
Melisa sangat terkejut dengan apa yang nyonya Genie pertanyakan padanya dan Alvin. Jika sekedar menanyakan tentang hubungan dekat mungkin Melisa tidak akan shock. Namun pertanyaan yang nyonya Genie tentang pernikahan dengan Alvin benar benar membuat Melisa sangat tidak menyangka.
Akibatnya Melisa pun kembali merasa minder. Melisa takut jika kedua orang tua Alvin tau siapa dirinya mereka akan marah kemudian menyuruh untuk Alvin menjauh darinya.
Satu sisi Melisa ingin menerima pinangan Alvin. Namun di sisi lain Melisa takut kembali kecewa dan sakit hati.
“Kak...” Panggilan David membuyarkan lamunan Melisa. Dia yang sejak tadi mendongak menatap langit bertabur bintang lewat jendela kamar yang di buka itu segera mengalihkan perhatian nya dengan menoleh kearah David yang entah sejak kapan sudah berdiri di ambang pintu kamar nya.
“Ya.. Ada apa Vid?” Tanya Melisa pada David.
David tersenyum dengan menggelengkan kepalanya kemudian mendekat pada Melisa. David meraih ponsel Melisa yang sejak tadi terus bergetar diatas nakas lalu menyodorkan nya pada Melisa.
“Dari tadi handphone kakak itu bunyi tau. Bahkan David yang sedang main game di depan TV aja denger. Masa kakak sama sekali nggak denger sih?”
Melisa meringis kemudian segera meraih ponsel miliknya yang terus saja berdering. Wanita itu mengeryit ketika mendapati nomor yang tidak di kenal tertera di layar ponsel miliknya. Namun Melisa langsung bisa mengenali siapa pemilik nomor tersebut begitu melihat photo profil nya.
“Lena...” Gumam Melisa menelan ludah. Ya, Melisa memang mengenal Lena karena dulu Lena adalah bawahan nya. Apa lagi Lena juga pernah menjadi kekasih Alex.
“Mau ngapain dia nelepon aku.” Batin Melisa bingung.
David yang melihat kakak nya kembali diam melamun pun berdecak pelan. Remaja itu benar benar bingung kenapa kakaknya masih saja melamun padahal masalah nya dengan Alvin sudah selesai.
“Dia ngelamun lagi..” Sindir David yang berhasil membuat Melisa tersadar.
“Ah iya...” Tawa kecil Melisa.
Tidak mau membuat adiknya kembali berpikir jika dirinya kembali di terpa masalah, Melisa pun buru buru mengangkat telepon dari Lena.
“Halo, selamat malam. Dengan Mel's cake disini. Ada yang bisa saya bantu?”
__ADS_1
Melisa berbicara lewat telepon dengan Lena sembari menatap David yang tetap berdiri di depan nya.
“Ah ya, selamat malam. Saya Marlena Susianti. Saya boleh tanya tanya dulu nggak mbak?”
Melisa menelan ludah. Orang yang ada di seberang telepon nya benar benar adalah Lena. Wanita yang dulu adalah kekasih Alex sekaligus bawahan Melisa.
“Ya, nyonya. Tentu saja. Tanyakan saja apa yang ingin anda tahu seputar kue kue yang saya jual.” Balas Melisa berusaha tenang. Dalam hatinya Melisa berharap Lena tidak ingin bertemu dengan nya secara langsung karena itu pasti akan membuatnya harus berhadapan secara langsung dengan Lena yang juga adalah bagian dari orang orang yang tidak ingin lagi Melisa kenal.
“Jadi begini mbak, saya sudah mencicipi kue lapis legit buatan mbak. Dan saya sangat suka dengan rasanya. Saya ingin membelinya tapi saya juga ingin belajar secara langsung membuat kue lapis legit itu.” Ujar Lena dengan nada lembut dan sopan.
Melisa terdiam sesaat. Melisa tidak bodoh. Dia tau siapa Lena sekarang. Dia bukan lagi bawahan yang bisa Melisa sikapi dengan seenaknya. Lena adalah istri dari seorang pengusaha kaya raya yang tidak hanya bisa di hitung dengan jari bisnisnya.
“Mbak bisanya kapan? Kalau hari Minggu besok bisa tidak ya? Soalnya suami saya bisanya Minggu mbak.”
Melisa berdecak pelan. Entah kenapa dunia terasa sangat sempit sekali sehingga Melisa harus kembali bertemu dengan orang orang yang sangat ingin Melisa hindari.
“Begitu ya mbak?” Nada suara pertanyaan Lena terdengar sangat tidak bersemangat. Melisa bisa tau itu namun dia berusaha untuk tidak perduli. Yang Melisa ingin lakukan sekarang hanya menyayangi dirinya sendiri dan menghindari orang orang yang menurut Melisa tidak penting dan harus dia jauhi.
“Maaf sekali lagi nyonya. Tapi saya benar benar tidak ada waktu untuk mengajari nyonya.” Melisa berusaha bersikap sopan dan profesional meski sudah menolak permintaan Lena.
