
“Usia kandungan nyonya Harrison baru memasuki usia 7 Minggu tuan. Untuk sekarang mungkin nyonya Harrison hanya harus menjaga kondisi dan pola makan yang teratur. Saya akan tuliskan resep vitamin yang harus anda tebus di apotek.” Senyum dokter paruh baya yang memang sudah di kenal oleh Erlan sebelumnya. Ya, Erlan memang sudah mencari tahu siapa dan bagaimana dokter yang akan menangani istrinya.
“Baik dokter, terimakasih.” Angguk Erlan dengan helaan napas leganya. Erlan merasa sangat senang mendengar istrinya yang baik baik saja. Apa lagi Lena juga tidak pernah mengeluhkan apapun meski baru kemarin menyadari tentang kehamilan nya.
“Sama sama tuan.” Senyum dokter itu kemudian segera menuliskan resep vitamin yang dia maksud.
Lena hanya diam saja. Dia sangat bersyukur karena janin dalam kandungan nya tumbuh dengan baik meski selama kehadiran nya 3 Minggu ini Lena baru menyadarinya.
Setelah mendapatkan resep vitamin nya, Erlan pun segera menebusnya ke apotek. Setelah itu Erlan mengajak Lena untuk mencari makan siang karena memang saat itu sudah memasuki waktu makan siang.
“Kak Lena...”
Suara Reyhan membuat Lena yang hendak membuka pintu mobil langsung menoleh. Lena mengernyit ketika mendapati Reyhan yang tersenyum dan melangkah menghampirinya.
“Reyhan..” Gumam Lena pelan.
Ya, Lena memang mengenal Reyhan begitu juga sebaliknya. Hubungan persahabatan nya yang begitu kental dengan Sherin membuat Lena mengenal dengan baik keluarga Sherin.
“Hay kak.. Apa kabar?” Sapa Reyhan dengan senyuman manis di bibirnya sembari menanyakan kabar Lena yang memang sudah lama tidak Reyhan dengar. Sebenarnya Reyhan sendiri sudah tau apa yang terjadi pada hubungan persahabatan kakaknya dan Lena, namun dia berpura pura tidak tau apa apa karena menurutnya apa yang terjadi antara Lena dan Sherin kakaknya tidak ada sangkut pautnya dengan nya. Reyhan hanya ingin tetap berhubungan baik dengan orang baik seperti Lena.
Erlan yang melihat itu merasa penasaran. Dia yang sebelumnya sudah membuka pintu mobil dan hendak masuk ke dalamnya pun kembali menutupnya dan memilih untuk mendekat pada Lena yang sedang berhadapan dengan Reyhan.
“Oh hy Reyhan. Kabar baik. Kamu sendiri bagaimana kabarnya?” Balas Lena yang kemudian balik menanyakan kabar Reyhan.
“Seperti yang kak Lena lihat. Kabarku juga sangat baik.”
“Syukurlah kalau begitu.” Angguk Lena dengan senyuman yang menghiasi bibirnya. Sherin mungkin memang sudah bukan lagi sahabat Lena, namun itu bukan berarti Lena juga menjauhi keluarga Sherin yang tidak punya salah padanya.
“Ah ya Reyhan. Kenalkan ini Erlan suamiku.” Lena kemudian memperkenalkan Erlan yang berdiri di sampingnya.
__ADS_1
Reyhan yang memang sudah tau siapa Erlan langsung mengulurkan tangan kanan nya yang tentu langsung di jabat oleh Erlan.
“Saya Reyhan tuan. Adik dari teman nya kak Lena.” Ujar Reyhan memperkenalkan diri pada Reyhan.
“Ya.. Saya Erlan.” Senyum Erlan mengangguk.
Setelah saling mengenalkan diri, keduanya pun melepas jabatan tangan nya. Lena tersenyum melihat nya. Lena merasa senang karena Erlan tidak berprasangka buruk padanya dengan pertemuan nya dengan Reyhan.
“Rey, kamu ngapain disini? Om sama Tante baik baik saja kan?” Tanya Lena yang penasaran kenapa bisa bertemu dengan Reyhan di rumah sakit tersebut.
“Ya kak, ayah sama bunda baik baik saja. Aku kesini untuk nemenin kak Sherin. Kebetulan kak Sherin sedang dalam keadaan yang tidak baik baik saja setelah melahirkan.” Jawab Reyhan yang memilih untuk tidak membeberkan terlalu jauh tentang keadaan sang kakak pada Lena.
