SAYANG

SAYANG
Episode 94


__ADS_3

Erlan mengusap perut Lena dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang. Pria itu merasa sangat bodoh karena tidak menyadari sejak tadi bahwa Lena sedang menahan rasa tidak enak pada perutnya sejak di balkon tadi.


“Apa memang rasanya seperti ini setiap kamu mendapat kan tamu bulanan kamu sayang?” Tanya Erlan menatap melas pada Lena yang berbaring di atas tempat tidur dengan sesekali meringis.


“Ya.. Aku memang biasa merasakan nya. Bahkan dulu saat aku masih bekerja dulu, aku sampai cuti jika sedang mens.” Jawab Lena.


Erlan menghela napas pelan. Erlan juga pernah mendengar bahwa sebagian besar wanita akan mengalami sakit pada perutnya saat mengalami menstruasi. Dan tiba tiba Erlan berpikir mungkin rasa sakit itu juga yang membuat perubahan mood seorang wanita naik dan turun jika sedang mens.


“Tapi bulan bulan kemarin..” Lirih Erlan merasa heran karena ini adalah kali pertama Lena terlihat seperti itu.


Lena tersenyum tipis. Bulan bulan kemarin juga Lena merasakan nya. Hanya saja Lena merasa malu jika harus mengatakan nya pada Erlan. Di tambah Erlan juga jarang berada di rumah saat siang sehingga Lena bisa menenangkan diri sambil beristirahat tanpa harus memberitahu pria itu. Tapi hari ini Erlan lah yang melihatnya sendiri sehingga pria itu tau semuanya.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu membuat Erlan yang sedang mengusap lembut perut Lena terpaksa harus menjedanya sejenak.


“Sebentar sayang..” Katanya kemudian bangkit dari duduknya di ranjang. Pria itu melangkah cepat menuju pintu untuk membukanya.


Lena tersenyum menatap punggung lebar suaminya. Erlan begitu sangat memperhatikan nya sepenuh dan seluruhnya. Bahkan hanya karena Lena sedang mens dan merasakan tidak enak pada perutnya saja Erlan sampai rela mengesampingkan aktivitasnya di perusahaan. Itu membuat Lena merasa menjadi bagian penting dalam hidup seorang Erlan.


“Eum.. Sayang, aku minta tolong sama mbok buat beliin pereda nyeri saat datang bulan untuk kamu tadi. Kamu minum ya.. Siapa tau rasa nyeri itu bisa sedikit berkurang.” Ujar Erlan sambil mendekat kembali pada Lena dengan membawa se kresek putih pereda rasa nyeri saat datang bulan untuk wanita.


Lena menganggukkan kepalanya menurut saja. Dia sangat menghargai apa yang Erlan lakukan untuknya. Pria itu bahkan tidak malu menyuruh si mbok untuk membeli pereda rasa nyeri saat datang bulan. Untung saja Erlan tidak pergi sendiri dan membelinya di indomaret. Itu pasti akan membuatnya malu, atau bahkan justru membuatnya menjadi tontonan gratis oleh kasir wanita disana. Lena yakin tidak ada seorang wanita pun yang mau melewatkan pemandangan indah wajah tampan suaminya. Karena Lena sendiri mengakui bahwa Erlan memang sangat tampan bahkan nyaris sempurna.

__ADS_1


Ketika Erlan menyodorkan satu botol pereda rasa nyeri itu padanya dengan senyuman manis yang menghiasi bibirnya, tiba tiba Lena membayangkan Erlan yang juga tersenyum manis dan bersikap baik pada semua wanita. Ekspresi Lena langsung berubah dari tersenyum menjadi datar.


“Kamu selalu begitu ya sama semua perempuan. Tebar pesona dengan senyuman manis kamu itu?” Tanya Lena judes.


Erlan mengeryit bingung. Pria itu tidak tau kenapa tiba tiba istrinya bertanya seperti itu.


“Maksudnya gimana sayang?” Tanya balik Erlan tidak mengerti.


“Enggak.” Jawab Lena galak. Lena kemudian menerima sebotol pereda rasa nyeri itu dan meminumnya.


Setelah itu Lena menaruh botol kosongnya di atas nakas dan kembali berbaring diatas tempat tidur namun kali ini dengan posisi membelakangi Erlan.


