SAYANG

SAYANG
Episode 106


__ADS_3

Di hari libur ini Melisa dan David mengawali hari dengan mengantar pesanan dari para pelanggan mereka. Baik yang jauh maupun yang dekat. Mereka berdua mengantar semua kue kue pesanan itu dengan hati riang gembira. Dan berkat kegigihan mereka berdua akhirnya Melisa bisa membeli motor baru. Itu sangat memudahkan dan mempersingkat waktu Melisa dan David dalam mengantar kue kue pesanan pelanggan nya.


“Mbak Mel, kue nya enak banget. Teman teman saya suka. Mereka juga minta nomornya mbak Mel, katanya mau pesan kue juga sama mbak Mel.” Ujar seorang ibu muda berperut buncit saat menerima kue pesanan nya langsung dari tangan Melisa.


“Syukurlah kalau ibu sama teman teman ibu suka dengan kue kami. Untuk pesanan mereka saya akan menunggu dengan senang hati.” Senyum Melisa merasa sangat bangga pada hasil kerja keras dan jerih payahnya bersama David dalam membuka bisnis kue nya.


Setelah berbincang sebentar, Melisa pun pamit pada ibu muda pelanggan nya itu karena masih harus mengantarkan pesanan yang lain juga.


Ketika hendak menghidupkan mesin motor metiknya, ponsel dalam tas selempang kecilnya berdering membuat Melisa harus menunda lebih dulu niat awalnya menghidupkan mesin motornya dan memilih untuk meraih ponselnya mengangkat telepon yang entah dari siapa itu.


“Nyonya Smith..” Melisa terdiam begitu melihat nomor kontak yang tertera di layar ponselnya. Yang menelepon nya adalah nyonya besar Smith, mamah dari Alex mantan bos nya.


Melisa menarik napas dalam dalam kemudian menghembuskan nya perlahan sebelum akhirnya memutuskan untuk mengangkat telepon dari nyonya besar Smith.


“Halo, selamat siang.” Sapa Melisa berusaha bersikap biasa agar nada bicaranya tidak membuat wanita kaya raya itu curiga. Apa lagi nyonya besar Smith juga adalah orang yang sangat jeli dalam menilai seseorang.


“Ya.. Selamat siang. Mbak Mel, ini saya yang tempo hari memesan kue sama kamu.”


“Oh iya nyonya.. Ada yang bisa saya bantu?”


“Ya.. Jadi saya mau pesan lagi tapi tolong langsung antarkan saja ke rumah ya seperti biasa. Nanti saya kirim pesan kue apa saja yang saya mau. Kebetulan saya ini juga atas permintaan menantu saya yang katanya ingin mencicipi kue dari kamu.”


“Oh baik nyonya.”


“Ya sudah, uangnya nanti saya transfer.”

__ADS_1


“Ya nyonya..”


Setelah berbincang beberapa menit akhirnya panggilan itu berakhir. Melisa menghela napas kasar. Padahal dia berharap nyonya besar Smith tidak akan lagi memesan kue padanya. Tapi apalah daya jika nyonya besar Smith malah menyukai kue buatan nya.


Melisa kemudian menggelengkan kepalanya. Dia tidak akan mengambil pusing karena ada David yang akan mengantar kesana tanpa harus dirinya yang datang secara langsung. Dengan begitu Melisa tidak perlu bertemu secara langsung dengan nyonya besar Smith.


“Untuk menantunya. Itu artinya untuk nyonya Sherin.” Gumam Melisa pelan.


Melisa kembali memasukan ponsel ke dalam tas selempang kecilnya. Wanita itu kemudian berlalu untuk melanjutkan niatnya mengantar pesanan para pelanggan nya.


“Semangat Melisa. Kamu tidak perlu menghiraukan apapun. Yang harus kamu pikirkan adalah masa depan David dan Farid.” Batin Melisa menyemangati dirinya sendiri sembari melajukan sepeda motornya.


Bisnisnya memang berkembang sangat pesat. Banyak pelanggan yang menyukai kue buatan Melisa. Meski memang taruhan nya adalah tenaga Melisa sendiri tapi Melisa tidak mempermasalahkan nya. Baginya asalkan kedua adiknya bisa sekolah dan hidup layak itu sudah cukup untuknya. Melisa ingin membuat keduanya menjadi orang yang berpangkat dan sukses di kemudian hari.


