SAYANG

SAYANG
Episode 115


__ADS_3

Alex terus memikirkan apa yang di katakan oleh mamahnya. Pria itu langsung memikirkan sosok Melisa begitu mamahnya menyebut nama itu. Alex mencoba berpikir positif mungkin hanya kebetulan nama penjual kue itu sama dengan nama mantan sekretarisnya.


“Enggak enggak.. Pasti hanya kebetulan saja namanya sama. Melisa tidak bisa membuat kue.. Dia pasti bekerja di tempat lain sekarang..” Batin Alex sembari mengemudikan mobilnya karena saat ini dirinya, Sherin, juga sang mamah nyonya besar Smith sedang berada dalam perjalanan menuju rumah sakit karena hari ini memang jadwalnya Sherin memeriksakan kandungan nya kembali.


Sedang Sherin yang berada disamping kemudi Alex hanya diam saja. Hatinya di liputi rasa ketakutan karena Alex sudah tau nama penjual kue yang Sherin jebak dengan menggunakan bangkai kecoa. Sherin khawatir Alex akan mencari tahu siapa penjual kue bernama Melisa itu. Karena jika itu benar terjadi, Alex pasti akan kembali dekat dengan Melisa.


“Tenang Sharen.. Kamu nggak perlu mengkhawatirkan apapun. Karena apapun yang terjadi posisi kamu sebagai istri Alex lah yang akan tetap menang. Kamu punya alasan melakukan itu Sahren. Dan alasan itu bisa kamu jadikan pembelaan.” Batin Sharen terus berusaha menenangkan dirinya sendiri. Sharen tidak mau membuat mamah mertuanya juga Alex curiga. Dia harus sepintar mungkin bisa menyembunyikan apa yang dia lakukan pada Melisa.


------------------


Lena mengeryit ketika melihat para pelayan nya sedang berkumpul di dapur sembari mengobrol asik dan tertawa begitu ringan. Rasanya Lena ingin sekali bergabung bersama mereka. Tapi Lena tau mereka pasti tidak mau karena mereka akan menganggap dirinya sendiri kurang hormat pada Lena, istri dari bos besar mereka.


Lena diam diam mengawasi mereka dari balik pintu dapur yang terbuka begitu lebar. Mendengar mereka berbagi cerita sambil menikmati cemilan benar benar membuat Lena merasa rindu dengan masa masa bekerjanya dulu. Lena juga pernah seperti itu, duduk lesehan dengan teman teman kerjanya termasuk Sasha sembari menikmati cemilan sambil berbagi cerita dan pengalaman lucu dengan teman teman nya.


Jika saja waktu bisa Lena putar kembali, Lena ingin kembali ke masa masa itu. Namun kemudian Lena sadar jika waktu benar benar bisa dia putar dia pasti hidup dengan kebohongan Alex dan Sharen. Pemikiran itu yang kemudian membuat Lena berpikir tidak ada untung untuk dirinya bisa memutar waktu. Kalaupun ingin mengulang masa itu mungkin Lena bisa meminta Sasha untuk mengajak teman teman kerjanya kemudian datang kerumah Erlan. Dan mereka bisa bernostalgia di taman belakang rumah. Makan cemilan juga berbagi cerita yang bisa membuat mereka tertawa tanpa beban.


Lena menghela napas. Suka duka dalam bekerja memang cukup indah untuk dikenang.


“Nyonya..”


Lena menoleh ketika mendengar suara pelan si mbok. Dia tersenyum saat mendapati si mbok yang entah sejak kapan sudah berdiri di samping nya.


“Eh mbok..” Senyum Lena salah tingkah karena ketahuan sedang mengintip diam diam para pekerja yang sedang berkumpul di rumah suaminya.

__ADS_1


“Nyonya sedang apa disini?” Tanya si mbok sopan.


“Ah eumm.. Enggak ngapa ngapain si mbok, cuma tadi saya mendengar ada rame rame di dapur. Karena penasaran, saya mengintip dan ternyata mereka sedang mebgobrol dan bercanda bersama.” Jawab Lena.


