
Saat mobil yang membawa Lena dan si mbok sampai di teras rumah, Lena pun segera turun tanpa menunggu body guard membukakan pintu mobil untuknya. Senyuman lebar di bibir Lena mengembang ketika mendapati mobil mewah Erlan yang sudah terparkir tepat di samping mobil yang mengantarnya dengan si mbok ke pasar. Dengan sangat antusias Lena pun berlari masuk ke dalam rumah dengan buah sawo yang dia bawa sendiri.
Lena merasa sangat bahagia begitu tau Erlan sudah berada di rumah siang ini.
Lena terus berlari mencari keberadaan suaminya. Tempat yang pertama kali di tujunya adalah kamar mereka. Lena berpikir mungkin Erlan sedang berada disana. Namun begitu sampai di kamar, Lena sama sekali tidak mendapati siapapun disana.
“Dia dimana?” Gumam Lena bertanya tanya.
Lena kembali keluar kamar dengan sekilo buah sawo yang tetap di tentengnya. Pandangan nya menyapu ke seluruh ruangan mencari cari sosok tampan suaminya.
“Kamu mencari ku sayang?”
Suara Erlan membuat Lena menoleh. Wanita itu tersenyum menatap Erlan yang berada tidak jauh darinya. Dengan perasaan bahagia, Lena mendekat pada Erlan dan langsung berhambur memeluk tubuh kekar Erlan yang tentu menyambutnya dengan senang hati.
Erlan tersenyum di balik punggung istrinya. Pria itu mengecup puncak kepala Lena yang bersandar dengan nyaman di dada bidang nya.
“Kamu darimana tadi hem?” Tanya Erlan dengan sangat lembut.
Lena langsung melepaskan diri dari pelukan Erlan. Dia mendongak menatap Erlan yang tersenyum dengan kepala sedikit menunduk menatapnya.
“Maaf, aku lupa minta izin sama kamu. Aku tadi ikut si mbok ke pasar. Aku merasa bosan sendirian di rumah makannya aku meminta ikut pada si mbok.” Jawab Lena menatap Erlan polos.
Erlan tersenyum geli. Wajah polos Lena selalu membuatnya merasa gemas dan tidak bosan untuk menatapnya.
“Ya sayang..” Lirih Erlan membelai lembut pipi Lena yang semakin terlihat chuby.
“Ah ya Erlan. Lihat apa yang aku beli tadi di pasar.”
Dengan antusias Lena menunjukan sekilo buah sawo yang di bawanya. Dia mengangkat nya tinggi memperlihatkan buah yang dia sukai pada Erlan.
__ADS_1
“Sawo?” Tanya Erlan mengeryit. Buah itu adalah buah yang paling tidak bisa Erlan makan.
“Ya.. Ini buah sawo. Aku suka sama buah sawo. Bagaimana kalau kita makan sama sama?” Senyum lebar Lena mengajak Erlan untuk sama sama menikmati buah sawo yang di belinya di pasar tadi bersama si mbok.
Erlan menghela napas pelan. Pria itu tidak ingin mengecewakan Lena, tapi Erlan juga tidak bisa memakan buah yang bisa membuatnya mengalami batuk.
“Eum.. sayang maaf banget. Aku nggak bisa makan buah sawo.”
Senyuman lebar di bibir Lena sirna saat itu juga begitu mendengar apa yang Erlan katakan. Padahal sepanjang perjalanan pulang tadi Lena sudah membayangkan akan memakan buah yang di belinya di pasar itu bersama Erlan. Tapi pada kenyataan nya Erlan justru mengatakan tidak bisa memakan buah tersebut.
“Kenapa?” Tanya Lena menatap Erlan sendu.
Erlan mengukir senyuman manis di bibirnya. Pria itu benar benar tidak bermaksud membuat istri tercintanya kecewa. Tapi Erlan memang tidak bisa mengkonsumsi buah yang di beli oleh istrinya di pasar itu.
“Jadi sebenarnya aku nggak suka karena teksturnya yang benyek sayang. Aku juga akan batuk jika memakan nya.” Ujar Erlan menjelaskan.
