SAYANG

SAYANG
Episode 103


__ADS_3

“Mamah seneng banget loh akhirnya kita bisa makan siang sama sama lagi kaya dulu. Rasanya mamah kangen banget masa masa seperti ini.” Ujar nyonya besar Smith dengan senyuman lebar yang menghiasi bibirnya. Kentara sekali jika wanita itu sedang merasa sangat bahagia karena keinginan nya terwujud. Yaitu bisa makan siang bersama anak tunggal kesayangan nya.


“Alex ikut seneng kalau mamah seneng. Pokonya mamah tenang aja. Alex bakal sebisa mungkin ngatur waktu biar kita bisa seperti ini.” Alex berkata dengan senyuman yang menghiasi bibir tipisnya. Pria itu tidak sedang berbohong. Membuat mamahnya tersenyum memang adalah salah satu kebanggaan tersendiri untuknya.


“Kamu memang anak yang baik sayang..” Puji nyonya besar Smith.


Alex hanya tersenyum saja. Selama mamahnya tidak marah padanya, Alex akan melakukan apapun. Tapi tidak untuk bersikap baik pada Sherin. Alex akan bersikap baik pada Sherin jika sedang berada di depan mamah dan papahnya saja.


“Mamah terlalu memuji.”


Sherin yang mendengar itu hanya diam saja. Sherin masih sangat shock dengan apa yang Alex katakan padanya tadi. Dan karena ucapan Alex itu perasaannya sekarang menjadi tidak enak. Sherin merasa sesuatu yang buruk akan kembali dia alami. Yaitu perlakuan buruk dan kasar Alex padanya.


Selesai makan siang bersama, tuan besar Smith pamit untuk kembali ke perusahaan. Namun tidak dengan Alex. Itu juga karena permintaan mamahnya, nyonya besar Smith.


“Dimana Sherin?” Tanya nyonya besar Smith menghampiri Alex yang sedang duduk di teras samping rumah sambil menghisap rokok di tangan nya.


Alex terkejut mendengar suara mamahnya. Buru buru Alex membuang rokok yang di pegangnya dan menginjaknya berusaha menyembunyikan nya dari sang mamah yang sebenarnya adalah usaha yang sangat percuma. Tentu saja karena mamahnya, nyonya besar Smith sudah melihat dengan jelas putra tunggal kesayangan nya itu merokok.


“Mamah..” Gumam Alex pelan. Alex bukan pecandu rokok sebenarnya. Alex hanya merokok saat pikiran nya sedang kacau. Dan itu sekarang sedang Alex rasakan karena memikirkan hubungan nya dengan Sherin yang tidak ingin dia lanjutkan sebenarnya. Tidak hanya pikiran tentang rumah tangganya dengan Sherin, Alex juga memikirkan Melisa dan Lena. Alex merasa merindukan sosok Melisa. Tapi Alex juga memikirkan tentang Lena. Alex masih menyayangkan perpisahan mereka. Dan dalam hatinya yang paling dalam, Alex masih berharap bisa kembali lagi dengan Lena seperti dulu.

__ADS_1


“Mamah sudah melihatnya. Kamu tidak perlu menyembunyikan nya dari mamah.” Kata nyonya besar Smith tenang.


Alex hanya menghela napas. Dia berharap mamahnya tidak banyak bertanya tentang hal pribadi yang tidak ingin Alex ceritakan pada siapapun.


“Mamah harap kamu merasa pusing dan setres bukan karena rumah tangga kamu dengan Sherin Alex. Kamu sudah berjanji sama mamah akan menjadi suami yang baik. Kamu sudah berjanji sama mamah kamu akan berubah.”


Alex menelan ludah. Entah apa yang di pikirkan mamahnya sehingga mamahnya sangat ingin hubungan Alex dan Sherin baik baik saja.


“Ya mah.. Sherin aku suruh istirahat siang di atas. Kasihan kan kalau sampai dia kelelahan. Aku juga nggak mau Sherin dan janin dalam kandungan nya sampai kenapa napa.”


Nyonya besar Smith tersenyum dan mengangguk setuju dengan apa yang di katakan oleh putra kesayangan nya itu.


Alex tersenyum.


“Baguslah kalau dia mengatakan seperti itu.” Batin nya.


