
Setelah perdebatan nya dengan Alex, seharian Sherin mengurung diri di kamar nya. Wanita itu benar benar tidak habis pikir dengan suaminya. Padahal segala nya sudah Sherin berikan. Sherin bahkan tidak perduli meskipun keluarga nya sampai tidak memperdulikan nya. Tapi sedikitpun Alex tidak perduli pada nya. Alex bahkan seolah menyalahkan nya karena nekat menikah dengan nya. Padahal jika Alex mau mengerti semua itu Sherin lakukan demi janin dalam kandungan nya yang juga adalah darah daging Alex. Janin hasil dari hubungan gelap nya dengan Alex di belakang Lena.
Bibi yang sudah selesai memasak untuk Sherin makan siang, mengetuk pintu kamar Sherin. Kali ini wanita tua itu tidak tahu tentang perdebatan Sherin dan Alex tadi pagi karena bibi yang sedang fokus dengan pekerjaan nya sendiri di kamar Sherin, yaitu membersihkan kamar mandi.
Beberapa kali bibi mengetuk pintu kamar Sherin, namun Sherin tidak juga menyahut. Bibi yang khawatir akhirnya memutuskan untuk membuka pelan pelan pintu kamar Sherin yang memang tidak di kunci itu.
Bibi menghela napas merasa lega ketika mendapati Sherin baik baik saja. Wanita berperut buncit itu duduk di tepi ranjang dengan pandangan lurus ke depan. Bibi menebak mungkin Sherin tidak mendengar ketukan pintu sehingga Sherin tidak menyahut tadi.
“Permisi nyonya..”
Sherin tetap tidak bergeming. Dia terus saja diam dengan tatapan lurus kedepan. Jika sudah seperti itu bibi yakin majikan nya itu pasti sedang memikirkan masalah yang menghiasi hidup rumah tangga nya.
Bibi yang memang sudah biasa menjadi tempat curhat Sherin pun memilih untuk mendekat. Wanita tua itu sudah berjanji pada dirinya sendiri akan menjadi pendengar yang baik untuk Sherin. Semua itu bibi lakukan karena bibi sendiri adalah seorang wanita juga seorang ibu yang tidak akan rela jika sampai putri nya merasakan hal yang tidak seharusnya. Dan melihat Sherin yang tidak benar benar di anggap kehadiran nya oleh keluarga Smith, hati bibi tergerak.
“Nyonya....”
__ADS_1
Suara pelan bibi kali ini berhasil mengalihkan perhatian Sherin. Sherin menoleh dan menatap bibi sebentar lalu kembali meluruskan pandangan nya ke depan.
“Makan siangnya sudah siap nyonya.” Kata bibi memberitahu.
Sherin tersenyum miring. Perutnya sama sekali tidak merasa lapar sekarang.
“Saya belum lapar bi..” Balasnya.
Bibi menghela napas pelan. Gelagat Sherin benar benar sangat mudah untuk di tebak.
“Nyonya tidak boleh seperti itu. Nyonya harus makan supaya nyonya juga janin dalam kandungan nyonya sehat. Saya sudah memasak menu kesukaan nyonya. Saya juga sudah memotong buah dan menyiapkan vitamin yang harus nyonya konsumsi.”
“Bi.. Saya bertahan di samping Alex bukan tanpa alasan. Saya melakukan itu semua karena janin dalam kandungan saya. Saya tidak mau anak Ini lahir tanpa sosok seorang ayah. Selain itu saya juga sangat mencintai Alex. Saya merasa saya tidak akan bisa hidup tanpa Alex bi. Saya sudah berikan semuanya sama Alex. Saya bahkan melawan kehendak kedua orang tua saya yang memang dari awal tidak menyetujui keputusan saya untuk menikah dengan Alex. Tapi kenapa bi dari sekian banyaknya pengorbanan yang sudah saya lakukan satu kali pun Alex tidak pernah mau menatap saya? Dia bahkan menyalahkan saya atas apa yang sudah terjadi. Dia menganggap saya adalah orang yang membuat nya kehilangan kebahagiaan.” Cerita Sherin panjang lebar.
