SAYANG

SAYANG
Episode 4


__ADS_3

Kejadian pagi tadi belum bisa kulupakan, meskipun wajah mereka sudah mulai samar-samar di ingatanku. Hujan yang mengguyur kota sejak semalam masih belum reda dan, kini berubah menjadi gerimis. Orang-orang menyebut ini romantis, karena hujan membuat kita merasakan hal yang berbeda─sesuatu yang lebih mengena ke dalam hati. Pak Abdul masih belum datang, aku dan enam orang lainnya menunggu di dalam kelas, kami tidak menyapa satu sama lain. Tapi, kurasa hanya aku yang tidak menyapa mereka dan mereka tidak menyapaku karena aku tidak menyapa mereka. Dari jauh di koridor arah utara ku lihat Tiwa melambaikan tangannya kepadaku, dia berjalan bersama pak Abdul sambil berbincang-bincang. Mereka memasuki ruangan. Dan―


“Sebenarnya aku sendiri yang meminta kepada kepala sekolah untuk mengajar di kelas tambahan. Jadi kita akan terus bertemu sampai semester depan!” Kata Tiwa sambil tersenyum ramah. Mencurigakan.


“Ibu Tiwa juga menjadi wakil wali kelas sampai semester depan. Jadi kalian akan lebih sering lagi bertemu dengannya,” tambah pak Abdul. Aku heran, ini pertama kalinya ada wali kelas yang memiliki wakil.


“Kurasa,” lanjut pak Abdul, “Ketua kelas juga dibutuhkan.”


Ketua kelas? Dia sungguh berharap kami akan sangat lama di sini? “Baiklah, aku yang akan memilihnya!” Kata Tiwa. Ya Tuhan, kenapa orang dewasa selalu menetapkan segala sesuatu untuk orang yang belum dewasa seenaknya saja?


“Quinzha Leva!”


Aku lagi! Jika punya kesempatan aku pasti akan menghajarnya─atau paling tidak sedikit menghajarnya. “Quinzha Leva, kurasa tidak cocok jadi ketua kelas!” MENYEBALKAN. Dia sedang mempermainkanku? Kenapa tidak mengucapakan ‘kurasa tidak cocok jadi ketua kelas!’-nya terlebih dahulu? “Kalau begitu bagaimana kalau ... Fairel Athariz Calief!” Fairel!? Tiwa baru saja menyebut  Fairel!? Si penulis!


“Fairel!?” Panggil Tiwa.


“Ya?” Seseorang menjawabnya.


“Kau bersedia?”


“Kurasa, aku bisa mencobanya!” Jawab orang yang bernama Fairel. Aku melirik kearahnya, menatapnya dan hampir molototinya. Si penulis ini, dia punya wajah yang tampan. Aku tahu aku tidak mengenal banyak orang, tapi aku tahu wajah kepala sekolah tidak tampan dan masih lebih baik wajahnya ayahku meskipun ayahku dalam keadaan marah sekali pun, meskipun Gin lebih tampan dari ayah dan Gin lebih tampan dari pak Abdul, tapi Qhaza lebih tampan dari pada Gin dan, Fairel lebih tampan dari semuanya, termasuk Qhaza yang bahkan menurutku berwajah seperti malaikat. Aku cukup kagum dengan wajahnya yang terukir sempurna itu. Kalian harus tahu bahwa aku hampir tidak pernah kagum pada apa pun. Hanya beberapa kali aku pernah mengalami perasaan itu. Aku pernah kagum pada seekor kucing yang menumpahkan seluruh makanan yang dibawa oleh nenekku untuk acara ulang tahun ayahku beberapa tahun yang lalu. Aku tahu kucing itu hanya berniat memakan ikan yang tersimpan diatas rak piring, tapi karena untuk mencapai rak piring dia harus melompati beberapa makanan─dia terpeleset dan jatuh, kemudian menumpahkan seluruh makanan di atas meja. Tidak ada apapun yang tersisa kecuali lantai yang kotor yang dipenuhi makanan dan pecahan keramik. Aku juga pernah mengagumi Qhaza saat dia memutuskan untuk mogok makan selama tiga hari ketika Lea tidak membelikannya mobil─mobil mainan─dan seandainya dia terus mogok makan aku pasti akan sangat sangat kagum padanya.


