SAYANG

SAYANG
Episode 42


__ADS_3

Setelah mendengar apa yang Erlan ceritakan padanya, Lena merasa tidak tenang. Namun berkali kali Erlan berusaha menenangkan Lena dengan mengatakan semuanya akan baik baik saja. Hal itu yang akhirnya juga berhasil membuat Lena tenang dan yakin Erlan bisa menjamin ucapannya bahwa semuanya memang akan baik baik saja.


“Kalian mau kemana?” Tanya Lena saat melihat si mbok, Mina dan satu pelayan lainya melangkah dengan kompak keluar dari arah dapur.


“Eh nyonya.. Selamat siang nyonya.” Sapa si mbok dengan sopan.


“Ya, siang juga. Eum.. Kalian bertiga mau kemana? Kenapa sepertinya buru buru sekali?” Lena tersenyum manis membalas sapaan si mbok kemudian tersenyum dan kembali menanyakan akan kemana para pekerja di rumah mewah suaminya itu.


“Ini nyonya.. Kami bertiga mau membeli sesuatu di super market. Kebetulan ada beberapa bahan makanan yang habis di dapur.” Si mbok menyahut mewakili kedua rekan kerjanya yang hanya diam saja di samping kanan dan kirinya.


“Boleh saya ikut?” Ekspresi Lena sangat sumringah dan antusias saat bertanya pada si mbok dan dua rekan kerjanya. Dan hal itu berhasil membuat ketiganya kebingungan. Ingin melarang tidak mungkin. Mengiyakan juga lebih tidak mungkin lagi. Erlan bisa marah jika sampai sesuatu sekecil apapun menimpa Lena.


Lena terus menampilkan ekspresi antusias penuh harapnya saat menatap satu persatu pelayan yang ada di rumah mewah suaminya. Berada di dalam rumah setiap hari tanpa melakukan aktivitas apapun benar benar membuat Lena merasa bosan.


“Mohon maaf sebelumnya nyonya. Tapi kami tidak mau jika sampai membuat tuan Erlan marah.” Dengan ragu si mbok berusaha mengatakan apa yang dia rasakan akan ke khawatirannya membuat Erlan murka.


Lena menghela napas berat. Erlan memang selalu berpesan agar dirinya tetap di rumah dan tidak kemana mana. Tapi Erlan juga tidak melarangnya untuk pergi jika memang itu yang Lena mau.


“Mbok.. Kan kita bisa menyuruh body guard untuk menjaga kita. Bukankah itu akan lebih memudahkan? Kalian tidak perlu menunggu angkutan umum.” Lena kembali mengukir senyuman di bibirnya.


Si mbok dan dua rekannya saling menatap bingung. Mereka benar benar tidak ingin membuat masalah. Mereka enggan mendapat amukan dari Erlan.


“Tapi nyonya..”

__ADS_1


“Kalian nggak perlu khawatir. Erlan tidak akan marah. Justru mungkin sebaliknya, Erlan akan marah kalau melihat aku merasa bosan karena kalian tidak memperbolehkan aku untuk ikut.” Sela Lena masih dengan senyuman yang menghiasi bibir merah tanpa lipstik itu.


Si mbok dan dua pelayan lainnya merasa semakin di lema mendengarnya. Apa yang di katakan Lena ada benarnya juga. Erlan pasti akan marah jika tau mereka tidak mau Lena ikut serta.


“Ya sudah ayo.. Nanti kesorean.”


Tanpa menunggu persetujuan si mbok dan dua pelayan itu, Lena pun melangkah mendahului mereka. Dan dengan senyuman yang menghiasi bibirnya Lena berkata sopan pada body guard untuk mengantar dirinya, si mbok, juga dua pelayan lainnya ke tempat yang akan mereka tuju. Dan body guard tersebut tentu saja tidak berani menolak. Namun sebelum itu body guard tersebut mengirim pesan pada Erlan memberitahukan bahwa Lena mengajaknya beserta ketiga pelayan untuk keluar dari rumah.


Erlan memberi izin dengan syarat Lena harus baik baik saja yang tentu di sanggupi oleh body guardnya.


Begitu sampai di super market, Lena terus mengikuti si mbok dan dua pelayan memilih bahan bahan makanan. Lena tidak tau harus bagaimana karena Lena sebdiri tidak membawa uang sepeserpun.


“Nyonya...”


Lena menoleh saat si mbok memanggilnya. Dengan segera Lena mendekat pada si mbok yang sedang berada di tempat berbagai buah di depannya.


“Nyonya suka buah apa? Kebetulan di rumah buah juga sudah habis. Karena nyonya juga ikut saya tanya secara langsung saja.” Kata si mbok dengan sopan.


