SAYANG

SAYANG
Episode 125


__ADS_3

Erlan benar benar menepati ucapan nya menemani Lena melakukan apa yang memang sejak dulu sangat ingin Lena lakukan. Mulai dari menyambangi panti asuhan hingga akhirnya menuju lokasi tempat anak anak jalanan yang Lena maksud itu berkumpul. Dan tidak hanya memberikan bantuan berupa uang, Erlan juga Lena sepakat untuk membangun rumah agar anak anak tersebut tidak tinggal di sembarang tempat seperti emperan toko atau bahkan di kolong jembatan.


Semua itu Lena lakukan dengan senyuman bahagianya. Karena meski memang dia tidak membantu dengan uang hak miliknya sendiri, namun setidaknya Lena sudah mengantongi izin dari suaminya.


Untuk pembangunan rumah yang akan di berikan pada anak anak jalanan itu, Erlan pun menyerahkan sepenuhnya pada Kenzie yang tentu langsung menyanggupi perintahnya.


Setelah mendatangi tempat berkumpulnya anak jalanan itu, Erlan pun mengajak Lena ke tempat selanjutnya. Yaitu puskesmas yang berada tidak jauh dari lingkungan tempat tinggal Lena dulu. Puskesmas itu memang masih sangat minim fasilitas karena memangnya tempatnya yang berada di pelosok.


Begitu turun dari mobil mewah suaminya Lena mengeryit bingung melihat beberapa mobil box besar yang sudah berjejer rapi disana. Lena merasa aneh karena tidak biasanya ada mobil mobil seperti itu di depan puskesmas.


“Kita masuk sekarang sayang?” Ajak Erlan menggandeng tangan Lena.


“Ah iya, oke..” Lena sedikit terkejut dengan ajakan Erlan karena tadi dirinya sedang fokus memperhatikan mobil mobil box yang berjejer rapi itu.


Di puskesmas itu Erlan dan Lena langsung menemui beberapa bidan dan dokter yang bertugas disana termasuk para perawat juga anak anak yang sedang PKL disana.


Erlan tidak langsung mengutarakan niatnya dan lebih dulu berbasa basi dengan menyapa semua petugas di puskesmas itu yang tentu sudah tau siapa Erlan. Erlan juga mengenalkan Lena sebagai istrinya pada semua petugas puskesmas.


“Jadi kedatangan saya dan istri saya kesini adalah untuk mengantar beberapa fasilitas yang di butuhkan oleh puskesmas ini. Dan itu juga atas ide dari istri tercinta saya. Kebetulan dulu sebelum kami menikah istri saya tinggal di dekat sini.” Ujar Erlan menjelaskan sambil menatap pada Lena yang duduk disampingnya di depan para petugas puskesmas.


“Tuan, nyonya, kami selaku petugas di puskesmas ini sangat sangat berterimakasih atas kebaikan nyonya juga tuan. Puskesmas disini masih sangat minim fasilitas. Hal itu juga yang menjadi kendala untuk kami selaku tenaga kesehatan disini. Kami sangat berharap dengan adanya fasilitas memadai yang sudah anda berikan secara cuma cuma ke puskesmas ini bisa membuat puskesmas ini semakin baik dalam melayani masyarakat.” Ujar salah seorang tenaga kesehatan mewakili semua rekan rekan nya yang hanya bisa menganggukkan kepala setuju dengan apa yang dia katakan.


Erlan pun tersenyum mendengarnya. Perasaan nya saat ini benar benar sangat bahagia. Erlan merasa dirinya berguna untuk sesama sekarang. Dan itu berkat istrinya yang mempunyai inisiatif ingin bisa membantu sesama.

__ADS_1


Lena yang berada disamping Erlan hanya bisa tersenyum saja mendengarnya. Lena sangat berharap apa yang suaminya berikan bisa bermanfaat untuk puskesmas tersebut.


“Kebetulan barang barang yang saya beli sudah ada di depan. Mari kita lihat sama sama untuk memastikan baik atau tidaknya barang barang itu.” Kata Erlan lagi.


Lena mengeryit. Lena pikir Erlan akan memberikan uang saja untuk kemudian di belikan barang oleh pihak puskesmas. Tapi nyatanya Erlan justru mengatakan bahwa barang barang tersebut sudah ada di depan. Padahal Erlan juga dirinya belum tau apa saja yang di butuhkan puskesmas tersebut.


