
Setelah berpikir cukup keras, sore harinya Alex mengajak Arkana ke makam Sherin dengan di sertai oleh nyonya besar Smith. Awalnya mereka sempat berdebat karena keadaan Arkana yang demam. Namun karena Arkana yang tidak juga kunjung tenang, akhirnya mereka berdua pun sepakat.
“Mamah.. Appah !! Mam mam mah..” Arkana memekik kegirangan begitu sampai tepat di depan makam Sherin. Balita itu bahkan sampai bersorak tepuk tangan di gendongan Alex.
Hal itu membuat Alex juga nyonya besar Smith tercengang. Bagaimana mungkin Arkana langsung tau bahwa itu adalah makam dari mendiang mamahnya, Sherin.
“Alex ini...” Nyonya besar Smith tidak bisa berkata apa apa sekarang. Wanita itu benar benar merasa tersentuh dengan apa yang dia saksikan nya.
Sementara Alex, dia ikut tersenyum melihat putranya yang begitu sangat kegirangan. Padahal saat dalam perjalanan tadi Arkana terus saja menangis dan memanggil manggil mamah. Tapi sekarang, balita itu sangat ceria dan bahagia hanya karena melihat makam Sherin.
“Papah.. Tuh pah.. Tuuuu...” Arkana menunjuk makam Sherin seolah minta di turunkan dari gendongan Alex.
Alex yang mengerti dengan maksud putranya menuruti saja apa yang di inginkan oleh Arkana. Alex menurunkan pelan pelan tubuh gembul Arkana tepat di depan makam Sherin.
Arkana yang memang sudah mulai belajar melangkah kan kakinya perlahan mendekat sendiri pada nisan Sherin. Arkana kembali memekik senang begitu berhasil meraih nisan Sherin sehingga tanpa sadar Alex meneteskan air mata harunya. Arkana tau tanpa harus di beri tahu lebih dulu bahwa pusara di depan nya adalah tempat peristirahatan terakhir mendiang mamahnya.
“Bah.. mamah.. Bah.. Mam mam mah..”
Keriangan Arkana bermain di samping makam Sherin membuat Alex dan nyonya besar Smith tidak bisa menahan tetesan bening dari kedua matanya yang begitu deras menetes. Apa lagi saat melihat balita itu mencium dan memeluk nisan Sherin, rasanya hati nyonya besar Smith hancur berkeping keping. Arkana, balita yang tidak berdosa harus kehilangan mamahnya tanpa bisa merasakan belaian lembut penuh kasih Sherin lebih dulu begitu di lahirkan ke dunia.
Sore itu Alex dan nyonya Smith hanya diam saja berdiri di tempatnya menyaksikan sesuatu yang jika di pikir secara logika sangatlah mustahil.
__ADS_1
“Ya Tuhan...” Batin nyonya besar Smith merasa pilu.
Sedangkan Alex, di kediaman nya itu ingatan tentang perlakuan kasarnya terhadap Sherin begitu sangat jelas membayanginya. Alex juga terngiang akan ucapan nya sendiri yang menyuruh agar Sherin menggugurkan kandungan nya karena saat itu Alex sangat marah begitu Sherin memberitahu tentang kehamilan nya pada keluarga Smith. Alex juga mengingat berbagai upaya yang dia lakukan dengan menganiaya Sherin supaya Sherin berubah pikiran dan mengurungkan niat untuk menikah dengan nya.
Alex menelan ludah. Ingatan itu terus saja berputar silih berganti seolah sedang mengingatkan kembali pada Alex betapa kejam dirinya pada Sherin dulu.
Alex memejamkan kedua matanya. Jika saja dulu Sherin mengikuti kemauan nya dengan menggugurkan kandungan nya, saat ini pasti tidak akan ada sosok lucu dan menggemaskan Arkana di hidupnya. Dan Alex tidak bisa membayangkan akan seperti apa jadinya jika dia tidak memiliki Arkana sekarang.
“Kenapa? Kenapa semua itu harus terasa menyakitkan sekarang?” Batin Alex bertanya pada dirinya sendiri.
