SAYANG

SAYANG
Episode 150


__ADS_3

“Kita beneran mau ke rumahnya mbak Mel? Memangnya kamu tau alamatnya?” Tanya Lena saat mereka sedang sarapan di meja makan.


“Tentu saja. Untuk kamu, apapun bisa aku lakukan sayang.” Senyum Erlan menjawab.


Lena berdecak pelan kemudian tersenyum merasa sangat tersanjung dengan apa yang Erlan katakan. Meskipun sebenarnya Lena tidak yakin penjual kue bernama mbak Mel itu akan menerima kedatangan nya.


Selesai sarapan, Erlan pun langsung mengajak Lena keluar dari kediaman mewahnya. Sebenarnya Erlan sudah menyuruh Kenzie lebih dulu untuk mendatangi Melisa. Erlan sempat terkejut begitu tau penjual kue yang akrab dipanggil mbak Mel itu ternyata adalah Melisa mantan sekretaris Alex. Dan Erlan yakin Lena pasti masih sangat mengenal Melisa jika bertemu nantinya.


“Tapi malam itu mbak Mel menolak. Aku nggak mau kita kesana tapi ujungnya mbak Mel tetap tidak akan mau menemui kita. Bukankah itu akan sangat membuang buang waktu?”


Erlan tertawa pelan. Dia sudah berhasil membuat Melisa Setuju untuk bertemu dan mengajarkan Lena secara langsung cara membuat kue lapis legit yang sangat di sukai oleh Lena sejak pertama kali mencoba nya.


“Kamu nggak perlu khawatir sayang. Percaya sama aku, mbak Mel pasti akan menyambut kedatangan kita hari ini dengan senang hati. Dia juga pasti akan mengajarkan kamu bagaimana cara membuat kue lapis legit yang kamu sukai itu.” Kata Erlan dengan penuh percaya diri.


Lena menghela napas pelan. Dia benar benar tidak yakin kali ini pada apa yang Erlan katakan karena Lena sendiri sudah menghubungi Melisa dan Melisa memberikan alasan yang tentu saja Lena tidak bisa memaksanya.


“Sudah kamu tenang saja. Percaya sama aku sayang.” Senyum manis Erlan meyakinkan Lena.


Lena hanya bisa mengangguk saja. Tidak yakin sebenarnya tapi, Lena berusaha untuk menghargai apa yang sedang Erlan usahakan untuk memenuhi keinginan nya saat ini.


“Kita jalan sekarang ya sayang.”

__ADS_1


Sekali lagi Lena mengangguk mengiyakan ucapan suaminya. Wanita yang mengenakan dress simpel warna maroon itu duduk dengan tenang di samping kemudi Erlan.


Erlan menghidupkan mesin mobil nya kemudian berlahan melaju dari pekarangan luas rumah nya keluar melalui gerbang tinggi menjulang bercat hitam itu.


Tidak ada obrolan di antara keduanya saat dalam perjalanan menuju kediaman Melisa. Erlan fokus dengan kemudinya namun sesekali menoleh menatap pada istrinya yang juga fokus sendiri dengan pemikiran nya.


Yah, Lena sedang membayangkan dirinya bertemu dengan wanita bernama mbak Mel itu kemudian sama sama membuat kue lapis legit seperti apa yang sedang sangat Lena inginkan. Bahkan Lena sempat tidak bisa tidur dengan nyenyak hanya karena memikirkan penolakan dari Melisa saat dirinya menelpon.


Sekitar satu jam perjalanan akhirnya mereka sampai tepat di depan kediaman Melisa. Lena yang sebelumnya memang sudah tau kediaman sederhana itu mengeryit bingung. Lena bertanya tanya kenapa Erlan malah membawanya ke rumah Melisa, mantan sekretaris kesayangan Alex dulu.


“Erlan, kok kita kesini?” Tanya Lena menatap heran pada suaminya.


Erlan tersenyum manis. Pria itu menghela napas pelan. Tebakan nya seperti nya benar. Lena akan sangat terkejut begitu tau bahwa penjual kue yang sangat dia idam idamkan itu adalah Melisa. Orang yang tentu sangat Lena kenal karena dulu mereka berdua sama sama bekerja di perusahaan Alex. Melisa sebagai atasan dan Lena sebagai bawahan.


