
“Oh jadi kamu sudah pulang ke rumah yah.. Ya sudah kalau begitu nanti malam saja aku kesana ya...”
“Oke.. Bye...” Senyum Melisa kemudian mengakhiri obrolan via telepon nya dengan Lena.
Melisa berencana datang ke rumah sakit sore ini tapi karena merasa bimbang mengingat berita yang sedang hangat menjadi perbincangan tentang para awak media yang memenuhi halaman gedung rumah sakit tempat Lena bersalin, Melisa pun memutuskan untuk menelepon lebih dulu pada Lena untuk menanyakan boleh atau tidak nya jika dirinya datang. Apa lagi David yang ngeyel ingin sekali ikut dengan nya dan Alvin.
Melisa menghela napas kasar. Dia masih tidak menyangka jika akhirnya dia berhubungan baik dengan Lena. Padahal dulu Melisa secara tidak langsung juga menusuk Lena dari belakang karena sering menghabiskan waktu dengan Alex di belakang Lena. Meski itu atas dasar paksaan dari Alex yang tentu membuat Melisa tidak berdaya untuk melawan.
“Hhh.. Sudahlah aku tidak perlu lagi mengingat apapun tentang masa laluku. Toh Lena juga sudah bahagia dengan tuan Erlan. Aku juga tidak perlu lagi membuka semua itu karena pasti akan sangat konyol jika meminta maaf pada Lena.” Gumam Melisa kemudian.
Melisa lalu menaruh ponselnya di atas nakas samping tempat tidurnya. Melisa berencana akan menyuruh David dan Farid untuk bersiap siap karena sebentar lagi pasti Alvin akan datang untuk menjemput mereka.
Melisa keluar dari kamar nya dan melangkah menuju kamar David. Namun saat hendak mengetuk pintu kamar David, Melisa tidak sengaja mendengar tawa David yang menggema dari ruang tamu.
Melisa mengeryit. Tawa David terdengar sangat lepas seperti tidak ada beban. Itu menandakan adiknya sedang sangat ceria sekarang. Sejenak Melisa berpikir, rasanya tidak mungkin jika David sedang berbicara dengan adiknya Farid.
Merasa penasaran, Melisa pun melangkah menuju ruang tamu untuk melihat sedang apa David sekarang. Dan begitu sampai disana, Melisa menemukan David yang sedang berbaring diatas sofa panjang dengan ponsel yang menempel di telinga nya. Ya, David sedang menelepon seseorang.
Melisa menggelengkan kepalanya lalu mendekat pada David. Wanita itu menghela napas kasar dan berdiri di depan sofa tempat David berbaring dengan kedua tangan yang dia lipat di bawah dadanya.
David yang langsung menyadari kehadiran sang kakak langsung bangkit dari berbaring nya.
__ADS_1
“Hem ya udah Sin, nanti lagi ya..” Kata David sebelum menyudahi menelepon nya dengan seseorang yang tidak Melisa tau siapa.
Setelah memutuskan sambungan telponnya, David pun bangkit dari sofa dan berdiri di depan kakaknya dengan sedikit salah tingkah.
“Hem... Kak..” Senyum David sambil menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal itu.
Melisa menatap David dengan tatapan penuh selidik. Melisa benar benar merasa sangat penasaran dengan sosok yang berada di seberang telepon yang bisa membuat adiknya tertawa begitu riang seperti tidak memiliki beban apapun.
“Kamu seneng banget kayaknya. Telepon sama siapa tadi?” Tanya Melisa.
David tersenyum. Sintia adalah teman satu sekolah nya. Walaupun mereka berdua memang beda kelas, namun sosok cantik dan periang juga lucu gadis itu selalu berhasil membuat David merasa geli dan akhirnya tertawa. Mereka memang belum lama dekat tapi David selalu merasa nyaman berada di samping gadis itu. Walaupun memang Sintia sedikit manja dan gampang sekali merajuk.
“Eum.. Bukan siapa siapa kok kak. Cuma temen. Oh ya, ada apa kak?” Jawab David yang tidak ingin dulu berterus-terang pada sang kakak tentang kedekatan nya dengan Sintia akhir akhir ini. Bukan tidak mau terbuka, hanya David tidak ingin kakaknya salah mengartikan kedekatan nya dengan Sintia nantinya.
