
“Apa? Kamu dan Alex sepakat untuk tinggal di apartemen Alex?” Nyonya besar Smith bertanya dengan nada sedikit tinggi memastikan apakah apa yang di katakan oleh Sherin benar atau hanya sekedar basa basi saja.
“Iya mah.. Setelah Sherin pikir pikir kalau kami berdua tinggal disana, kami pasti akan lebih mandiri. Dan sebagai seorang istri, Sherin juga bisa lebih leluasa menjalankan tugas Sherin mah. Seperti memasak dan melayani keperluan Alex yang lainnya.” Jawab Sherin dengan senyuman yang menghiasi bibirnya. Meskipun sebenarnya, Sherin sedang sangat gugup juga takut sekarang. Sherin takut mendapat amukan dari mamah mertuanya yang begitu tegas dan galak.
“Apa kamu bilang? Mandiri? Memasak? Hey Sherin. Kamu sedang menghina keluarga saya?” Nada pertanyaan nyonya besar Smith semakin meninggi. Kedua matanya mendelik tajam menyorot pada Sherin yang sudah tau itu pasti akan terjadi.
“E.. ee.. Maksud Sherin bukan begitu mah. Tapi Sherin hanya..”
“Cukup Sherin. Saya nggak mau mendengar apapun alasan kamu. Karena nggak butuh apapun itu. Saya akan izinkan kalian tinggal di apartemen Alex. Tapi kalian harus mempekerjakan orang disana. Saya tidak mau di katakan sebagai mertua kejam karena membiarkan menantu saya yang sedang hamil bekerja mengurus apartemen dan keperluan sendiri.”
Sherin hanya bisa menundukkan kepalanya. Tidak ada lagi pilihan selain menyetujui apa yang mamah mertuanya mau. Semua itu Sherin lakukan demi pengakuan Alex pada anaknya.
“Mungkin kamu memang biasa hidup susah Sherin. Tapi kamu juga harus tau diri dan sadar siapa kamu sekarang. Kamu itu menantu di keluarga Smith. Jangan bertingkah seperti orang bodoh dan tidak mampu Sherin.”
Sherin memejamkan kedua matanya. Kali ini hinaan itu secara terang terangan nyonya besar Smith katakan padanya. Sherin sadar dirinya memang bukan terlahir dari keluarga kaya raya seperti keluarga Smith. Tapi kehidupan yang sejak kecil Sherin jalani juga tidak begitu susah. Sherin bisa mendapat apapun yang Sherin mau tanpa harus bekerja lebih dulu. Itu karena kedua orang tuanya yang begitu sangat menyayanginya dan rela melakukan apapun untuknya juga adik dan kakaknya.
“Satu lagi Sherin. Dengan kamu memutuskan tinggal di apartemen Alex, itu artinya kamu juga sudah siap dengan segala konsekuensinya. Dan jika sesuatu yang buruk sampai terjadi pada calon cucu saya, kamu harus bertanggung jawab. Kamu mengerti?”
“Iya mah..” Angguk Sherin menyanggupi saja apa yang mamah mertuanya katakan. Sherin yakin Alex pasti akan menepati ucapannya dengan tidak lagi menyakitinya jika mereka benar benar pindah ke apartemen Alex.
__ADS_1
Nyonya besar Smith menatap dari atas sampai bawah penampilan sederhana Sherin. Wanita itu menggeleng pelan dengan tatapan sinis sebelum akhirnya dia berlalu meninggalkan Sherin sendiri di ruang tengah.
Sherin menghela napas. Sherin berharap keputusannya tidak salah kali ini.
Alex merasa senang karena akhirnya bisa kembali tinggal bebas di apartemennya. Pria itu sangat ingin sekali kembali dengan kehidupannya yang bebas dalam mempermainkan wanita. Untuk Sherin, Alex memang tidak akan lagi menyakiti wanita itu karena Alex sendiri malas jika harus melihat Sherin. Alex tidak akan mengusik Sherin selama Sherin juga tidak mengusiknya.
