
Karena terlalu larut memikirkan perasaannya pada Erlan, tanpa sadar rasa kantuk mulai menyerang Lena hingga akhirnya Lena tertidur dengan posisi terlentang.
Sedang Erlan yang saat itu sudah pulang untuk menemani Lena makan siang di buat ketar ketir karena pintu kamar yang di kunci dari dalam. Apa lagi Erlan sampai mengetuk beberapa kali namun tidak ada sautan. Erlan juga sudah beberapa kali menghubungi nomor Lena namun tidak satupun di jawab oleh Lena.
“Mana kunci duplikatnya?!” Tanya Erlan pada si mbok dengan nada sedikit naik.
Si mbok yang juga sangat mengkhawatirkan Lena hanya bisa pasrah saja. Wanita itu menyerahkan kunci duplikat kamar Erlan dan Lena dengan perasaan takut bercampur khawatir. Si mbok takut sesuatu yang buruk terjadi karena memang sebelum masuk ke dalam kamarnya Lena berdebat lebih dulu dengan Natasha.
Sementara Erlan sedang mencoba membuka pintu kamar, si mbok yang berdiri di samping Erlan menatap pada Natasha. Itu membuat Natasha merasa tersinggung dan seolah sedang di salahkan oleh pekerja anaknya itu.
“Apa? Kenapa kamu menatap saya seperti itu? Kamu mau menyalahkan saya?!” Tanya marah Natasha.
Erlan melirik tajam pada Natasha. Kesal sekali mendengar pertanyaan dengan nada tinggi yang mommy sambungnya lontarkan pada si mbok. Sebenarnya Erlan sendiri juga sudah mempunyai prasangka tidak baik pada Natasha, mengingat Natasha yang selalu bersikap ketus pada Lena.
Si mbok buru buru menggeleng. Pemikirannya saat ini memang mengarah pada Natasha.
Setelah berhasil membuka pintu kamar, Erlan pun langsung masuk di ikuti si mbok di belakangnya. Begitu dengan Natasha yang tidak bisa di pungkiri ikut merasa khawatir akan keadaan Lena. Natasha takut Lena setres karena sikapnya yang selalu mendebat dan mencari gara gara hingga akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Bisa di salahkan seumur hidup nanti dirinya jika sampai terjadi sesuatu yang buruk pada Lena.
Erlan menghela napas merasa sangat lega juga tenang begitu mendapati Lena yang sedang tertidur diatas ranjang dengan posisi terlentang. Pemikiran buruk yang sempat menguasai hati dan pikirannya seketika sirna.
Tidak berbeda dengan Erlan, si mbok pun menghela napas lega karena ternyata Lena baik baik saja.
“Lihatkan? Dia baik baik saja. Dia hanya tidur. Orang kampung yang tidurnya begitu. Nggak denger bahkan meskipun ada gempa.” Ketus Natasha yang ikut masuk ke dalam kamar Erlan dan Lena. Setelah itu Natasha pun berlalu dengan perasaan kesal keluar dari kamar Erlan dan Lena.
Si mbok yang mendengar itu hanya tersenyum saja. Tidak biasanya Lena tidak mendengar apa apa saat sedang tertidur. Bahkan beberapa kali ketukan dari luar tidak juga membangunkannya.
“Syukurlah nyonya baik baik saja. Ya sudah kalau begitu saya permisi tuan.”
__ADS_1
“Hem.. Ya.. Tolong tutup juga pintunya mbok..” Sahut Erlan pelan.
“Baik tuan.” Angguk si mbok yang kemudian melangkah keluar dari kamar tuan dan nyonya mudanya. Si mbok juga tidak lupa menutup pintu kamar Erlan dan Lena.
Erlan kembali menatap Lena yang begitu pulas terlelap dengan posisi terlentang namun kedua kakinya menjuntai di kaki ranjang. Pria itu tertawa geli mengingat pikiran pikiran buruk yang sempat membuatnya hampir saja kesetanan. Apa lagi Erlan juga sudah berprasangka buruk pada Natasha.
Pelan pelan Erlan melangkah mendekat pada Lena. Pria itu mendudukkan dirinya disamping tubuh Lena. Tatapannya mengarah lembut pada Lena yang belum juga terbangun meski bunyi deritan ranjang terdengar saat Erlan bergerak di sampingnya.
Erlan kemudian ikut membaringkan tubuhnya disamping tubuh terlentang Lena dengan posisi miring menghadap pada Lena yang begitu tenang dan damai memejamkan kedua matanya. Lena seperti baru saja melakukan aktivitas berat, begitu yang Erlan pikirkan sekarang.
