
Setelah kembali dari pulau Komodo, akhirnya aku bisa kembali ke hari-hariku sebelumnya, hari-hariku yang tenang tanpa orang-orang di sekitarku.
Karena sekolah masih libur, aku menghabiskan waktuku untuk menonton anime. Seharian penuh. Qarima tidak datang mengganggu seperti biasanya, karena dia pergi entah ke mana. Qhaza, sejak pagi tadi bermain catur di ruang tamu bersama ayah, sementara Lea menyuekiku dan tidak memperlihatkan wajah ramahnya. Sejak aku kembali, dia terus seperti itu karena, aku tidak membawakannya oleh-oleh.
Aku kan tidak tahu!
***
Tanpa merasa jenus sedikit pun, aku masih dengan animeku. Jam di dinding sudah berada di angka sepuluh malam ketika, bel rumah tiba-tiba berbunyi. Saaaangat menyebalkan. Aku sangat benci suara bel, terlebih, orang yang memencetnya.
Ting! Ting! Ting!
Berisik. Duniaku melebar, telingaku juga melebar sekarang. Padahal aku di kamar, kok bisa terusik oleh bunyi bel? Kok bisa ya? Padahal dulu, bunyinya tidak senyaring ini.
Menit berikutnya, Seseorang mengetuk pintu kamarku. Kuabaikan. Terlalu malas membukak pintu.
“Quinzha!” Teriak Lea. “Quinzha!” Teriaknya lagi. “QU-IN-ZHAAAA.”
Demi Tuhan! Aku tidak bisa mengabaikannya.
Dengan terpaksa aku membuka pintu kamarku.
“Ya?” Kataku ketika membuka pintu. Kulihat wajah seorang yang tersenyum polos menyambutku di depan pintu.
“Dia datang untuk menginap, katanya.” Kata Lea sambil tersenyum. Senyum bahagia.
“Halo!” Sapa Vicky, dia juga membawa bantalnya.
“Vicky!” Kataku, dengan nada kaget. Padahal pura-pura.
“Quinzha, jangan hanya berdiri di depan pintu. Ajak temanmu masuk!” Perintah Lea bersemangat. Wajahnya berseri kembali.
“Masuklah.” Pintaku.
Vicky masuk dengan gembira, dia berjalan sambil menari.
“Teman pertamamu yang menginap di rumah.” Bisik Lea, “Aku akan melayani dia dengan baik.” Kata Lea, dia meninggalkanku.
Dia juga berjalan menuruni tangga sambil menari. Kuharap, dia terpeleset.
“AAAA!”
Dia benar-benar terpeleset. Yes!
“Jadi Leva ...” Vicky mulai bicara, dia berguling-guling di atas kasurku.
“Hmmm. Kasur yang Leva gunakan untuk tidur.” Gumamnya.
Dia menempelkan hidungnya di kasur, seperti sedang merasakan aromanya.
“Leva! Aku sudah menyiapkan banyak hal untuk acara menginap kita malam ini.”
“Acara menginap?”
“Ya! Sebagai sahabat, menginap di rumah sahabat setiap satu kali seminggu itu wajib!” Kata Vicky semangat.
“Begini ya Vicky. Aku akan menonton anime, kau melakukan ‘acara menginapmu sendirian’, aku ijinkan. Tapi jangan berisik.” Jelasku. Semoga dia paham.
“Kau tidak boleh menonton anime ketika temanmu datang untuk menginap di rumahmu!” Katanya.
Dia bangkit dari tempat tidur. Kemudian mematikan laptopku, mencabut casnya.
Aku melototinya, tidak terlalu marah, tapi ingin saja melakukannya. Dia mengabaikan emosiku yang sesaat.
“Acara pertama kita malam ini adalah main kartu!”
“Main kartu?”
“Ya. Main kartu, duduklah di sini.” Ajaknya.
Seharusnya itu kata-kataku.
Kami berdua duduk berhadapan di atas kasur. Vicky membagi kartunya.
“Quinzha!” Lea memanggilku.
Dia datang dengan membawa apel dan jeruk yang sudah dikupas. “Buah-buahan sangat bagus untuk kulit.” Kata Lea, dia tidak berhenti tersenyum.
“Terimakasih tante!” Ucap Vicky.
“Ah, tidak perlu sungkan-sungkan. Lakukan saja apa yang kalian suka. Oke? Tante ada di ruang bawah, kalau ada apa-apa panggil saja tante!” Kata Lea, dia keluar.
Setelah itu Vicky menjelaskan cara bermain kartu padaku. Lalu kami bermain kartu sekitar satu jam. Satu kali pun aku tidak pernah menang, Vicky berteriak kegirangan setiap kali dia menang. Meskipun kesal karena dia tidak mengalah sedikit pun kepada seorang pemula, tapi, kedatangannya malam ini membuatku senang meskipun aku tidak tahu cara mengekspresikannya.
“Aku lelah, Leva.” Kata Vicky sambil menguap.
“Aku juga.” Kataku.
__ADS_1
“Kalau begitu ayo kita menonton film.” Ajaknya.