Bibi yang mendengarkan hanya bisa diam saja. Cerita Sherin memang sangat memilukan. Dan bibi tau itu nyata adanya karena bibi yang menyaksikan bagaimana kejamnya seorang Alex.
__ADS_1
“Menurut bibi saya harus bagaimana? Apa saya harus tetap bertahan atau mungkin saya berhenti saja kemudian pergi sejauh mungkin dari Alex dan keluarganya?” Tanya Sherin meminta pendapat bibi.
Bibi menelan ludah. Wanita tua itu tidak menyangka Sherin akan meminta pendapat darinya. Sedangkan menurut bibi sendiri posisi Sherin di keluarga Smith sudah sangat sangat memberatkan Sherin sendiri. Dan menurut bibi akan lebih baik jika Sherin pergi menjauh agar tidak selalu di pandang remeh dan sebelah mata oleh keluarga kaya raya itu. Tapi bibi tidak berani melontarkan pendapatnya mengingat Sherin yang begitu sangat tergila gila pada Alex. Buktinya Sherin juga tidak pernah merasa dirinya harus menjauh. Sherin tetap percaya pada cinta sepihak nya yang akan berakhir bahagia.
“Maaf sebelumnya nyonya. Saya tidak tau untuk masalah itu. Tapi saya akan mendukung apapun keputusan yang menurut nyonya itu baik.” Jawab bibi sopan.
Sherin berdecak dan menghela napas pelan. Terkadang rasa ingin pergi menjauh itu juga terbesit di benaknya. Tapi itu hanya sesaat karena kemudian Sherin kembali merasa yakin bahwa cintanya pada Alex tidak salah. Sherin hanya merasa dirinya harus lebih banyak bersabar untuk itu.
“Begitu ya bi?” Gumam Sherin yang sedang merasa sangat putus asa karena sikap Alex padanya.
Sherin mulai merasa di lema antara tetap tinggal dan bertahan di samping Alex atau pergi menjauh untuk mencari kehidupan sendiri bersama anak yang masih berada dalam kandungan nya.
Tapi di satu sisi Sherin juga tidak mau di anggap kalah karena kehidupan pernikahan nya dengan Alex berakhir dengan perpisahan. Sedangkan kehidupan pernikahan Lena dan Erlan tampak sangat harmonis bahkan semakin terlihat romantis. Sherin tidak ingin menderita sendiri sedangkan Lena bahagia dengan kehidupan rumah tangganya dengan Alex.
“Enggak enggak, aku nggak boleh menyerah. Alex pasti akan mencintaiku suatu saat nanti. Yah.. Aku nggak boleh kalah dari Lena. Kalau dia saja bisa bahagia kenapa aku nggak?” Batin Sherin yang kembali dengan keyakinan nya sendiri.
__ADS_1
“Aku nggak mau kalau orang lain sampai menertawakan aku karena aku tidak bahagia dengan pernikahan aku. Apa lagi Lena, dia pasti akan sangat menghinaku jika tau aku tidak bahagia karena Alex yang tidak bisa menghargai ku.” Sherin terus bergumam dalam hati. Wanita itu mulai berprasangka buruk pada Lena yang pada kenyataannya tidak pernah lagi perduli dengan kehidupan Sherin dan Alex. Tentu saja karena Lena yang sudah bahagia dengan kehidupan pernikahan nya dan Erlan. Pria yang selalu mengistimewakan dan meratukan nya dengan cinta dan kasih sayang tulusnya yang begitu besar pada Lena.
“Oke Sherin, berhenti berpikiran konyol. Kamu harus bisa membuat Alex sadar bahwa hanya kamu satu satunya wanita yang pantas bersanding dengan nya. Bukan Lena apa lagi Melisa. Tunjukan kalau kamu memang pantas bahagia.” Senyum Sherin penuh keyakinan.