SAYANG

SAYANG
Episode 167


__ADS_3

Setelah kepergian Sherin, Alex menjadi sering melamun sendiri. Pria itu bahkan sering tiba tiba membuka pintu kamar yang dulu menjadi tempat tidur Sherin. Alex merasa ada sesuatu yang kurang dalam hidupnya sekarang. Tidak jarang bahkan Alex seolah mendengar suara Sherin yang memanggilnya saat dirinya sedang memejamkan kedua matanya. Itu membuat Alex merasa tidak tenang siang dan malam.


Karena tidak bisa memejamkan kedua matanya sampai malam larut, Alex pun memilih untuk keluar dari kamarnya. Saat itu juga Alex melihat bibi yang sedang mengayun putranya yang sedang menangis.


Alex mengernyit. Tidak biasanya putranya menangis dan tidak bisa di tenangkan meski sudah di beri susu.


Alex yang merasa kasihan pada bibi yang tidak bisa membuat putranya diam pun segera mendekat.


“Bi..” Panggil Alex pelan.


Bibi yang sedang kewalahan karena bayi tampan itu yang terus menangis pun menoleh.


“Tuan...”


“Kenapa dengan Arka?” Tanya Alex. Arkana Bryan Smith adalah nama yang di berikan oleh tuan dan nyonya Smith tepat sehari sebelum Sherin meninggal.


“Saya juga tidak tahu tuan. Dari sore tuan muda terus saja menangis. Sudah saya beri susu tapi hanya tidur sebentar dan kembali bangun kemudian menangis lagi.” Jawab bibi yang kentara sekali sedang menahan kantuknya.


Alex menghela napas. Selama putranya bersama dirinya, ini kali pertama bayi itu menangis seperti sekarang.


“Sini biar Arka sama saya. Bibi istirahat saja.”


Bibi terdiam mendengar apa yang Alex katakan. Wanita tua itu takut salah dengar.


“Bi, sini biar Arkana sama saya. Bibi istirahat saja. Saya tau bibi pasti lelah seharian menjaga Arka.” Ulang Alex dengan pelan.

__ADS_1


“Oh iya iya tuan. Maaf... Ini..” Dengan gelagapan bibi pun menyerahkan Arka pada Alex. Namun bibi tidak langsung berlalu begitu saja. Bibi terus berdiri di tempatnya menatap Arkana yang sudah berada di gendongan Alex. Ajaibnya bayi itu langsung diam bahkan meski tidak di beri susu karena memang dot bayinya masih ada di tangan bibi.


“Hey kamu jagoan nya papah. Laki laki itu nggak boleh cengeng. Laki laki itu harus kuat dan tidak terkalahkan. Oke?” Ujar Alex berbicara dengan putranya.


Bibi yang melihat itu tanpa sadar meneteskan air matanya. Ini adalah pemandangan yang sangat mengharukan menurut bibi mengingat Alex yang bahkan tidak pernah mau menengok putranya. Tapi sekarang Alex menggendong nya dan berusaha untuk mendiamkannya yang sejak tadi terus saja menangis.


“Andai saja nyonya masih ada, nyonya pasti akan sangat bahagia..” Batin bibi merasa pilu. Bibi juga merasa sangat terpukul dengan kepergian Sherin. Namun apalah daya takdir sudah di tetapkan oleh sang maha kuasa. Dan ketika takdir itu di berikan kepada manusia tidak ada satu makhluk pun di dunia yang bisa menghalanginya. Takdir kematian tidak bisa di hindari bahkan oleh seekor nyamuk sekalipun.


“Bi, susunya.” Alex meminta susu yang masih berada di tangan bibi. Pria itu juga melihat bibi yang menangis dalam diam namun dia pura pura tidak melihatnya. Alex bersikap biasa saja. Alex tau bibi merasa sangat terharu dengan kebersamaan nya dan Arkana. Alex juga tau bibi pasti merasa kasihan pada Arkana yang harus kehilangan mamahnya padahal Arkana masih bayi dan masih belum tau apa apa. Tapi sekali lagi, Alex adalah pria keras kepala yang tidak membutuhkan belas kasihan dari siapapun.


