
Menjelang waktu makan siang tiba Lena pun berkutat di depan cermin dimana di depannya juga banyak peralatan make up dengan harga yang tidak murah tertata begitu rapi di atas meja disana.
“Kamu sebenarnya sudah cantik Len, cantik banget malah. Aku akui itu. Tapi Len, akan lebih baik lagi jika kamu sedikit merias diri untuk tuan Erlan. Itu juga bisa membuat hubungan rumah tangga semakin harmonis loh. Selain itu kalau kamu semakin cantik kan kamu juga pasti akan lebih percaya diri lagi di depan suami kamu.”
Ucapan Sasha pagi tadi kembali terngiang di telinga Lena. Lena sebenarnya bukan tipe wanita yang suka berhias. Namun begitu mendengar apa yang Sasha katakan membuat Lena sadar bahwa dirinya juga harus tampil sedikit menarik untuk menyenangkan hati Erlan.
Lena tersenyum menatap pantulan wajah cantiknya di cermin di depannya. Lena tidak bisa munafik. Melihat wajahnya yang berpoles make up membuat Lena merasa sedikit pangling. Padahal Lena cuma memoles tipis dan simpel saja untuk semakin mempercantik wajahnya.
Tidak hanya menggunakan make up di wajahnya, Lena juga menggunakan koleksi gaun yang berada di dalam lemari bajunya dan Erlan. Wanita itu mengenakan gaun tanpa lengan berwarna salem namun benar benar menutupi bagian dadanya dengan sempurna. Lena yakin gaun itu adalah pilihan Erlan mengingat pria itu yang sangat tidak menyukai gaun yang terlalu terbuka dan mengekspos tubuh.
Lena menghela napas pelan. Ketika dia hendak bangkit dari duduknya, tiba tiba pandangannya bertemu dengan pandangan Erlan lewat cermin di depannya. Entah sejak kapan pria itu berada di belakangnya Lena tidak menyadarinya.
“Erlan..” Gumam Lena pelan.
Erlan masih terpaku menatap istrinya yang begitu sangat berbeda menurutnya. Begitu cantik dan membuatnya pangling.
Lena kemudian memutuskan bangkit dari duduknya lalu memutar tubuhnya menghadap Erlan yang masih terpaku menatapnya.
Seulas senyum mengembang di bibir Lena. Lena berharap Erlan tidak keberatan dengan dandanannya saat ini.
“Bagaimana? Apa aku terlihat berlebihan?” Tanya Lena pelan.
Pertanyaan Lena membuat Erlan tersadar dari keterpakuan nya. Pria tampan itu kemudian menyunggingkan senyuman di bibirnya dan perlahan mendekat pada Lena yang masih berdiri di depan kursi tempatnya duduk tadi.
“Tentu saja tidak sayang. Kamu cantik, dan aku sangat suka.” Jawab Erlan lirih sembari menyentuh dan membelai lembut pipi kanan Lena.
Lena tersenyum mendengarnya. Wanita itu meraih tangan besar Erlan yang membelai tangannya pipinya. Lena menggenggam tangan besar dan hangat itu. Tangan yang tidak pernah lepas menggenggam tangannya erat.
__ADS_1
“Terimakasih..” Gumam Lena.
Erlan kembali menatap wajah cantik istrinya. Lena memang sudah cantik meski tanpa harus menggunakan make up di wajahnya. Tapi Erlan juga tidak bisa munafik bahwa Lena terlihat semakin cantik dengan dandanan seperti sekarang.
“Aku yang harusnya berterimakasih sayang. Terimakasih sudah mau berdandan seperti ini untuk menyambut kepulanganku.” Kata Erlan.
“Aku hanya ingin tampil beda siang ini Erlan. Aku ingin membuat kamu tidak malu dengan aku yang selalu berpenampilan apa adanya.”
Erlan menggelengkan kepalanya menolak apa yang Lena katakan.
“Aku mencintai segala yang ada pada diri kamu sayang. Apapun itu.”
Lena tertawa pelan mendengarnya. Wanita itu kemudian menyusup masuk ke dalam dekapan hangat Erlan yang tentu saja langsung di sambut dengan penuh cinta oleh Erlan. Pria itu mendekap lembut dan sesekali mencium puncak kepala Lena.
Lena tersenyum dalam dekapan Erlan. Wanita itu yakin dengan Erlan yang begitu sangat lembut menyikapinya, Lena bisa jatuh cinta pada Erlan. Apa lagi sekarang Lena juga merasa sangat nyaman jika sedang berada bersama Erlan.
