
Qhaza berangkat lebih awal untuk menjaga tubuhnya tetap fit, dia berlari ke sekolah yang jaraknya tidak jauh dari rumahku. Qarima lima menit setelahnya di karenakan dia adalah siswa teladan dan anggota osis, dia harus tepat waktu. Selain itu, karena dia adalah anggota osis, dia harus sepuluh menit lebih awal dari siswa lain, peraturan sekolah mengatakan seperti itu. Sedangkan aku tentunya harus berada di sekolah tepat jam 7 pagi. Lewat lima belas menit atau tiga puluh menit tidak masalah, satpam sekolah sudah terlalu bosan untuk memarahiku, tidak ada hukuman asalkan tidak lewat dari 8.30. Jika lewat dari waktu itu, minimal aku tidak akan dibukakan gerbang. Meskipun begitu aku cukup senang, karena aku punya alasan untuk pulang lebih awal hari itu. Karena sekarang sudah hampir jam tujuh, saatnya berangkat.
Pip! Pip! Pip! Bunyi klakson. Aneh, padahal kami tidak punya mobil lain selain mobil tua yang dikendarai oleh ayah ke kantor, dan ayah sudah berangkat. “Aku berangkat.” Kataku pada Lea yang sedang menyiram bunga di taman di halaman rumah.
“Tiwa menunggumu!” Katanya.
“Tiwa? Lea mengenalnya?” Tanyaku heran.
“Tentu! Karena dia sudah tinggal disebelah rumah sejak kau kecil.”
“Hah? Sungguh!?”
“Hmmm.”
“Jadi dia bukan zombie?”
“Zombie? Apa itu zombie?”
“Mayat hidup.”
Pip! Pip! Pip! Bunyi klakson lagi. “Bukan, dia bukan zombie, dia tetangga kita. Dia sering membawa makanan ke rumah!”
“Benarkah?” Tanyaku pura-pura peduli. Tapi aku cukup lega, setidaknya dia bukanlah zombie. “Aku berangkat!” Kataku pada Lea. Aku menaiki mobil Tiwa yang sudah menunggu didepan gerbang rumah dan kami berangkat bersama-sama kesekolah.
Alasan kenapa aku tidak tahu tentang Tiwa,bukan karena aku selalu di kamar atau karena kebetulan tidak ingat, hanya saja aku tidak tertarik membukakan pintu untuk siapa saja ketika ada orang lain di rumah. Jika tidak ada orang, aku punya kebisaan membuka pintu rumah lebar-lebar, mereka akan mengerti jika mereka dipersilahkan masuk. Aku juga tidak tertarik mengetahui siapa yang datang atau siapa yang pergi selama itu tidak berhubungan dengan kenyamananku, mereka tidak akan membuat perhatianku teralih selama mereka tidak mengajakku bicara, anggap saja seperti ‘terserah lakukan apa saja yang kau suka’. Selain itu, aku bukanlah orang yang pandai mengingat nama atau wajah seseorang, jika mereka terlihat biasa saja. Itulah kenapa aku tidak perlu repot-repot bergaul dengan orang lain karena beberapa menit setelah berpisah aku pasti akan segera melupakannya. Ini adalah penyakit bawaan, sejak kecil. Tapi Tiwa berbeda, yah dia sudah membuat kesan pertama yang cukup menegangkan, itulah kenapa aku masih mengingatnya. Dan−tidak berbeda dari kemarin, dia sangat cerewet.
Tiwa mengajar di tiga kelas, dihari senin selasa dan sabtu. Kami akan selalu berangkat dan pulang bersama di ketiga hari itu. Untuk orang yang anti sosial sepertiku, hal itu lumayan membuatku risih meskipun tidak benar-benar terganggu. Tapi tidak masalah, setidaknya selama hal itu tidak merugikanku secara finansial.