Alex menghela napas kemudian membawa Arkana menjauh dari bibi. Pria itu terus berceloteh mengajak putranya yang sudah terdiam di gendongan nya.


Tidak sampai lima menit berada dalam gendongan Alex, Arkana pun berlahan tertidur. Bayi tampan itu memejamkan kedua matanya dengan sangat damai seolah merasa sangat nyaman berada dalam dekapan hangat sang papah.


“Sherin...” Tanpa sadar Alex menggumamkan nama Sherin. Namun kemudian Alex pun menggelengkan kepalanya. Alex merasa dirinya tidak perlu lagi memikirkan Sherin yang telah tiada. Justru Alex seharusnya merasa senang karena wanita yang selalu mengganggu bahkan berhasil menghancurkan hidupnya kini telah tiada.


Alex berdecak pelan. Alex tidak bisa memungkiri jika terkadang terbesit rasa bersalah dalam hatinya. Alex juga beberapa kali bermimpi tentang kejadian yang pernah Sherin alami karena keegoisan nya. Di antaranya saat Alex berbuat kasar bahkan sampai mencekik dan melempar Sherin yang menangis terisak. Semua itu terus saja menghantui Alex lewat mimpi sampai akhirnya Alex tidak bisa lagi memejamkan kedua matanya dan akhirnya begadang sampai pagi. Seperti saat ini misalnya. Alex tidak bisa memejamkan kedua matanya dengan tenang karena bayangan Sherin.


Alex kemudian mendudukkan dirinya di sofa dan menyandarkan punggungnya disana. Pandangan nya kembali terarah pada wajah putranya yang benar benar mirip dengan wajah cantik Sherin. Wajah yang menurut Alex sangat memuakkan. Tapi entah kenapa menatap wajah putranya Alex justru merasa tenang dan damai. Alex merasa menemukan kenyamanan tersendiri saat memandangi wajah putranya yang sedang terlelap itu.


“Kenapa kamu lebih mirip dengan mamah kamu dari pada dengan papah nak?” Tanya Alex pelan.


Tangan besar Alex terangkat. Dia membelai lembut pipi gembul putranya. Keinginan terbesar Alex sudah menjadi nyata. Yaitu Sherin pergi dari kehidupan nya untuk selamanya. Sherin tidak akan lagi kembali mengganggunya dengan segala taktik licik yang dia miliki. Tapi entah kenapa hal itu justru membuat Alex merasa berbeda. Alex merasa ada yang kurang dari hidupnya sejak mendengar kabar kematian Sherin. Padahal sebelumnya Alex merasa biasa saja bahkan sangat tidak sabar ingin menyingkirkan Sherin dari hidupnya. Tapi sekarang setelah semua itu menjadi nyata semuanya terasa sangat berbeda dan jauh dari apa yang Alex pikirkan.


“Sherin.. Kamu lihat kan? Arka bahkan lebih mirip dengan kamu dari pada denganku. Apa kamu sengaja melakukan ini agar aku hidup tidak tenang heh? Jangan kamu pikir dengan kemiripan kamu ini aku tidak bisa menjalani hidupku dengan bahagia. Aku bahkan sekarang sangat bahagia Sherin. Aku bahagia karena akhirnya kamu benar benar pergi dari kehidupanku. Aku dan anakku akan bahagia meski tanpa kamu.” Gumam Alex.

__ADS_1


Mulut pria itu berkata seolah dirinya adalah pria paling tangguh dan kuat. Tapi pada kenyataannya air mata bahkan menetes dari kedua matanya dan membasahi kedua pipi tirusnya bahkan jatuh menetes di pipi gembul Arkana. Hal itu menunjukkan bahwa tanpa Alex sadar dia merasa kehilangan Sherin. Wanita yang selalu dia anggap sebagai pengganggu. Wanita yang selalu dia sia siakan. Wanita yang selalu dia abaikan. Dan wanita yang selalu menunggu perasaan nya terbalaskan sampai akhir hayatnya.