“Oke, ditetapkan Fairel sebagai ketua kelas.” Suara pak Abdul menyadarkanku, “Dan Leva sejak tadi memandangimu, Fairel.” Lanjut pak Abdul sambil tersenyum ke arahku, yang lainnya tertawa kecil termasuk Fairel. Tapi aku tetap tidak  mengalihkan pandanganku darinya. Fairel  melirikku sekilas, lalu dia tersenyum. “Leva, fokus! Kurasa kau tidak berharap berada di kelas ini sampai kelas tiga, kan?” Lanjutnya, yang lainnya tertawa. Aku mendesah pelan sambil mengalihkan pandanganku, mulai dari sekarang akan banyak hal mungkin akan yang terjadi, kupikir.


\*\*\*


Aku melewati tiga jam kelas tambahan dengan perasaan gelisah, keanehan yang kurasakan hari ini, ketidaknormalan ini, rasanya seperti … entahlah! Aku tidak punya nama untuk perasaan ini. Bukan berarti ini perasaan yang buruk, aku juga tidak mengatakan ini perasaan yang baik, hanya saja belum bisa kutetapkan apakah ini baik atau buruk. Sejak tadi aku merasa jantungku berdebar tanpa henti, aneh. Aku belum pernah mengalami hal ini sebelumnya, kecuali saat aku keracunan mie instan waktu SMP.


“Tambah lagi!” Aku menyodorkan piringku pada Lea, ini piring ketiga. Pengalih perhatian. Aneh, ini sangat aneh. Aku masih memikirkan Fairel. Qarima dan Qhaza melongo menatapku, Qarima bahkan belum menyantap makanannya sesendok pun, dan, Qhaza sejak tadi hanya menggigit sendoknya.


“Pemandangan langka!” Gumamnya. Biasanya aku hanya makan beberapa sendok hingga aku merasa sedikit kenyang lalu kembali ke kamar untuk nonton anime atau baca komik. “Aku kenyang!” Kataku beranjak pergi.


“Akan aneh jika kau tidak kenyang.” Gumam Lea di belakangku. Setelah sampai di kamar, aku merebahkan diriku di atas kasur. Sial! Ternyata aku SANGAT KENYAAAAANG!!! HIKS! Aku menghabiskan waktu satu malam untuk menangis−perutku sakit. Ini pengalaman pertama, makan nasi sebanyak ini. Sakit! Tapi kurasa Fairel menghilang dari pikiranku, karena aku memang tidak bisa memikirkan hal lain kecuali bagaimana cara untuk membuat perutku kembali normal karena ini benar-benar menyiksa! Kenapa tadi aku memikirkannya, ya? Karena wajahnya yang tampan? Tapi itu semoga akan baik-baik saja karena besok aku sudah pasti akan melupakannya.


\*\*\*


Jam weker berbunyi menjengkelkan di telingaku. Aku bangun dan melemparnya jauh keluar jendela. Selamat tinggal jam pengga─ah siaaaaal. Aku merusak jam wekerku! Tidak ada harapan, dia sudah tidak bernyawa lagi. Remuk. Buru-buru aku berlari keluar rumah dan segera mengubur mayatnya supaya ayah dan Lea tidak melihatnya, jika tidak aku juga akan berakhir sama seperti jam weker. Dan ketika aku masuk kembali ke dalam rumah, secara mendadak lampu di ruang tamu menyala.


“Happy valentine ... Piiip! Piiip!”


Wooooowwwww!!! Revolusi! Apa ini? Luar biasa─luar biasa norak! Seluruh tembok ber-cat pink! Balon. Pita. Taburan kertas. Terompet. Sejak kapan mereka menyiapkannya?


“Valentine days … valentine days … valentine days …” dan Qharima menyanyikan ‘valentine days’ dengan nada datar sambil menari mengelilingi ruang tamu. “Happy valentine!” Bahkan Qhaza, dia berteriak mengagetkanku. “Valentine days … valentine days … valentine days …” sekarang Qhaza ikut bernyanyi, mereka menyanyi bersamaan dan menari dengan gerakan yang sama. Apa yang terjadi di sini?


“Levann, ayo menari bersama.” Ajak Qarima.


“Tidak mau!” Tolakku. Dia pikir siapa yang baru saja dia ajak?


“Ini menyenangkan!”


“Maaf, ada yang ingin kulakukan!” Kataku berdalih.


“Apa?”


“Muntah!” Jawabku tegas. Aku berlari menaiki tangga menuju kamarku.

