
“Akhirnya sampai juga..” Senyum Melisa begitu turun dari boncengan David, adiknya. Mereka berdua baru saja pulang setelah mengantarkan beberapa pesanan kue dari langganan Melisa.
“Iya kak.. Capek banget ini badan. Walaupun cuma bawa motor, tapi rasanya kaya remek semua.” Kata David sembari membuka helm yang di kenakan nya.
Melisa tertawa mendengarnya. David memang selalu setia membantu dan menemaninya mengantar kue kue pesanan setelah pulang sekolah. David bahkan begitu sangat overprotektif sekarang padanya. Tapi Melisa merasa senang karena itu artinya David sangat menyayanginya dan tidak mau jika terjadi sesuatu yang buruk pada Melisa, kakaknya.
“Iya deh nanti aku panggilin tukang pijit buat mijitin kamu.”
David menoleh dengan cepat. Ekspresinya terlihat terkejut mendengar apa yang kakaknya katakan.
“Apaan? Tukang pijit? Enggak enggak. Emang aku cowok apaan mau di raba raba sama tukang pijit. Nggak usah kak. Mandi terus istirahat aja nanti udah segar lagi di badan. Ngaco aja kakak ini.” Tolak David dengan keras.
Melisa kembali tertawa mendengarnya.
“Kan tukang pijitnya cowok juga Vid.”
“Enggak. Sekali enggak ya tetep enggak. Mau cowok kek, cewek kek aku tetap nggak mau.” David kembali menolak. Remaja itu kemudian masuk ke dalam rumah meninggalkan Melisa yang terkikik geli dengan penolakan yang menurut Melisa cukup aneh dengan alasan David tidak mau tubuhnya di raba raba oleh orang lain. Padahal menurut Melisa sendiri itu bukanlah hal yang harus David hindari mengingat dirinya adalah seorang pria.
“Hhh.. David david..” Geleng Melisa merasa konyol dengan alasan adiknya yang menolak untuk di panggilkan tukang pijit.
Melisa kemudian menyusul David masuk ke dalam rumah. Dia langsung menuju meja makan untuk menyiapkan makan malam untuknya, David, juga Farid. Kebetulan dirinya dan David sudah membeli makanan di jalan pulang tadi mengingat dirinya yang tidak mungkin sempat memasak untuk makan malam. Selain dirinya yang sudah merasa sangat lelah, Melisa juga tidak mungkin membuat kedua adiknya menunggu lagi. Sementara waktu makan malam mereka saja sudah terlewat satu jam lebih.
Ketika sedang menyiapkan piring, garpu, juga sendok, tiba tiba Melisa teringat akan sosok Alex. Sosok yang selalu membuat Melisa merasa terkekang dan tertekan. Melisa sebenarnya masih sangat heran karena sampai saat ini Alex sama sekali tidak melakukan apa apa. Alex juga tidak melakukan apa yang selalu dia ancamkan pada Melisa selama ini.
__ADS_1
Untuk sesaat Melisa larut dengan pemikiran nya tentang Alex. Dan entah kenapa setiap memikirkan pria yang sudah merenggut kehormatan nya itu Melisa selalu merasa ada sesuatu yang hilang dari dirinya. Perasaan yang tidak seharusnya Melisa rasakan. Karena seharusnya Melisa merasa lega dan senang karena akhirnya bisa terbebas dari pria brengsek seperti Alex.
“Wah... Kebetulan banget Farid sudah lapar kak..”
Suara Farid membuyarkan lamunan Melisa tentang Alex. Melisa segera menggelengkan kepalanya mengusir jauh jauh pemikiran nya tentang Alex.
Melisa lalu menoleh menatap pada Farid yang sudah duduk di kursinya dengan tatapan lapar menatap pada makanan yang sedang Melisa siapkan. Seketika itu pula rasa bersalah Melisa langsung muncul ke permukaan. Dirinya dan David terlalu sibuk melayani pelanggan sehingga lupa dengan Farid yang sangat membutuhkan perhatian darinya.
“Iya dek.. Maafin kakak ya karena nggak sempet masak buat kamu sama kak David.. Tapi ini kakak beliin ayam goreng krispi kesukaan kamu. Kamu makan yang banyak yah..” Senyum Melisa sembari mengambilkan nasi, sayur, juga ayam goreng kesukaan Farid kemudian menyodorkan nya pada Farid.
