
Keesokan harinya, aku menjalani aktifitasku seperti biasanya. Yang berbeda hanyalah Qarima. Sikapnya padaku berubah. Saat aku bertanya, “Kau melihat seragamku?”, dia tidak menjawab. Bahkan Qhaza, “Qhaza, aku tidak menemukan seragamku!”
“Kakak bisa mencarinya sendiri, kan? Berhentilah mengandalkan orang lain!” Katanya ketus.
Dia sangat berbeda. Kata-katanya padaku, entah kenapa, terdengar kasar. Aku terkejut mendengarnya. Tidak pernah terjadi sebelumnya, sekalipun.
Lea dan ayah tidak ada di rumah. Mereka berdua pergi sangat pagi ke rumah nenek. Tidak ada yang bisa menolongku. Aku menghabiskan waktuku sekitar satu jam untuk mencari seragamku, aku tidak tahu, ini masalah sepele‒hanya mencari seragam. Tapi perasaanku tidak tenang. Aku menangis saat mencarinya, bukan karena aku tidak kunjung menemukannya, tapi karena sesuatu yang lain, entah apa itu.
Aku terlambat lagi ke sekolah.
Qarima dan Qhaza sudah berangkat sejak tadi.
Saat hendak berangkat, di depan pintu rumah, ada Gin yang sedang berdiri.
“Hai!” Kata pertama yang dia ucapkan.
“Gin …”
“Aku di sini … untuk bertemu Qarima!” Ucapnya ragu.
“Tidak ada.”
“Ooo, kalau begitu kita ke sekolah saja.”
“Ya!”
Kami berjalan pelan, kakiku terasa berat untuk melangkah. Seharusnya jika sudah terlambat, kami berjalan cepat, kan?
“Leva … kau baik-baik saja?”
“Um!” Jawabku dengan anggukan, meskipun dia tidak melihatku.
“Apa kau membenciku?”
“Tidak! Kenapa?”
“Mengenai kejadian semalam, aku merasa tidak enak. Aku … bagaimana ya bilangnya. Hmmm… Mau makan ice cream?”
“Ice cream?”
“Ya!”
“Kapan?”
“Sekarang?”
“Sekarang kita sekolah!” Kataku, heran.
“Sekali saja bolos, tidak masalah, kan?”
Ada apa dengan anak teladan ini?!
Dan akhirnya aku menggenggam ice cream di tanganku.
“Bagaimana rasanya?”
“Enak!” Kataku, rasa ice cream jenis apapun selalu enak bagiku.
Kami tidak banyak bicara, hanya menikmati ice cream di pinggir jalan sambil mengamati kendaraan-kendaraan yang lewat di depan kami.
“Leva, apa kau ... kuat lari?” Tanyanya tiba-tiba, setelah cukup lama terjadi keheningan.
Apa maksudnya? Apa yang dia rencanakan? Aku menggelengkan kepalaku.
“Kalau begitu kau harus kuat!”
“Kenapa?”
“Karena satpam sekolah datang ke arah kita. Wajahnya geram, menurutmu apa yang akan dia lakukan pada kita?”
__ADS_1
“Tidak tahu!”
“Aku juga tidak ingin mengetahuinya, ayo!”
Sial. Dia menarik tanganku, aku harus mengikutinya. Dia berlari terlalu kencang. Yang benar saja, pak satpam juga mengejar kami. Oh tidak, belum ada orang yang mengejarku sebelumnya selain gadis hantu, meskipun waktu itu bukan aku yang dia kejar, tapi kali ini sangat jelas pak satpam mengejarku. Tapi kenapa?
“Gin, kenapa kita lari?” Kataku terengah-engah.
“Menghindari satpam!”
“Kenapa?”
“Bisakah kau katakan kata lain selain kenapa, kenapa, kenapa?”
“Kenapa?”
“Oh sudahlah! Tapi, aku tidak melihat satpam itu lagi! Ke mana perginya?”
“Gin, di depanmu ada tembok!”
Gubruk!!!
Dia menabrak tembok.
Hidungnya berdarah. Hahahaha, syukurlah.
“Aku di sini!” Kata pak satpam yang muncul tiba-tiba.
“Hai, pak!” Sapa Gin, dia tersenyum. Kenapa tidak perhatikan saja hidungnya yang berdarah?
“Quinzha Leva, kenapa kamu lari?”
“Gin menarik tanganku.”
“Gin? Namamu Gin?”
“Gin, ini kedua kalinya kamu terlambat. Quinzha Leva … aku sudah bosan melihat wajahmu, jadi pergi ke kelas sekarang!”
“Baik!”
“Apa? Ini deskriminasi. Bagaimana dengan Leva, dia juga terlambat …”
“Dia tidak terlambat, tapi kau yang membuatnya terlambat!”
“Saya tidak mengerti, dia sering terlambat! Seharusnya bapak menghukum kami berdua!”
“Diamlah anak muda!” Kata pak satpam, “Aku kesulitan menghadapinya!” Bisiknya pada Gin.
“Padahal menurutku akan menyenangkan jika dihukum bersama Leva!” Ratap Gin.
Tidak ada hukuman yang menyenangkan! Juga harus kau tahu, pak satpam tidak pernah menghukumku.
“Aku permisi!” Kataku pada pak Satpam.
Aku meninggalkan mereka berdua, entah apa yang akan terjadi padanya itu bukan urusanku. Tapi meskipun tak tersampaikan, aku harus mengucapkan terimakasih untuk ice creamnya pagi ini. Aku merasa tenang. Kekacauan di kepalaku, sirna.
Begitu aku sampai di kelas, jam ke dua baru saja dimulai.
“Leva, apa yang terjadi setelah kau sampai di rumah?” Tysha menghampiriku.