“Sebentar lagi waktu makan siang tiba sayang. Lebih baik kita pergi sekarang.”
“Tapi sayang, sebelum kita pergi boleh tidak aku minta sesuatu sama kamu?”
Pertanyaan mengandung permintaan dari Erlan membuat Lena mengeryit bingung.
“Apa itu?” Tanya Lena penasaran.
Erlan tersenyum kemudian menyentuh pipi kanannya menggunakan jari telunjuknya.
“Cium aku sayang.” Kata Erlan.
__ADS_1
Lena tertawa kecil mendengar permintaan Erlan. Wanita itu kemudian berpegangan pada kedua bahu Erlan dan berjinjit untuk memberikan ciuman singkatnya di pipi Erlan seperti permintaan Erlan.
Mendapat apa yang di inginkannya Erlan pun tersenyum lebar. Lena sudah tidak lagi risih padanya. Wanita itu tampak terbuka dan bisa menerima Erlan dengan tulus di hatinya. Meski Erlan masih tidak bisa yakin sepenuhnya bahwa Lena sudah mulai jatuh cinta padanya. Tapi Erlan tidak akan putus asa. Apa lagi sekarang Lena sudah menjadi istrinya. Erlan akan terus berusaha sampai Lena benar benar mencintainya.
“Ada lagi?” Tanya Lena dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.
Erlan menginginkan lebih sebenarnya. Tapi Erlan sadar dirinya tidak boleh terburu buru. Erlan harus bisa sabar menunggu. Erlan tidak mau tampak tamak di depan wanita yang sangat di cintainya itu.
“Sudah cukup sayang. Ayo kita pergi sekarang.” Ajaknya.
Lena menganggukkan kepalanya dengan mantap. Wanita itu meraih tas kecil berwarna cream. Tas yang juga di belikan oleh Erlan. Karena saat datang dan mulai tinggal di rumah Erlan, Lena sama sekali tidak membawa apa apa. Barang barang yang Lena miliki yang Lena beli dengan uangnya sendiri sudah habis terbakar bersama dengan rumah sewa yang di tempatinya saat itu. Dan semua itu terjadi karena kecerobohan Lena sendiri.
“Ayo..” Lena melingkarkan kedua tanganya di lengan kekar Erlan. Mereka berdua kemudian melangkah beriringan keluar dari kamar mereka.
Lena diam diam tersenyum. Apa yang di katakan oleh Sasha memang benar. Tidak ada salahnya jika Lena sedikit berhias untuk menyenangkan hati Erlan. Walaupun sebenarnya Erlan juga tidak pernah protes dengan penampilan simpel Lena. Erlan bahkan sepertinya tidak pernah merasa malu meskipun setiap keluar bersama Lena, Lena selalu tampil sederhana. Erlan tetap memperlakukan Lena dengan sangat istimewa entah itu saat mereka sedang berdua ataupun sedang di depan banyak orang.
Seperti biasanya, Erlan dan Lena selalu menemui si mbok dan mengatakan jika mereka tidak akan makan siang di rumah siang ini. Itu mereka berdua lakukan agar si mbok dan pelayan lainnya tidak perlu repot menyiapkan makan siang untuk mereka dan cukup memasak untuk mereka makan saja. Setelah menemui si mbok, mereka pun keluar dari kediaman mewah Erlan.
“Silahkan istriku sayang..”
Lena tertawa kecil karena apa yang Erlan katakan dan lakukan dengan membukakan pintu mobil untuknya. Itu memang biasa Erlan lakukan, namun entah kenapa Lena selalu merasa itu sangat konyol dan berlebihan.
“Kamu terlalu berlebihan Erlan.” Balas Lena dengan sisa tawanya.
“Tidak ada yang berlebihan jika itu untuk kamu sayang.” Senyum Erlan yang membuat Lena hanya bisa menggeleng saja.
Wanita dengan dress warna salem selutut itu kemudian masuk ke dalam mobil Erlan. Setelah Lena masuk, Erlan pun menutup pintu mobil dengan pelan dan menyusul masuk ke dalam mobilnya. Dengan kecepatan sedang Erlan mulai melajukan mobilnya menuju gerbang yang jika di tempuh dengan berjalan kaki memang tidak dekat.
__ADS_1
“Kali ini biarkan aku yang menentukan kita akan makan dimana ya sayang?”
“Oke.. Asal jangan makanan mentah aku tidak akan protes.” Jawab Lena yang membuat Erlan tertawa.