
Sherin terus berusaha menghubungi Alex yang tidak pulang semalaman. Bahkan di hari menjelang sore ini Alex juga belum pulang. Di telepon beberapa kali sejak pagi Alex juga tidak kunjung mengangkat telepon darinya. Hal itu membuat Sherin mulai berpikir negatif. Pemikiran Sherin bahkan sampai pada sosok Melisa yang dia anggap mempunyai niat buruk pada hubungan nya dan Alex. Padahal pada kenyataan nya itu sama sekali tidak benar karena yang terjadi justru sebaliknya. Melisa menjauh dari Alex agar tidak terus terusan di tindas oleh pria arogan yang selalu berbuat semaunya sendiri itu.
“Awas aja kamu Melisa kalau masih berani mendekati suamiku. Aku akan membuat kamu menyesal seumur hidup kamu.” Marah Sherin pada Melisa tanpa sebab dan alasan yang jelas. Sherin terlalu berpikir negatif pada Melisa yang sebenarnya adalah korban dari kebejatan suaminya, Alexander Smith.
Tidak ingin menyerah, Sherin kembali berusaha menghubungi Alex. Tapi tetap saja, Alex sama sekali tidak menghiraukan telepon darinya.
“Ya ampun.. Kenapa nggak di angkat angkat juga sih? Sebenarnya kamu dimana sih Alex?” Sherin rasanya ingin sekali menangis. Dia benar benar takut kehilangan Alex. Meski Sherin sendiri menyadari bahwa Alex tidak mencintainya, tapi Sherin di butakan oleh cinta sepihaknya. Sherin terus mengharapkan cinta dari Alex, Pria yang sedikitpun tidak pernah mengharapkan kehadiran nya.
Sherin mendudukkan dirinya di sofa panjang yang ada di ruang tengah. Sherin benar benar tidak tau harus bagaimana sekarang. Dia sempat berpikir untuk menelepon mamah mertuanya, nyonya besar Smith. Tapi kemudian Sherin mengurungkan niatnya karena tidak mungkin rasanya Sherin menanyakan tentang keberadaan Alex pada mamah mertuanya itu. Sherin pasti justru akan mendapatkan omelan pedas dari mamah metuanya itu mengingat bagaimana sikap judes dan arogan nyonya besar Smith padanya.
“Ya Tuhan...” Merasa frustasi karena tidak tau dimana Alex sejak semalam, Sherin pun menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Kedua matanya dia pejamkan dengan bibir bergumam menyebut nama sang pemilik kehidupan yang sesungguhnya.
“Aku hanya ingin bahagia Tuhan.. Aku ingin seperti perempuan lain nya yang di cintai dengan sepenuh hati. Dan aku ingin Alex yang mencintaiku Tuhan sebagaimana aku yang sangat mencintainya. Aku merasa tidak bisa hidup tanpa Alex. Aku sangat mencintainya sampai aku rela mengkhianati persahabatanku dengan Lena.” Gumamnya pelan.
Sherin tidak pernah sedikitpun sadar bahwa jalan nya untuk bisa memiliki Alex sudah salah dari awal. Dia melampaui batas dari apa yang seharusnya di lakukan oleh insan yang belum sah dalam ikatan pernikahan dulu. Sherin menghalalkan segala cara demi bisa membuat Alex jatuh cinta padanya. Meski pada kenyataan nya justru Sherin lah yang di manfaatkan oleh Alex sebagai pemuas nafsu.
BRAKK !!
Bunyi keras daun pintu yang di banting membuat Sherin berjengit kaget. Sherin refleks membuka kedua matanya dan mendapati Alex yang baru saja masuk ke dalam kamarnya. Bahkan pria itu hanya terlihat di bagian punggungnya saja sebelum benar benar masuk ke dalam kamarnya sendiri.
__ADS_1
“Alex...” Sherin tersenyum. Dia merasa apa yang dia adukan langsung di dengar oleh Tuhan. Alex pulang setelah Sherin mengadukan kegundahan hatinya sebagai seorang istri yang tidak pernah di anggap.
“Aku selalu percaya Tuhan memang adil. Tuhan menyayangiku. Tuhan tidak mungkin membiarkan istri sah yang menderita karena perempuan murahan seperti kamu Melisa.” Lanjutnya.