Paginya, mereka berdua segera pindah ke apartemen Alex. Meski Alex sempat merasa keberatan karena salah satu pekerja di rumah orang tuanya di haruskan ikut dengannya dan Sherin untuk membantu mengurus semua keperluan mereka. Tapi akhirnya Alex merasa itu tidak penting. Yang terpenting adalah dirinya bisa bebas lagi tanpa pengawasan secara langsung dari kedua orang tuanya terutama mamahnya yang sangat tegas dan tidak pernah mau di bantah itu.
Dalam perjalanan menuju apartemennya, Alex mengendarai mobilnya sendiri dengan Sherin dan asisten rumah tangga mereka yang duduk di kursi belakang. Alex sangat tidak sabar ingin menunjukan pada Sherin bahwa sedikitpun Alex tidak pernah punya rasa lebih seperti apa yang Sherin pikirkan selama ini. Alex juga ingin Sherin melihat sendiri bagaimana bebasnya dirinya jika sudah bersama dengan wanita lain. Dan Alex sudah punya pilihan yang tepat untuk dia peralat dalam menunjukan semua itu pada Sherin.
Sekitar setengah jam perjalanan, mobil Alex sampai tepat di depan gedung apartemennya. Pria itu turun dan meminta tolong pada satpam yang berjaga disana untuk membawakan barang barangnya dan Sherin.
“Huft.. Akhirnya.. Aku bisa kembali menghirup udara dengan bebas..” Gumam Alex menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur yang biasa dia gunakan untuk bercinta dengan Sherin maupun wanita lain.
Tidak lama kemudian ponsel dalam saku celana hitam yang di kenakan Alex berdering. Alex segera bangkit dari berbaring terlentang nya merogoh saku celana nya dan mengeluarkan benda pipih dengan harga tidak murah itu.
Senyum Alex mengembang ketika mendapati nama kontak Melisa yang tertera disana. Sherin yang melihat itu mengeryit merasa penasaran. Dalam benaknya Sherin bertanya tanya siapa yang menelepon Alex sampai Alex tersenyum sendiri seperti itu.
“Halo...”
__ADS_1
“Oke, saya ke kantor sekarang.”
Sherin menghela napas. Dia merasa aneh mendengar percakapan Alex dengan si penelepon. Alex terlihat sangat sumringah dan bahagia.
Alex kembali memasukan ponselnya ke dalam saku celana panjang yang di kenakannya. Setelah itu dia bangkit dari ranjang dan melangkah santai menuju pintu.
“Alex kamu mau kemana?” Tanya Sherin yang berhasil membuat Alex menghentikan langkahnya.
Alex menoleh dan menatap sinis pada Sherin. Alex paling tidak suka jika ada orang yang ingin tau urusannya. Tidak perduli itu siapapun.
“Apa harus aku menjawab pertanyaan kamu Sherin? Memangnya kamu pikir kamu siapa sampai aku harus memberitahu kamu kemana aku mau pergi?” Tanya nya membuat Sherin terkejut. Sherin tidak menyangka Alex akan berkata demikian padanya.
“Aku sudah bilang kan sebelumnya sama kamu, jangan ikut campur urusanku. Aku mau kemana dan bersama siapa, itu bukan urusan kamu. Jadi kamu nggak perlu tau dan nggak perlu banyak bertanya. Kamu mengerti?”
Hati Sherin berdenyut ngilu mendengar ucapan tajam Alex. Padahal Sherin pikir Alex bisa bersikap sedikit lebih baik padanya setelah mereka berdua tinggal bersama di apartemen Alex.
“Tapi Alex aku..”
“Diam !! Aku paling tidak suka di bantah.” Sela Alex dengan nada suara membentak.
__ADS_1
Sherin terkejut karena itu. Wanita itu memejamkan kedua matanya tidak menyangka jika Alex akan bersikap seperti itu padanya.
Setelah membentak Sherin, Alex pun berlalu keluar dari kamarnya. Pria itu tidak ingin waktunya terbuang sia sia hanya karena seorang Sherin. Wanita yang dia anggap adalah penghancur hubungannya dengan Lena.