SAYANG

SAYANG
Episode 107


__ADS_3

“Bagaimana dokter?” Tanya Lena pada dokter yang baru saja selesai memeriksanya.


Sasha yang duduk disamping Lena masih tidak mengerti kenapa Lena tiba tiba memeriksakan dirinya ke dokter. Apa lagi mengingat Lena yang tidak meminta pada Erlan untuk menemani dan malah meminta pada Sasha untuk menemaninya. Itu sangat sangat membuat Sasha penasaran. Sasha takut sesuatu yang tidak baik menimpa Lena dan Lena enggan memberitahu kan nya pada Erlan secara langsung.


“Setelah melakukan pemeriksaan secara menyeluruh, semuanya baik baik saja nyonya Harrison. Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Dan yah.. anda baik baik saja.” Jawab dokter tersebut tersenyum pada Lena.


Lena terdiam. Jika memang demikian, kenapa sampai sekarang dirinya tidak juga hamil.


“Anda belum hamil mungkin karena memang belum waktunya saja nyonya. Anda sehat dan subur. Jadi tidak ada yang perlu anda khawatirkan. Kalau memang sudah waktunya anda pasti akan hamil. Kecuali jika gangguan itu ada pada tuan Harrison.” Lanjut dokter itu.


Lena menelan ludah. Jika memang dirinya baik baik saja, itu artinya tidak menutup kemungkinan kendala itu memang ada pada Erlan.


Sasha yang terkejut mendengar penjelasan dokter yang memeriksa Lena membulatkan kedua matanya tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Bagaimana mungkin Lena memeriksakan kesuburan nya.


“Begitu ya dok?” Ucap Lena pelan dengan ekspresi sendu.


“Ya nyonya..” Angguk dokter itu dengan senyuman yang semakin lebar menghiasi bibirnya.


Setelah mendengar penjelasan dari dokter, Lena pun segera mengajak Sasha untuk berlalu. Lena sekarang semakin merasa di lema. Tidak mungkin jika Lena menyuruh agar Erlan memeriksakan diri. Erlan pasti akan tersinggung. Erlan pasti akan salah mengartikan maksudnya.

__ADS_1


“Ya Tuhan Len.. Kamu udah gila ya? Buat apa coba kamu periksa begitu begitu?” Tanya Sasha menggeleng tidak menyangka dengan apa yang Lena lakukan.


Lena hanya diam menatap Sasha dengan wajah sendu. Lena akui dirinya memang gila karena memikirkan dirinya yang tidak juga hamil. Sedang dokter tadi mengatakan dirinya baik baik saja.


“Len.. Kamu tau tidak? Ujian orang yang sudah menikah itu bermacam macam. Nggak melulu tentang materi. Misalnya kamu, kamu mendapat jodoh pria kaya raya. Materi kamu berlimpah. Apa yang kamu mau ada. Segala sesuatu yang kamu mau bisa kamu dapatkan sekalipun tanpa kamu meminta pada suami kamu, tuan Erlan. Itu adalah nikmat kamu setelah menikah. Tapi ujian kamu mungkin disini sekarang.. Kamu harus banyak banyak bersabar. Tuhan tidak akan menguji hamba nya di luar kemampuan kamu. Kamu baik baik saja begitu juga dengan suami kamu. Kamu pasti akan hamil nanti. Hanya saja mungkin Tuhan ingin kamu dan tuan Erlan bersabar. Apa lagi kamu kan nggak pernah mengenal tuan Erlan sebelum kamu menikah kan? Atau bisa jadi Tuhan memberi kesempatan sama kamu untuk bisa lebih mesra lagi dengan tuan Erlan.”


Lena hanya diam saja mendengar apa yang Sasha katakan. Lena merasa sangat terketuk pintu hatinya mendengar apa yang Sasha katakan karena dirinya yang sudah lupa untuk sabar dalam menghadapi segala sesuatu yang dia jalani.


“Sementara Len, di luar sana banyak yang begitu menikah langsung hamil. Tapi mungkin ujian mereka berada pada materi mereka yang kurang, hubungan rumah tangga yang kurang harmonis, atau mungkin suami yang tidak perduli. Kamu inget Len, Tuhan memberikan segala sesuatu pada manusia sudah dengan porsinya masing masing. Jadi kamu nggak perlu takut ataupun khawatir. Tuhan maha baik Lena. Percayalah, sabar kamu akan membuahkan hal yang manis.” Lanjut Sasha dengan sangat bijak.


