SAYANG

SAYANG
Episode 111


__ADS_3

Melisa baru saja hendak menyantap makan siangnya yang di beli oleh David sepulang dari mengantar kue untuk Sherin saat tiba tiba ponsel yang berada di samping piring berisi makanan nya berdering begitu nyaring. Dia menghela napas karena memang waktunya selalu saja tersita oleh para pelanggan yang hampir setiap saat menghubunginya untuk memesan kue.


“Ya Tuhan.. Baru saja mau makan..” Gumam Melisa.


Melisa meraih ponselnya. Dia mengeryit ketika mendapati nama kontak nyonya besar Smith di layar ponselnya. Padahal belum ada setengah jam dia menelepon untuk menanyakan tentang pesanan nya.


Merasa penasaran dengan apa yang ingin wanita kaya raya itu bicarakan, Melisa pun segera mengangkat telepon tersebut.


“Halo, selamat siang. Dengan Melisa disini. Ada yang bisa saya bantu?” Melisa berbicara dengan nada seramah mungkin. Melisa tidak ingin membuat para pelanggan nya menilai tidak baik pada dirinya karena sikapnya yang tidak sopan.


“Tidak perlu basa basi. Kamu kenapa mengirim kue dengan bangkai kecoa di dalam dusnya untuk menantu saya hah?! Kamu mau macam macam sama saya?”


Senyuman manis yang menghiasi bibir Melisa seketika sirna begitu mendengar nada bicara nyonya besar Smith yang begitu tinggi. Siapapun yang mendengar cara wanita itu berbicara pasti langsung tau bahwa dia sedang marah.


“Maaf sebelumnya nyonya, maksudnya apa ya?” Tanya Melisa yang memang tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh nyonya besar Smith, orang tua dari mantan bosnya, Alex.


“Jangan pura pura tidak tau kamu. Jangan mentang mentang saya dan teman teman saya suka dengan kue kue kamu, kamu bisa seenaknya. Kamu meremehkan saya hah?!” Bentak nyonya besar Smith yang sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya.


Sementara Melisa semakin bingung. Nyonya besar Smith tadi menelepon nya baik baik saja, tidak marah seperti sekarang. Tapi tiba tiba dia marah marah bahkan sampai membentaknya.


“Nyonya maaf.. Saya bukan pura pura tidak tau. Tapi saya memang benar benar tidak tau dengan apa yang nyonya bicarakan.”


David yang mendengar suara Melisa dari kamar langsung keluar. Remaja itu merasa sangat penasaran dengan apa yang sedang kakaknya bicarakan lewat telepon.

__ADS_1


David melangkah mendekat pada Melisa yang sedang duduk di kursi meja makan. Dia mendudukan dirinya di kursi tepat di samping Melisa.


“Ada apa kak?” Tanya David pelan.


Melisa menatap David memberi isyarat agar adiknya itu tidak dulu banyak bertanya padanya.


“Kamu bilang kamu tidak tau apa apa? Asal kamu tau saja Melisa, kue lapis legit pesanan saya yang saya suruh kirim ke apartemen anak saya ada kecoa matinya. Kamu sengaja mau meracuni anak saya dengan binatang menjijikan itu? Iya?!”


Kedua mata Melisa membulat dengan sempurna mendengar apa yang di katakan oleh nyonya besar Smith. Tentu saja karena Melisa tidak merasa berbuat seperti itu. Melisa juga selalu mengecek dengan benar setiap kue yang akan dia kirim pada pelanggan nya. Melisa pun selalu menjamin kebersihan pada setiap bahan bahan kue yang dia beli termasuk dalam pengemasan kue yang di jualnya.


“Nyonya tapi saya..”


“Cukup. Sepertinya memang saya salah membeli kue sama kamu.” Sela nyonya besar Smith dengan tegas.


Sedang Melisa, dia hanya bisa menghela napas sembari menurunkan ponsel yang dia tempelkan di telinganya. Melisa tidak menyangka jika nyonya besar Smith akan sangat marah padanya.


“Ada apa kak? Ada masalah?” David yang sudah tidak bisa menahan rasa penasaran nya kembali bertanya.


