“Hah? Ada yang mau di bicarain sama aku? Tentang apa?” Tanya Sasha bingung namun juga gugup secara bersamaan.
“Nanti juga kamu tau.” Jawab Kenzie yang berhasil membuat Sasha semakin merasa penasaran.
Kenzie meraih segelas minuman yang berada di genggaman Sasha kemudian menaruhnya di atas meja dimana disana tertata banyak hidangan lezat yang memang di tujukan untuk para tamu undangan yang hadir dalam acara pernikahan tersebut. Setelah itu Kenzie pun menarik lembut tangan Sasha dan membawanya berlalu dari kerumunan para tamu undangan.
Sasha hanya pasrah dan mengikuti langkah Kenzie yang berjalan menuju parkiran dimana mobilnya berada. Saat itu juga ucapan Lena yang mengatakan Kenzie menyukainya kembali terngiang. Dan itu sukses membuat jantung Sasha berdebar kencang. Sasha khawatir jika Kenzie mengajaknya pergi sekarang adalah untuk menyatakan perasaan nya. Sasha sama sekali tidak tau harus bagaimana. Dia belum memikirkan sedikitpun tentang jawaban yang harus dia berikan pada Kenzie jika memang benar Kenzie akan menyatakan perasaan padanya.
“Silahkan..” Senyum Kenzie membukakan pintu mobil untuk Sasha.
“Iya.. Terimakasih.” Angguk Sasha semakin merasa gugup.
Sekarang bahkan senyuman Kenzie membuat Sasha merasa tidak biasa. Sasha merasa ada sesuatu di balik sikap manis dan lembut Kenzie malam ini.
Setelah Sasha masuk ke dalam mobilnya, Kenzie pun bergegas masuk dan duduk dengan tenang di kursi kemudi. Pria itu perlahan melajukan kendaraan beroda empat nya tanpa mengatakan apapun pada Sasha yang sudah benar benar merasa gugup juga bingung.
“Ya Tuhan.. Aku harus bagaimana nanti kalau memang Kenzie benar benar berniat menyatakan perasaan nya sama aku..” Batin Sasha gelisah.
Sasha akui Kenzie memang sangat baik dan penuh dengan perhatian. Sasha juga merasa nyaman setiap berada disamping Kenzie karena perhatian dari pria tampan itu. Namun jika mengingat siapa dirinya dan siapa Kenzie, Sasha merasa tidak mungkin jika Kenzie mempunyai perasaan padanya.
__ADS_1
“Nggak nggak, aku nggak boleh mikir berlebihan gini. Kenzie nggak mungkin suka sama aku.” Sasha kembali membatin. Dia menarik napas dalam dalam kemudian menghembuskan nya perlahan. Sasha mencoba menenangkan dirinya sendiri dan mengusir jauh jauh pemikiran tentang Kenzie yang menyukainya.