
Pagi itu Vicky menungguku di gerbang sekolah, kami berjalan bersama menuju kelas, kemudian berpisah di persimpangan koridor. Aku bersyukur karena bukan Gin yang menungguku. Di kelas pun aku tidak melihatnya. Bersyukur lagi, deh! Lebih bersyukurnya lagi, dia tidak nongol di depanku, kali ini, tidak ada yang berceloteh di depanku dan berkicau. Tapi ke mana dia, ya? Si siswa teladan itu tidak masuk sekolah? Kedengarannya seperti bukan Gin banget.
Hari ini berbeda, tidak ada Gin dan, ada orang yang baru ku lihat. Di depan kelas di samping guru yang baru masuk, ada seorang yang sangat mencolok, siapa ya?
“Kita kedatangan murid baru. Tysha, perkenalkan dirimu pada teman-temanmu.” Guru menjawab pertanyaanku.
Murid baru! Seperti selebrity bollywood. Rambutnya sangat indah, panjang, hitam dan lurus terurai. Tinggi dan cantik, langsing pula. Bola matanya bulat dan berkulit putih, bibirnya sedikit tebal dan seksi. Wah.
“Nama saya Tysha Ardina. Saya pindahan dari New York!”
Senyumnya sangat manis, suaranya juga lembut. Apa ini yang namanya kagum pada pandangan pertama?
“Tysha, duduklah di belakangnya Leva.” Kata ibu wali kelas. Dia juga akan duduk di belakang kursiku, apa kami berjodoh?
Tunggu dulu!
Dia akan duduk di kursi di belakangku? Pikirkan hal yang paling buruk yang akan terjadi, dia sangat cantik, berpebampilan menarik, juga terlihat pintar. Dalam satu menit dia akan menjadi sangat popular, semua mata akan mengikutinya ke manapun dia pergi, ada juga yang akan menghampirinya untuk berkenalan, kemudian menjadi teman, kemudian ngobrol bersama, kemudian … kenapa aku sangat khawatir?
“Baiklah! Ibu tinggal, dua menit kemudian guru kalian akan masuk. Jangan ribut!”
Kenapa ibu wali kelas malah keluar? Aku tahu, sekarang aku dalam masalah.
Masih tersisa satu langkah dari pintu, guru belum benar-benar meninggalkan kelas, mereka semua sudah menjadi heboh. Mereka menyerbu! Kehidupan normalku menjadi semakin tidak normal, kenapa gadis ini harus duduk di belakang kursiku? Tidak, bukan itu masalahnya, kenapa gadis ini pindah ke sekolahku?
Mereka semua mengerumuninya, berdesakan di antara kursiku dan kursinya Tysha. Tidak muat, jangan mendorong kursiku seperti ini. Aku harus bagaimana Tuhaaaaan?
Aku tersedak. Aku kehabisan nafas.
Lalu mati.
Kemudian dikubur, ternyata masih hidup.
Akhirnya bangkit lagi.
Jadi zombie.
“Aku … aku terjepit.” Aku berusaha memberitahu mereka, tapi tidak ada yang mendengarkan. Suaraku terlalu kecil, aku ingin berteriak saja tapi tidak bisa, itu bukanlah aku jika berteriak. Lalu bagaimana? Dibiarkan saja. Tapi untunglah Sang Penolong datang, guru bahasa Inggris kami masuk. Syukurlah. Mereka semua bubar.
“Hei!” Tysha memanggilku, dia menepuk pundakku.
Bukankah dia menepukku terlalu keras? Itu sakit.
“Aku Tysha, kau siapa?” Tanyanya setengah berbisik, aku menengoknya ke belakang. Leherku sakit.
“Quinzha Leva!”
“Aku harus memanggilmu siapa?”
Dia orang pertama yang bertanya seperti itu padaku. Hebat.
“Leva!”
“Leva, salam kenal ya. Kau sangat cantik!”
“Terimakasih!”
Dia bercanda denganku? Dia menahan tawanya, wajahnya terlihat seperti itu. Apakah itu pujian yang sekedar memuji? Maksudku mengejek dengan pura-pura memuji, jika kalian tidak paham, ya sudah.
Entah kenapa aku merasakan aura yang tidak bagus dari gadis pindahan ini.
***
Setelah kelas regular selesai, aku segera ke kelas tambahan.
Akhirnya aku bertemu dengan mereka, aku senang. Meskipun aneh tapi ini bukan perasaan yang buruk. Senang itu perasaan buruk atau baik ya?
“Leva, apa yang kau lakukan selama liburan?” Tanya Fajar.
“Dia menghabiskan waktu yang menyenangkan denganku!” Kata Vicky semangat.
Woi! Vicky, dia bertanya padaku bukan padamu, kenapa kau menjawabnya, ini bentuk deskriminasi, kan? Aku tertindas, hakku untuk bicara dirampas.
