SAYANG

SAYANG
Episode 92


__ADS_3

Paginya


Erlan menatap Lena yang masih tenang memejamkan kedua matanya. Semalaman Lena terus saja menangis hingga pagi menjelang dalam pelukan Erlan. Padahal Erlan sudah menenangkannya namun sepertinya kesedihan Lena benar benar sangat mendalam sehingga tangisannya tidak kunjung berhenti begitu saja.


Erlan menghela napas pelan menatap dengan penuh perhatian wajah cantik nan polos istri tercintanya itu. Semalam Erlan melihat sisi lemah seorang Lena kembali. Dan kali ini bukan karena kecewa pada orang lain. Melainkan kecewa pada dirinya sendiri.


Erlan tidak pernah sekalipun berpikir akan menyalahkan Lena atas semua yang terjadi di dalam kehidupan rumah tangganya. Karena Erlan menyadari siapa dirinya. Erlan selalu mewanti wanti dirinya sendiri agar bisa menjadi pemimpin yang baik di dalam keluarga kecilnya. Baik sekarang maupun di masa depan. Kalau pun nanti Lena melakukan kesalahan, Erlan tidak akan begitu saja menyalahkan istrinya. Erlan akan lebih dulu mengintrospeksi dirinya sebagai seorang suami yang bertanggung jawab penuh pada istrinya.


Merasa tidak tega meninggalkan istrinya di rumah hari ini, Erlan pun memutuskan untuk tidak pergi ke perusahaan hari ini. Erlan ingin menemani Lena yang pasti moodnya akan berubah ubah. Apa lagi sekarang Lena sedang kedatangan tamu bulanan nya.


Pelan pelan Erlan bangkit dari berbaring miringnya di samping Lena. Pria itu kemudian turun dari ranjang dan melangkah menuju meja kaca dimana di belakang meja itu ada sofa panjang yang tepat berada di seberang ranjangnya dan Lena sedikit jauh.


Erlan meraih ponselnya yang tergeletak disana kemudian mencoba untuk menghubungi Kenzie. Erlan ingin memberitahu tangan kanan nya itu bahwa hari ini dirinya tidak bisa hadir di perusahaan.


“Selamat pagi tuan..” Sapa Kenzie dari seberang telepon begitu mengangkat telepon dari Erlan.


“Ah ya, pagi juga Kenzie. Hari ini saya tidak bisa masuk. Jadi kamu handle semuanya. Kalau memang ada yang penting dan tidak bisa kamu tangani sendiri, kamu datang saja langsung ke rumah.” Ujar Erlan dengan sangat berwibawa.


“Oh baik tuan..” Balas Kenzie.


“Ya sudah kalau begitu.”


Erlan menutup sambungan telepon setelah selesai berbicara dengan Kenzie. Pria itu kembali meletakan ponselnya di atas meja. Erlan kembali menatap pada Lena yang masih terlelap damai. Erlan tau wanitanya pasti sangat mengantuk hingga mata hari pagi terbit belum juga membuka kedua matanya. Enggan menggangu tidur lelap Lena, Erlan pun memutuskan untuk membersihkan dirinya lebih dulu. Erlan melangkah menuju kamar mandi dan masuk ke dalamnya. Pagi ini untuk pertama kalinya Lena tidak menyiapkan apa yang Erlan butuhkan. Tapi itu Erlan maklumi mengingat istrinya yang pasti sedang dalam mood yang tidak baik.


Sekitar 20 menit berada di dalam kamar mandi, Erlan keluar dengan hanya handuk yang melilit di pinggangnya. Rambut coklatnya yang sedikit panjang tampak acak acakan dan masih meneteskan air dari ujungnya.

__ADS_1


“Sayang..” Gumam Erlan ketika mendapati tempat tidurnya dan Lena kosong. Lena sudah tidak ada disana lagi.


Pandangan Erlan langsung mengarah ke pintu balkon kamar yang terbuka. Pintu yang terbuat dari kaca itu memperlihatkan Lena yang sedang berdiri menatap lurus ke depan. Senyum Erlan mengembang melihatnya. Pria itu segera melangkah mendekat pada Lena tanpa lebih dulu mengenakan baju.


“Hey...”