“Film?”
“Ya. Setiap acara menginap, dua sahabat harus menonton film horror!” Katanya sambil menyalakan kembali laptopku dan mengeluarkan flasdisk dari dalam tasnya.
“Apa kau takut?” Katanya penuh percaya diri.
Aku menggeleng. Seharusnya kata-kata takut itu di tujukan padanya, sebelumnya dia menerima penghargaan sebagai pelanggan yang paling penakut, kan?
“Aku mulai ya.” Kata Vicky.
Kami berdua menontonnya sambil berbaring di atas kasur, menyelimuti diri kami dengan selimut. Semua itu adalah idenya Vicky, sebelumnya aku tidak pernah menonton sambil berbaring. Sekalipun, tidak pernah.
Kami mematikan lampu, suasana horror di kamarku sedikit terasa. Sesekali Vicky berteriak, kemudian tertawa, kemudian berteriak lagi.
Setelah filmnya selesai kami berdua menyalakan kembali lampunya. Kemudian kami sama-sama berbaring untuk tidur.
“Leva!” Kata Vicky kemudian. Kukira dia sudah tidur.
“Ya?”
“Sebenarnya, masih ada acara terakhir yang sudah aku rencanakan …”
Dia masih ingin bermain? Ini sudah tengah malam.
“Curhat antara perempuan.” Katanya pelan.
“Curhat? Apa… itu?”
Normal, kan, jika aku tidak tahu?
“Curahan hati! Kau mengeluarkan semua isi hatimu pada temanmu.”
“Mengeluarkan isi hati―”
Bukankah itu sama saja dengan bunuh diri?
“Baiklah, aku duluan.” Kata Vicky.
Dia serius?
“Vicky …”
“Ya? Kenapa, Leva?”
“Vicky ... jangan lakukan, kau akan mati!” Cegahku. Ini serius, apa menginap bersama teman selalu seberbahaya ini?
Dan secara mengejutkan, pengakuan itu keluar.
“Kau orang pertama yang kuberitahu. Sebagai temanku … yang pertama!”
Orang pertama dan teman pertama? Terdengar seperti sebuah kebohongan besar.
“Sudah malam, ayo kita tidur.” Ajaknya.
Dia mengakhiri pembicaraan secara sepihak, dengan kalimat yang kuanggap belum lengkap? Seharusnya ada penjelasan untuk berbagai macam pernyataan yang baru saja dia lontarkan, kan? Siapa yang dia sukai? Kenapa aku jadi yang pertama?
Sekarang, kenapa dia malah menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
“Ya!” Kataku. Juga, kenapa aku mengatakan ya?
“Selamat malam, Leva!” Ucapnya lirih.
***
Vicky menyapaku. Dia membuka jendela kamar, membiarkan sinar matahari masuk ke dalam. Dia juga melakukan hal yang tidak perlu, menarik selimutku.
“Leva, cepat bangun. Sinar mentari pagi sangat bagus untuk kesehatan.”
“Aku masih ingin tidur.”
“Ini sudah jam 6.03, Leva!”
Aku menatapnya, makanya aku mengatakan aku ingin tidur.
“Cepatlah ganti pakaianmu. Kita akan lari pagi, bersama.”
“Lari pagi?”
Masalahnya, aku tidak pernah melakukannya dan tidak ingin melakukannya. Tapi menarik tanganku hingga aku hampir terjatuh ke lantai. Dia mencari pakaianku di dalam lemari, dan wooow, ini benar-benar sudah seperti rumahnya, dia merasa seperti sudah sangat sangat sangat lama di sini. Padahal, baru tadi malam.
“Ini dia!” Katanya. Dia mengeluarkan gaun yang kupakai saat ulang tahunku tahun lalu, lalunya lagi dari tahun lalu. Entah itu tahun ke berapa aku sungguh tidak ingat, yang aku ingat aku pernah memakainya saat aku ulang tahun.
“Leva. Pakailah ini.”
“Kenapa? Aku sedang tidak ulang tahun.”
__ADS_1
“Kau tidak harus ulang tahun untuk bisa memakainya.”
“Lea mengatakan itu dipakai saat ulang tahun.”
“Sudah cepatlah ganti.” Dia menarikku.
“Tidak mau!”
“Kalau begitu, aku saja yang mengganti―”
“Baiklah!”
Mengerikan jika Vicky menggantikanku pakaian. Mengingat dia sangat terobsesi dengan
“tubuh perempuan”.
Beberapa saat kemudian aku sudah mengganti pakaianku. Memakai gaun putih yang seharusnya di pakai saat aku ulang tahun saja, untuk olah raga. Malunya. Kuharap, semua orang tertidur hari ini sehingga tidak ada satu pun yang berkeliaran di luar rumah, jadi, mereka tidak akan melihatku.
Tapi tunggu, sejak kapan aku jadi peduli dengan pandangan orang-orang?
Hal-hal yang orang lain anggap normal mulai terjadi padaku, itu adalah keanehan bagiku. Juga bagi orang lain jika, aku yang sedang mereka nilai. Parahnya, aku tidak menyadari.