Sherin menghela napas merasa sangat lega karena akhirnya Alex pulang. Dengan penuh percaya diri dia bangkit dari duduknya kemudian melangkah menuju pintu kamar Alex yang tertutup begitu rapat. Begitu sampai di depan pintu kamar Alex, Sherin mengetuk pintu bercat coklat gelap itu beberapa kali. Namun sayang, Alex sama sekali tidak menyaut apa lagi membuka pintu kamarnya.
Sherin berdecak. Dari apa yang Alex lakukan dengan membanting pintu kamarnya itu sudah membuat Sherin paham jika suami yamg sangat dia cintai itu sedang dalam keadaan hati yang tidak baik baik saja.
Tidak mau semakin merusak mood suaminya, Sherin pun memilih untuk sedikit lebih bersabar kali ini. Yang teepenting baginya sekarang Alex sudah pulang ke apartemen nya.
“Baiklah, mungkin untuk saat ini kamu sedang butuh waktu sendiri.” Gumam Sherin kemudian berlalu dari depan pintu kamar Alex dengan mengusap usap perut buncitnya.
“Melisa.. Kamu tidak bisa begitu saja lepas dariku. Tidak ada saeorang pun yang boleh mendekati kamu kecuali aku..” Lirih Alex dengan penuh penekanan.
Ya, hari ini Alex kembali mengawasi diam diam kediaman sederhana Melisa hingga akhirnya dia melihat dengan kedua mata kepalanya sendiri Melisa yang sedang tertawa tawa dan bercanda dengan pria yang tidak Alex tau siapa. Yang pasti Alex yakin pria itu mempunyai hubungan dekat dengan Melisa.
-------------------
“Beneran loh aku nggak nyangka banget kalau mbak Mel itu kamu Sa.. Aku kira mbak Mel itu perempuan tua berbadan lebar dengan tangan ajaib yang bisa membuat kue kue nikmat banyak pelanggan.” Ujar Alvin, teman satu kelas Melisa saat masih duduk di bangku sekolah menengah atas dulu.
__ADS_1
Melisa tertawa mendengarnya. Sebuta mbak Mel sebenarnya bukan dia sendiri yang menciptakan, melainkan para pelanggan yang menyukai kue buatan nya.
“Apaan sih? Enak aja aku di kira perempuan berbadan lebar. Aku itu langsing tau, tanpa lemak. Catat itu.” Kata Melisa.
“Hahaha.. Ya ya ya.. Kamu memang cantik dan langsing, lebih tepatnya sexy. Aku akui itu Melisa.” Tawa Alvin mengangguk anggukan kepalanya setuju dengan apa yang Melisa katakan tentang dirinya.
Alvin tidak menampik bahwa Melisa memang cantik sejak dulu. Bahkan Alvin juga menyukai Melisa secara diam diam dulu dan mungkin sampai sekarang juga perasaan itu masih bersemayam di hatinya.
“Huuu.. Dasar tukang nggombal.” Sorak Melisa merasa tidak percaya dengan pujian yang Alvin lontarkan tentang dirinya.
“Aku serius loh Sa.. Dari dulu itu kamu memang cantik dan yah.. Kamu cukup menarik menurut aku.” Senyum Alvin membuat Melisa tersenyum merasa tersipu dengan apa yang Alvin katakan. Itu terlalu berlebihan menurut Melisa, tapi Melisa tidak menampik dia merasa senang dengan pujian tersebut.
“Ya udah Sa, aku masih harus ada yang di kerjain nih. Jangan lupa di bikin ya kue nya. Yang enak loh.. Nanti biar aku ambil sendiri saja kesini. Kamu nggak perlu anter sampai perusahaan.” Kata Alvin lagi.
“Oke, thank's banget udah percaya sama aku untuk membuat kue kue itu. Aku pasti bakal bikin yang spesial buat kamu.” Senyum Melisa menganggukkan kepalanya.
“Oke.. Kalau begitu aku pergi yah.. Bye..” Alvin kemudian melangkah menjauh dari Melisa yang berdiri di teras depan rumah sederhananya. Pria itu kembali menoleh dan tersenyum menatap lagi pada Melisa saat hendak masuk ke dalam mobilnya.
Melisa balas tersenyum dan melambaikan tangannya membuat Alvin tertawa pelan kemudian masuk ke dalam mobilnya dan berlalu dari halaman rumah Melisa.
__ADS_1
Baik Melisa maupun Alvin, keduanya sama sama tidak menyadari bahwa ada sosok lain yang memgawasi mereka berdua dengan tatapan marah.