
Karena terus berbaring bersama Lena diatas ranjang, perlahan kantuk mulai menyerang Erlan hingga akhirnya tanpa sadar pria itu memejamkan kedua matanya tertidur begitu pulas dengan kedua tangan yang masih mendekap tubuh ramping Lena.
Lena menatap wajah Erlan yang tetap terlihat tampan dan mempesona meski sedang terlelap. Sejenak Lena merasa tidak pantas berada di samping pria tampan itu. Karena selain tampan, Erlan juga mempunyai hati dan pemikiran yang begitu sangat dewasa. Jelas sangat berbeda dengan Alex yang sangat egois.
Lena berdecak pelan. Tidak seharusnya dia membanding bandingkan Alex dengan Erlan. Karena mereka berdua jelas sangat berbeda dari segala hal. Alex dan Erlan bagaikan langit dan bumi.
Pelan pelan Lena mengangkat tangannya kemudian mendaratkan dengan lembut di pipi tirus Erlan. Lena tersenyum merasakan halusnya kulit wajah Erlan di tangannya.
“Tuhan.. Aku tidak tau jika orang yang dulu aku tolong adalah dia.. Aku juga tidak tau jika selama ini dia selalu ada di sekitarku. Dia bahkan tau segala hal tentang aku..” Gumam Lena terus menatap wajah tampan suaminya.
Lena kemudian sedikit mendekatkan wajahnya pada wajah tampan Erlan.
Cup
Satu kecupan singkat Lena daratkan di pipi Erlan. Lena yakin pilihannya hidup bersama dengan Erlan sudah benar. Lena juga berjanji pada dirinya sendiri akan menjaga hati dan perasaan Erlan.
Tanpa Lena ketahui ternyata Erlan sudah terbangun sejak dirinya membelai lembut pipi tirus Erlan. Namun Erlan tetap memejamkan kedua matanya pura pura tidur dengan pulas. Erlan pun mendengar dengan jelas apa yang Lena katakan hingga akhirnya satu kecupan singkat dan lembut Erlan dapatkan dari Lena.
-----------
Di apartemen Alex, Sherin beberapa kali menghela napas menatap Alex yang sedang menikmati sarapan paginya. Sherin benar benar penasaran apakah Alex tau dirinya melihat apa yang Alex lakukan semalam dengan Melisa. Tapi Sherin sendiri merasa sangat yakin jika Alex melihatnya semalam. Apa lagi Alex juga sempat meliriknya.
“Alex.. Ada yang mau aku bicarakan sama kamu.” Ujar Sherin membuat Alex meliriknya sekilas.
__ADS_1
“Ngomong aja.” Kata Alex santai.
Sherin menarik napas dalam dalam kemudian menghembuskannya perlahan.
“Semalam aku melihat apa yang kamu dan Melisa lakukan di kamar kita.”
“Lalu?” Tanya Alex dengan cepat.
Sherin terkejut. Alex sama sekali tidak terlihat merasa bersalah sedikitpun. Alex bahkan menyahuti apa yang Sherin katakan dengan pertanyaan santai seolah semalam tidak terjadi apa apa.
“Aku ini istri kamu Alex. Kamu tidak seharusnya mengajak perempuan lain pulang dan melakukan apa yang tidak seharusnya di kamar kita.” Nada bicara Sherin mulai meninggi karena merasa emosi melihat respon santai Alex.
Alex berhenti mengunyah makanan dalam mulutnya mendengarnya. Pria itu menoleh dan menatap jengkel pada Sherin.
“Sherin cukup.” Sela Alex marah serta tegas.
“Aku sudah bilang sama kamu untuk tidak mencampuri urusanku bukan? Kamu mau aku ceraikan kamu sekarang juga hah?!” Bentak Alex membuat kedua mata Sherin membulat dengan sempurna.
“Aku paling tidak suka di larang larang. Dan aku paling tidak suka dengan perempuan bawel dan tidak tau seperti kamu !!” Lanjut Alex.
Kepalang emosi, Alex pun membanting sendok dan garpu yang di pegangnya membuat bunyi berdentang keras di ruangan makan yang sunyi itu.