“Ah ya Alex, apa kamu sudah menanyakan jenis kelamin anak dalam kandungan Sherin?” Tanya nyonya besar Smith kemudian.


“Hem.. Sudah mah. Anaknya laki laki. Dokter bilang dia sangat sehat.” Jawab Alex.

__ADS_1


“Syukurlah kalau begitu. Kamu tau Alex, mamah benar benar tidak sabar ingin menggendongnya.”


“Ya mah..” Saut Alex yang enggan untuk berkata panjang lebar.


Sementara itu di dalam kamar, Sherin menangis sendiri. Alex kembali bersikap kasar padanya. Bahkan tadi saat Sherin berniat untuk mengistirahatkan tubuhnya, Alex datang padanya dan menyentuhnya dengan kasar. Alex juga melontarkan kata kasar dengan menghina dan menginjak injak harga diri Sherin. Tidak hanya itu saja, Alex bahkan masih menyalahkan Sherin atas perpisahan nya dengan Lena. Padahal dulu jelas jelas Alex lah yang merayunya dan terus meminta untuk Sherin datang ke apartemen atau langsung ke perusahaan. Alex juga sering memberikan kejutan manis untuknya. Bahkan Alex pernah mengatakan dia akan memilih Sherin yang selalu bisa memuaskan nya dari pada Lena yang begitu pasif.


Sherin tidak menyangka Alex akan kembali bersikap seperti itu padanya. Padahal akhir akhir ini Alex sudah begitu baik dan perhatian padanya. Alex juga selalu menuruti apa yang Sherin inginkan tanpa protes. Itulah yang membuat Sherin percaya diri bahwa Alex sudah mulai menerimanya kembali seperti saat mereka berdua menjalin hubungan dibelakang Lena secara diam diam.


“Kenapa? Kenapa kamu kembali kasar sama aku Alex? Memangnya apa salah aku sama kamu? Aku selalu menuruti apapun yang kamu mau. Aku bahkan rela menyerahkan kehormatanku sama kamu. Aku juga rela mengkhianati Lena, sahabat yang sudah aku anggap sebagai adik aku sendiri... Huhuhu...” Tubuh Sherin terguncang hebat karena isak tangisnya. Wanita itu terlihat sangat memilukan sekarang. Alex, pria yang sangat dia cintai tidak pernah memperlakukan nya dengan baik. Alex selalu kasar padanya.


“Melisa.. Yah.. Semua ini pasti gara gara perempuan murahan itu. Dia pasti kembali menggoda Alex.” Pemikiran pilu Sherin tentang nasibnya yang malang mendadak berubah menjadi pemikiran penuh benci dan dendam pada Melisa. Pemikiran yang sebenarnya sangat tidak mendasar.


“Awas kamu Melisa. Sampai kapanpun juga Alex itu hanya milikku. Tidak ada seorang pun yang bisa merebut Alex dari ku. Alex hanya boleh mencintaiku.”


Melisa mengepalkan kedua tangan nya. Tangisan nya mendadak berhenti karena memikirkan Melisa yang dia anggap terus menggoda Alex. Sherin tidak pernah tau bahwa Alex lah pria brengsek yang membuat Melisa kehilangan kehormatan nya. Sherin juga tidak pernah tau bahwa Alex lah yang selalu memaksa Melisa agar memenuhi keinginan nya.


Sherin mengusap kasar air mata yang membasahi pipinya. Perlahan dia bangkit dari ranjang. Kesedihan dan kepiluan nya sudah berganti dengan kebencian penuh dendam pada Melisa yang sebenarnya adalah korban dari kebejatan Alex.


Sherin melangkahkan kakinya yang masih terasa lemas dengan sangat perlahan. Dia melangkah menuju pintu balkon. Sherin keluar dan berdiri disana. Dia memejamkan kedua matanya merasakan semilir angin yang menerpa wajah cantiknya.

__ADS_1


“Tuhan.. Aku yakin aku masih bisa memiliki hati Alex sepenuhnya. Aku juga yakin Alex adalah jodoh yang memang engkau takdirkan untukku.” Batin Sherin dengan sangat yakin. Sherin seolah tidak memperdulikan kesakitan yang dia rasakan karena memilih bersama dengan Alex, pria yang tidak pernah mencintainya.


__ADS_2