
Lena terkejut karena mendapati Erlan yang sudah duduk dikursinya di meja makan. Wanita itu merasa aneh karena tidak biasanya Erlan duduk disana sebelum waktu makan siang tiba.
“Kamu udah dari tadi disini?” Tanya Lena pada Erlan yang terus saja tersenyum menatapnya dengan satu tangan menyangga dagu.
“Hem.. Aku sudah lapar sayang..” Katanya.
Lena menyipitkan kedua matanya menatap penuh selidik pada Erlan. Seketika itu pikiran Lena kembali berpusat pada undangan reuni yang baru saja dia terima pagi ini. Undangan yang sebenarnya hanya di tujukan pada Erlan.
“Seneng banget kayanya yang mau ketemu sama teman teman masa sekolah.” Sindir Lena dengan sengaja. Pemikiran nya benar benar meleset kali ini karena menganggap Erlan bahagia karena mendapat undangan reuni dimana di dalam undangan tersebut terdapat peraturan si tamu undangan harus datang sendiri tanpa membawa pasangan. Dan Lena yakin yang membuat peraturan itu pasti adalah Chilla.
Erlan hanya menggeleng dengan senyuman gelinya. Gemas sekali rasanya melihat istrinya yang sedang cemburu tidak jelas hanya karena undangan yang belum tentu akan Erlan hadiri itu.
Dengan perasaan kesal Lena meladeni Erlan yang justru diam diam menertawakan nya. Lena tidak menyangka suaminya akan tetap begitu tenang dan sama sekali tidak membahas tentang undangan reuni yang sudah Lena tunjukan pada Erlan lewat pesan singkat pagi tadi.
Saking kesalnya, Lena sama sekali tidak mengatakan sepatah katapun saat makan siang berlangsung. Bahkan sebelum makanan nya habis Lena sudah lebih dulu bangkit dari kursinya lalu meninggalkan Erlan menuju lantai dua dimana kamar mereka berada.
Erlan yang melihat tingkah menggemaskan istrinya itu hanya bisa menggelengkan kepala. Pria itu tidak menyangka jika kecemburuan Lena sampai begitu dalam. Tapi Erlan tidak sedikitpun merasa marah apa lagi tersinggung dengan sikap Lena. Erlan justru merasa senang karena itu artinya Lena sangat mencintainya dan takut dirinya akan berpaling dari cinta yang sedang mereka rajut bersama.
Tidak ingin membiarkan kekesalan Lena semakin memuncak, Erlan pun buru buru menyelesaikan makan siangnya. Setelah itu Erlan pun menyusul Lena menuju kamar mereka.
Saat sampai di kamarnya, Erlan tidak mendapati Lena disana hingga dia melihat Lena lewat jendela kamar yang berada di balkon kamarnya. Disana Lena sedang berdiri dengan posisi menghadap ke depan dengan kedua tangan di lipat di bawah dada.
__ADS_1
Erlan melepaskan jas abu abu yang di kenakan nya lalu menaruhnya diatas ranjang. Setelah itu dia melangkah menuju pintu balkon yang terbuka begitu lebar untuk mendekat pada istrinya yang sedang di bakar api cemburu.
Begitu sampai tepat berada di depan punggung Lena, Erlan pun melingkarkan kedua lengan kekarnya di pinggang Lena, memeluknya dengan mesra dari belakang.
Lena tersentak karena terkejut dengan apa yang Erlan lakukan. Lena pikir Erlan tidak akan menyusulnya.
“Orang bijak mengatakan, cemburu itu adalah dinding antara cinta dan benci sayang..” Ujar Erlan mengecup pundak Lena yang terbuka.
“Dan sekarang aku merasa kamu sedang marah karena cemburu.” Lanjut Erlan.
Lena hanya diam saja. Apa yang Erlan katakan memang benar. Lena sedang marah karena cemburu.
“Sayang.. Tentang undangan reuni itu. Aku merasa itu bukan hal penting yang perlu aku hadiri. Aku akan jauh lebih memilih menemani kamu di rumah dari pada harus menghadiri acara itu. Lagi pula itu bukan acara resmi yang mengharuskan aku untuk hadir kan?”