Dengan senyuman yang terus menghiasi bibirnya, Erlan pun membelai lembut pipi Lena. Dan sentuhan lembut itu membuat Lena melenguh kemudian merubah posisinya dari terlentang menjadi miring. Tangan Lena juga bergerak lalu memeluk Erlan. Lena menyusup masuk ke dalam dada bidang Erlan mencari kenyamanan disana tanpa sedikitpun membuka kedua matanya. Bahkan napas Lena kembali tenang saat sudah berada di dekapan hangat Erlan. Itu menandakan Lena kembali tertidur dengan sangat nyenyak.
Erlan terkekeh geli. Istrinya benar benar sangat menggemaskan.
Merasa tidak tega jika harus membangunkan istrinya, Erlan pun memilih untuk membiarkan Lena tetap terlelap. Pria itu justru semakin mengusap usap lembut punggung Lena menciptakan rasa aman dan nyaman untuk istri tercintanya itu. Lagi pula si mbok dan pelayan yang lainnya juga masih baru menyiapkan bahan bahan makanan yang akan mereka masak. Waktu makan siang juga masih sekitar setengah jam lagi. Erlan memilih untuk ikut terlelap menemani Lena istirahat siang itu.
------------
“Ya.. Saya harap juga demikian.” Balas Alex tersenyum lebar.
“Baik kalau begitu saya permisi tuan Alexander. Selamat siang dan selamat berjumpa di pertemuan berikutnya.”
“Ah ya.. Ya tuan, hati hati di jalan.”
Setelah melepas jabatan tangannya, pria baya berperut buncit itu kemudian berlalu dari hadapan Alex di ikuti oleh sekretaris sexy nya.
Alex tersenyum lebar menatap punggung pria baya itu. Alex merasa sangat lega juga senang karena akhirnya bisa mendapat partner kerja sama antar perusahaan yang meskipun tidak sebesar perusahaan Erlan, namun cukup punya nama di kota itu. Dengan begitu, papahnya tuan besar Smith tidak akan lagi menyalahkannya. Tentu saja karena Alex berhasil menggaet salah seorang pem bisnis yang cukup terkenal namanya di kalangan. Baik itu di kalangan publik atau di kalangan para pem bisnis.
__ADS_1
Alex menghela napas kasar. Pria itu kemudian menoleh pada Melisa yang duduk di sampingnya. Seperti biasanya, penampilan sexy Melisa selalu berhasil membuatnya merasa bergairah. Alex bahkan sudah tidak lagi mencari wanita lain karena baginya Melisa sudah cukup memuaskannya. Apa lagi Melisa juga selalu ada di sampingnya. Itu membuat Alex merasa sangat bebas dan leluasa dalam menguasai Melisa.
Melisa yang di tatap seperti itu oleh Alex merasa sedikit risih. Melisa kemudian sedikit menggeser kursi yang di duduki nya agar tidak terlalu dekat dengan Alex.
“Kenapa?” Tanya Alex yang mengerti Melisa merasa risih dari ekspresinya.
“Tidak apa apa pak.” Jawab Melisa pelan.
Deringan ponsel di dalam tas kecil Melisa membuat Melisa buru buru meraih ponselnya yang berada di dalam tas. Melisa merogoh tasnya dan mengeluarkan benda pipih tersebut.
Melisa mengeryit ketika mendapati kontak nama guru di sekolah David yang meneleponnya. Seketika rasa khawatir merayapi hati Melisa. Melisa takut sesuatu yang buruk terjadi pada David.
“Eum sebentar pak, saya...”
“Angkat saja. Tidak perlu menjauh.” Sela Alex.
Melisa menelan ludah. Tidak sopan sekali rasanya jika dirinya harus mengangkat telepon di depan atasannya. Tapi Melisa juga tidak bisa menunda untuk mengangkat telepon tersebut.
Karena tidak bisa menahan rasa khawatir juga penasarannya, Melisa pun segera mengangkat telepon dari guru David.
“Halo.. Selamat siang pak..”
“Apa?!”
Keterkejutan dan ekspresi Melisa membuat Alex mengeryit penasaran.
“Ada apa Melisa?” Tanya Alex penasaran.
__ADS_1
“Ya pak.. Ya.. Saya akan segera kesana sekarang juga.” Kata Melisa kemudian menutup telepon.
Melisa bergegas bangkit dari duduknya kemudian berlalu dengan sedikit berlari dari hadapan Alex. Hal itu membuat Alex semakin merasa penasaran hingga tanpa pikir panjang Alex langsung mengejar Melisa. Alex ingin tau apa yang terjadi sebenarnya pada Melisa.