Lena langsung memusatkan perhatiannya pada jajaran buah buah segar disana. Lena sangat menyukai berbagai jenis buah asal buah itu manis. Awalnya Lena ingin meminta semua buah itu di bungkus pekilo. Namun begitu melihat harga dari buah buahan tersebut Lena bergidig ngeri. Harga buah itu hampir seperempat dari gajinya saat bekerja di perusahaan Alex. Harga buah buah segar itu bahkan juga lebih mahal dari uang sewa kontrakan Lena dulu.


“Disini buahnya mahal mahal semua mbok. Beli di pasar saja nanti.” Lena menolak dengan halus. Lena tidak mau menghabiskan uang belanjaan yang di pegang si mbok hanya untuk membeli buah. Lena takut si mbok terkena amarah Erlan karena di anggap boros dalam mengelola uang belanja.


Mina dan rekannya tertawa diam diam mendengar apa yang Lena katakan pada si mbok. Mereka merasa sangat geli karena Lena mengeluhkan harga buah disana mahal. Padahal setiap hari selama tinggal di rumah Erlan buah yang Lena makan memang buah dengan harga fantastis. Ya, Erlan tidak pernah main main dengan kualitas. Pria itu tidak pernah mementingkan tentang harga suatu barang jika memang barang tersebut terjamin kualitas supernya.

__ADS_1


“Nyonya.. Kami selalu membeli buah disini. Buah yang selalu nyonya makan juga kami beli disini. Tuan juga sangat suka karena selain buahnya bagus kualitasnya juga sudah pasti tidak mengecewakan.”


Lena terkejut mendengarnya. Bagaimana mungkin Erlan menghambur hamburkan uang jika untuk membeli buah saja. Sedang di pasar saja banyak yang lebih murah dengan kualitas bagus.


“Nyonya bisa memilih buah apapun yang nyonya mau. Kita juga akan membeli banyak karena tuan juga sangat suka sekali makan buah nyonya.” Lanjut si mbok kemudian.


Lena tidak bisa lagi berkata apa apa. Bagaimana mungkin dirinya tidak terkejut. Jika untuk sekilo jeruk manis saja harus membayar dua setengah juta. Sedang di pasar perkilo hanya 80 ribu. Itu pun sudah kualitas yang paling baik jika Lena berbelanja di hari libur kerja dulu.


Lena hanya bisa menelan ludah melihat skruk pembayaran dari kasir. Untuk yang kesekian kalinya Lena bertanya pada dirinya sendiri seberapa kaya seorang Erlan Dallin Harrison itu.


Selesai membeli semua yang di butuhkan, Lena, si mbok dan dua pelayan lainnya bergegas keluar dari super market. Namun tanpa di duga Lena tidak sengaja bertemu dengan Alex, mantan kekasihnya.


Alex yang melihat Lena berdiri di samping koleksi mobil Erlan segera mendekat. Pria itu tersenyum menatap penampilan Lena dari atas sampai bawah. Ada sedikit perubahan dari seorang Lena menurut Alex, yaitu cara berpakaiannya yang meskipun tetap sederhana namun terlihat elegant. Alex juga tau berapa harga kain yang menempel di tubuh ramping Lena sekarang.


“Upik abu sudah menjadi ratu sekarang. Aku tebak pelayanan kamu pada Erlan pasti sangat memuaskan sehingga Erlan begitu memanjakan kamu.” Alex berkata dengan sindiran yang langsung menusuk relung hati Lena. Itu berhasil membuat Lena merasa di rendahkan sebagai seorang wanita.


Lena mengepalkan kedua tangannya erat mendengar apa yang Alex katakan. Rahangnya mengetat keras tidak terima dengan ucapan Alex yang sudah sangat merendahkan harkat dan martabatnya sebagai seorang wanita baik baik.


“Kalau kamu butuh lebih, kamu bisa datang padaku Lena. Puaskan aku maka akan aku berikan apapun yang kamu mau.”


Tidak bisa lagi menahan emosinya, Lena pun melayangkan tinjunya tepat di sudut bibir Alex. Dan karena tinjuan keras itu Alex pun sampai mundur beberapa langkah sembari memegangi sudut bibirnya yang terasa nyeri akibat hantaman keras bogem mentah Lena.


“Jaga mulut kamu Alex. Aku tidak serendah itu. Aku mencintai suamiku. Dan akan berlaku sampai kapanpun bahkan selamanya. Asal kamu tau, Erlan jauh lebih baik dari kamu. Dia tidak brengsek dan tidak murahan seperti kamu.” Tegas Lena kemudian bergegas masuk ke dalam mobilnya.

__ADS_1


Alex meringis. Kepalan tangan Lena begitu keras mendarat di sudut bibirnya membuat rasa perih juga timbul.


“Bodoh. Apa yang aku katakan tadi.” Umpat Alex marah pada dirinya sendiri. Alex tidak berniat mengatakan itu pada Lena sebenarnya. Tapi entah kenapa ucapan tidak pantas itu keluar begitu saja dari bibir Alex.


__ADS_2