Merasa bersalah karena sudah marah marah bahkan sampai menyindir Erlan, Lena pun meraih lengan kekar Erlan yang melingkari perutnya. Dengan lembut Lena mengendurkan lingkaran lengan Erlan di perutnya kemudian pelan pelan memutar tubuhnya sehingga posisinya yang tadi memunggungi Erlan berubah menjadi menghadap pada Erlan.
“Maaf...” Lirih Lena menatap wajah tampan Erlan sendu.
Erlan yang memang tidak pernah tidak tersenyum saat memandang wajah cantik istrinya hanya mengangguk saja. Satu kecupan lembut Erlan daratkan di kening Lena, membuat si mpunya memejamkan kedua matanya merasakan betapa tulus Erlan mencintainya.
“Tidak ada yang perlu di maafkan sayang. Aku tau kamu benci karena undangan itu. Dan aku yakin kamu marah karena mencintai aku.” Ujar Erlan menundukan kepalanya menatap Lena yang juga mendongak menatapnya.
__ADS_1
Lena tersenyum. Entah kebaikan apa yang pernah dia lakukan sehingga Lena sampai di pertemukan bahkan di cintai oleh pria sebaik dan selembut Erlan. Padahal selama ini Lena selalu merasa dirinya penuh kekurangan. Lena merasa dirinya bukan orang yang selalu berbuat baik.
Tidak tau harus berkata apa pada suaminya, Lena pun memilih untuk berhambur ke dalam pelukan Erlan. Lena bahkan sampai harus berjinjit agar bisa dengan sempurna melingkarkan kedua lengan nya di bahu tegap suaminya.
----------------
Di tempat lain tepatnya di jalanan yang tidak jauh dari kediaman Melisa, mobil Alex terparkir. Pria itu masih sangat penasaran dengan sosok yang begitu sangat akrab dengan Melisa. Dan siang ini Alex kembali mengawasi kediaman sederhana Melisa yang begitu sepi. Bahkan motor metik Melisa juga tidak ada di depan rumahnya.
“Apa Melisa sedang tidak ada di rumah? Atau jangan jangan Melisa sedang pergi dengan pria brengsek itu.” Gumam Alex bertanya tanya sendiri.
Alex kemudian berdecak. Entah kenapa Alex merasa sangat tidak terima dengan kedekatan Melisa dan pria yang tidak Alex ketahui siapa namanya. Pria yang entah kenapa bisa begitu sangat akrab dengan Melisa.
“Apa dia lebih baik dari aku? Tapi memangnya apa yang dia punya sampai Melisa mau dekat dengan dia? Apa dia lebih kaya dari aku?” Alex kembali bertanya tanya sembari membanding bandingkan dirinya sendiri dengan Alvin, pria yang dia lihat begitu sangat dekat dengan Melisa.
Deru suara motor metik Melisa membuat Alex kembali mengarahkan pandangan pada kediaman sederhana Melisa. Kedua matanya langsung menyorot tajam saat mendapati Melisa yang berboncengan dengan pria yang tidak Alex tau memiliki hubungan apa dengan Melisa. Bahkan pria itu yang mengemudikan motor metik milik Melisa dengan Melisa yang membonceng dan memeluk pinggang pria tersebut.
Kedua tangan Alex mengepal erat tidak bisa menerima apa yang dia lihat sekarang. Apa lagi keduanya tampak sangat mesra menurut Alex.
“Nggak, aku nggak bisa diam saja melihat mereka berdua begitu dekat.” Gumam Alex dengan rahang mengetat.
“Melisa hanya boleh dekat denganku. Tidak boleh ada siapapun yang mendekati Melisa kecuali aku..” Lanjut Alex lagi.
__ADS_1
Merasa tidak bisa diam saja, Alex pun memutuskan untuk turun dari mobilnya. Pria itu menyeberangi jalan melangkah lebar menuju rumah sederhana Melisa dimana di teras depan rumah sederhana itu terdapat Melisa dan Alvin yang sedang mengobrol mesra.