SAYANG

SAYANG
Film


__ADS_3

Film yang telah kami buat bersama, akhirnya bisa kutonton dalam keadaan utuh. Film pendek berjudul ...


°°Senja di gedung kosong°°


Hujan deras mengguyur desa, angin kencang menerbangkan sampah-sampah yang bertaburan di jalanan. Petir menyambar. Perlahan, badai datang. Enam sekawan mencari tempat untuk berlindung, menyusuri area pesawahan, enam sekawan itu berjalan kearah timur. Dalam perjalanan, hujan berheti. Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, angin berhembus perlahan. Sangat tenang.


Sementara itu arah kamera hanya menghadap mengambil gambar di satu sisi saja, kameramen mengikuti di belakang. Jadi gambar yang ditampilkan hanya punggung belakang mereka saja.


Dari jauh mereka melihat sebuah gedung yang dibangun di pinggir sawah. Mereka dengan segera mempercepat langkahnya dan sampailah mereka di gedung itu. Mereka mulai berdebat satu sama lain, apakah mereka harus masuk ke dalam gedung itu ataukah tidak? Mereka mencapai kesepakatan, mereka akhirnya memasuki gedung.


Fairel membuka gedung perlahan, suara gesekan pintu terdengar jelas. Satu persatu dari mereka memasuki gedung.


Seperti sebelumnya, kamera hanya mengahadap satu arah, karena hanya satu kamera yang digunakan untuk pengambilan gambar. Mengikuti mereka dari belakang.


“Apa gedung ini tidak ada penghuninya?” Tanya Vicky.


“Sepertinya begitu.” Jawab Ono. “Bagaimanapun juga kita harus memeriksa gedung ini dan seluruh ruangannya!”


“Kalau begitu, kita berpencar!” Kata Adit.


“Baik!” Jawab mereka serentak.


Mereka pun bubar. Vicky dan Abi pergi bersama, mereka berdua menaiki tangga menuju lantai dua. Fajar dan Fairel pergi ke belakang tangga dan menghilang di balik tembok.


Aktifitas mereka di balik tangga tidak diperlihatkan, karena kamera hanya mengambil gambar yang dapat dijangkau di tempat kameramen berdiri.


Adit pergi memasuki sebuah ruangan yang menghadap pintu masuk, Ono memasuki ruangan yang berhadapan dengan tangga, di belakang kameramen berdiri.


Setelah mereka berpencar, di layar, mereka semua sudah tak terlihat lagi. Hanya ada ruang kosong. Kemudian, musik yang mengiringi film tiba-tiba berhenti, hening. Setelah itu, untuk beberapa saat, tiba-tiba layar menjadi kosong seperti kamera baru saja dimatikan.


Beberapa saat kemudian kamera kembali dinyalakan, gambar pertama yang ditangkap oleh kamera adalah Vicky yang berdiri di depan pintu di lantai dua. Dia melambaikan tangannya ke arah kamera. Dari arah berlawanan Ono muncul dan mendekati Vicky. Posisi kamera telah berganti, menghadap arah pintu dan membelakangi ruangan yang dimasuki oleh Adit sebelumnya.


“Ada apa?” Teriak Ono.

__ADS_1


“Aku menemukan senter!” Jawab Vicky.


“Itu bagus. Mana Abi?”


“Aku di sini!” Jawab Abi yang tiba-tiba muncul di balik pintu.


“Di mana yang lainnya?” Tanya Ono kemudian. Setelah itu muncul Fairel dan Fajar, mereka bergabung dengan yang lainnya. Hanya Adit sekarang yang tidak ada. Mereka menunggu untuk beberapa saat.


“Dia terlalu lama!” Kata Fairel kemudian.


“Kita berpencar lagi dan mencarinya!” Kata Fajar.


Mereka semua kemudian berpencar untuk mencari Adit. Ono dan Vicky pergi ke lantai dua, Abi memeriksa ruangan yang dekat dengan tangga, Fairel mencari di ruangan yang sama yang diperiksa oleh Ono sebelumnya, sementara Fajar sendirian pergi mencari di ruangan yang menghadap pintu yang sebelumnya dimasuki oleh Adit.


Setelah beberapa saat, dari ruangan yang diperiksa oleh Fajar terdengar teriakan. “Aaaaaaaaaaaaa!”


Dengan seketika kamera dimatikan oleh kameramen. Gelap, tidak ada apapun di layar kecuali warna hitam. Ketika kamera kembali dinyalakan, posisi kamera telah berganti. Posisinya membelakangi ruangan yang dimasuki oleh Fairel, yaitu ruangan yang menghadap tangga. Ketika suara teriakan pertama terdengar, mereka semua berkumpul kembali di tempat semula di dekat tangga, kecuali Fajar dan Fairel. Untuk sekali lagi terdengar suara teriakan “Aaaaaaa!”


Suasana berubah menegangkan. Mereka semua mulai ketakutan. Saling menatap satu sama lain.


“Di mana Fairel?” Tanya Ono panik.


Mereka saling pandang. Dengan segera mereka mencari Fairel, setelah memeriksa beberapa ruangan, mereka akhirnya menemukan tubuh Fairel yang berlumuran darah dengan bekas cabikan pisau di perut dan wajahnya. Secara bersamaan mereka berteriak. “Aaaaaaaaaaa.”


Mereka saling waspada, rasa saling percaya antara satu sama lain mulai menghilang. Siapa yang melakukannya?