“Tunggu tunggu. Jadi maksud kamu rumah mbak Mel itu ada di sekitar sini? Dimananya memang? Di samping atau di belakang rumah ini?” Tanya Melisa yang sudah berpikiran bahwa mbak Mel itu adalah Melisa.


Erlan menggeleng pelan.


“Rumahnya yang itu sayang. Yang ada di depan mata kita.” Jawab Erlan pelan.


“Apa?!” Kedua mata Lena terbelalak mendengar nya. Lena masih tidak percaya dengan apa yang Erlan katakan bahwa mbak Mel yang di maksud itu memang benar Melisa. Atasan nya dulu saat bekerja di perusahaan Alex.

__ADS_1


“Awalnya aku juga kaget sayang. Tapi memang itu kenyataan nya. Mbak Mel itu adalah Melisa. Atasan kamu dulu saat bekerja.” Jelas Erlan.


Lena menggelengkan kepalanya pelan. Rasanya benar benar sangat mustahil jika benar mbak Mel itu adalah Melisa. Tapi Erlan juga tidak mungkin membohongi nya. Lena percaya pada apa yang di katakan oleh Erlan meski hatinya masih menolak tentang siapa sosok mbak Mel yang sebenarnya.


“Jadi bagaimana? Kamu masih mau bertemu dengan mbak Mel dan membuat kue lapis legit itu bersama mbak Mel secara langsung atau kita pulang saja?” Tanya Erlan yang tidak ingin jika istrinya terpaksa tetap melakukan apa yang menjadi keinginan nya karena mereka sudah terlanjur disana.


Sesaat Lena terdiam. Hasrat ingin bisa membuat kue lapis legit yang sangat di sukai nya itu masih sangat menggebu gebu meski Lena sendiri sudah tau siapa mbak Mel yang sebenarnya. Lena merasa bimbang sebentar karena hal itu. Namun keinginan itu begitu sangat kuat sehingga Lena merasa sangat sayang jika tidak melakukan nya. Apa lagi mereka berdua sudah jauh jauh dari rumah ke kediaman Melisa yang jaraknya memang tidak dekat.


Lena menghela napas pelan. Meski dulu dirinya tidak dekat atau akrab dengan Melisa, namun Lena merasa tidak pernah punya masalah dengan Melisa. Lena juga tidak pernah memiliki rasa dengki ataupun iri meski dulu Melisa lah yang jauh lebih dekat dengan Alex bahkan sering menghabiskan waktu bersama Alex dulu dari pada dirinya.


“Iyah.. Aku tetap ingin bertemu langsung dengan mbak Mel. Eum.. maksud aku Melisa. Aku ingin membuat kue lapis legit itu secara langsung dengan Melisa.” Senyum Lena kemudian.


Erlan mengangkat sebelah alisnya mencoba membaca pikiran Lena dari ekspresi wajah cantik istrinya itu. Namun Erlan tidak menemukan unsur merasa terpaksa dari wajah Lena. Lena terlihat benar benar serius dengan senyuman manis yang menghiasi bibirnya.


“Oke kalau begitu, kita turun sekarang yah..” Angguk Erlan kemudian.


Lena ikut menganggukkan kepalanya. Wanita itu kemudian melepaskan seatbelt yang di kenakan nya dan turun dari mobil mewah suaminya bersamaan dengan Erlan yang juga turun dari mobilnya.


Lena menatap kediaman sederhana milik Melisa. Lena tidak pangling sedikitpun dengan rumah itu meski memang cat rumahnya sudah tidak lagi sama dengan warna yang dulu saat Lena datang mengantarkan berkas yang di butuhkan Melisa dengan Sasha. Lena sangat yakin bahwa rumah itu memang adalah rumah Melisa.


“Ayo sayang..” Ajak Erlan membuyarkan lamunan sesaat Lena.

__ADS_1


Lena menoleh menatap Erlan kemudian tersenyum di sertai anggukan kepalanya. Lena mendekat pada Erlan yang mengisyaratkan agar Lena menggandengnya. Mereka berdua kemudian melangkah beriringan dengan tangan saling betautan menuju beranda rumah sederhana Melisa yang tampak sangat sepi pagi itu.


__ADS_2