-----------


Kematian Sherin juga membuat Lena di rundung pilu. Erlan yang tidak tau harus bagaimana lagi menenangkan istrinya hanya bisa diam saja namun tetap selalu ada di samping Lena.


Erlan siapa dan bagaimana istrinya. Dia adalah wanita berhati lembut yang selalu mau memaafkan kesalahan orang lain. Bahkan sebelum Sherin pergi untuk selamanya, Lena sempat meminta maaf untuk kesalahan yang sebenarnya tidak pernah dia perbuat.


“Sayang...”


Panggilan pelan nan lembut Erlan membuat Lena yang sedang merenung di balkon kamarnya menoleh. Wanita itu menatap Erlan dengan kedua matanya yang sembab. Sudah satu Minggu selama kepergian Sherin, selama itu pula Lena masih sering menangis. Melisa juga Sasha sudah Erlan hubungi agar datang dan menenangkan Lena, namun sepertinya itu tidak berhasil. Lena tetap saja merasa sedih atas kepergian Sherin.


“Aku yakin penyebab kamu seperti ini adalah karena Sherin pernah menjadi sahabat yang paling baik untuk kamu. Itu artinya Sherin sebenarnya adalah orang yang baik. Dia hanya keliru karena cintanya pada Alex. Sayang.. Tuhan selalu punya alasan setiap menetapkan takdir pada hambanya. Dan apa yang sudah Tuhan tetapkan saat ini mungkin memang yang terbaik untuk semuanya. Untuk kamu, untuk Sherin, untuk kita semua.” Lirih Erlan menatap lekat lekat kedua mata sembab Lena.


Erlan menghela napas pelan. Pria itu sangat berharap Lena tidak akan merasa sedih setelah ini.


“Sekarang kamu bayangkan jika seandainya Sherin masih ada dengan harapannya bisa di cintai oleh Alex, itu pasti akan sangat menyiksa Sherin. Atau mungkin Sherin masih ada sampai sekarang dengan berbagai alat medis yang menempel di tubuhnya, itu bahkan bukan hanya membuat Sherin tersiksa sendiri tapi juga keluarga nya. Tapi Tuhan begitu bijaksana dengan melepaskan Sherin dari segala kesakitan itu. Bahkan Tuhan memanggilnya untuk memberikan tempat yang lebih layak untuk Sherin. Sayang.. Kamu tidak perlu meratapi kepergian Sherin. Semua ini sudah takdir. Kamu tidak perlu menyalahkan siapapun apa lagi menyalahkan diri kamu sendiri. Sekali ini sudah ketetapan dari Tuhan. Yang harus kamu lakukan sekarang adalah kamu harus sabar dan ikhlas. Kamu harus terus semangat terutama sehat karena di dalam sini ada anak kita..” Lanjut Erlan panjang lebar. Erlan juga mengusap lembut perut rata Lena di akhir katanya dengan harapan Lena bisa memahami dan mengerti dengan apa yang di ucapkan nya.


Lena menangis mendengar nya. Lena langsung berhambur memeluk Erlan dengan erat. Karena rasa sedih atas kepergian Sherin, Lena hampir saja mengabaikan kondisinya sendiri. Dan sekarang apa yang Erlan katakan berhasil menyadarkan nya.


“Maaf.. Aku minta maaf..” Tangis Lena di sertai isakan.


“Nggak papa sayang.. Kamu boleh menangis sepuasnya sekarang. Tapi setelah ini aku mohon jangan lagi meneteskan air mata kesedihan. Aku ingin kamu selalu bahagia dan tersenyum di sisiku.” Bisik Erlan mengusap lembut rambut tergerai Lena dan sesekali mencium puncak kepala istri tercintanya itu.


Sedang Lena, sambil menangis dia menganggukkan kepalanya mengiyakan apa yang Erlan katakan. Lena akan berusaha mengikhlaskan segala apa yang telah terjadi dalam kehidupannya.

__ADS_1


__ADS_2