“Makasih ya kak.. Farid sayang banget sama kakak..” Senyum bocah yang masih duduk di sekolah dasar itu.
“Iyaa.. Sama sama..” Senyum Melisa. Dia kemudian mendekat pada Farid dan mengusap lembut puncak kepala Farid. Melisa benar benar merasa sangat bersyukur karena memiliki dua adik yang begitu sangat menyayangi juga sangat percaya padanya.
Sering kali rasa bersalah juga menghampiri Melisa karena apa yang sudah dia alami. Melisa ingin sekali berkata dengan jujur pada keduanya terutama pada David yang pasti sudah mengerti. Namun Melisa takut David dan Farid akan kecewa padanya. Melisa takut mereka berdua salah paham dengan menganggap Melisa melakukan segalanya demi uang.
“Waktunya makan..” Girang David baru saja selesai membersihkan diri dari kamar mandi.
Mendengar suara David, Melisa buru buru mengusap air mata yang membasahi pipinya. Melisa tidak mau David melihatnya menangis.
Mereka bertiga kemudian sama sama menyantap makan malam dengan di selingi canda dan tawa. Melisa berhasil menutupi segala apa yang sedang di rasakan nya di depan David dan Farid.
-------------------
__ADS_1
Alex sedang fokus dengan laptopnya saat tiba tiba Sherin membuka pintu ruang kerjanya. Dan suara pintu yang di buka dengan pelan itu berhasil menarik perhatian Alex. Alex berdecak pelan. Jika Sherin menghampirnya, sudah pasti Sherin sedang menginginkan sesuatu.
“Ada apa?” Tanya Alex dengan wajah datarnya begitu Sherin berdiri di depan meja kerjanya. Alex memang selalu menampilkan wajah datar setiap bersama dengan Sherin. Meski Alex selalu menuruti apa yang Sherin mau.
“Alex.. Perutku.. Di dalam sana terasa ada sesuatu yang bergerak dengan begitu sangat kuat. Aku serius Alex. Aku tidak bohong.” Ujar Sherin dengan wajah sumringah. Wanita itu terlihat sangat antusias sekarang.
Alex menghela napas. Kehamilan Sherin sudah akan memasuki bulan ke tujuh. Tidak heran jika memang janin dalam kandungan nya mulai aktif bergerak.
“Baguslah. Itu tanda nya dia sehat.” Kata Alex biasa saja.
Sherin mengangguk semangat. Dia kemudian semakin mendekat pada Alex hingga posisinya tepat berada disamping kursi yang di duduki Alex.
Sherin meraih tangan besar Alex kemudian mendaratkan nya dengan lembut di perutnya yang sudah terlihat membuncit itu.
“Coba kamu usap dengan lembut dan penuh kasih sayang Alex. Dia akan merespon nya. Dia sepertinya bisa merasakan setiap usapan lembut dari luar.”
Alex menelan ludah. Ini adalah kali pertama dirinya menyentuh perut buncit Sherin. Rasanya sangat menegangkan. Alex juga merasa takut jika sentuhan tangan besarnya akan membuat janin dalam kandungan Sherin kesakitan. Alex tidak mau menyakiti makhluk suci tidak berdosa yang sedang berjuang di dalam rahim Sherin.
“Ayolah Alex.. Dia akan senang kalau papahnya mengelusnya.” Paksa Sherin tidak sabaran.
Alex menatap Sherin ragu sebelum kembali menatap tangannya yang berada di perut Sherin. Dengan sangat hati hati Alex mulai mengusap perut buncit Sherin. Benar saja, ada gerakan halus yang seperti menginginkan Alex terus membelai nya. Dan gerakan itu membuat jantung Alex berdetak diluar normal nya.
“Ya Tuhan.. Apa benar dia memang darah dagingku.” Batin Alex.
__ADS_1
Sedangkan Sherin. Dia merasa sangat bahagia karena Alex mau menuruti kemauan nya. Apa lagi Sherin juga mendengar bahwa Melisa mengundurkan diri dari perusahaan, itu membuat Sherin merasa semakin senang juga tenang.
“Satu persatu penghalang aku bisa memiliki hati kamu mulai menyingkir dengan sendirinya Alex. Itu menandakan bahwa Tuhan berada di pihakku.” Sherin membatin dengan senyuman puas yang menghiasi bibirnya menatap Alex yang masih membelai perutnya.