Si mbok menganggukan kepalanya paham. Dia tau bahwa Lena merasa kesepian tinggal sendiri tanpa teman yang bisa dia ajak mengobrol santai di rumah itu. Apa lagi si mbok dan para pelayan yang lain merasa tidak pantas jika harus menjadi teman ngobrol untuk Lena. Mereka takut di anggap tidak sopan dan tidak menghargai istri majikan.


“Iya nyonya, kami memang sedang mengobrol bareng sambil bercanda. Yah untuk menghilangkan rasa penat setelah bekerja. Ah ya nyonya, kami juga menemukan camilan enak. Sebentar saya akan ambil kan.” Dengan penuh semangat si mbok pun masuk ke dapur meninggalkan Lena yang kebingungan. Lena ingin mencegah namun si mbok sudah lebih dulu berlalu begitu saja dari hadapan nya.


Lena menghela napas. Keinginan untuk bergabung dan mengobrol serta bercanda bersama para pelayan itu begitu besar. Namun Lena juga tidak mungkin melakukan itu sehingga Lena menahan ke inginan besarnya itu.


Tidak lama kemudian si mbok kembali dengan sepiring kue lapis legit yang sudah di potong potong dan di susun sedemikan cantik dan rapinya.


“Ini apa mbok?” Tanya Lena tidak mengerti.


Lena menganggukkan kepalanya. Penasaran dengan rasa sepiring kue lapis legit yang di sodorkan oleh si mbok, Lena pun meraihnya satu potong.


“Saya coba ya mbok..” Katanya pelan.


“Ya nyonya, silahkan..” Angguk si mbok dengan senyuman yang menghiasi bibirnya. Si mbok menatap Lena yang mulai mencicipi sedikit kue lapis itu.


“Bagaimana menurut anda rasanya nyonya?” Tanya si mbok yang tidak bisa menahan rasa penasaran nya.


“Emm.. Ini enak banget mbok. Benar yang mbok bilang, rasanya memang tidak terlalu manis. Dan teksturnya juga sangat lembut.” Jawab Lena setuju dengan apa yang si mbok katakan setelah mencicipi rasa dari kue lapis legit tersebut.

__ADS_1


“Ya nyonya.. Semua orang yang membelinya pada mbak Mel juga berkomentar seperti itu.” Angguk si mbok pelan.


“Mbak Mel?” Tanya Lena bingung.


“Mbak Mel itu nama perempuan yang menjual kue ini nyonya. Dia masih sangat muda juga cantik. Tadi juga dia sendiri yang mengantarkan pesanan saya secara langsung kesini nyonya.” Jelas si mbok menjawab.


Lena menganggukkan kepalanya mengerti. Dia kembali memakan sepotong kue lapis legit yang di pegangnya. Lena benar benar langsung menyukai rasa dari kue tersebut.


“Selain kue ini apa mbak Mel itu menjual kue kue yang lain juga mbok?” Tanya Lena sambil mengunyah roti lapis dalam mulutnya.


“Oh iya nyonya.. Bahkan kue ulang tahun juga. Kue kering, berbagai macam jenis donat. Saya tau juga dari sosial media sih. Ini baru pesen kue lapisnya.” Jawab si mbok.


Lena mengangguk anggukan kepalanya paham. Dia semakin merasa penasaran dengan rasa rasa aneka kue yang di jual oleh mbak Mel. Lena juga penasaran dengan sosok mbak Mel yang begitu pintar membuat berbagai macam kue. Dalam benak Lena membayangkan sosok mbak Mel adalah ibu rumah tangga.


“Sayang...”


Lena mengarahkan pandangan pada Erlan yang berdiri tidak jauh darinya. Seulas senyum mengembang di bibir Lena mendapati suaminya yang ternyata sudah pulang lebih awal dari biasanya.


“Mbok, minta satu lagi ya..” Senyum Lena meminta izin pada si mbok.


“Oh iya nyonya. Semuanya saja nyonya. Ini memang saya pisahkan khusus untuk nyonya dan tuan.” Kata si mbok.


Lena tersenyum lebar kemudian mengambil sepiring kue lapis legit itu dan membawanya mendekat pada Erlan. Lena juga tidak lupa mengucapkan terimakasih pada si mbok yang sudah memberikan sepiring kue tersebut untuknya dan Erlan.

__ADS_1


__ADS_2