SAYANG

SAYANG
Episode 209


__ADS_3

Setelah melewati beberapa menit saat saat romantis nya, Lena dan Erlan pun akhirnya siap untuk pergi. Mereka berdua tampak sangat serasi. Namun sebelum pergi Lena dan Erlan lebih dulu menemui si mbok dan menitipkan sekali lagi Rezvan pada si mbok. Mereka berdua percaya si mbok bisa menjaga Rezvan dengan baik.


“Tolong ya mbok..” Senyum Lena pada si mbok.


“Baik nyonya, saya dan yang lainnya akan menjaga tuan muda dengan sebaik baiknya.” Jawab si mbok.


Lena merasa sangat lega mendengar kesanggupan si mbok dan pelayan lainnya untuk menjaga Rezvan. Lena sangat yakin Rezvan akan anteng bersama si mbok dan pelayan lainnya.


“Kita berangkat sekarang?” Tanya Erlan membuat Lena langsung menoleh padanya.


Lena tersenyum dan menganggukkan kepalanya menyetujui ajakan suaminya. Lena kemudian semakin mendekat pada si mbok yang sedang menggendong Rezvan. Satu kecupan lembut penuh kasih dan cinta Lena berikan untuk putranya. Setelah itu Lena pun melangkah dengan Erlan yang menggandeng tangan nya berlalu dari hadapan si mbok.


Si mbok yang menatap kepergian nyonya dan tuan nya tersenyum. Wanita tua itu dari awal memang sudah sangat yakin bahwa Lena bisa membuat Erlan semakin merasakan kebahagiaan yang lengkap. Dan benar saja, sejak bersama dengan Lena, Erlan tidak pernah menampakkan wajah murung. Pria itu selalu terlihat bahagia dan ceria setiap waktu.


“Tuhan memang sangat adil. Tuan Erlan adalah orang baik dan berhati tulus. Itu sebabnya Tuhan juga mempertemukan tuan Erlan dengan orang yang tepat yaitu nyonya Lena.” Gumam si mbok tersenyum. Wanita tua itu kemudian mengalihkan perhatian nya pada Rezvan yang sedang di gendong nya. Seakan tau kedua orang tuanya hendak menghadiri acara, bayi tampan itu begitu anteng bahkan langsung tertidur setelah di mandikan dan di beri Asi.


----------


Di sisi lain, tepat nya di kediaman Sasha.


Wanita itu sedang mengobrak abrik seluruh koleksi gaun yang ada di dalam lemari bajunya. Sasha merasa sangat bingung harus mengenakan gaun yang seperti apa untuk menghadiri pesta resepsi pernikahan Melisa dan Alvin malam ini. Padahal sebelumnya Sasha tidak berniat datang. Namun karena Kenzie yang mengajak nya untuk sama sama datang ke acara itupun akhirnya Sasha setuju saja. Bahkan sekarang Sasha merasa sayang jika harus melewatkan acara tersebut.


“Ya ampun.. Kenapa gaun gaun yang aku punya udah pada jelek begini sih? Kenapa juga aku nggak pernah sadar kalau semua gaun gaun ini sudah ketinggalan model. Mana acaranya tinggal beberapa jam lagi. Masa iya aku ke butik sekarang. Di tambah uangku juga sudah menipis. Masa harus ngambil tabungan lagi...” Sasha merengut sendiri. Dia merasa tidak akan cantik jika mengenakan beberapa gaun yang dia punya yang memang sudah dari beberapa tahun lalu dia beli. Tidak heran kalau gaun itu sudah ketinggalan model. Sasha tidak bodoh, meski dia ingin datang namun Sasha juga tidak mau jika sampai kehadiran nya di sana justru akan mencari bahan candaan para tamu undangan yang lain. Apa lagi tamu yang hadir pasti juga bukan orang sembarangan. Mereka pasti berasal dari kalangan atas dan terpandang yang pasti akan langsung mencibir jika ada orang yang berpenampilan tidak sesuai.


Ting tung....


Sasha menoleh saat mendengar suara bel rumahnya. Sebuah keryitan muncul di keningnya. Sasha bertanya tanya siapa yang sore sore begini datang ke rumahnya. Namun kemudian pemikiran nya begitu simpel. Sasha berpikir mungkin itu adalah salah satu tetangga terdekat yang hendak menyampaikan sesuatu padanya.

__ADS_1


Penasaran dengan tujuan orang yang memencet bel rumahnya, Sasha pun bergegas keluar dari kamarnya kemudian melangkah cepat dan lebar menuju pintu utama kediaman nya.


Begitu pintu dia buka, Sasha pun semakin bingung karena ternyata yang berdiri di hadapan nya bukan lah salah satu tetangganya seperti apa yang Sasha pikirkan. Dia adalah kurir yang tersenyum ramah padanya.