Melisa menatap David dengan tatapan sendu. David yang mengirim kue pesanan nyonya besar Smith ke apartemen Alex dan Melisa tidak bisa menyalahkan karena Melisa percaya David tidak mungkin berbuat kesalahan. David selalu melakukan dengan baik apa yang Melisa perintahkan. Sehingga Melisa sendiri merasa tidak perlu menegur adiknya. Melisa yakin itu hanya kesalah pahaman saja.


“Nggak ada apa apa kok, cuma ada sedikit kesalah pahaman pada pelanggan tadi. Tapi udah nggak papa. Semuanya akan baik baik saja.” Senyum Melisa berusaha untuk terlihat baik baik saja.


David menggelengkan kepalanya. Remaja itu merasa tidak bisa percaya begitu saja dengan apa yang Melisa katakan. Karena meski Melisa tidak mengeraskan volume ponselnya saat menelepon tadi, tapi David bisa mendengar suara orang di seberang telepon yang marah marah pada kakaknya.

__ADS_1


“Kakak nggak bisa bohong sama aku. Aku tau ada yang marah marah sama kakak tadi kan lewat telepon? Kakak nggak perlu nutup nutupin apapun dari aku.” Ujar David tidak mau jika sampai sang kakak menanggung sendiri masalahnya. David ingin bisa membantu kakaknya.


Melisa menghela napas pelan. Sebenarnya Melisa tidak ingin menyeret adiknya ke dalam masalah. Namun Melisa juga tidak tau lagi harus berbagi pada siapa. Hanya David dan Farid yang dia punya. Hanya mereka keluarga Melisa yang bisa Melisa percayai.


“Kak.. Jangan di pendam sendiri dong.. Kakak percaya kan sama aku?” Tanya David menatap Melisa sendu.


Melisa tersenyum geli. Adiknya memang sangat pengertian.


“Jadi begini Vid, tadi nyonya Smith yang memesan kue lapis legit yang tadi kamu antar itu protes sama kakak.. Dia marah karena katanya di dalam box kue lapis legit itu ada bangkai kecoa nya.”


Kedua mata David mendelik mendengar apa yang kakaknya katakan. Selama mereka membuka bisnis baru kali ini ada orang yang protes sampai marah marah pada Kakaknya. Padahal selama ini para pelanggan selalu merasa puas dengan rasa dan kualitas kue yang Melisa buat. Karena memang selain bahan bahan nya berkualitas, cara pembuatan nya pun sangat higenis dan terjamin kebersihan nya. Saat pengemasan juga Melisa selalu memperhatikan dengan benar.


“Masa sih kak? Tapi bagaimana mungkin? Box itu kan rapat banget kak, kita juga kasih staples kan buat pengamanan? Dan juga saat kita masukan ke dalam box pun kita sangat memperhatikan semuanya kan?”


Melisa tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Semua yang David katakan memang benar. Hanya saja penilaian orang lain tentang apa yang Melisa jual belum tentu sama. Tidak semua orang suka dengan apa yang Melisa jual. Hal itulah yang membuat Melisa bisa tenang. Meski memang setenang apapun dirinya berusaha bersikap namun Melisa tetap memikirkan apa yang nyonya besar Smith katakan padanya. Apa lagi nyonya besar Smith sangat marah padanya.


“Sudahlah, tidak perlu di pikirkan. Yang penting kan kita sudah melakukan yang terbaik.”


“Nggak bisa begitu dong kak, kita sudah berusaha melakukan yang terbaik. Tapi orang itu dengan seenaknya menghina apa yang kita lakukan. Ini nggak adil banget kak. Bagaimana kalau sampai yang lain tau? Itu bisa merugikan kita..”


Melisa menghela napas pelan kemudian menepuk pelan bahu adiknya.


“Rezeki itu nggak akan kemana David. Kita tidak perlu mengkhawatirkan apa yang belum tentu terjadi, oke?” Kata Melisa tetap berusaha tenang.

__ADS_1


David berdecak. Dia sangat yakin orang yang marah marah pada kakaknya hanya orang sirik yang berusaha menjatuhkan nama baik kakaknya sebagai pengusaha kue yang masih di hitung sebagai seorang pemula.


__ADS_2