\* \* \*
Guru bahasa Inggrisku tidak hadir. Aku bersyukur karena dia tidak datang, soalnya dia punya kebiasaan yang aneh. Mula-mula dia akan bertanya pada kami semua, ‘sudah mengerti?’ ‘belum pak!’‘Ah masa nggak ngerti ... ngerti ya?!’ lalu dia menyengir. Karena dia tidak hadir, kami semua diarahkan untuk keperpustakaan oleh ketua kelas dan belajar disana. Aku suka buku, meskipun untuk tidak kubaca. Aku juga suka membaca buku meskipun buku yang tidak membuatku pintar (itu adalah istilah orang dewasa untuk buku dongeng, komik atau novel). Dewasa yang kumaksud disini adalah orang yang berusia tiga puluh tahun keatas. Aku memilih buku berdasarkan gambar sampulnya, berdasarkan judulnya dan jenis tulisannya. Tidak masalah apakah isinya menarik atau tidak─yang penting bergambar. Aku memilih buku yahg judulnya ditulis dalam bahasa Inggris─Wishper of the Heart─bisikan hati. Aku memilihnya karena ini adalah buku tertipis yang bisa kutemukan. Dan mulai kubaca, lembar demi lembar terselesaikan. Dan ketika berada pada lembar terakhir, cerita itu berakhir tanpa penyelesaian. Sial! Itulah kenapa aku tidak suka buku, karena terkadang meninggalkan rasa penasaran.
Aku mulai mencarinya di rak-rak buku, kuperiksa satu persatu dan tidak menemukannya. Aku juga mencarinya didalam data base perpustakaan, hanya ada satu judul buku. Yaitu yang saat ini kupegang. Aku menatap keluar jendela dengan kesal.
“Apa yang kau cari?” Ketua kelas mendekatiku. Dengan tiba-tiba, seperti biasanya.
“Buku!” Jawabku seadanya.
“Aku tahu itu buku, judulnya?” Aku memperlihatkan buku yang ku pegang. Aku tidak yakin untuk mengucapkannya, pasalnya mengeja tulisan berbahasa Inggris berbeda dengan bahasa Indonesia. Memalukan jika salah.
“Oh, artikel siswa.” Gumamnya.
__ADS_1
“Artikel siswa?”
“Kau tidak tahu?”
Aku menggelengkan kepala, ketua kelas terlihat heran. “Kau ini, sebenarnya di dunia mana kau hidup?”
“Di dunia ini!” Jawabku.
“Tidak perlu dijawab!” Bentaknya, dia terdiam sejenak, “Kau lihat bentuknya? Ini tidak terlihat seperti buku pada umumnya, bentuknya lebih seperti makalah, kan!”
“Hmm. Artinya apa?”
“Artinya─apa kau tidak tahu jika sekolah ini mengijinkan siapa saja untuk menyumbangkan buku dalam bentuk apapun dari semua siswanya, asalkan itu layak untuk dibaca─dan dari jenisnya buku ini ditulis oleh seorang siswa!”
“Lalu?”
“Kau masih belum mengerti?” Ketua kelas memicingkan mata menatapku, lalu mendesah pelan. “Jika buku yang kau cari adalah tulisan bebas, kemungkinan kau tidak akan menemukan edisi keduanya, karena penulis tidak punya kewajiban untuk menulis lanjutannya dan membawanya ke sini.”
“Jadi?”
“Jadi ... kau terlebih dahulu bisa memeriksanya di data base perpustakaan, semua buku yang masuk pasti tercatat disana!”
“Lalu?”
“Tidak ada!”
“Sungguh kasihan! Itu artinya kau juga tidak akan pernah menemukannya di rak buku!”
“Lalu aku harus bagaimana?”
“Ya ... tidak bagaimana-bagaimana. Memangnya kau sangat ingin membacanya?”
“Ya, sangat ingin.”
“Sangat ingin sampai kau tidak bisa makan dan tidur karena penasaran?”