Berkali kali Lena menarik napas kemudian menghembuskannya dengan kasar. Lena sedang berpikir keras sekarang tentang dirinya sendiri. Lena juga terus menghitung mundur waktu kebersamaan nya dengan Erlan yang tidak terasa sudah hampir setengah tahun berjalan. Lena tidak habis kenapa sampai sekarang dirinya belum juga hamil. Padahal Lena sangat yakin dirinya normal begitu juga dengan Erlan.


“Apa aku memang harus memeriksakan diri ke dokter? Aku takut jangan jangan aku memang tidak bisa hamil..” Gumam Lena gelisah sendiri.


Lena benar benar tidak tenang sekarang. Usia pernikahan nya dengan Erlan sudah lumayan lama. Mereka berdua juga selalu melakukan hubungan suami istri. Namun sampai kemarin Lena masih tetap mendapatkan tamu bulanan nya.


“Tapi aku ke rumah sakit sama siapa? Sama Erlan? itu sangat nggak mungkin. Erlan pasti akan menolak dan mengatakan bahwa aku baik baik saja hanya untuk menenangkan aku. Kalau sendiri, aku sepertinya tidak bisa..” Lena merasa galau sekarang. Lena penasaran dengan keadaan nya yang sampai saat ini belum juga hamil. Tapi di sisi lain Lena juga takut akan kemungkinan buruk yang bisa saja dia alami tanpa dia sadari. Seperti dirinya mandul atau kendala lain yang membuatnya sulit hamil.


Lena mencoba memutar otak memikirkan siapa orang yang tepat yang bisa membantunya hingga akhirnya pemikiran Lena tertuju pada Sasha, teman kerjanya di perusahaan Alex.


Senyum Lena mengembang. Sasha adalah orang yang baik. Dia adalah orang yang pernah ada untuknya saat dirinya terluka karena apa yang Alex dan Sherin lakukan.

__ADS_1


“Aku harus telepon Sasha. Dia pasti mau temenin aku kerumah sakit. Yah...” Angguk Lena yakin.


Lena kemudian segera meraih ponsel yang berada di dalam saku dress rumahan yang dia kenakan sekarang. Kebetulan tadi pagi sebelum berangkat Erlan mengatakan bahwa dirinya tidak bisa pulang untuk makan siang bersama siang ini. Tapi Erlan berjanji pada Lena akan pulang sebelum sore tiba.


Lena menghubungi Sasha yang langsung mendapat jawaban dari teman baiknya itu.


“Ya halo.. Ada yang bisa saya bantu nyonya Harrison?” Canda Sasha di seberang telepon yang membuat Lena berdecak sebal.


“Jangan bercanda. Aku sedang serius sekarang.” Ujar Lena dengan bibir sedikit mengerucut.


“Hahaha.. Oke oke maaf.. Jadi ada apa gerangan tiba tiba kamu menelepon Lena?”


Lena menghela napas pelan. Dia sangat berharap Sasha bisa membantunya. Karena Lena tidak tau harus meminta bantuan pada siapa lagi selain pada Sasha. Lena tidak punya siapa siapa selain Erlan sebagai suaminya, dan Sasha sebaik teman terbaiknya.


“Bisa kamu datang kerumah nanti saat waktu makan siang Sasha? Aku sedang sangat membutuhkan bantuan kamu sekarang.” Ujar Lena pelan.


“Oh tentu saja. Tapi aku tidak bisa lama lama Lena. Kamu tau kan waktu istirahat kerja hanya satu jam?”


“Ya aku tau. Makannya kita cepat cepat saja biar kamu juga nggak terlambat masuk waktu kerja setelah istirahat makan siang nantinya. Aku tunggu kamu di rumah ya. Jangan sampai telat. Aku nggak tau harus meminta bantuan sama siapa lagi selain sama kamu Sha. Hanya kamu yang aku percaya selain suamiku sekarang.”


“Oke oke.. Tapi memangnya kamu sedang membutuhkan bantuan apa?” Tanya Sasha dengan nada sangat penasaran.


“Temani aku kerumah sakit.” Jawab Lena.


“Apa?!”

__ADS_1


__ADS_2