__ADS_1


“Mau ke mana? Toilet ada di sebelah sana!” Qarima menunjuk ke arah toilet, “Kau tidak boleh muntah di kamar!” Lanjutnya dengan ekspresi datar. Ingin rasanya aku menghajar orang ini. Aku masuk ke dalam kamarku dan menyalakan lampu, lalu ... APA YANG TERJADI DENGAN KAMARKUUUUU!!!? Qarima! Aku pasti akan menyingkirkannya. Pasti.


“Apa yang kau lakukan dengan kamarku?” Tanyaku kesal setelah berlari kembali ke ruang tamu.


“Oh kau menyukainya? Syukurlah!”


“Kembalikan seperti semula!”


“Aku mendekorasinya tadi malam sesaat setelah kau tertidur, dengan saaaangat pelan. Sebenarnya aku ingin mengecatnya juga tapi kurasa akan kulakukan siang nanti. Lagi pula ini hari minggu, aku juga akan menambahkan―”


“Kembalikan seperti semula,” potongku.


“Apa? Kau ingin berterimakasih?”


“Tidak! Tapi kembalikan seperti semula!”


“Oh, mau ditambah dengan ice cream? Tidak perlu repot-repot, ucapan saja sudah cukup.” Dia berpikir sejenak, “Kalau begitu satu ice cream vanilla dengan taburan kelapa di atasnya dan versi jumbo!”


Aku tidak bisa mempercayai orang-orang ini. “Haaaa! Menyebalkan. Menyebalkan. Menyebalkan. menyebalkan. Menyebalkan. Menyebalkan.” Aku menghentakan kakiku di tangga dengan kesal sambil mengatakan ‘menyebalkan’ terus menerus. Dari arah dapur Lea keluar dengan memakai celemek, “Semuanya, ayo sarapan!” Teriaknya. Dia tidak peduli padaku. Qarima dan Qhaza mengikutinya, termasuk aku. Tentunya aku masih mengucapkan kata ‘menyebalkan’ tanpa berhenti bahkan setelah duduk di meja makan. Tapi setidaknya mereka tidak mengganti seluruh perabotan dengan yang berwarna pink. Tapi tetap saja─


“Kenapa rotinya berbentuk hati?” Ratapku, karena marah sudah tidak mungkin, mereka tidak peduli. Meskipun aku tidak benar-benar mengerti kenapa aku marah. Aku hanya marah, begitu saja.


“Karena ini hari valentine!” Ajaib. Mereka menjawabnya dengan serentak. Bahkan Lea dan ayah pun ikutan. Lalu mereka tersenyum dengan sangat manis, oh tidak! Menggelikan!


“Valentine masih empat hari lagi!” Kataku pelan. Mereka tersenyum lebih manis lagi. Percuma saja.


Setelah sarapan, Lea sibuk memanaskan coklat kemudian mencetaknya dengan cetakan berbentuk hati. Ayah sibuk dengan beberapa pita yang masih tersisa di atas meja, dia menggunting dan merangkainya. Cukup lihai. Sedangkan Qarima dan Qhaza, sulit menjelaskan apa yang sedang mereka lakukan. Aku sendiri, tentu saja kembali ke kamar untuk nonton anime. Ini hari yang sibuk untuk yang lainnya, jadi aku juga harus terlihat sibuk. Meskipun masih agak kesal.


“Huh!” Ucapku pelan sambil melap beberapa tetes keringat di wajahku setelah membersikan sampah yang Qarima bawa masuk di kamarku. Kulihat lagi keluar jendela, Qarima sedang sibuk menata taman di halaman rumah dibantu oleh Qhaza yang memindahkan pot-pot bunga. Dari yang Qarima jelaskan saat sarapan tadi, dia mengecat rumah sejak tadi malam di saat aku tertidur dibantu oleh ayah dan Qhaza. Sementara Lea meniup balon dan memotong kertas dan pita, entah seberapa banyak oksigen yang dia keluarkan. Kuharap dia baik-baik saja mengingat jumlah balon yang terpasang ada ratusan, setelah itu mereka sama-sama mendekorasi ruangannya sampai jam 4 pagi. Mereka mengalami malam yang sibuk di saat  aku tertidur nyenyak.