“Aku pasti akan makan kalau lapar dan tidur jika ngantuk!”
“Benar juga.” Ketua kelas menundukan kepalanya dan sejenak berpikir, “Begini saja ... kau bisa menemui penulisnya!”
“Penulisnya?”
__ADS_1
“Periksa sampulnya, disana pasti tertulis nama penulisnya.”
Lalu aku memeriksa sampulnya. Tertulis, “Fairel, 2006.”
“Ada, kan?” Aku mengangguk. “Selanjutnya terserah kau mau bagaimana dengan penulisnya!”
Lalu aku tersenyum sambil mengucapkan terimakasih. “Terima kasih kepadamu, ketua kelas.” Kataku tulus.
“Ketua kelas? Kau baru saja memanggilku ketua kelas?”
“Ya!”
“Begini ya Leva, aku memang ketua kelas tapi bukan berarti kau harus memanggilku ketua kelas, kan?”
“Lalu aku harus memanggilmu dengan apa?”
“Tentu saja dengan namaku!”
“Dengan namamu? Jadi namamu bukan ‘ketua kelas’?”
“Te-tentu bukan!”
“Baiklah, Ketua Kelas!”
“ITU BUKAN NAMAKU!” Dia berteriak. “Kau benar-benar tidak tahu namaku?”
“Ya!” Jawabku tegas.
HAAAAA?!!!! Aku mungkin anti sosial, tapi aku cukup tahu beberapa kondisi dikehidupan sosial yang terjadi diluar rumah melalui televise. Aku menonton anime hampir setiap saat di rumah, kemudian membaca komik ketika makan atau saat aliran listrik terputus disiang hari. Makanya aku sedikit tahu dimana ketika orang harus berteriak dengan nyaring dan dimana ketika mereka harus diam dan tenang, aku mempelajarinya. Seperti dalam anime K-On! Orang berteriak ketika ada konser musik, atau seperti dalam anime Guilty Crown, orang berteriak ketika dijatuhi bom dan ditembak secara brutal oleh *******. Tapi aku tidak pernah melihat didalam anime manapun, kalau ternyata orang-orang juga berteriak di perpustakaan. Aneh! Dan bicara soal anime─anime adalah istilah untuk kartun yang berasal dari Jepang. Aku pecinta kartun Jepang, juga komik Jepang.
Gara-gara jawabanku yang barusan, seluruh teman sekelasku mulai mengerumuniku, mereka cukup berisik untuk pembaca yang baik. Kemudian mulai bertanya, “Bagaimana dengan namaku?” “Kalau aku, apa kau mengenalku?” “Aku cukup popular di kelas, kau pasti mengenalku?” “Bagaimana dengan wajahku? Aku duduk disampingmu, kau mengenalku, kan?” Beragam pertanyaan yang mereka lontarkan padaku hanya memerlukan satu jawaban. “Tidak!”
HAAAAA!???? Luar biasa! Mereka benar-benar serentak seperti telah terlatih oleh pelatih khusus paduan suara. “Apa yang kau maksud dengan tidak? Apa untuk kami semua?” Tanya salah satu diantara mereka.
“Ya!”
Hening. Dan … APAAAAA????
Bukan hanya namanya, aku bahkan tidak mengenali wajah mereka. Kami di kelas yang sama? Aku baru mengetahuinya sekarang, ternyata ada wajah yang seperti ini di kelasku. Mulailah mereka memperkenalkan dirinya padaku, satu per satu. Meskipun tidak satupun dari mereka yang namanya dapat ku ingat dalam menit berikutnya dan aku yakin keesokan paginya akupun sudah lupa dengan wajah mereka, semuanya. Kecuali ketua kelas, Gin Arsalan. Dia mengatakan, “Kau bisa memanggilku dengan Gin!” Dan dia adalah laki-laki, aku baru tahu. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku berkenalan dengan orang sebanyak itu. WOW!
\*\*\*
__ADS_1