“Selamat sore nyonya. Apa benar ini rumah nyonya Sasha?” Tanya kurir tersebut.


Dengan penuh tanda tanya Sasha menganggukkan kepalanya. Sasha tidak merasa membeli atau memesan apapun. Tapi sekarang di depan nya telah berdiri seorang kurir yang begitu ramah padanya.


“Iya.. Saya sendiri. Ada apa ya pak?” Tanya balik Sasha penasaran.


“Ini ada kiriman untuk nyonya. Tolong di tanda tangani nyonya. Ini tanda terima nya.” Kata kurir tersebut sembari menyodorkan kotak karton yang di bawanya.


Sasha menerima paket yang di tujukan untuk nya kemudian segera menanda tangani tanda serah terima paket yang ada di tangan nya. Setelah itu kurir tersebut berlalu karena hendak melanjutkan tugasnya mengantarkan beberapa barang pada tuan nya.


Sasha menyipitkan kedua matanya menatap paket tersebut. Disana tidak tercantum siapa pengirim paket tersebut, namun tercantum namanya sebagai penerima barang tersebut.


Sasha mengedarkan pandangan nya ke sekitar kediaman nya berpikir mungkin saja ada seorang yang sedang mengawasinya. Tapi suasana di sekitar kediaman nya sangat sepi. Tidak ada satu orang pun yang melintas di sore hari itu.


Setelah yakin tidak ada siapa siapa disana, Sasha pun segera masuk ke dalam rumahnya. Dia membawa paket yang di tujukan untuknya menuju kamarnya tentunya setelah kembali mengunci pintu utama rumah nya.


Sasha mendudukkan dirinya di tepi ranjang di samping gaun gaun yang berserakan. Sasha membolak balikan paket tersebut mencoba mencari kembali nama si pengirim yang mungkin saja tertera di tempat yang tersembunyi. Tapi sayangnya Sasha sama sekali tidak menemukan nya. Disana hanya ada namanya sebagai penerima.


“Jangan jangan ini..”


Ucapan Sasha tersela oleh deringan ponsel miliknya yang begitu nyaring. Sasha berdecak. Dirinya bahkan sampai kaget karena deringan ponselnya sendiri.


Sasha berdecak kemudian kembali bangkit dari duduknya dengan tangan yang terus menenteng paket tersebut.

__ADS_1


“Kenzie...” Gumam Sasha begitu mendapati nama Kenzie yang tertera di layar ponselnya.


Sasha kemudian segera mengangkat telepon tersebut.


“Halo Ken.. Ada apa?”


“Hay.. Aku ganggu nggak?” Sapa Kenzie yang kemudian bertanya pada Sasha.


“Eum.. Enggak sih. Ada apa ya?” Jawab Sasha. Wanita itu langsung menanyakan tentang kenapa Kenzie menghubungi nya. Hal itu membuat Kenzie yang berada di seberang telepon tertawa merasa malu.


“Enggak, nggak ada apa apa sih. Cuma mau nanya aja, paket dari aku sudah sampai belum?”


Mulut Sasha sedikit terbuka mendengar pertanyaan Kenzie, sekarang Sasha tau siapa pengirim paket misterius yang ada di tangan nya sekarang.


“Ya ampun Ken.. Dari tadi aku tuh lagi bingung kenapa tiba tiba ada paket datang. Ternyata dari kamu.”


“Hehe.. Iya.. Kebetulan kemarin pas keluar aku lihat ada gaun bagus. Aku pikir itu cocok buat kamu. Aku harap kamu mau memakainya nanti malam buat ke acara pernikahan tuan Alvin dan mbak Mel.” Kekeh pelan Kenzie.


Sasha menghela napas dan menggelengkan kepalanya. Wanita itu benar benar tidak terpikirkan sedikitpun bahwa paket tersebut adalah paket kiriman dari Kenzie untuk nya.


“Ya ampun.. Sampe repot repot. Tapi makasih ya.. Kebetulan aku juga sebenarnya lagi bingung cari gaun buat di pake nanti.” Kata Sasha dengan begitu sangat terang terangan.


Di seberang telepon Kenzie jingkrak jingkrak kesenangan mendengar ucapan Sasha yang begitu sangat terang terangan padanya. Kenzie merasa sangat bahagia karena ternyata apa yang dia kirim adalah apa yang sedang sangat di butuhkan oleh Sasha.


“Ya udah kalau begitu, sampai nanti ya..” Kata Kenzie berusaha menahan rasa bahagia nya.


“Oke...” Balas Sasha.

__ADS_1


Sambungan telepon di tutup oleh Sasha setelah nya. Dia segera membuka paket yang ternyata dari Kenzie itu dengan sangat semangat. Sasha tersenyum begitu mendapati isi dari kotak karton itu adalah gaun berwarna peach lembut yang langsung membuat nya jatuh hati.


__ADS_2