 Selesai upacara pagi di hari senin yang sibuk, aku langsung ke kelas. Dari jauh seseorang memanggil namaku dan aku melihat ke belakang. Gin. Dia berjalan tergesa-gesa menyusulku. “Syukurlah, aku berhasil menyusulmu,” katanya terengah-engah. “Mau ke kelas?” Tanyanya lagi setelah dia lebih tenang. Aku menjawab dengan anggukan. “Kalau begitu ayo jalan bersama!” Aku mengabaikannya dan terus berjalan tanpa kata menuju kelas. Sesampainya di kelas, belum ada seorang pun di sana. “Leva, bagaimana dengan rencana valentine?” Katanya kemudian setelah meletakan tasnya di atas meja, kemudian duduk di kursi di depanku, menghadap ke arahku. Perubahan sikap, akhir-akhir ini dia sering menungguku di gerbang sekolah meskipun ini pertama kalinya dia mengajakku ‘jalan bersama’ menuju kelas.


“Valentine?”


“Hmm, valentine? Kau tahu valentine, kan?” Tanyanya ragu. Aku mengangguk.


“Aku sering melihat valentine di dalam anime!” Jelasku.


“Anime?”


“Kartun, anime adalah istilah untuk kartun Jepang.”


“Oh begitu. Jadi kau ini penggemar kartunn ya?”


“Kartun adalah yang terbaik!” Jawabku mantap, Gin tertawa kecil.


“Lalu bagaimana dengan rencana valentinemu?” Tanyanya kembali.


“Tidak ada!”


“Mustahil. Gadis seusiamu pasti akan sangat bersemangat jika bicara soal valentine!” Bantahnya, aku diam saja. Dia orang yang gigih, sebenarnya gigih dan ngotot hampir tidak ada bedanya. “Benar-benar tidak ada?” Kemudian dia menjawab pertanyaannya sendiri.


“Tapi Qarima ada!”


“Qarima? Siapa dia?”

__ADS_1


“Anak ayah dan Lea!”


“Si-siapa Lea?”


“Istri ayah!”


“Oh!” Aku yakin dia pasti salah paham.“Qarima saudara tirimu?” Aku menggelengkan kepala. “Kalau begitu dia anak angkat? Atau kau yang anak angkat?” Aku juga menggelengkan kepala. “Lalu, ahm ... mungkinkah kau atau dia ... ahm ... kenapa aku jadi bingung?” Dia menggaruk-garuk kepalanya.


“Kami saudara!”


“Ya saudara tiri?” Aku menggelengkan kepala.


“LALU APA?” Dia tampak kesal.


“Saudara kandung, begitu kata ayah!”


“Haaaa? Hei kau, bicaralah dalam bahasa yang tidak akan membuat orang salah paham!” Dia terdiam sejenak, “Berarti Lea adalah ibu kandungmu?”


“Iya!”


“Kau ini aneh!”


“Aku tidak!”


“Ya. Aneh.” Aku belum pernah bertemu spesies yang ngotot mengatakanku aneh. Aku membuang muka tanda menyerah. “Lalu Qarima itu kakak atau adikmu?”


“Kakak. Begitu yang dikatakan ayah.” Jawabku.


“Oh, begitu. Tapi kenapa semuanya kata ayah?” Dia bergumam.


“Karena─”


“Dia SMA?”


“Iya!”


“Di mana?”


“Di sini!”


“Ke-kelas berapa?”


“Dua!”


“Ke-ke-kelas dua? Apa yang kau maksud Qarima Lavega yang ada di kelas unggulan?”


“Iya!”


Gin terdiam cukup lama. “Sulit dipercaya. Entah kau sedang membuat lelucon atau bersungguh-sungguh. Tapi pribadi sepertimu bukan tipe yang suka bercanda, tapi jika hal itu benar-benar kenyataan lebih sulit lagi untuk dipercaya.” Katanya pelan seolah sedang berbisik untuk dirinya sendiri. “Kuputuskan!” Katanya semangat, “Akan kubuktikan sendiri!”


“Buktikan?”


“Ya! Aku, aku akan ke rumahmu! Hahahaha!” Kali ini aku yang tidak bisa berkata-kata. Ketua kelas sungguh berbeda dengan pribadi yang aku bayangkan, meskipun aku belum pernah membayangkannya. “Percuma saja kau menolak, aku akan tetap mengikutimu sampai ke rumahmu!” Kata Gin lagi. Yah dan bahkan aku tidak berniat untuk menolak, itu hanya akan membuat energiku terbuang percuma karena aku tahu dia ngotot! Bahkan menjawab beberapa pertanyaannya sejak tadi sudah cukup membuatku lelah.  


\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2