Pembunuhan terjadi di saat kamera dimatikan, mereka hanya punya kesempatan melakukannya di saat itu terjadi. Saat pertama kamera dimatikan, dalam waktu sekitar 32 detik dan, saat kedua dalam waktu 28 detik.


“Aku dengan Abi pergi ke lantai dua! Tidak mungkin berlari keruangannya Adit dan melakukan pembunuhan di sana kemudian kembali lagi ke lantai dua dalam waktu 32 detik!” Kata Vicky mengutarakan alibinya.


“Aku bersama Vicky sejak terjadi pembunuhan pertama. Aku memiliki alibi yang sama dengan Vicky!” Kata Abi.


“Saat itu aku bersama Fairel, aku pun tidak mungkin melakukan pembunuhan dalam waktu 32 detik tanpa diketahui oleh seorang pun. Terbukti saat aku datang terlambat, aku dan Fairel membuka pintu yang ada di balik tangga, di sana ada sebuah lorong yang panjang yang untuk sampai ke ujungnya memerlukan waktu 3 menit, kami berdua memeriksanya sampai ke ujung dan kembali lagi ke sini setelah enam menit kemudian!” Kata Fajar.

__ADS_1


“Aku pun begitu, aku memasuki ruangan tempat Fairel dibunuh. Tidak begitu jauh dari tempat Adit dibunuh. Tapi Vicky melihatku keluar dari ruangan dan kemudian melambaikan tangannya. Aku tidak mungkin membunuh Adit karena meskipun aku berlari dari ruangan ini ke ruangannya Adit itu membutuhkan waktu 24 detik dan untuk kembali juga membutuhkan waktu 24 detik. Aku membutuhkan 48 detik untuk pergi dan kembali. Sementara pembunuhan terjadi dalam 32 dua detik.” Kata Ono. Mereka semua terdiam sejenak dalam suasana yang menegangkan, berpikir. Siapakah pembunuh sebenarnya?


“Bukankah …” Kata Ono tiba-tiba. “Hanya kau satu-satunya orang yang paling dekat dengan semua tempat kejadian?” Lanjut Ono. Wajahnya menghadap ke arah kamera, yang lainnya pun begitu. Mereka berempat menatap tajam ke arah kamera.


“Kau melakukan pembunuhan di saat kemera dimatikan!” Kata Fajar.


“Arah kamera pun berubah ketika kami berkumpul kembali!” Kata Vicky menatap kamera.


“Kau berjalan dari posisimu semula ke ruangannya Adit dalam waktu 18 detik, kemudian membunuh dalam 8 detik, lalu keluar ruangan dalam empat detik!” Kata Abi.


“Begitu juga dengan pembunuhan kedua, kau melakukan hal yang sama. Karena posisimu sangat dekat dengan lokasi pembunuhan, kau hanya perlu mematikan kamera dalam waktu 28 detik!” Kata Ono lagi.


“Kaulah pembunuhnya!” Kata mereka berempat secara serentak. Matanya tajam menatap ke arah kamera. Kamera perlahan mundur dari jarak pengambilan gambar dan, akhirnya kamera off.


Film, selesai.


Disimpulkan, pembunuh sebenarnya adalah kameramen itu sendiri. Begitulah filmnya berakhir, karena aku adalah kameramennya, maka akulah pembunuhnya. Hahaha. Kami semua meregangkan tubuh setelah selama empat puluh menit duduk terpaku menatap layar. Di luar, hari mulai gelap.


“Princess, siapakah kameramennya?” Tanya Marlyn kepadaku.


“Dia pastilah orang yang sangat jahat.” Kata gadis penuh obsesi pada Marlyn.


“Itu aku.” Jawabku.


“Apa?” Gadis penuh obsesi syok. “Aku tidak akan pernah mengatakannya lagi, tidak akan pernah, tidak akan pernah, tidak akan pernah.” Katanya penuh sesal. Kami semua tertawa.


Festival berakhir. Pengumaman siapa pemenang setiap lombanya? Diumumkan pada jam 7 malam. Kami semua berkumpul di aula sekolah. Kelas tambahan mendapat empat piala, pemenang kontes kostum. Itu aku. Kemudian lomba makan yang dimenangkan oleh Abi dan Adit dan, lomba lari yang dimenangkan oleh Abi. Sisanya aku mendapat penghargaan dalam kategori sebagai perangkai bunga terunik, sementara Vicky dia mendapat penghargaan sebagai pengunjung yang paling penakut di rumah hantu. Untuk kelas yang mendapatkan banyak penghargaan adalah kelas relugerku. Mereka memenangkan 19 lomba dari 41 lomba yang diadakan. Sisanya terbagi di kelas lain.


Pada akhirnya, kami hanya mendapat 40 poin, ditambah dengan 50 poin dari penghasilan terbanyak yang diadakan oleh kelas tambahan.


Kami mendapat penghasilan terbanyak di festival ini, mulai dari tiket film yang berharga mahal dan film yang diputar berulang-ulang serta daya tampung ruangan yang cukup banyak. Ditambah ... tidak adanya modal yang keluar. Penghasilkan pemutaran film ini mencapai ... sekitar delapan juta-an. Penghasilan ini bukan khayalan tapi nyata. Beruntungnya, pulau Komodo sangat dekat dengan Bima, biaya perjalanan sangat murah, sehingga, tanpa menang festival pun kami masih tetap bisa ke pulau Komodo. Astaga, kenapa pula aku mengharapkannya?


Aku menyalahkan Vicky untuk semua perubahan dalam diriku.

__ADS_1


__ADS_2