SAYANG

SAYANG
Episode 165


__ADS_3

Siang ini Erlan baru saja selesai meeting. Namun pria itu langsung bergegas pergi karena memang sudah mempunyai janji dengan Lena. Ya, siang ini mereka berdua berencana untuk menjenguk Sherin yang masih berada di rumah sakit. Apa lagi Lena juga sempat menangis begitu melihat berita di TV tentang Alex yang menceraikan Sherin begitu saja meski Alex sendiri tau Sherin belum kunjung sadarkan diri.


Dan seperti biasanya, Erlan selalu menyerahkan segala urusan nya pada Kenzie karena Erlan sendiri tahu dirinya pasti tidak akan bisa kembali lagi ke perusahaan jika sudah bersama dengan istri tercinta nya. Tentu saja, Erlan tidak mungkin menolak istrinya yang sedang sangat manja padanya karena kehamilan nya.


“Saya percayakan semuanya sama kamu Kenzie.” Ujar Erlan menepuk pelan bahu Kenzie.


Kenzie tersenyum mendengarnya. Pria itu merasa senang karena Erlan percaya padanya. Meskipun memang dirinya harus menanggung banyak beban akibat pekerjaan yang selalu menumpuk, tetapi tidak setidaknya Erlan menghargai kerja keras nya. Itu yang membuat Kenzie selalu dengan semangat melakukan pekerjaan yang Erlan amanah kan padanya.


“Terimakasih atas kepercayaan yang sudah tuan berikan pada saya. Saya akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anda tuan.” Kata Kenzie.


Erlan tertawa pelan.


“Saya yang harus nya berterimakasih sama kamu Kenzie. Tanpa kamu saya tidak mungkin bisa melakukan semuanya.”


Kenzie hanya tersenyum saja menanggapi nya. Menjadi orang kepercayaan Erlan adalah sebuah kebanggaan tersendiri baginya. Dan Kenzie tidak akan menyia nyiakan kesempatan yang tidak semua orang bisa rasakan itu begitu saja.


“Ya sudah kalau begitu saya duluan ya.” Ujar Erlan kemudian.


“Oh iya tuan. Silahkan.” Angguk Kenzie mempersilahkan.


Erlan kemudian berlalu dari hadapan Kenzie. Pria itu begitu sangat percaya pada Kenzie. Dan jika seandainya Kenzie berkhianat padanya, hancur sudah semuanya karena memang Kenzie tau segalanya tentang semua perusahaan yang Erlan miliki berseta cabang nya.


Kenzie menghela napas pelan setelah Erlan berlalu. Meski hari harinya selalu dia gunakan untuk bekerja dan melayani Erlan, namun di dalam hatinya tidak pernah sekalipun terbesit keinginan untuk berkhianat. Apa lagi Erlan juga sudah banyak membantu nya selama ini. Dan Kenzie merasa dirinya banyak berhutang budi pada Erlan.

__ADS_1


Tidak ingin menunda waktu, Kenzie pun bergegas untuk melakukan pekerjaan yang memang sudah di amanah kan Erlan padanya. Kenzie tidak ingin membuat atasannya itu kecewa. Maka dari itu Kenzie selalu mengusahakan yang terbaik untuk perusahaan.


-----------


Di kediaman mewah Harrison, Lena sudah menunggu Erlan di teras depan rumah. Dia duduk sembari memainkan ponselnya. Lena juga sudah terlihat rapi dengan dress warna orange selutut tanpa lengan yang di padukan dengan cardigan rajut warna putih tulang. Untuk rambutnya, Lena mencepolnya tinggi memperlihatkan tengkuknya yang putih dan mulus. Dandanan sederhana itu juga membuat Lena terlihat sangat manis.


Tidak lama menunggu, mobil mewah Erlan pun tiba dan mulai memasuki halaman luas kediaman nya. Pria itu menghentikan mobil mewahnya di halaman tepat di depan teras tempat Lena duduk sambil memainkan ponselnya.


Lena tersenyum merasa sangat senang karena kepulangan suaminya. Lena bangkit dari duduknya dan berhenti memainkan ponselnya. Erlan memang tidak pernah melupakan janjinya. Seperti siang ini misalnya, meski sibuk Erlan menyempatkan waktu untuk pulang menemani Lena yang ingin menjenguk Sherin di rumah sakit.


Erlan turun dari mobilnya. Dengan senyuman manis yang menghiasi bibir tipis nya, Erlan pun melangkah mendekat pada Lena. Erlan terdiam sesaat menatap penampilan sederhana nan manis istrinya dari atas sampai bawah. Lena benar-benar terlihat sangat menggemaskan saat ini.


