
Alex merenung di ruang kerjanya. Malam ini dia tidak pulang ke apartemen nya. Pikiran nya benar benar kacau sekarang. Alex tidak bohong, dirinya khawatir dengan keadaan Sherin juga janin dalam kandungan Sherin. Tapi kedua orang tuanya melarang Alex menemui Sherin. Di sisi lain, Alex juga merasa sangat khawatir pada Melisa. Dia begitu kalut saat di rumah sakit. Semua itu benar benar membuat Alex merasa sangat frustasi. Sherin adalah istrinya meski memang Alex tidak mencintainya. Tapi wanita itu sedang mengandung anaknya. Sedangkan Melisa, entah kenapa dia berhasil membuat Alex merasa sangat simpati dan tidak tega padanya. Alex bahkan ingin bisa menjadi yang terbaik dan selalu berada di sisi Melisa untuk melindunginya.
“Kenapa aku begitu bodoh? Kenapa aku harus memikirkan dua perempuan sialan itu!!” Maran Alex pada dirinya sendiri.
Alex benar benar menjadi bodoh sekarang. Pria itu tidak tau harus bagaimana. Melisa, dia membuat Alex merasa nyaman. Tapi Sherin, dia juga adalah tanggung jawabnya.
Alex mengusap kasar wajah tampannya. Punggungnya dia sandarkan di sandaran kursi kebesaran yang sedang dia duduki.
Ketika Alex menutup matanya kilasan kilasan perbuatan tidak baiknya pada Melisa melintas di memorinya. Bahkan kilasan saat Alex begitu kejam merenggut kehormatan Melisa untuk yang pertama kalinya. Alex baru menyadari tangisan pilu Melisa yang saat itu tidak dia pedulikan sedikitpun.
“AARRGGHH !!” Alex mengeram marah. Pria itu membuka kedua matanya kemudian menyapukan kedua tanganya pada meja kerjanya menjatuhkan segala yang ada disana. Alex tidak perduli meskipun laptop bahkan semua berkas berkas pentingnya berhamburan di lantai. Dia benar benar sangat frustasi juga merasa di lema.
“Apa yang harus aku lakukan sekarang?” Lirihnya dengan napas tersengal.
Alex kembali terdiam. Dia berusaha kembali memutar otak mencari jalan keluar dari segala masalah yang sedang mengurungnya. Hingga akhirnya Alex pun memutuskan untuk menemui Sherin di rumah sakit. Tidak perduli meskipun kedua orang tuanya akan menghalangi. Alex ingin tau bagaimana kondisi janin yang berada di dalam kandungan Sherin sekarang.
Di tengah malam Alex mengendarai mobilnya dengan kecepatan maximal. Lenggangnya jalan membuat Alex lebih leluasa memacu kendaraan beroda empatnya itu agar cepat sampai di rumah sakit tempat Sherin di rawat.
Sesampainya disana, Alex pun bergegas menuju ruang rawat dimana Sherin berada. Kedatangannya membuat Sherin langsung terlihat antusias. Dia bahkan langsung bisa melupakan amarah dan kekesalannya pada Melisa yang datang menjenguknya tadi.
“Alex..” Senyumnya menatap Alex yang mulai melangkah mendekat padanya.
Alex menelan ludah. Mengingat Melisa yang menangis bahkan sampai di gendong oleh adiknya tadi membuat Alex merasa marah. Namun Alex berusaha untuk menahan itu. Alex sadar keadaan Sherin tidak baik baik saja sekarang juga karena ulahnya.
__ADS_1
“Bagaimana keadaan kamu sekarang?” Tanya Alex dengan pelan.
Sherin semakin tersenyum lebar merasa sangat bahagia karena Alex menanyakan tentang kondisinya.
“Aku baik baik saja Alex.. Aku tidak apa apa. Kamu tidak usah khawatir.” Jawab Sherin dengan semangat.
Alex menghela napas. Pria itu kemudian menoleh ke nakas samping brankar tempat Sherin duduk bersandar dengan bantal sebagai alas untuk punggungnya. Alex mengeryit melihat sebuket bunga yang tergeletak disana.
“Itu bunga dari siapa?” Tanya Alex penasaran. Entah kenapa Alex merasa yakin itu adalah bunga dari Melisa.
Sherin terdiam sesaat. Dia berpikir untuk tidak akan mengatakan dengan jujur darimana bunga itu sebenarnya.