Lena meneteskan air mata mendengar kelanjutan penjelasan petuah teman nya. Lena kemudian berhambur memeluk Sasha erat. Lena hampir saja salah melangkah hanya karena tidak sabar menunggu kehamilan nya. Lena bahkan hampir menodai kebahagiaan rumah tangganya dengan Erlan karena sempat meragukan Erlan.


“Ya Sha.. Aku akui aku salah.. Kamu benar. Aku tidak seharusnya berpikir begitu buruk pada apa yang sudah Tuhan berikan sama aku.. Aku harusnya bersyukur dan menjaga dengan baik apa yang sudah aku punya.” Tangis Lena dalam pelukan Sasha.


“Kamu harus tetap semangat ya.. Selalu berusaha dan jangan lupa berdo'a. Syukuri apa yang sudah kamu punya. Dan ingat jangan pernah sekali kali meragukan nikmat yang sudah Tuhan berikan sama kamu Lena..” Kata Sasha lagi.


Lena hanya menganggukkan kepalanya sambil terus memeluk Sasha. Lena merasa sangat tenang setelah mendengar petuah baik dari Sasha, teman terbaiknya.


Beberapa menit berpelukan, Lena pun melepaskan pelukan nya. Dia tersenyum menatap Sasha sembari mengusap air mata yang membasahi pipinya sendiri. Lena tidak pernah sadar bahwa selama ini Sasha lah sahabat sesungguhnya, bukan Sherin yang sudah mengkhianatinya. Karena Sherin hanya ada untuknya untuk mendengar kisah baiknya, bukan kisah buruknya. Sementara Sasha, sejak dulu dia begitu perhatian padanya. Sasha juga selalu menanyakan apa yang terjadi jika Lena sedang tidak semangat bekerja dulu.

__ADS_1


“Masih ada waktu 25 menit. Bagaimana kalau kita makan siang dulu? Tapi kamu yang traktir ya.. Aku nggak ada duit soalnya.” Ringis Sasha sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu.


Lena tertawa melihat ekspresi Sasha. Dia kemudian menganggukkan kepalanya. Setelah itu mereka berdua pun berlalu dari depan rumah sakit dengan mengendarai motor metik Sasha untuk mencari tempat makan yang menurut mereka pas.


--------------


“Apa? Kamu melihat istri saya dengan karyawan di perusahaan Alex di depan rumah sakit?” Erlan terkejut mendengar apa yang Kenzie katakan.


“Ya tuan. Mereka berdua menggunakan sepeda motor yang saya tebak mungkin itu punya karyawan tersebut.” Jawab Kenzie menganggukkan sedikit kepalanya. Kenzie memang tadi melihat Lena dan Sasha begitu keluar dari alfamaret yang kebetulan berhadapan langsung dengan rumah sakit tempat Kenzie melihat Lena dan Sasha.


Erlan terdiam sembari berpikir. Pria itu tidak tau sama sekali jika Lena pergi kerumah sakit. Lena sama sekali tidak memberitahunya.


“Lalu setelah itu apa kamu tau kemana mereka pergi?” Tanya Erlan merasa sangat penasaran. Erlan yakin Kenzie tidak mungkin membohonginya.


“Ya Tuan, saya mengikuti mereka. Mereka pergi ke sebuah restoran. Mungkin untuk makan siang. Lalu setelah itu saya langsung kembali ke perusahaan.” Jawab Kenzie.


Erlan menghela napas kasar kemudian berdecak. Pria itu benar benar tidak tau menahu jika Lena pergi keluar rumah. Apa lagi si mbok juga body guard tidak memberitahu perihal Lena yang pergi dengan teman nya.


“Ya sudah kalau begitu kamu boleh kembali bekerja.” Ujar Erlan kemudian.

__ADS_1


“Baik tuan, saya permisi.”


Erlan hanya menganggukkan kepalanya saja menjawab pamitan Kenzie. Pria itu kembali berpikir tentang Lena yang entah kenapa pergi kerumah sakit dengan temannya tanpa sepengetahuan darinya.


__ADS_2