“Kalian menghabiskan waktu bersama?” Tanya Fairel, kenapa dia tertarik? Padahal dia sedang membaca buku tadi, membaca buku saja sana karena kau terlihat keren saat membaca buku. Aku mengatakan ini dari lubuk hatiku yang dangkal.
“Iya!” Kata Vicky sambil tersenyum, “Aku menginap di rumahnya selama tiga hari.”
“Selama tiga hari?” Fajar juga ikut-ikutan, kenapa tidak meneruskan saja menghapus papannya. Meskipun dia masih menghapus papan, sih.
“Benar, kami melakukan hal-hal yang tidak biasa di sana. Menyenangkan!”
“Sepertinya kau sangat bahagia, Vicky!”
__ADS_1
“Benar, benar! Menyenangkan sekali, benarkan Leva?”
Aku mengangguk. “Aku sedikit senang bermain bersamanya.” Kataku.
“Lihat, kan?” Kata Vicky gembira.
“Dia sudah pintar bicara sekarang!” Komentar Abi.
Yang dia maksud itu aku? Aku tersinggung, serius. Tapi meraka tertawa‒yang terasa hangat.
“Semuanya, kalian punya teman baru.” Kata pak Abdul tiba-tiba muncul.
Kenapa dia sering muncul dengan tiba-tiba? Aku kaget, tau!
“Beri salam pada semuanya, Tysha!”
Oooo. Tysha di sini, kenapa aku khawatir? Tapi yang lebih penting, aku paham sekarang, ternyata dia tidak pintar.
“Saya Tysha Ardina. Saya pindahan dari New York. Ini hari pertama saya masuk sekolah dan langsung ditempatkan di sini. Hahaha.” Dia cengengesan. “Di kelas regular saya satu kelas dengan Leva, hai Leva!” Dia melambai padaku. “Semuanya, salam kenal!” Katanya mengakhiri kalimatnya.
Dia duduk di dekatnya Fairel, syukurlah dia tidak memilih untuk duduk di sampingku. Kenapa aku sangat cemas? Tanpa sadar kulirik Vicky, dia tampak syok. Dia kenapa?
“Hei. Kau ketua osis yang terkenal itu?” Tysha mengajak Fairel mengobrol, suaranya sangat besar. Semua orang bisa mendengarnya.
“Aaa … yah!” Fairel tersenyum pada Tysha. Kenapa senyumnya lebih manis dari biasanya?
“Wow! Cerita itu ternyata benar, kau memang sangat manis!”
Apa dia gula? Kenapa gadis ini selalu memuji setiap orang yang dia ajak bicara, sebelumnya dia memujiku cantik, meskipun dia tertawa setelahnya.
“Namamu Fairel, bukan?”
“Yah!”
“Namamu juga bagus. Ngomong-ngomong, aku punya pertanyaan. Kenapa ketua osis bisa berada di kelas tambahan?”
Benar. Pertanyaan yang luar bisa, aku tidak pernah memikirkan sebelumnya. Pengurus osis hanya boleh ditempati oleh siswa siswi yang bernilai di atas rata-rata, lalu, kenapa Fairel bisa di sini?
Fairel hanya tersenyum, dia tidak menjawab.
“Hai Vicky, lama tidak melihatmu. Kupikir kau pergi entah ke mana, ternyata kita bertemu lagi di sini!” Tysha menyapa Vicky dengan sangat ramah, dia tidak berhenti tersenyum.
“Hei, aku Fajar!”
Aku sudah menduganya, mereka semua pasti akan mengerumuninya. Tysha melayani mereka dengan baik, dia tidak pernah lelah untuk tersenyum. Semua orang pasti kagum padanya, dia sangat cantik. Dia gadis yang baik hati, orang baik selalu tersenyum, kan?
“Leva, jangan sampai terpengaruh dengan sifat manisnya!” Vicky mendekatiku.
Dia menarik kursi dan mejanya dan menempatkannya rapat dengan mejaku.
“Dia memang sangat ramah, tapi dia tidak benar-benar ramah. Dia―”
“Mengerti!”
“Heh? Kau sungguh mengerti?”
“Aku mengerti.”
“Aku belum menjelaskannya, kau tidak mungkin mengerti.”
“Aku mengerti!”
“Be-benarkah? Melihatmu ngotot seperti itu mungkin kau benar-benar mengerti.” Kata Vicky.
“Aku mengerti, Tysha bukan orang baik, kan?” Bisikku. Vicky menatapku dengan kaget.
“Leva, aku tidak percaya kau benar-benar mengerti!”
“Um. Senyumnya, ada unsur jahatnya.”
“Hah? Bukan itu yang kumaksud!”
Kami berdua sama-sama diam, wajah Vicky kembali normal seperti biasanya.
Kelas tambahan berakhir.