Lena tersentak saat tiba tiba Erlan memeluknya dari belakang. Namun sedetik kemudian seulas senyum terukir di bibir Lena. Wanita itu menghirup dalam dalam aroma lembut yang menguar dari tubuh kekar suaminya. Aroma sabun yang sangat menenangkan menurutnya. Di tambah lagi dengan pelukan nyaman dan hangat Erlan. Itu membuat Lena selalu merasa betah berlama lama dalam pelukan suaminya.


“Sudah minum air hangatnya sayang?” Tanya Erlan tepat di depan telinga Lena.


Lena mengangguk sebagai jawaban. Lena yakin segelas air putih hangat yang ada di atas nakas pasti sengaja di siapkan oleh Erlan untuknya.


“Sudah.. Terimakasih untuk perhatian nya.” Lirih Lena.


Lena memutar tubuhnya menghadap pada Erlan yang sedikit menunduk menatapnya dengan lembut dan penuh perhatian.


“Memangnya kamu nggak ke kantor?” Tanya Lena kemudian. Padahal tadi Lena pikir Erlan sudah berangkat ke perusahaannya untuk beraktivitas seperti biasanya.


“Hari ini aku kerja dari rumah sayang.” Jawab Erlan sembari memberikan ciuman singkat di kening Lena.


“Kenapa?” Tanya Lena lagi.


Erlan tersenyum geli mendengar pertanyaan polos yang kembali terlontar dari bibir istrinya tercintanya.


“Hari ini aku mau menemani istriku yang cantik ini di rumah. Rasanya kangen banget masa masa cuma berdua di rumah sama kamu sayang..” Jawab Erlan membuat wajah Lena memerah seketika.

__ADS_1


“Iihh.. Apaan sih? Gombal banget. Ya udah deh aku mandi dulu..”


Ketika Lena hendak berlalu, Erlan menahannya. Pria itu menyenderkan pelan Lena di pagar tralis balkon. Senyuman manis terus terukir di bibirnya menatap Lena yang terlihat terkejut dengan apa yang Erlan lakukan.


“Erlan aku..”


“Boleh aku minta satu ciuman dulu sayang?” Tanya Erlan menyela apa yang ingin di ucapkan oleh Lena.


Lena mengerjapkan kedua matanya beberapa kali. Erlan memang kadang meminta ciuman darinya. Tapi itu tidak dia lakukan sering.


“Tapi aku belum..”


“Please sayang..” Mohon Erlan. “Di pipi nggak papa kok.” Lanjutnya.


Lena menghela napas pelan. Lena kemudian berjinjit dan memberikan ciuman singkatnya di pipi Erlan. Setelah itu Lena pun beranjak dari balkon meninggalkan Erlan yang merasa sangat senang karena mendapatkan ciuman seperti yang dia inginkan.


Sementara Lena, begitu sampai di depan pintu kamar mandi dia meringis. Perutnya selalu terasa tidak enak jika sedang mendapat tamu bulanan nya. Lena sebenarnya sudah merasakannya sejak bangun. Itu sebabnya Lena langsung meminum air hangat di atas nakas berharap rasa tidak enak itu reda. Lena menuju balkon untuk menghirup udara segar di pagi hari namun tiba tiba Erlan datang dan memeluknya. Itu membuat Lena tidak berani mengeluh. Lena tidak ingin membuat suaminya khawatir padanya.


Lena kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Di kamar mandi rasa tidak enak itu semakin tidak tertahankan yang akhirnya membuat Lena menjadi lama di dalam kamar mandi.


Erlan yang tidak tau apa yang di rasakan oleh istrinya hanya diam saja menunggu Lena duduk tenang di sofa seberang ranjang. Erlan hanya berpikir mungkin Lena lama di dalam kamar mandi karena sedang melakukan hal yang memang hanya dia lakukan saat kedatangan tamu bulanan nya saja.


Suara pintu kamar mandi yang di buka membuat Erlan menoleh. Pria itu tersenyum mendapati Lena yang keluar dari kamar mandi. Namun senyuman itu langsung pudar begitu Erlan mendapati Ekspresi wajah Lena yang seperti orang yang sedang menahan rasa sakit.


“Ya Tuhan.. Sayang..”

__ADS_1


__ADS_2