“Sudah siap sayang?” Tanya Erlan kemudian.


Lena mengangguk menjawabnya. Lena memang sudah siap sejak tadi.


Sesaat Lena terdiam. Namun detik berikutnya Lena mengangguk mengiyakan apa yang Erlan sarankan padanya. Sekarang ini memang kesehatan nya yang paling utama karena Lena memang tidak sendiri. Ada kehidupan baru yang harus benar benar dia jaga dengan ekstra. Yaitu kehidupan janin yang sedang tumbuh dan berkembang di dalam kandungan nya.


“Ya sudah kalau begitu kita pergi sekarang.” Erlan meraih pinggang Lena merangkulnya dengan lembut dan mesra. Pria itu juga mengecup singkat kening Lena yang bisa dengan mudah di jangkau nya karena tinggi Lena yang hanya sebatas bahunya saja.


“Oke..” Balas Lena setuju.


Mereka berdua kemudian melangkah beriringan menuju mobil Erlan. Erlan membuka pintu mobil untuk Lena kemudian menutup nya kembali setelah Lena masuk ke dalam nya. Setelah itu Erlan pun menyusul masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi.

__ADS_1


Dengan kecepatan sedang Erlan mulai melajukan kembali mobil nya. Dan tempat yang pertama kali mereka kunjungi adalah restoran. Tentu karena sebelum pergi kerumah sakit, mereka akan lebih dulu makan siang.


“Kamu mau makan apa sayang?” Tanya Erlan saat mereka berdua sudah duduk dengan tenang di salah satu meja yang ada di sudut Restoran tersebut. Restoran yang tidak terlalu rame pengunjung siang itu.


“Eemm.. Aku ikutin kamu saja deh.” Jawab Lena yang malah pasrah saja.


“Beneran nih? Nanti aku yang pesenin kamu malah nggak doyan lagi.”


“Nggak.. Pasti aku makan kok.. Yang penting di makanan yang kamu pesan itu ada rasa pedesnya.” Ujar Lena yang membuat Erlan menggeleng. Sejak hamil, Lena memang sangat menyukai makanan pedas. Bahkan Lena sepertinya tidak bisa makan jika makanan nya tidak ada rasa pedasnya.


Tidak menunggu lama pesanan mereka pun datang dan langsung di hidangkan diatas meja. Erlan langsung mengajak Lena untuk menyantap makan siangnya sebelum mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit tempat Sherin berada.


Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Lena beberapa kali menghela napas. Entah kenapa Lena merasa tegang. Padahal mereka hanya akan menjenguk Sherin kerumah sakit. Bukan untuk melakukan hal yang menegangkan.


Erlan yang melihat itu tersenyum. Pria itu melepas satu tangannya dari stir mobil dan meraih tangan Lena menggenggamnya dengan lembut mencoba untuk menenangkan Lena yang sedang merasa tegang karena akan bertemu dengan Sherin dan keluarganya.


“Nggak papa sayang.. Kan niat kamu baik ingin menjenguk Sherin yang sedang sakit. Enggak perlu tegang seperti ini. Oke..” Ujar Erlan dengan lembut dan pelan.


Lena menarik napas dalam dalam kemudian menghembuskan nya pelan. Wanita itu menoleh dan tersenyum menatap suaminya yang selalu saja memahami kondisi hatinya tanpa harus Lena memberitahu.


Lena menganggukkan kepalanya mengiyakan apa yang di katakan suaminya. Lena mulai berpikir mungkin dirinya merasa tidak tenang karena akan bertemu dengan Sherin yang sudah mengkhianati nya. Meski sebenarnya memang Lena sudah memaafkan apa yang Sherin lakukan di belakangnya dulu, namun tidak bisa di pungkiri masih ada rasa tidak percaya mengingat bagaimana kentalnya persahabatan mereka dulu.


“Ya sayang...” Sahut Lena.

__ADS_1


Erlan terkekeh pelan. Mendengar panggilan sayang langsung dari mulut Lena sangat lucu menurut nya. Namun itu juga membuat nya sangat berbunga bunga. Erlan merasa sangat di cintai dan di butuhkan oleh wanita yang selalu berhasil mengalihkan dunianya.


Erlan kemudian menambah laju kecepatan mobilnya agar cepat sampai di rumah sakit. Pria itu benar benar di buat semakin jatuh cinta pada Lena setiap hari dengan berbagai kejutan kebaikan hati Lena.


__ADS_2