Lena menghela napas kasar. Jika memang sudah seperti Lena tidak bisa memaksa.
“Memangnya nggak papa kalau kamu nggak ke kantor lagi?” Tanya Lena dengan wajah sendu menatap Erlan.
“Tentu saja. Aku pemiliknya sayang. Jadi aku bisa bebas melakukan apapun selama itu tidak merugikan karyawan karyawan aku.” Jawab Erlan yakin.
Mendengar itu senyum Lena kembali mengembang. Lena sangat menghargai perhatian dan kasih sayang yang selalu Erlan curahkan padanya. Karena itu juga lah yang selalu membuat Lena merasa di istimewakan.
“Ya sudah kalau begitu. Aku akan memakan buah nya setelah makan siang.”
Erlan hanya menganggukkan kepalanya saja. Pria itu kemudian meraih tangan Lena dan menggenggamnya lembut.
“Sebaiknya kita makan siang sekarang sayang. Aku nggak mau kalau sampai kamu telat makan. Ayoo..” Ajak Erlan dengan penuh perhatian.
__ADS_1
Lena hanya menganggukkan kepalanya. Dia menurut saja saat Erlan menggandengnya melangkah menuju tangga. Mereka berdua melangkah dengan tangan saling bertaut menuruni satu persatu anak tangga menuju lantai satu rumah mewah itu.
“Gimana perutnya sayang? Masih terasa nyeri?” Tanya Erlan sembari melangkahkan kakinya. Dia menatap penuh perhatian pada Lena yang melangkah di sampingnya.
“Sudah enggak kok.” Jawab Lena tersenyum manis.
“Syukurlah. Lain kali kalau datang bulan langsung beli saja pereda rasa nyerinya ya sayang. Kamu bisa suruh si mbok atau siapa saja.”
Lena sedikit memonyongkan bibirnya dengan ekspresi seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu.
“Kalau misalnya aku maunya di beliin nya sama kamu langsung gimana?” Tanya Lena membuat langkah Erlan langsung terhenti.
Erlan mengeryit. Kali ini Lena begitu terang terangan bersikap manja padanya.
“Jadi kamu maunya aku sendiri yang secara langsung membelikan pereda rasa nyeri datang bulan kamu itu ke depan nya?” Tanya Erlan kembali memastikan.
Lena menganggukkan kepala dengan senyuman manis yang menghiasi bibirnya.
Erlan yang melihat senyuman manis istrinya tertawa pelan. Pria itu mengangkat tangan Lena yang di genggamnya kemudian mencium telapak tangan Lena singkat.
“Apapun akan aku lakukan untuk kamu sayang. Asal kamu bahagia di samping aku.” Katanya romantis.
Lena tersipu mendengarnya. Sejauh ini Erlan memang selalu membuktikan ucapan nya. Pria itu bukan hanya mengucap janji belaka, tapi selalu berusaha menepatinya pada Lena.
“Ya udah yuk.” Ajak Erlan lagi yang kembali mendapat anggukan kepala sebagai tanda setuju dari Lena.
Mereka kembali melangkah menuruni anak tangga agar segera sampai di meja makan dimana hidangan makan siang sudah tertata rapi disana.
Sebelum duduk di kursinya, Lena meminta tolong pada salah satu pelayan untuk mencuci buah sawo yang di bawanya. Lena juga meminta agar di bawakan beberapa buah saja untuk cuci mulutnya setelah makan siang dengan Erlan nanti.
__ADS_1
Erlan dan Lena makan siang berdua dengan di selingi obrolan manis dimana Erlan selalu tersenyum dan memperhatikan Lena penuh saat Lena sedang berbicara padanya. Sikap Erlan itu membuat Lena semakin hari semakin merasa percaya pada cinta yang Erlan punya untuknya. Apa lagi sekarang juga Lena merasa seperti sudah bergantung pada Erlan. Seperti tadi misalnya, Lena merasa jenuh saat Erlan tidak ada di sampingnya.