Sherin terjengit kaget. Detik berikutnya air mata langsung berlomba lomba menetes membasahi kedua pipinya. Sherin tidak menduga Alex akan berbalik marah padanya bahkan sampai membanting garpu dan sendok yang di pegangnya.
__ADS_1
“Bikin selera makan hilang aja !!” Alex bangkit dari duduknya kemudian berlalu begitu saja dari meja makan meninggalkan Sherin yang menangis terisak karena bentakannya.
Hari Alex yang semula terasa damai berubah seketika menjadi hari yang menyebalkan karena Sherin. Pria itu memang sengaja melakukan itu agar Sherin sadar bahwa Alex sedikitpun tidak mempunyai rasa spesial padanya. Alex juga ingin Sherin merasa sangat terluka hingga akhirnya menyerah dan memilih untuk mengakhiri pernikahan mereka.
Alex keluar dari apartemen tanpa sedikitpun perduli pada Sherin yang menangis terisak. Bahkan bibi yang sedang berada di dapur langsung berlari menghampiri Sherin dan menenangkannya. Apa lagi bibi juga mendengar suara lantang Alex saat membentak Sherin di sertai dengan bantingan garpu dan sendok.
“Sabar ya nyonya...” Ujar bibi sambil mengusap usap pelan punggung Sherin yang bergetar.
“Sakit bi.. Sakit sekali hati ini...” Sherin memukul mukul dadanya yang terasa sangat sesak juga ngilu akibat dari bentakan Alex. Padahal Sherin pikir Alex akan meminta maaf padanya atas apa yang sudah dia lakukan dengan Melisa semalam di kamar.
Bibi hanya bisa diam sambil terus mencoba menenangkan Sherin dengan mengusap usap lembut punggung Sherin. Bibi tau bagaimana sakitnya di khianati oleh orang yang di cintai. Apa lagi jika sampai mengalami apa yang Sherin rasakan, yaitu menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri Alex sedang berhubungan begitu panas dengan seorang wanita di kamar mereka.
“Memangnya apa kurangnya saya bi? Saya ini sedang hamil.. Saya sedang hamil anaknya Alex.. Tapi kenapa Alex begitu kejam bahkan sedikitpun tidak bisa menghargai saya sebagai istrinya? Apa salah saya mencintai Alex bi? Apa salah saya menikah dengan Alex?” Rentetan pertanyaan keluar dari bibir Sherin. Wanita itu merasa kesal, juga sedih. Cintanya sudah begitu besar pada Alex. Sherin bahkan rela menjadi budak nafsu Alex berharap pria itu akan benar benar melihatnya. Lebih parahnya lagi Sherin sampai nekat menusuk Lena dari belakang yaitu dengan sering bercinta dengan Alex di belakang Lena.
“Sabar nyonya... Saya tau ini tidak mudah. Tapi nyonya harus yakin.. Tuhan selalu menyertai orang orang yang sabar.” Kata bibi pelan.
Merasa tidak kuat lagi dengan beban hatinya, Sherin berhambur memeluk bibi erat. Wanita itu menangis sejadi jadinya di dada asisten rumah tangganya itu. Sherin tidak tau harus mengadu kemana lagi selain pada bibi. Karena memang tidak ada seorang pun yang tau apa yang Sherin alami selain bibi.
“Sakit bi.. Sakit..” Sherin semakin mengeratkan lingkaran tangannya pada perut bibi.
Bibi yang di peluk sedemikian eratnya oleh Sherin sesaat terdiam. Wanita tua itu tidak tau harus bagaimana. Pelukan tiba tiba Sherin benar benar membuatnya terkejut. Apa lagi Sherin adalah menantu dari majikannya.
Karena isak tangis dan raungan Sherin bibi pun merasa sangat iba. Pelan pelan bibi membalas pelukan erat Sherin. Wanita tua itu mencoba memberikan ketengangan pada Sherin lewat dekapan hangatnya berharap Sherin tau bahwa Sherin tidak sendiri.
__ADS_1
“Ya Tuhan.. Kenapa tuan muda begitu sangat kejam pada nyonya Sherin..” Batin bibi merasa pilu.