“Ya sudah kalau begitu. Saya pesan saja ya mbak kue kue nya. Nanti langsung antar saja ke rumah saya. Saya akan kirim alamat dan jumlah kue yang saya mau lewat pesan setelah ini.”
“Oh iya nyonya. Baik dan terimakasih karena sudah membeli kue kue saya.”
Setelah Melisa membalas, Lena pun langsung memutuskan sambungan teleponnya. Itu membuat Melisa merasa sangat lega karena akhirnya berhasil menghindar dari Lena.
“Kenapa kak?” Tanya David yang merasa penasaran dengan pembicaraan Melisa dengan Lena di telepon tadi.
Melisa menatap adiknya kemudian mengedikkan kedua bahunya.
__ADS_1
“Tidak ada apa apa. Hanya saja tadi nyonya Lena meminta untuk di ajarkan membuat kue lapis legit yang katanya dia suka. Tapi ya kakak nggak bisa. Kakak sudah cukup sibuk dengan berbagai orderan kue yang masuk.” Jawab Melisa.
“Nyonya Lena? Maksudnya nyonya Marlena Susianti istrinya tuan Harrison kak?” Tanya David yang ternyata juga tau siapa Lena dan Erlan. Lebih tepatnya David tau siapa Erlan sehingga dia juga tau segala sesuatu yang berhubungan dengan Erlan. Termasuk Lena, istri yang sangat di cintai oleh Erlan.
“Kamu tau nyonya Lena dan tuan Harrison?” Tanya Melisa menatap adiknya penasaran.
David tertawa mendengar pertanyaan itu. Hanya orang bodoh yang tidak tau siapa Erlan Dallin Harrison menurutnya.
“Ayolah kak, hanya orang bodoh yang tidak tau siapa itu Erlan Dallin Harrison. Dan asal kakak tau saja. Aku sangat ngefans sama tuan Harrison. Aku bahkan ingin sekali bertemu secara langsung dengan nya. Aku ingin mendengar wejangan baik dari dia seputar dunia bisnis.” Ujar David dengan senyuman lebar yang menghiasi bibirnya.
Melisa menghela napas mendengarnya. Selain kaya raya Erlan memang terkenal dermawan. Melisa sendiri pernah beberapa kali bertemu dengan Erlan karena dulu perusahaan Alex juga menjalin kerja sama dengan perusahaan Erlan yang berakhir dengan pemberhentian secara sepihak oleh pihak Erlan. Melisa juga yakin jika mereka bertemu Erlan pasti masih mengingat nya. Melisa juga mengakui Erlan memang pria yang sempurna. Tidak hanya wajah tampan nya saja yang menjadikan nya dikenal, tapi juga sifat baik dan sopan santun nya. Melisa sempat terpesona dengan ketampanan Erlan, namun itu hanya sesaat karena memang pada dasarnya Melisa tidak sampai menggunakan hati.
“Oh ya? ngomong ngomong apa saja yang nyonya Lena katakan tadi kak? Dia mau beli kue kue kita ya? Kalau begitu biar David saja nanti yang antar kak.” Kata David dengan sangat semangat.
Melisa menyipitkan kedua matanya. Adiknya begitu sangat antusias hanya karena ingin mengantarkan kue secara langsung pada Lena dan Erlan.
“Sudahlah David. Biar nanti kakak pake jasa kurir saja untuk mengantar kesana. Lagian kan kamu sekolah. Nggak usah aneh aneh lah.” Melisa berlalu begitu saja dari hadapan David enggan membahas tentang apapun lagi. Melisa tidak mau David sampai tau keinginan Lena karena jika sampai David mendengarnya dia pasti akan memaksa agar Melisa mau yang tentu saja akhirnya Melisa menyerah.
“Ya ampun kak.. Kakak kok gitu banget sama David sih. Ini itu kesempatan David biar bisa ketemu sama tuan Erlan tau nggak? Jahat banget nggak ngedukung adiknya.” David mengikuti Melisa dari belakang dengan wajah lesu. Remaja itu merasa sangat sayang jika moment langka itu terlewat begitu saja.
“Ayolah kak please...” Mohon David.
Melisa hanya menggelengkan kepalanya saja dengan sikap berlebihan David itu. Melisa bukan tidak mendukung adiknya bertemu dengan orang yang sangat memotivasi dirinya, hanya saja Melisa tidak mau mengenal siapapun orang yang berhubungan dengan masa lalunya.
“Sudah malam David. Lebih baik sekarang kamu masuk kamar dan istirahat. Besok kamu sekolah.”
David berdecak. Dengan perasaan kesal dia pun melangkah menuju kamarnya tidak mau membantah apa yang Melisa katakan.
Sedangkan Melisa, dia hanya bisa menghela napas berat. Kasihan sebenarnya melihat David seperti itu. Tapi apa boleh buat, Melisa juga tidak mau sampai kembali mengingat masa kelamnya.
__ADS_1