Erlan yang tidak tau kenapa tiba tiba sikap istrinya berubah hanya bisa menggaruk tengkuknya bingung. Erlan tidak tau dimana letak kesalahannya sehingga tiba tiba Lena bersikap ketus dan berbaring membelakanginya. Namun Erlan kemudian berpikir bahwa mungkin sikap Lena sekarang adalah sebagian dari perubahan suasana hatinya. Dan Erlan memaklumi itu.


------------


Melisa menghela napas. Keputusannya untuk mengundurkan diri dari perusahaan Alex sudah bulat. Melisa akan menerima apapun konsekuensinya bahkan jika Alex benar benar melakukan apa yang selama ini Alex gunakan untuk mengancam Melisa.


“Masih berani juga dia kesini? Kirain sudah mengundurkan diri.” Cibir salah seorang karyawan yang adalah rekan kerja Melisa.


“Tau tuh, dasar perempuan murahan. Dia menggunakan jabatan nya untuk merayu dan mendekati pak Alex.” Timpal yang lain nya.


Melisa yang mendengar itu hanya bisa diam saja. Bukan takut atau tidak berani membela diri. Hanya saja Melisa merasa percuma jika harus membela dirinya sekarang. Tentu saja karena cap buruk atas dirinya sudah tersebar. Bahkan semua teman teman kerjanya sudah salah paham dan membencinya.

__ADS_1


Tidak mau ambil pusing dengan cibiran rekan kerjanya, Melisa pun turun dari motor metiknya. Wanita yang mengenakan celana jins hitam panjang yang di padukan dengan kemeja lengan pendek itu masuk ke dalam gedung perusahaan Alex dengan tenang. Melisa berharap Alex sedang berada di tempat sekarang.


Melisa masuk ke dalam lift tanpa menghiraukan ucapan pedas dari rekan rekan kerjanya. Dia berusaha untuk cuek dengan menulikan pendengarannya seolah olah dirinya tidak mendengar apapun. Karena hanya itu yang bisa Melisa lakukan sekarang.


Begitu sampai di depan meja kerjanya Melisa terdiam. Wanita itu menatap kursi yang biasa dia duduki. Kursi yang juga membuat Melisa merasa sangat bangga dengan pencapaian sebagai seorang sekretaris dari pemimpin di perusahaan itu. Namun di balik rasa bangga itu tersimpan juga rasa kecewa, sedih, juga tertekan karena sikap dan perlakuan Alex padanya.


“Melisa..”


Suara Alex menyadarkan Melisa dari lamunan nya. Perlahan Melisa memutar tubuhnya. Saat itulah pandangannya langsung bertemu dengan Alex. Sesaat keduanya sama sama terdiam. Melisa yang tidak tau harus bagaimana, sedang Alex yang merasa lega dan senang karena akhirnya bisa melihat Melisa lagi. Apa lagi Melisa juga terlihat cantik seperti biasanya, dan pastinya dia baik baik saja.


Alex menatap Melisa dari atas sampai bawah. Entah kenapa Alex merasa penampilan Melisa sangat manis sekarang. Padahal dulu Alex lebih suka dengan Melisa yang selalu berpenampilan sexy dan terbuka.


Melisa mengalihkan pandangan dari Alex dengan menundukan kepalanya. Dia menarik napas dalam dalam kemudian menghembuskan nya perlahan.


“Saya senang kamu bisa kembali lagi ke perusahaan, Melisa.”


Melisa tersenyum kecut mendengar apa yang Alex katakan. Tentu saja pria itu senang. Karena memang Melisa adalah mainan baginya.


“Eum.. Sepertinya lebih baik kita berbicara di dalam ruangan saya saja Melisa.” Lanjut Alex dengan senyuman di bibirnya.


Melisa menelan ludah kemudian kembali menegakkan kepalanya. Wanita itu mengangguk pelan mengiyakan ajakan Alex. Kalaupun memang Alex hendak macam macam dengan nya, Melisa akan menolak dengan tegas. Dan jika Alex mengancam, Melisa juga akan melawan dengan segala keberanian yang dia miliki. Melisa tidak lagi merasa takut dengan ancaman pria itu.


“Mari masuk..” Ajak Alex melangkah lebih dulu untuk membuka pintu ruangannya.

__ADS_1


“Baik pak.” Jawab Melisa pelan.


Mereka berdua masuk ke dalam ruangan Alex. Alex sama sekali tidak tau maksud dan kedatangan Melisa adalah untuk mengundurkan diri dari perusahaan nya. Yang pria itu tau hanya dirinya sangat bahagia karena akhirnya bisa melihat Melisa dalam keadaan baik baik saja tanpa kurang satu apapun.


__ADS_2