***
Setelah tiga puluh menit, aku dan Vicky kembali ke rumah, Lea menunggu kami.
Mengenai lari pagi, aku berterimakasih pada Tuhan karena itu tidak benar-benar terjadi. Vicky hanya mengajakku berjalan santai mengelilingi komplek. Juga posisi kami terbalik, bukankah seharusnya aku yang mengajak Vicky keliling komplek, karena akulah yang tinggal di sini? Meskipun jika itu yang terjadi, kami pasti tidak akan menemukan jalan pulang kerumah. Ini pertama kalinya aku mengelilingi komplek perumahanku dan, ternyata komplekku lebih luas dari yang ada di pikiranku, sepi pula, kami tidak menemukan seorang pun saat penjelajahan kami pagi ini kecuali nenek-nenek yang menyiram bunga di depan rumahnya.
“Vicky, di mana kau tinggal?” Tanya Lea saat kami semua sarapan bersama.
“Di Bukit Melati, cukup jauh dari sini.” Jawab Vicky sambil mengunyah makanannya.
“Aku punya banyak teman di sana.” Kata Qhaza.
“Aku punya mantan pacar di sana.” Kata Qarima. Ada apa dengan mereka berdua?
“Kakak, kau tidak pernah pacaran!” Bantah Qhaza sambil tersenyum psico.
Qarima menatapannya seolah-olah ingin segera memakan Qhaza. Suasana sedikit tegang di antara mereka berdua mereda ketika terdengar suara bel berbunyi.
Ting! Ting! Ting!
“Ada yang datang.” Ucap Qhaza.
Qarima bergegas membukakan pintu. Sesaat kemudian Gin nongol di belakang Qarima. Melihat Gin, Vicky tersedak.
“Kau butuh air?” Tanya ayah.
“Saya … baik-baik saja Om.” Katanya.
“Aku di sini untuk bertemu dengan Qarima!” Kata Gin.
Tidak ada yang bertanya! Lagi pula, jika ingin bertemu dengan Qarima, kenapa tatapannya mengarah padaku?
“Yah. Kami berdua memang ada sedikit urusan.” Jelas Qarima.
Kenapa mereka memberi penjelasan yang tidak kami minta?
“Duduklah.” Kata ayah, dia menunjuk kursi kosong untuk Gin. Gin tanpa basa basi langsung makan bersama kami, apa ada yang mempersilahkan dia untuk makan? Seingatku, ayah hanya mengatakan ‘duduklah’ bukan ‘makanlah’.
Karena ruang makan kini penuh dan sangat berisik, Vicky mengajakku ke kamar‒ bersama Qhaza, serta Ramona dan Marlyn yang muncul beberapa menit setelah Gin, menyusul Tiwa 30 detik kemudian. Dan, sebelum sempat ke kamar, seseorang lagi datang.
“El.” Sapa ayah dan Lea bersamaan.
Mereka mengenalnya?
“Selamat pagi, tante dan om. Kak Qarima dan kak Leva juga. Kak yang wajahnya cantik (yang dia maksud adalah Vicky), kak Gin dan Qhaza!” Kata El ramah.
“El, kau sudah lama tidak ke sini.” Komentar ayah. Memangnya dia pernah ke sini?
“Itu karena putra om tidak mengijinkan saya ke sini.” El memperlihatkan wajah imut seperti biasanya, dalam keadaan apapun dia selalu tersenyum.
“Qhaza, aku di sini untuk mengajakmu―”
“Aku membuat janji dengan kak Leva dan kak Vicky untuk bermain kartu bersama mereka, setengah hari.” Potong Qhaza cepat. Itulah sebabnya, saat ini kami semua bermain kartu di kamarku. Aneh.
Karena semuanya ada di sini, jadi, sekalian saja, kuharap Fairel juga di sini. Dan ternyata benar, berbunyi! Belnya.
Aku keluar dari kamar dan berlari membukakan pintu.
Tukang pos!
Gubrak! Kututup kembali pintu. Ayah dan Lea bingung. Untuk pertama kalinya, aku mau membuka pintu untuk orang lain, meskipun setelahnya aku tutup kembali. Kecewa. Entah kenapa.
Agenda selanjutnya, setelah main kartu, kami keluar ke halaman rumah dan bermain basket. Ramona dan Marlyn satu tim denganku, sisanya Vicky, Qhaza dan El menjadi tim yang ditantang oleh Ramona. Dia menantang seorang kapten basket dengan sangat percaya diri‒yang membuat kami kalah telak, tidak satu pun bola yang berhasil kami masukan ke dalam ring.
Kami harus menyiapkan makan malam untuk semua orang di rumah.
__ADS_1
Untuk pertama kalinya, aku melakukannya.
Di balik penampilannya yang imagination, ternyata Marlyn adalah juru masak yang handal, berbeda dengan Ramona. Dia mengiris jarinya ketika mengiris bawang, bukankah sudah kuingatkan untuk berhati-hati? Dasar.