Aku tidak mengerti apa yang dia tanyakan. Jadi diam saja deh!
“Leva, Leva!” Panggilnya seakan berbisik, dia akan dalam masalah jika membesarkan suaranya. Guru terkiler sedang mengajar.
“Ibu, Tysha terus memanggilku!”
Jahatnya aku!
“Dia bertanya, tapi aku tidak mengerti apa yang dia tanyakan. Apa yang harus kulakukan?”
__ADS_1
Kenapa aku harus bertanya hal yang sekonyol itu? Sadar Quinzha Leva! Ini bukan dirimu! Kau kerasukan, panggil dukun, keluarkan setannya. Oh, ternyata setannya tidak ada, berarti aku adalah setannya?
“Tysha. Ada apa?” Tanya ibu guru kemudian.
“Ti-tidak! Saya sedang membaca tulisan ibu di papan, sepertinya Leva salah dengar.”
Salah dengar? Berarti aku bukan setan, tapi si tuli! Gawat.
“Leva, kau sialan!”
Apa dia sungguh sedang membaca tulisan di papan? Aku jelas mendengar ‘Leva, kau sialan!’ kupikir aku akan ke dokter ahli penyakit telinga. Ada yang aneh dengan telingaku.
Beberapa saat kemudian Gin memasuki ruangan, dia penuh keringat. Aku tidak berminat membayangkan apa yang terjadi dengannya.
***
“Levaa!” Vicky berteriak memanggil namaku. “Ayo kita ke kantin.”
“Baiklah.” Ucapku lirih.
Saat di kantin, ingin sekali kutanyakan, semalam kenapa dia menangis? Tapi tidak jadi, karena di sana aku bertemu dengan semua anak kelas tambahan, kecuali Tysha. Wajah mereka tampak berantakan, maksudku ada beberapa luka kecil yang menghiasi wajahnya.
“Duduklah!” Kata Fajar. Dia sudah ada di kantin sebelum kami.
Aku dan Vicky bergabung.
“Leva, kau ingin makan apa? Aku yang traktir!” Kata Abi.
“Bakso!” Jawabku.
Kemudian, Abi memesan bakso untukku dan juga untuk yang lainnya. Anak-anak kelas tambahan, semuanya di sini, kecuali Tysha.“Leva,”
“Bagaimana keadaan Qhaza, apa dia baik-baik saja?” Tanya Abi. Aku ingat, dia memukul Qhaza kemarin sebelum aku tinggalkan mereka semua.
“Dia … aneh!”
“Aneh!?” Tanya mereka semua serentak. “Apanya yang aneh?”
“Tidak tahu. Pokonya dia … aneh!”
“Yah makanya aku bertanya apanya yang aneh?” Adit ngotot.
“Bagaimana dengan Qarima?” Tanya Fajar.
“Qarima juga, aneh!”
“Ha?”
“Tapi, jangan khawatir Leva!” Kata Abi, “Kita semua adalah teman. Kejadian tadi malam tidak akan terulang lagi.”
Mereka semua menatapku. Seakan sedang memperlihatkan penyesalan terdalamnya.
“Baksonya enak.” Pujiku. Padahal hambar. Tidak nyaman dengan situasi canggung seperti ini, jadi ayo, hentikan.
***
Satu bulan setelah kejadian itu berlalu, semuanya kembali normal. Hanya Qarima yang masih bersikap aneh terhadapku, dia mengacuhkanku. Tapi sekarang aku menganggap itu hal yang normal karena ini telah berlalu satu bulan, Qhaza tidak pernah berbicara kata-kata yang menurutku kasar lagi.
Lea masih sering melakukan eksperimennya, ayah juga kecintaannya pada masakan Prancis semakin meningkat. Tapi kali ini, dia benar-benar membawa kami ke restoran Prancis, bukan di Prancis tapi restoran di pinggir kota yang menyajikan khusus masakan Prancis, baru buka. Dia mengatakan, “Rasanya, tidak seenak yang aku pikirkan! Sebenarnya, tidak enak.” Meskipun begitu dia tetap menyukainya.
Ramona dan Marlyn masih tetap seperti biasanya, mereka tetap mengikutiku ke manapun aku pergi. Serta, mereka lebih sering makan gratis di rumahku, mereka memang punya modus mendekatiku. Aku dimanfaatkan oleh kacang tidak berguna.
Vicky, aku sudah tiga kali menginap di rumahnya, dia pun begitu, lebih sering lagi datang berkunjung ke rumahku. Sementara itu Gin, yah Gin. Dia bersama beberapa murid terpilih mewakili sekolah ke turnamen olah raga di provinsi, mereka sudah di sana selama tiga hari, akan kembali dalam satu minggu.
Lalu El, dia tidak pernah berkunjung ke rumahku sejak kejadian di rumahnya Tysha. Di sekolah, aku tidak pernah melihat dia bersama dengan Qhaza lagi, meskipun begitu dia tetap menyapaku dengan ramah, sikapnya tidak berubah padaku.
Sementara itu Tysha, akhir-akhir ini dia sangat menjengkelkan. Menurutku.
Tysha seperti berusaha menjauhkanku dari Fairel dan teman-teman sekelas lainnya, dia sering tersenyum sinis padaku (itu terjadi dalam pikiranku), penggemar setianya lebih sering lagi menabrakku (itu benar-benar terjadi), di kelas regular dia selalu menggoyang-goyangkan kursiku, dia sering mengatakan aku sialan, bahkan pernah dengan sengaja menumpahkan minuman bersoda di bajuku. Waktu itu, dia berjalan, kemudian tersandung batu dan aku ada di depannya, minumannya tumpah mengenaiku dan dia tersungkur ke tanah. Dia sengaja, kan?
__ADS_1