***
Tysha sejak tadi terus-terusan mengajak Fairel bicara, pada dasarnya Fairel adalah orang yang baik makanya dia meladeni Tysha bicara, terlebih lagi Tysha sangat cantik. Dia juga memakai lipstick, aku punya asumsi sendiri mengenai gadis SMA yang memakai lipstick. Aku punya tiga poin khusus untuknya:
__ADS_1
Dewasa.
Pandai bergaul.
Dia adalah seorang model.
“Leva, ayo kita pergi. Aku mengajakmu ke rumahku hari ini.” Ajak Vicky membubarkan lamunanku. Dia mengajakku ke rumahnya? Aku harus menjawab ya atau tidak? Jawaban ya apakah baik atau buruk? Bagaimana dengan ‘tidak’? Lebih buruk lagi, kan? Ooo kedua-duanya jawaban yang buruk, aku bisa menyakiti hatinya jika menjawab tidak, tapi jika menjawab ‘ya’, hatiku yang akan sakit.
Lagi pula kenapa aku memikirkannya? Sakit atau tidaknya dia, apa itu menjadi urusanku? Aku menjadi sangat khawatir‒pada diriku, bagaimana jika ini adalah gejala kalau aku sudah mulai gila?
“Aku harus memberitahu Lea.” Jawabku setelah sepersekian detik berpikir.
“Dia mengatakan Ya!”
Hah?
“Lihat, sms-nya tante Lea!”
Dia memperlihatakan pesan teks di ponsel-nya.
‒‒Leva pasti akan sangat menyukainya. Baik-baik dengan dia di sana, pastikan dia tidur dengan nyaman di rumahmu. Jangan lupa, dia suka makan ice cream saat malam hari.‒‒
Apa aku harus mengucapkan terimakasih? Sejak kapan mereka berdua saling menukar nomor telepon?
“Ayo!” Ajaknya.
Aku beranjak dari dudukku. Qarima tiba-tiba muncul di depan pintu. Dia tidak memakai seragam sekolah.
“Aku membawa pakaianmu. Lea menyiapkan semuanya untukmu.” Kata Qarima. “Hai Fairel!” Sapanya juga Qarima pada Fairel.
Fairel tersenyum padanya.
“Hai semuanya!” Dia juga menyapa yang lainnya, “Dan … siapa?” Dia melihat Tysha dengan tatapan tajam, penuh pertanyaan dan penuh intimidasi.
“Hai! Kau temannya Fairel? Aku Tysha!” Tysha mengulurkan tangannya pada Qarima, gadis ini memang sangat baik, dia ramah pada semua orang bahkan pada Qarima yang jelas-jelas menunjukan wajah masam kepadanya.
“Aku Tysha Ardina, baru pindah hari ini dari New York!”
“Qarima, Qarima Lavega!”
“Qarima Lavega, nama yang bagus. Kau juga sangat cantik!”
Ya, aku tahu. Semua orang memang tampak cantik di matamu.
“Kita pergi!” Ajak Vicky. Aku mengangguk, aku tidak punya alasan untuk menolak, bahkan pakaianku sudah ada di sini.
“Kau sudah ingin pergi, Vicky?” Kata Tysha. “Kau tidak ingin mengajakku untuk ke rumahmu?”
“Aku sudah mengajak sahabatku!” Jawab Vicky.
“Jadi sekarang kau sudah punya―”
“Kami harus segera pergi, Tysha!” Potong Vicky cepat, seakan dia tidak ingin ada orang yang mendengar kalimat yang akan dikatakan Tysha selanjutnya.
Kami bergegas pergi‒dengan terburu-buru. Entah kenapa. Vicky menarik tanganku.
“Vicky, kau semakin cantik sekarang! Aku juga menyukai gaya rambutmu yang baru!” Teriak Tysha dari jauh.
***
Vicky berceloteh sepanjang jalan, aku tidak paham apa yang dia katakan, suaranya tidak begitu jelas saat dia marah. Aku hanya melihat Vicky yang ceria dan selalu penuh semangat sebelumnya, jadi seperti ini Vicky yang sedang marah?
Aku juga kepikiran dengan keadaan di kelas tambahan saat kami tinggalkan, aku bisa melihat tatapan tajam Qarima pada Tysha. Sepertinya situasinya menegang, meskipun aku tidak tahu kenapa Qarima marah tapi aku khawatir ketika dia marah.
Sesuatu pernah terjadi saat aku kelas tiga SD, ketua geng memasukan cacing di kotak makan siangku, Qarima mengetahuinya kemudian hari, dia marah, dia berdebat dengan ketua geng‒yang kemudian, setelah itu, aku tidak ingat apa yang terjadi. Yang jelas, ketua gengnya pindah sekolah dan, Qarima diskors.
Kau bisa bayangkan anak kelas tiga SD yang diskors, pokoknya, Qarima sangat menyeramkan saat dia marah. Jika itu terjadi lagi sekarang, si gadis pindahan itu bisa-bisa pindah lagi.
__ADS_1