“Ya sudah kalau begitu. Lebih baik sekarang kamu siap siap. Sebentar lagi Alvin datang untuk menjemput kita. Bilang juga sama Farid yah. Soalnya kakak juga mau siap siap. Biar nanti Alvin nggak kelamaan nungguin kita.” Kata Melisa.
“Kita jadi kerumah sakit buat jenguk nyonya Lena dan bayinya sekarang kak?” Tanya David antusias. Tentu saja, David memang selalu semangat jika ada kaitannya dengan Erlan.
“Bukan ke rumah sakit. Tapi langsung ke rumahnya tuan Harrison. Lena dan bayinya sudah pulang dan sudah di rumah sekarang.” Jawab Melisa.
“Ah ya ya.. Ya sudah kalau begitu David mandi dulu ya kak...”
__ADS_1
Dengan senyuman lebar yang menghiasi bibirnya, David pun berlalu dari hadapan Melisa. Remaja dengan tubuh tinggi tegap itu melangkah cepat menuju kamarnya yang berjajar dengan kamar Farid.
“Jangan lama lama mandinya, buat gantian sama adik kamu.” Seru Melisa.
“Iya kak !” Saut David dari dalam kamarnya.
Melisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Melisa percaya adiknya adalah remaja yang tau batasan. Dan Melisa berpikir dirinya tidak perlu khawatir dengan pergaulan adiknya. David pasti bisa menjaga diri dan menghormati gadis gadis yang ada di sekitarnya. Melisa yakin itu.
Melisa kemudian melangkah menuju kamarnya lagi. Kebetulan Melisa sudah mandi dan hanya perlu bersiap siap. Ketika memasuki kamarnya Melisa tiba tiba berpikir untuk dandan. Bukan karena Melisa ingin di pandang hormat begitu sampai di kediaman mewah Harrison. Tapi karena Alvin. Melisa ingin Alvin merasa senang dengan dirinya berpenampilan beda dari biasanya.
Melisa melangkah menuju meja dimana di depan nya terdapat cermin dengan ukuran sedang dan bentuk persegi. Dia menatap pantulan wajahnya di depan cermin. Rasanya sudah lama sekali Melisa tidak memoles wajahnya dengan make up. Padahal dulu saat menjadi sekretaris Alex, Melisa selalu berdandan secantik mungkin. Tapi sejak mempunyai usaha kecil kecilan itu Melisa pun menjadi tidak terlalu perduli dengan penampilan nya. Yan Melisa pikirkan hanya bagaimana pemasaran kuenya bisa laku keras.
Melisa menghela napas kemudian mulai meraih satu persatu peralatan make up yang ada di depan nya. Dengan kelihaian nya berdandan, Melisa pun memulai langkah demi langkah merias wajahnya yang sebenarnya sudah cantik meski tanpa polesan make up.
Kali ini Melisa meng khususkan dandanan nya untuk Alvin, kekasihnya yang juga akan menjadi calon suaminya.
Setelah selesai berdandan, Melisa pun mencari dress yang sekiranya cocok untuk dia kenakan. Namun begitu membuka lemari baju yang berisi koleksi dress-nya, Melisa berdecak melihat hampir semua dress yang dia miliki adalah dress yang jika di pakai akan memperlihatkan lekuk tubuh langsingnya. Dan Melisa berpikir semua dress itu sudah tidak seharusnya berada di dalam lemarinya. Dress yang sebenarnya tidak pantas untuk dia kenakan. Bahkan dari dress itu beberapa ada yang di belikan oleh Alex.
Melisa pun langsung meraih satu persatu dress dress tersebut dan melemparkannya ke sembarang arah. Begitu isi lemari gantung tersebut hampir habis, Melisa menemukan satu dress yang cocok untuk nya. Dress tersebut berwarna pink lembut dengan motif lucu dan tanpa lengan. Panjang dress itu sampai lutut yang Melisa pikir sangat pantas untuk dia kenakan.
Dengan senyuman yang menghiasi bibirnya, Melisa pun meraih dress itu dan segera mengenakan nya.
__ADS_1
“Semoga saja Alvin suka dengan penampilan aku sore ini.” Gumam Melisa penuh harap.