“Oh itu.. Itu bunga dari seseorang. Aku tidak tau siapa. Tadinya aku suruh bibi buang tapi malah di taruh disitu.” Jawab Sherin sedikit tergagap. Tentu saja karena dia harus memikirkan kata untuk mengarang cerita kebohongannya.
Ekspresi Sherin sempat berubah karena pujian dari Alex. Pujian untuk bunga yang di berikan oleh Melisa untuknya.
“Masa sih? Biasa aja deh aku rasa.. Aku suruh bibi buang aja deh.. Nggak penting juga.”
“Bi tolong bunganya di buang aja ya.. Sama parsel buahnya kasih saja sama orang yang lebih membutuhkan.” Senyum Sherin menatap bibi yang menurut saja dengan apa yang dia katakan.
Alex mengeryit. Entah kenapa Alex merasa bahwa Sherin seperti sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Namun Alex malas jika harus menegurnya.
“Kamu sudah makan?” Tanya Alex kemudian masih dengan ekspresi datar.
__ADS_1
“Sudah.. Bibi yang membantuku tadi. Kamu sendiri sudah makan?” Jawab Sherin kemudian bertanya balik pada Alex dengan wajah sumringah. Perhatian Alex membuat Sherin mampu melupakan rasa sakit dan kecewanya. Hanya ada rasa bahagia yang memenuhi hati Sherin sekarang.
“Baguslah kalau begitu.” Kata Alex menarik kursi dan mendudukinya. Pria itu mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruang rawat Sherin. Kebingungan masih menguasai hati Alex sebenarnya. Tapi dia mencoba untuk tenang.
Sementara Sherin, dia benar benar merasa sangat berbunga bunga karena akhirnya Alex datang dan menemaninya. Meskipun memang pria itu ber ekspresi begitu datar, namun itu sudah membuat Sherin merasa sangat bahagia. Sherin bahkan sedikitpun tidak mengingat kenapa dirinya bisa masuk ke dalam rumah sakit.
“Apa kata dokter tentang anak yang berada di dalam kandungan kamu?” Alex kembali bertanya mencoba untuk mengalihkan kebingungan di hatinya sendiri. Karena sesungguhnya pikiran Alex sedang tertuju pada Melisa yang entah sudah sampai di rumahnya atau masih dalam perjalanan pulang bersama adiknya David.
“Eum.. Dokter bilang kandunganku tidak apa apa. Anak kita kuat kok. Kamu tenang saja. Dia pasti akan baik baik saja sampai pada waktunya dia lahir ke dunia nanti. Kamu tau Alex? Anak kita pasti akan sangat bangga karena memiliki papah seperti kamu..”
Alex tersenyum miring mendengarnya. Mungkin memang jika anak nya yang sedang di kandung Sherin lahir akan sangat bangga dan menganggapnya sebagai pahlawan. Tapi itu hanya akan berlaku sebentar saja. Karena jika dia tau apa yang Alex lakukan pada Sherin, mungkin dia akan sangat membencinya dan tidak mau mengakui Alex sebagai papahnya. Apa lagi jika sampai dia tau bahwa Alex pernah meminta untuk Sherin menggugurkan kandungannya.
“Berhenti berbicara dan tidurlah Sherin. Ini sudah malam.” Ujar Alex enggan mendengarkan omong kosong berlebihan Sherin.
Sherin tersenyum geli. Tidak mau membuat Alex marah, Sherin pun menganggukkan kepalanya menurut saja.
“Baiklah, tapi aku mohon kamu tetap disini ya.. Temani aku..” Sherin menatap Alex dengan wajah memelas berharap Alex mau menuruti permintaan nya. Wanita itu ingin sekali Alex menemaninya malam ini.
Alex terdiam sesaat kemudian menghela napas kasar. Dia tidak punya pilihan sekarang. Mungkin menuruti permintaan Sherin malam ini akan membuat rasa bersalah di hatinya sedikit berkurang.
“Ya.. Aku akan disini.” Jawabnya kemudian.
Sherin tersenyum lebar mendengarnya. Wanita itu kemudian menutup kedua matanya dengan senyuman manis yang menghiasi bibirnya. Kehadiran Alex di sampingnya adalah sesuatu yang sangat dia tunggu tunggu sejak kemarin.
__ADS_1