SAYANG

SAYANG
Episode 77


__ADS_3

Menjelang makan siang, Alex menghampiri Melisa yang masih fokus dengan pekerjaannya. Pria itu berdecak kesal melihat penampilan Melisa yang masih sama seperti pagi tadi. Padahal Alex sudah menyuruhnya untuk tidak mengenakan baju itu lagi.


“Melisa.” Panggil Alex membuat perhatian Melisa teralihkan dari laptop ke padanya.


Karena Alex yang sudah berada di depan meja kerjanya, Melisa pun bergegas berdiri dari duduknya. Dia sedikit menunduk sebagai tanda hormatnya pada Alex.


“Pak.. Selamat siang pak.”


Alex menghela napas pelan. Penampilan Melisa selalu membuat sesuatu dalam dirinya bangkit. Apa lagi Alex juga merasa candu pada Melisa yang sering di sentuhnya secara paksa.


“Apa kamu sedang memancing saya? Saya sudah untuk tidak mengenakan baju itu lagi bukan tadi pagi? Kenapa kamu belum menggantinya juga?” Tanya Alex dengan nada sedikit tinggi. Ya, Alex marah karena Melisa tidak segera menuruti apa yang dia perintahkan.


Melisa tidak tau harus menjawab apa. Wanita itu sendiri tidak mungkin pulang begitu saja hanya untuk mengganti bajunya sedang jam kerja sudah di mulai pagi tadi. Itu jelas akan sangat menyalahi aturan yang pasti juga akan membuat Alex marah padanya karena di anggap tidak disiplin dengan waktu. Lagi pula Alex mengatakan dirinya jangan berpenampilan seperti itu lagi mulai besok, bukan siang ini.


“Sekarang kamu bereskan pekerjaan kamu. Saya tunggu kamu di parkiran.” Ketus Alex yang jelas sekali tidak ingin di tolak.


Melisa memejamkan kedua matanya dengan menggigit bibir bawahnya sendiri merasa takut dengan kemarahan Alex. Namun bersamaan dengan rasa takutnya Melisa juga merasa bingung dengan tingkah Alex akhir akhir ini.


Setelah Alex berlalu dari depannya, Melisa baru berani mengangkat kepalanya. Melisa menatap punggung lebar Alex yang semakin menjauh hingga akhirnya Alex masuk ke dalam lift.


Melisa menghela napas. Entah apa lagi yang membuat Alex seperti itu. Tapi mendapat perintah agar berpenampilan tertutup secara langsung dari Alex membuat Melisa merasa sedikit tersanjung. Melisa juga merasa senang karena dengan begitu dirinya tidak di anggap sengaja menggoda atasannya.

__ADS_1


Tidak mau membuat Alex semakin marah padanya, Melisa pun bergegas menyelesaikan pekerjaannya setelah itu mengunci dan menutup laptopnya. Melisa juga tidak lupa membereskan meja kerjanya sebelum akhirnya bergegas untuk memenuhi panggilan Alex yang mengatakan menunggunya di parkiran.


Melisa melangkah menuju lift dan masuk ke dalamnya. Begitu sampai di lantai dasar, Melisa pun keluar dari lift dan melangkah terburu buru di lobi. Melisa sempat mendengar beberapa karyawan sedang menggunjingnya. Namun Melisa tidak ingin terlalu ambil pusing. Toh memang benar apa yang mereka katakan bahwa Melisa di jadikan sebagai budak nafsu oleh Alex. Meski memang akhir akhir ini Alex sudah tidak lagi melakukan itu padanya.


Begitu sampai di parkiran, Melisa buru buru melangkah ke mobil Alex. Dia mengetuk pelan terlebih dulu kaca mobil Alex sebagai tanda hormatnya sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil Alex dan duduk tepat di samping Alex yang duduk dengan tenang di kursi kemudi.


“Maaf sudah membuat bapak menunggu lama. Saya menyelesaikan pekerjaan saya dulu tadi.” Ujar Melisa membuat Alex melirik sekilas ke arahnya.


Alex hanya menghela napas kasar kemudian meraih sesuatu di jok belakang. Sebuah paperbag dengan warna coklat terang. Alex kemudian memberikan paperbag tersebut dengan sedikit kasar pada Melisa dengan cara melemparnya hingga tepat mengenai pangkuan Melisa.