Lena ingin bertanya pada Erlan tapi sebisa mungkin Lena tahan. Karena tidak mungkin jika Lena menanyakan hal tersebut pada Erlan di depan orang banyak. Selain itu akan membuatnya terlihat bodoh, tentu saja juga akan membuat Erlan malu karena mereka berdua terkesan tidak sama sama sepakat membantu memenuhi fasilitas puskesmas itu.


Lena mengikuti saja saat Erlan mengajaknya keluar dari ruangan tempat mereka berkumpul di ikuti oleh para pegawai puskesmas. Mereka semua keluar dan saat itulah barang barang yang di butuhkan oleh puskesmas di keluarkan dari mobil box besar yang berjejer di halaman puskesmas itu. Mulai dari alat USG dari yang 2D sampai yang 4D berikut dengan alat medis lain yang belum tersedia di puskesmas itu.


Lena terkejut melihat itu semua. Erlan bisa tau semua barang barang yang memang sangat di butuhkan oleh puskesmas itu dengan sangat tepat.


Ucapan terimakasih tidak henti hentinya di ucapkan oleh para tenaga kesehatan yang bekerja di puskesmas itu. Mereka merasa semakin bersemangat melayani masyarakat karena alat alat yang memang sangat mereka butuhkan kini sudah benar benar di penuhi.


“Erlan..” Panggil Lena membuat Erlan menoleh dan menatapnya sebentar dengan senyuman yang menghiasi bibir tipisnya sebelum akhirnya kembali fokus dengan jalanan yang sedang mereka berdua lalui.


“Ya sayang..” Sahut Erlan pelan juga lembut.


Lena menghela napas pelan. Entah kenapa Lena merasa Erlan seperti sudah tau apa saja yang di butuhkan oleh puskesmas yang tadi mereka sambangi.


“Boleh aku bertanya sesuatu?” Tanya Lena membuat Erlan mengeryit penasaran. Pertanyaan yang ingin Lena ajukan padanya sepertinya akan sangat serius.


“Tentu saja.” Jawab Erlan mantap.

__ADS_1


Lena terdiam sesaat. Wanita itu berharap pertanyaan yang akan dia lontarkan pada Erlan tidak salah kali ini.


“Kenapa kamu bisa dengan tepat membeli barang barang yang di butuhkan di puskesmas tadi?” Tanya Lena membuat Erlan kembali mengukir senyuman di bibirnya.


“Aku tau bukan karena aku asal tebak sayang.. Sebelumnya aku sudah menyuruh Kenzie untuk datang ke puskesmas itu dan menanyakan secara langsung apa saja yang di butuhkan. Aku bahkan juga sudah sedikit berbincang dengan pendiri puskesmas itu. Yah.. Meskipun hanya lewat telepon. Aku melakukan itu supaya aku bisa membeli barang barang itu meskipun lagi lagi harus Kenzie yang melakukan.” Jawab Erlan dengan senyuman yang terus terukir di bibirnya menjelaskan pada Lena.


Lena mengangguk paham. Erlan benar benar sangat berniat untuk memenuhi keinginan nya agar bisa membantu sesama.


“Makasih banyak ya Erlan. Maaf kalau permintaan aku ini sangat merepotkan kamu.” Ujar Lena merasa tidak enak hati.


“Hey ucapan terimakasih macam apa itu?” Tanya Erlan merasa tidak suka.


Lena mengeryit karena hal itu. Erlan terlihat tidak menyukai ucapan terimakasih yang dia ucapkan.


“Kenapa?” Tanya Lena bingung.


“Hhh.. Ngomong terimakasih sama suami itu bukan begitu caranya sayang. Jangan mengatakan seolah aku ini orang lain. Kan bisa kamu bilang terimakasih nya dengan hal yang manis. Ya.. Seperti memberikan satu ciuman begitu.” Jawab Erlan.


Lena tersenyum mendengarnya. Tanpa basa-basi lagi, Lena pun langsung memberikan ciuman nya di pipi tirus Erlan. Ciuman singkat yang membuat senyuman di bibir Erlan kembali mengembang.


“Begitu dong..” Senang Erlan.


Lena tersenyum senyum sendiri. Permintaan suaminya membuat Lena merasa tersipu malu.

__ADS_1


__ADS_2