“Ya Tuhan.. Aku ikut prihatin ya. Semoga Sherin lekas sembuh.” Kata Lena merasa iba.
“Ya kak, terimakasih.” Angguk Reyhan dengan senyuman.
“Ya sudah kalau begitu, kami duluan ya Reyhan. Salam untuk om sama tante.”
Lena kemudian masuk ke dalam mobil dengan Erlan yang membukakan pintu. Pria itu kemudian tersenyum pada Reyhan yang balas tersenyum juga.
“Mari Reyhan.” Katanya.
“Ya tuan. Hati hati..” Balas Reyhan.
Erlan kemudian masuk ke dalam mobil mewah nya. Dia menghidupkan mesin mobilnya dan melaju dengan perlahan dari parkiran depan rumah sakit.
Reyhan yang masih berdiri di tempat nya menghela napas pelan. Sampai sekarang Reyhan tidak tau penyebab kakaknya begitu tega menusuk Lena dari belakang. Padahal setahu Reyhan keduanya menjalin hubungan persahabatan cukup lama. Mereka berdua bahkan sudah seperti saudara yang hampir selalu bersama kemanapun mereka pergi. Apa lagi mengingat Lena yang begitu baik meski memang status nya tidak sepadan dengan keluarganya.
“Jadi Reyhan itu adiknya Sherin?” Tanya Erlan sambil mengemudikan mobilnya.
__ADS_1
“Iya..” Angguk Lena yang entah kenapa tiba tiba kepikiran dengan keadaan Sherin sekarang. Lena tidak tau menahu tentang kabar Sherin yang kata Reyhan baru saja melahirkan.
“Kamu nggak papa sayang?” Tanya Erlan yang bisa menebak istrinya pasti sedang memikirkan sesuatu.
Lena menghela napas kasar. Meski Sherin sudah mengkhianati nya, namun bagaimanapun juga mereka pernah menjalin hubungan persahabatan yang begitu erat. Sherin juga sering membantunya dulu saat Lena berada dalam kesusahan.
“Aku hanya sedikit kepikiran dengan keadaan Sherin.”
Erlan tersenyum. Istrinya memang wanita yang sangat baik dan tulus. Bahkan meskipun sudah di khianati namun Lena masih memikirkan Sherin begitu tau keadaan Sherin sedang tidak baik baik saja.
“Kamu mau menjenguknya hem?” Tanya Erlan yang membuat Lena langsung menoleh padanya.
“Memangnya boleh?” Tanya balik Lena yang membuat Erlan tertawa merasa lucu dengan pertanyaan polos tersebut.
“Kenapa enggak? Tentu saja boleh sayang. Kita cari waktu yang tepat yah. Tapi kamu harus janji sama aku, kamu nggak boleh terlalu mikirin keadaan Sherin. Kamu do'akan saja yang terbaik untuk Sherin. Oke?”
Lena tersenyum senang. Dia mengangguk dengan sangat antusias. Erlan selalu bisa mengerti dirinya. Pria itu begitu peka meski Lena tidak menunjukan gerak gerik secara di sengaja.
“Ya sudah, jadi kamu mau makan apa sekarang sayang?” Tanya Erlan kemudian. Pria itu sesekali menoleh menatap Lena karena sedang fokus dengan kemudinya.
Lena tidak langsung menjawab. Dia tampak berpikir sejenak tentang menu makanan apa yang ingin dia makan siang ini.
“Bagaimana kalau kita makan soto? Sepertinya enak makan yang berkuah dan pedas siang siang terik begini.”
Erlan mengernyit. Pria itu diam sesaat sebelum akhirnya mengangguk menyetujui.
“Oke, kita makan soto.” Senyum Erlan.
Erlan kemudian menambah kecepatan laju mobilnya menuju tempat makan yang lengkap dengan berbagai menu makanan khas dari berbagai daerah. Erlan yakin di tempat makan itu adalah menu soto yang sedang di ingin kan oleh istrinya untuk menu makan siang mereka berdua siang ini.
__ADS_1
Tidak lama merekapun sampai. Lena segera memesan soto yang di inginkan nya. Sementara Erlan, dia mengikuti saja apa yang istrinya mau. Pria itu juga memakan soto seperti istrinya.