Melisa terkejut namun hanya diam saja. Dia tidak berani protes karena Alex pasti akan semakin marah padanya.


“Ganti sekarang baju kamu.” Perintah Alex telak.


“Pindah ke belakang dan ganti baju kamu dengan baju yang ada di dalam paperbag itu Melisa. Sekarang.”


Melisa menelan ludah mendengarnya. Bagaimana mungkin dirinya akan berganti baju di dalam mobil Alex. Apa lagi sekarang mereka juga sedang berada di parkiran yang cukup ramai oleh para karyawan yang hendak mencari makan siang untuk mengisi perutnya yang keroncongan itu.


“Pak biar saya..”


“Kamu mau saya pecat?” Sela Alex tajam.

__ADS_1


Melisa langsung bungkam. Ancaman pemecatan memang selalu membuatnya tidak berdaya. Tentu karena ancaman Alex tidak tanggung tanggung dengan mengatakan akan memecatnya secara tidak hormat yang kedepannya pasti akan sangat menyusahkannya dalam mencari pekerjaan.


“Saya akan menunggu diluar.” Kata Alex kemudian turun dari mobilnya begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Melisa.


Melisa kembali tidak berdaya dibuat oleh Alex. Alex benar benar selalu berhasil melakukan apa pun yang dia mau padanya.


Tidak punya pilihan lagi, Melisa pun bergegas pindah ke kursi belakang. Melisa berharap tidak ada siapapun yang tau apa yang dia lakukan di dalam mobil Alex. Untungnya mobil mewah Alex juga menggunakan kaca gelap yang tidak mudah membuat orang diluar bisa melihat apa yang sedang Melisa lakukan.


Namun bagaimanapun Alex, dia tetaplah pria yang tidak bisa mencegah birahinya naik ke ubun ubun. Diam diam Alex melirik Melisa yang sedang mengganti baju sexy nya dengan dress simpel selutut yang sengaja Alex belikan untuk baju ganti Melisa. Dan melihat pergerakan Melisa yang menanggalkan satu persatu kain yang menempel di tubuh sexy nya membuat jakun pria itu naik turun. Tapi Alex berusaha untuk menahannya. Alex tidak ingin melakukan pemaksaan lagi pada Melisa. Kalau pun memang dalam keadaan kejepit, Alex akan melakukannya dengan lembut tanpa menyakiti Melisa.


Selesai mengganti bajunya dengan dress yang di berikan Alex padanya, Melisa pun kembali duduk di kursi samping kemudi. Melisa tidak yakin Alex tidak melihat dia mengganti baju mengingat bagaimana maniaknya seorang Alexander. Tapi tetap bersikap tenang dan seolah tidak ada apa apa. Toh, Alex juga sudah biasa melihat setiap inci tubuhnya.


Alex kembali masuk ke dalam mobilnya. Dalam diam dia mulai menghidupkan mesin mobilnya membawa Melisa berlalu dari parkiran depan perusahaan untuk sama sama mencari makan siang.


Melisa tidak tau apa yang berada di pikiran Alex sebenarnya. Pria itu sangat aneh menurutnya. Meski Melisa sendiri merasa senang karena Alex tidak bertindak seenaknya padanya.


“Pak.. Tentang uang yang pak Alex keluarkan untuk biaya rumah sakit teman sekelas David juga uang yang pak Alex berikan pada keluarganya, saya akan berusaha menggantinya dengan cara di cicil.” Ujar Melisa memecah keheningan antara mereka berdua.


Alex tersenyum sinis mendengarnya. Uang yang dia keluarkan untuk membiayai teman sekelas David tidaklah murah mengingat teman sekelas David di larikan ke rumah sakit yang cukup elit. Bahkan gaji serta bonus yang Alex selalu berikan pada Melisa tidak ada 5 persen nya dari biaya rumah sakit tersebut.


“Jangan sombong kamu Melisa. Bahkan dengan kamu menyerahkan tubuh kamu secara suka rela pada saya juga tidak akan cukup untuk mengganti uang itu.” Kata Alex pedas.

__ADS_1


Melisa hanya diam saja. Rumah sakit itu memang cukup elit. Dan Melisa tau biaya rumah sakit teman sekelas David tidaklah murah.


__ADS_2