Alex tidak bisa memungkiri bahwa hatinya terasa teriris mengingat apa yang dia lakukan pada Sherin dulu. Meski memang sampai sekarang Alex belum merasakan rasa sesal atas perbuatannya di masa lalu pada Sherin.
“Pah pah..”
Alex tersenyum lalu segera berjongkok di depan Arkana, seulas senyum dia ukir untuk putranya yang keadaannya langsung terlihat membaik begitu dibawa ke makam Sherin.
“Ya nak..” Sahut Alex menatap penuh perhatian pada putranya.
“Mam mam mam mah pah pah.. Mam mam mah..” Celoteh Arkana.
Alex tertawa pelan. Di usianya yang hampir menginjak 11 bulan itu sudah pandai belajar berjalan juga sering berceloteh dengan sangat menggemaskan. Itulah yang terkadang juga menjadi hiburan tersendiri untuk Alex di malam hari begitu rasa penat dia rasakan.
__ADS_1
“Arka happy?” Tanya Alex dengan senyuman yang menghiasi bibir tipis nya.
“Yak..” Angguk Arkana lucu.
“Jagoan papah memang hebat. Cepat sembuh yah.. Papah janji papah bakal sering sering ajak Arka ke mamah.. Oke?”
“Te pah pah...” Sahut Arka seolah mengerti dengan apa yang Alex katakan padanya.
Nyonya besar Smith benar benar sangat takjub dengan pemandangan di depan nya. Arkana langsung sembuh dan terlihat sangat bahagia setelah bermain sendiri di depan makam Sherin.
Sekitar satu jam berada di makam Sherin, Alex pun mengajak putra dan mamahnya untuk kembali ke rumah sakit karena memang Arkana masih harus mendapatkan perawatan. Apa lagi sebelum mereka pergi dokter juga sudah berpesan agar Arkana secepatnya dibawa kembali ke rumah sakit setelah urusan Alex dan nyonya besar Smith selesai.
Dalam perjalanan kembali menuju rumah sakit, Arkana tertidur di pelukan nyonya besar Smith. Balita itu benar benar langsung tenang setelah di ajak berziarah ke makam Sherin. Demamnya pun sudah tidak lagi setinggi tadi pagi.
“Tuhan benar benar sedang menunjukkan pada kita bahwa jasa seorang ibu itu tidak bisa di ingkari dengan apapun alasan nya. Bahkan meskipun seorang ibu tersebut bukan perempuan baik baik.” Ujar nyonya besar Smith.
Alex hanya melirik sekilas pada mamahnya yang duduk di samping kemudinya. Pria itu malas sebenarnya jika harus kembali mendengar pembelaan mamahnya pada mendiang istri yang tidak pernah dia cintai itu.
“Bahkan Arkana saja tau siapa mamahnya tanpa harus kita memberitahu. Sepertinya ikatan batin antara Arkana dengan Sherin sangat erat. Yah.. Walaupun sekarang sosok Sherin sudah tidak ada di sekitar kita. Tapi melihat Arkana yang begitu happy bermain disamping makamnya tadi membuat mamah yakin, bahwa sebenarnya Sherin memang ada di sekitar Arkana. Dan itu hanya Arkana yang bisa merasakan nya.” Lanjut nyonya besar Smith sembari membelai lembut pipi chuby cucu kesayangan nya itu.
“Sudahlah mah.. Nggak perlu membahas yang tidak penting. Sherin itu sudah mati. Mungkin apa yang terjadi hari ini hanya kebetulan saja. Orang yang sudah mati tidak akan mungkin ada di sekitar kita.”
__ADS_1
Nyonya besar Smith hanya bisa menghela napas saja mendengar ucapan tidak perduli Alex. Wanita itu benar benar tidak tau bagaimana cara pikir putranya. Alex terlalu keras kepala. Bahkan untuk menyesali apa yang sudah dia lakukan saja Alex merasa gengsi pada dirinya sendiri.
“Mamah yakin kamu juga merasakan apa yang mamah rasakan Alex. Hanya saja kamu tidak mau mengakuinya.” Batin nyonya besar Smith yakin.